"Memang hanya engkau yang dapat melegakan hati kami, Yo Han. Ganjalan di hati kami itu adalah ketika kami mendengar tentang hilangnya Sim Hui Eng, puteri bibi gurumu Can Bi Lan. Kami merasa kasihan sekali kepada Pendekar Suling Naga dan isterinya. Putera mereka meninggal dunia ketika masih kecil, kemudian puteri mereka yang menjadi satu-satunya anak yang ada, sejak berusia tiga tahun diculik orang. Kami dapat membayangkan betapa sengsara hidup mereka dan pantaslah mereka itu seperti mengasingkan diri, tidak pernah menghubungi keluarga dan handai taulan. Apakah engkau tidak merasa kasihan, Yo Han?"
"Yo Han, tahukah engkau betapa akrab dahulu hubungan antara mendiang ibumu dengan sumoinya, yaitu Can Bi Lan?"
Hong Li ikut bicara. Yo Han mengangguk.
"Tentu saja teecu juga merasa kasihan sekali mendengarkan nasib mereka yang kehilangan anak tunggal. Dan teecu masih ingat bahwa mendiang Ibu amat sayang kepada Bibi Can Bi Lan."
"Syukurlah kalau engkau masih ingat,"
Kata Sin Hong.
"Nah, sekarang tentang ganjalan di hati kami itu, Yo Han. Ayah dan ibumu dahulu menitipkan engkau kepadaku, dan aku akan merasa berdosa sekali kalau tidak menganjurkan agar engkau sekarang pergi mencari Sim Hui Eng sampai dapat! Siapa lagi kalau bukan engkau yang membantu bibimu Can BiLan itu menemukan kembali puterinya? Dan aku yakin bahwa arwah ibumu akan bersyukur dan berterima kasih sekali kalau engkau dapat melakukan hal itu kepada bibimu Bi Lan. Mereka akan merasa berbahagia sekali, dan kami berdua juga akan merasa bangga. Setidaknya, bukan hal yang sia-sia saja Ibumu dahulu menitipkan engkau kepadaku."
Yo Han mengangguk-angguk mengerti, biarpun diam-diam dia mengeluh karena ke mana dan bagaimana dia akan mungkin dapat menemukan anak yang sudah dua puluh tahun menghilang itu? Dia ingat bahwa anak perempuan itu mempunyai ciri-ciri yang khas di pundak dan telapak kakinya, akan tetapi alangkah akan sukarnya mencari seorang gadis yang mempunyai ciri-ciri di tempat yang tertutup dan tersembunyi itu!
"Ada sebuah hal lagi yang ingin kusampaikan kepadamu, Yo Han. Bagaimanapun juga, kami berdua telah menganggap engkau seperti keluarga sendiri, karena dahulu oleh orang tuamu engkau diserahkan dan dititipkan kepada suamiku. Nah, sekarang usiamu sudah lebih dewasa, kalau tidak salah, usiamu sudah dua puluh lima tahun. Oleh karena itu, kami ingin melihat engkau berumah tangga. Kalau kami berhasil merayakan pernikahanmu, barulah suamiku akan merasa puas dan lega, menganggap bahwa tugasnya merawat dan mendidikmu baru sempurna. Selain itu, karena engkau sudah kami anggap seperti anak sendiri, tidak baiklah kalau sampai adikmu Sian Li menikah lebih dahulu...."
Kata Hong Li seperti sambil lalu saja. Yo Han memandang kepada suami isteri itu dengan wajah yang agak berubah kemerahan. Anjuran kepadanya untuk segera menikah dianggapnya wajar saja, akan tetapi yang mengejutkan hatinya adalah berita tentang Sian Li dan pernikahan!
"Tapi....Li-moi....kalau tidak salah baru berusia tujuh belas tahun...."
Katanya hanya untuk mengucapkan sesuatu agar tidak diam dan bengong saja.
"Sudah mulai dewasa, bukan kanak-kanak lagi, bahkan kami pernah menerima usul perjodohannya dengan seorang pangeran.... ah, hal itu belum resmi, tidak perlu kami beritahukan sekarang,"
Kata Hong Li. Yo Han merasa betapa dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat. Sian Li telah dipilihkan calon suami? Seorang pangeran? Wahh....! Entah kenapa dia sendiri tidak tahu, akan tetapi berita ini sama sekali tidak mendatangkan kegembiraan di dalam hatinya, bahkan membuat dia merasa tidak tenang.
"Nah, kami harap engkau segera bersiap-siap untuk mulai dengan tugasmu itu, Yo Han, dan tidak mengecewakan kami. Kalau ditunda lebih lama lagi, kami khawatir akan terlambat. Dan ketahuilah bahwa andaikata engkau dapat menemukan puteri bibimu Can Bi Lan itu, selain hal itu akan amat membanggakan hati kami, juga kalau gadis itu memang baik dan pantas, kami akan merasa berbahagia sekali untuk berbesan dengan Pendekar Suling Naga."
"Maksud Suhu....?"
"Akan baik sekali kalau engkau dapat menemukan kembali puteri mereka kemudian engkau menikah dengannya."
"Ah, Suhu....!"
Yo Han tersipu. Betapa muluknya jalan pemikiran gurunya ini. Mencari saja belum tentu bisa dapat, sudah hendak menjodohkannya. Ayah bunda gadis itu sendiri yang merupakan suami isteri yang sakti, selama dua puluh tahun mencari anak mereka tanpa hasil. Apalagi dia yang sekarang baru hendak mulai.
"Sudahlah, hal itu kita bicarakan kelak saja. Akan tetapi, sanggupkah engkau memenuhi permintaan suhumu untuk mencari Sim Hui Eng sampai dapat?"
Tanya Hong Li.
"Teecu akan berusaha sekuat tenaga."
"Jadi engkau sanggup?"
Sin Hong mendesak.
"Teecu sanggup, Suhu."
"Bagus! Engkau membuat lega hati kami, Yo Han. Andaikata kelak tidak berhasil sekalipun, namun engkau sudah berusaha sekuat tenaga dan itu saja sudah melegakan hati kami terhadap arwah orang tuamu."
"Nah, lebih baik engkau membuat persiapan dan makin cepat dimulai pencarian itu semakin baik, Yo Han,"
Kata Hong Li. Yo Han mengangguk lalu mengundurkan diri, masuk ke kamarnya membuat persiapan. Dia tidak boleh bersikap lemah.
Biarpun hari sin-cia kurang sepekan lagi, akan tetapi rasanya cengeng kalau dia harus menunda tugasnya itu sampai lewat hari sin-cia. Seperti anak kecil saja, padahal tugas itu penting sekali. Akan tetapi dia harus meninggalkan SianLi, dan hal inilah yang membuat dia termenung sedih. Rasanya amat berat untuk berpisah lagi dari gadis itu setelah berpisah selama tiga belas tahun dan kini saling jumpa dan berkumpul kembali. Dan dia tahu bahwa gadis itu pun tentu akan merasa bersedih kalau diatinggalkan lagi. Selagi dia mengumpulkan pakaian untuk di jadikan buntalan, daun pintu kamarnya diketuk orang. Dia membuka daun pintu itu, mengharapkan Sian Li yang datang walaupun gadis itu tidak pernah mengetuk pintunya melainkan langsung masuk saja kalau hendak bicara. Akan tetapi ternyata yang datang berkunjung adalah Kao Hong Li!
"Subo...."
Kata Yo Han dengan sikap hormat.
"Yo Han, ada satu hal penting yang tadi kami lupa untuk memesan kepadamu."
"Hal apakah itu, Subo?"
"Engkau tahu, Sian Li kadang-kadang suka kekanak-kanakan, ia lupa bahwa ia bukan kanak-kanak lagi, melainkan sudah menjadi seorang gadis dewasa. Oleh karena itu, mungkin sekali kalau engkau memberitahu kepadanya bahwa engkau akan pergi mencari Sim Hui Eng, ia akan rewel dan ingin ikut. Kalau ia rewel seperti itu, kuharap engkau suka dan dapat membujuknya agar ia tidak ikut pergi. Engkau tentu cukup maklum bahwa tidak mungkin kami membolehkan ia pergi lagi meninggalkan kami, apalagi sekarang ia sudah dewasa. Bagaimana kalau sampai calon suaminya mendengar bahwa ia pergi merantau berdua saja dengan seorang pemuda, walaupun pemuda itu adalah engkau, yang dapat dibilang sebagai kakak angkatnya? Engkau maklum,bukan?"
Yo Han merasa betapa hatinya pedih mendengar ini, akan tetapi tentu saja dia dapat memaklumi apa yang dimaksudkan subonya itu.
"Baik, Subo. Kalau sampai Li-moi hendak ikut, tentu akan teecu bujuk ia agar tidak melakukan hal itu."
Akan tetapi, pelaksanaan selalu lebih sulit daripada rencana. Sore hari itu, ketika mereka berdua bicara dalam taman bunga di belakang rumah, Yo Han berpamit dari Sian Li bahwa sore hari itu juga dia akan pergi meninggalkan rumah itu. Sian Li terbelalak menatap wajah Yo Han.
"Pergi? Engkau hendak pergi, Han-ko? Pergi ke mana dan mengapa?"
Sian Li menghampiri Yo Han dan memegang kedua tangan pemuda itu. Ia memang selalu bersikap akrab, bahkan manja kepada pemuda itu.
"Li-moi, ingatkah engkau akan Sim Hui Eng?"
Sian Li membelalakkan mata.
"Sim Hui Eng? Siapa yang kau maksudkan? Ahhh, she Sim! Ingat aku sekarang, bukankah ia puteri Paman Sim Houw yang hilang dua puluh tahun yang lalu itu?"
Kini matanya memandang tajam menyelidik.
"Mengapa engkau tiba-tiba menyebut namanya, Han-ko?"
"Nah, aku harus pergi karena aku berkewajiban untuk membantu Bibi Can Bi Lan menemukan kembali puterinya. Mendiang Ibuku amat akrab dan sayang kepada Bibi Bi Lan, maka arwah Ibuku akan senang sekali kalau aku membantu Bibi Bi Lan untuk menemukan kembali puterinya yang hilang itu."
Sian Li menatap wajah pemuda itu dan mukanya agak berubah.
"Han-ko, baru saja kita berkumpul kembali dan engkau akan meninggalkan aku lagi? Sampai berapa lama Han-ko?"
"Entahlah, Li-moi. Engkau pun tahu bahwa aku juga ingin selalu berada disampingmu, akan tetapi tugas ini penting sekali. Pula, tidak ada perjumpaan tanpa diakhiri dengan perpisahan, Li-moi. Engkau tentu tidak ingin melihat aku menjadi seorang yang tidak mengenal budi dan tidak mau mewakili mendiang Ibu untuk menolong Bibi Bi Lan."
Sian Li merasa kepalanya nanar. Berita kepergian Yo Han demikian tiba-tiba datangnya. Baru saja ia bergembira, berbelanja untuk keperluan sin-cia dan sin-cia kali ini terasa amat istimewa baginya karena di situ ada Yo Han yang akan merayakan sin-cia bersamanya. Dan kini, tiba-tiba Yo Han menyatakan hendak pergi meninggalkannya, entah untuk berapa lama!
"Han-ko, kapan engkau akan berangkat?"
Tanyanya, suaranya mulai terdengar sumbang.
"Sekarang juga, Li-moi. Aku sudah berkemas dan siap berangkat, tadi hanya menanti engkau untuk berpamit saja."
Sian Li terbelalak dan tiba-tiba ia merangkulkan kedua lengannya pada leher pemuda itu.
"Han-ko, aku ikut engkau pergi!"
Katanya mantap dan bersungguh-sungguh. Yo Han terkejut, akan tetapi juga merasa betapa hatinya berdebar penuh perasaan bahagia, girang dan terharu. Dia memejamkan kedua matanya ketika merasa betapa lingkaran kedua tengan gadis itu amat ketat, dan dia menguatkan hatinya agar jangan menuruti kehendak batinnya yang ingin membalas, ingin mendekap kepala yang disayangnya itu ke dadanya.
"Li-moi, jangan begitu. Tidak mungkin engkau ikut bersamaku. Perjalanan ini tidak menentu kapan berakhirnya. Engkau tidak boleh meninggalkan ayah ibumu. Biarkan aku pergi, Li-moi."
"Tidak.... tidak.... aku tidak mau kau tinggalkan, aku tidak mau berpisah lagi darimu, Han-ko!"
Sian Li berkata, kini gadis itu menangis di atas dada Yo Han dan rangkulannya semakin kuat. Yo Han menjadi bingung, apalagi pada saat itu muncul Sin Hong dan Hong Li!
"Yo Han, apa yang kau lakukan ini?"
Terdengar Tan Sin Hong membentak marah.
"Suhu, Subo....maafkan teecu...."
Kata Yo Han tak berdaya karena Sian Li masih merangkulnya.
"Yo Han, sungguh tak pantas kelakuanmu ini. Sian Li, lepaskan dia!"
Hong Li juga berseru marah. Sian Li tidak melepaskan rangkulan-nya, akan tetapi ia mengangkat mukanya dari dada Yo Han dan menoleh kepada orang tuanya.
"Ayah, Ibu, Han-ko tidak bersalah apa-apa.... aku.... aku ingin ikut dengannya, aku tidak mau ditinggal-kannya lagi...."
Yo Han menguatkan hatinya, melepaskan rangkulan Sian Li dengan lembut. Dia harus mengambil keputusan yang tepat. Tidak boleh dia menyenangkan hatinya sendiri dengan mengorbankan perasaan Sin Hong dan Hong Li, dua orang yang dihormatinya itu.
"Li-moi, lepaskanlah. Aku tidak mau mengajak engkau pergi. Engkau hanya akan menjadi beban saja, dan aku mempunyai tugas penting."
"Han-ko....!"
Sian Li berseru dan dengan mata basah memandang kepada Yo Han seperti orang yang tidak percaya.
"Engkau.... engkau....?"
Yo Han menunduk dan menghela napas panjang.\n\n\n\n"Sudahlah, Li-moi, engkau tidak boleh membikin marah ayah ibumu. Suhu dan Subo, teecu berangkat sekarang Li-moi jaga baik-baik dirimu! Pemuda itu lalu melangkah lebar memasuki rumah, mengambil buntalannya dan akan segera pergi.
"Han-koko...!"
Sian Li hendak mengejar, akan tetapi ibunya sudah memegang lengannya.
"Sian Li, sungguh memalukan sekali sikapmu ini!"
Akan tetapi Sian Li meronta, melepaskan pegangan ibunya dan lari kedalam rumah mengejar Yo Han. Ayah ibunya saling pandang, menggeleng kepala lalu berlari mengikuti. Akan tetapi setelah tiba di kamar Yo Han, Sian Li tidak melihat lagi pemuda itu. Yo Han telah pergi dengan cepat sekali. Sian Li mencari ke sana sini dan memanggil-manggil, namun percuma, yang dipanggilnya sudah pergi tanpa meninggalkan bekas.
"Han-ko....! Han-koko....!"
Ia berteriak-teriak dan hampir bertubrukan dengan ayah ibunya di ruangan tengah.
"Sian Li!"
Bentak Sin Hong marah.
"Sian Li, kelakuanmu ini sungguh tidak patut,"
Ibunya juga mengomeli anaknya.
"Yo Han sudah pergi, dia pergi melaksanakan tugas. Engkau bukan anak kecil lagi yang begitu saja hendak ikut pergi. Engkau sudah dewasa, seorang gadis dewasa. Bagaimana mungkin seorang gadis pergi begitu saja, berdua dengan seorang pemuda? Memalukan!"
Sian Li memandang ayah dan ibunya, wajahnya pucat dan basah air mata.
"Ayah dan Ibu yang melakukan semua ini! Ayah dan Ibu yang mengusahakan agar dia pergi meninggalkan aku. Dahulu, Ayah Ibu pula yang memisahkan kami, sekarang ayah dan Ibu pula yang mengulangi hal itu. Aku ingin dekat Han-ko! Apakah Ayah dan Ibu tidak tahu? Aku cinta kepada Han-ko. Aku cinta padanya....!"
Sian Li menjatuhkan diri di atas bangku dan menangis. Sin Hong dan Hong Li saling pandang, kemudian menggeleng-geleng kepala. Hong Li mendekati anaknya, merangkulnya. Sian Li menoleh, lalu merangkul ibunya.
"Ibu....!"
Dan ia menangis tersedu-sedu di dada ibunya.
"Sian Li, kami juga mencinta Yo Han. Akan tetapi engkau dan Yo Han sudah seperti saudara sendiri. Dia cinta padamu sebagai seorang kakak, dan engkau masih terlalu kecil untuk mencinta sebagai seorang wanita. Ingatlah, kita semua akan ternoda aib kalau engkau sebagai seorang gadis baik-baik pergi merantau bersama seorang pemuda. Tugasnya berat dia harus membantu bibinya mencari puteri mereka yang hilang. Dan kita sendiripun harus membantu pamanmu Sim Houw. Kita bertiga juga akan pergi mencari keterangan. Kita akan pergi ke kota raja, siapa tahu kita akan dapat menemukan Sim Hui Eng."
Dihibur ayah ibunya dan dijanjikan akan diajak pergi membantu pencarian Sim Hui Eng, Sian Li menghentikan tangisnya.
"Sian Li, ingatlah bahwa sesungguhnya tidak tepat sama sekali kalau engkau memperlihatkan kecengengan seperti ini."
Sin Hong berkata.
"Engkau bukan seorang anak kecil lagi. Engkau seorang gadis hampir dewasa dan usiamu sudah tujuh belas tahun. Lebih daripada itu,engkau telah memiliki ilmu kepandaian yang lumayan, bahkan engkau sudah pantas dijuluki Si Bangau Merah sebagai imbangan ayahmu yang di juluki orang Pendekar Bangau Putih. Engkau harus memperdalam ilmu silat keluarga kita, yaitu Pek-ho Sin-kun dan untuk menyesuaikan kesukaanmu akan warna merah dan julukanmu Si Bangau Merah, aku akan mengubah sedikit dalam Pek-hoSin-kun agar lebih tepat dinamakan Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah), khusus untukmu."
Akhirnya Sian Li dapat melupakan kesedihannya, apalagi karena ia mengharapkan bahwa kelak ia akan dapat bertemu kembali dengan Yo Han. Mungkin dalam pesta perayaan dan pertemuan besar yang diadakan oleh Kakek Suma Ceng Liong, atau kalau Yo Han tidak muncul di sana, tentu pemuda itu akan muncul setelah berhasil menemukan Sim Hui Eng. Juga janji ayah ibunya untuk mengajak ia membantu pencarian Sim Hui Eng, dimulai di kota raja, mendatangkan kegembiraan di hatinya yang pada dasarnya memang lincah gembira, tidak dapat menyimpan kesedihan terlalu lama.
Sampai di sini, pengarang sudahi dulu kisah Si Bangau Merah ini untuk bertemu kembali dalam kisah lain yang merupakan lanjutan dari kisah ini dengan judul SITANGAN SAKTI, di mana kita akan bersua kembali dengan para tokoh dalam kisah ini. Semoga kisah ini ada manfaat nyabagi para pembacanya.
TAMAT