Halo!

Kisah Si Bangau Merah Chapter 135

Memuat...

Katanya.

"Kenapa tidak?"

Tentu Suma Lian dan suaminya, Gu Hong Beng, sudah menerima suratku dan tak lama lagi mereka tentu akan tiba di sini. Hubungan kekeluargaan harus diperbaiki, tidak seperti sekarang ini. Bertahun-tahun di antara keluarga tidak sempat bertemu karena terpisah jauh. Ingat saja kematian ayahmu. Sampai-sampai kita sendiri tidak mengetahui! Orang tentu akan menganggap aku seorang mantu yang sama sekali tidak berbakti, ayah mertua meninggal sampai dikebumi-kan tidak tahu sama sekali. Isterinya menyentuh lengan suaminya.

"Sudahlah, tidak perlu lagi disesalkan hal itu. Ibu sendiri mengatakan bahwa memang sengaja Ibu tidak mengabarkan tentang kematian Ayah, sesuai dengan pesan terakhir dari Ayah. Dan aku mengenal watak Ayah. Dahulu Ayah seringkali bicara tentang kematian sebagai perjalanan pulang kampung! Ayah tidak setuju kalau orang meninggal ditangisi dan dikabungi, yang dikatakan semua itu hanya upacara pura-pura dan palsu belaka. Sepatut-nya keluarga bersukur kalau ada orang yang dikasihinya "pulang kampung"

Karena terbebas dari siksa dunia."

"Yah, Ayah memang aneh dan kukira setiap orang berilmu tinggi di dalam ini mempunyai keanehan masing-masing yang tidak mereka sadari bahwa mereka berbeda dengan orang-orang awam."

"Engkau benar, isteriku. Aku tidak menyesali peristiwa itu, hanya alangkah baiknya kalau sebelum mati, kita selalu memiliki hubungan yang akrab dengan keluarga besar kita."

Percakapan mereka terhenti seketika karena karena pada saat itu terdengar derap kaki dua ekor kuda menuju ke rumah itu. Ketika nampak dua ekor yang ditunggangi Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, suami itu cepat bangkit berdiri dengan wajah berseri. Mereka memang sedang menanti-nanti kedatangan mereka. Setiap tahun sekali, sejak Sian Li berada di situ, Sin Hong dan Hong Li pasti datang berkunjung, yaitu menjelang hari raya sin-cia (tahun baru), dan kunjungan mereka sekali ini adalah untuk menjemput kembali puteri mereka yag sudah tiba waktunya untuk pulang setelah berada di bawah bimbingan kakek dan nenek itu selama lima tahun.

Tan Sin Hong yang kini sudah berusia empat puluh tahun itu masih nampak gagah dengan pakaian yang sederhana berwarna serba putih, yang membuat dia dijuluki Pendekar Bangau Putih di dunia persilatan. Sedangkan isterinya, Kao Hong Li yang berusia tiga puluh sembilan tahun itu masih nampak muda, cantik, lincah dan gagah. Dengan sigapnya mereka berdua meloncat turun dari atas punggung kuda, dan dua orang pelayan yang mengenal kewajiban dan mengenal pula dua orang tamu itu sudah berlari-lari menyambut dan mereka segera mengurus dua ekor kuda itu. Sin Hong dan Hong Li cepat maju memberi hormat kepada tuan dan nyonya rumah, yang disambut dengan ramah dan gembira.

"Aha, kami memang sudah menanti-nanti kalian!"

Kata Suma Ceng Liong sambil membalas penghormatan mereka.

"Mari silakan duduk di dalam." "Harap kalian jangan kecewa, Sian Li tidak turut menyambut karena ia masih belum pulang,"

Kata Kam Bi Eng sambil tersenyum melihat suami isteri itu melihat-lihat ke sekeliling, mencari-cari.

"Bibi, ia pergi kemanakah?"

Tanya Hong Li heran.

"Duduklah dan nanti kita bicara,"

Kata Suma Ceng Liong yang mengajak dua orang tamunya duduk di ruangan sebelah dalam. Setelah mereka semua duduk, berceritalah kakek dan nenek itu tentang kunjungan Suma Cian Bun dan Gangga Dewi dan betapa Sian Lun ikut kedua orang itu berpesiar ke Bhutan.

"Ke Bhutan?"

Kao Hong Li berseru kaget.

"Akan tetapi tempat itu jauh dan perjalanannya amat berbahaya!"

Juga suaminya terkejut mendengar bahwa puteri mereka pergi ke Bhutan melalui pegunungan dan gurun yang berbahaya.

"Sian Li mendesak dan kami tidak dapat mencegahnya. Apalagi ia pergi bersama Kakak Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, dan ia pun ditemani suhengnya, Liem Sian Lun. Kami pikir, mereka berdua sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup dapat menjaga diri. Pula, bukankah amat penting bagi mereka untuk meluaskan pengalaman mereka!"

Kata Suma Ceng Liong. Mendengar penjelasan itu, Sin Hong dan Hong Li dapat menerimanya dan mereka pun menjadi tenang kembali. Bagaimanapun juga, mereka berdua dahulu pun merupakan petualang-petualang yang malang-melintang di dunia kang-ouw. Hanya pengalaman di dunia kang-ouw saja yang membuat seseorang menjadi matang, pikir mereka dan mereka pun menghilangkan kekhawatiran mereka.

"Akan tetapi, menurut perhitungan kami, dalam hari-hari mendatang ini ia dan Sian Lun tentu akan segera datang, kata Kam Bi Eng.

"Kalau begitu, biarlah kami menunggu kedatangan di sini, Bibi!"

Kata Hong Li. Suma Ceng Liong tersenyum.

"Itulah yang kuharapkan karena aku ingin minta bantuan kalian berdua untuk melengkapi catatan daftar keluarga yang akan kami kumpulkan pada hari ulang tahunku yang ke enam puluh. Aku ingin agar tidak ada anggauta keluarga yang terlewat. Yang kumaksudkan dengan keluarga adalah keluarga tiga perguruan besar, yaitu keluarga Istana Pulau Es, keluarga Istana Gurun Pasir, keluarga Lembah Gunung Naga, dan sekalian murid-murid mereka."

Sin Hong dan Hong Li ikut gembira mendengar niat ini. Sebuah niat yang baik sekali dan pasti pesta pertemuan yang amat menggembirakan. Membayangkan saja akan bertemu muka dengan seluruh keluarga tiga perguruan itu sudah membuat mereka merasa tegang dan gembira. Selama beberapa hari menanti datangnya Sian Li, dan Sian Lun, suami isteri itu membantu Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng menyusun daftar para anggauta keluarga. Tentu saja hanya yang mereka ingat dan kenal. Keluarga dari tiga perguruan itu telah menjadi amat luas dan banyak sehingga untuk dapat mengetahui seluruh anggauta keluarga dengan lengkap memakan waktu lama dan harus bertanya-tanya kepada anggauta keluarga lain.

"Kita mulai dari keluarga Istana Pulau Es,"

Kata Suma Ceng Liong dengan sikap gembira. Di depan empat orang itu, di atas meja, telah dipersiapkan sebuah buku daftar untuk mencatat nama dan alamat keluarga yang akan diundang.

"Sebaiknya kita susun dari anggauta keluarga paling tua berikut keluarga masing-masing,"

Usul isterinya.

"Benar sekali,"

Kata Suma Ceng Liong sambil mengingat-ingat.

"Sekarang ini anggauta keluarga Istana Pulau Es yang paling tua tentulah Enci Suma Hui."

Hong Li mengangguk senang.

"Memang agaknya Ibuku yang paling tua diantara keluarga Suma."

"Nah, kita mulai dengan nama Enci Suma Hui, dan suaminya juga kebetulan merupakan anggauta tertua dari keluarga Istana Gurun Pasir,"

Kata Suma Ceng Liong.

"Kita mulai dengan keluarga mereka di tempat teratas, dan tentu saja anak cucu dan para murid mereka."

Dengan bantuan isterinya dan dua orang tamunya, Suma Ceng Liong mulai menyusun daftar keluarga yang dikirim undangan untuk pertemuan besar itu. Setelah bekerja beberapa hari lamanya, tersusunlah daftar sementara seperti berikut. Keluarga Istana Pulau Es terdiri dari. Suma Hui dan suaminya, Kao Cin Liong, yang tinggal di kota Pao-teng dan anak mereka Kao Hong Li yang bersama suaminya,

Tan Sin Hong tinggal di kota Ta-tung bersama puteri mereka, Tan Sian Li. Suma Ciang Bun bersama isterinya, Gangga Dewi kini tinggal di istana Kerajaan Bhutan, yaitu kota raja Thim-phu. Tidak diketahui apakah keduanya mempunyai murid ataukah tidak. Kemudian Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng yang tinggal di dusun Hong-cun luar kota Cin-an, bersama seorang murid mereka bernama Liem Sian Lun. Puteri mereka, Suma Lian bersama suaminya, Gu Hong Beng, tinggal di kota Ping-san, di selatan Pao-teng tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai murid pula. Nyonya Gak dapat dibilang masih keluarga Istana Pulau Es, karena ia adalah isteri dari dua saudara kembar Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, yaitu putera dari mendiang Gak Bun Beng dan Puteri Milana, yaitu masih puteri Pendekar Super Sakti.

Maka Nyonya Gak dan puteranya, Gak Ciang Hun, juga masuk dalam daftar undangan. Kini ibu dan anak itu tinggal di puncak Beng-san. Adapun keluarga Istana Gurun Pasir yang tertua adalah Kao Cin Liong, suami Suma Hui yang sudah masuk urutan pertama dari daftar itu. Ayah Kao Cin Liong, mendiang Kao Kok Cu mempunyai murid, yaitu Can Bi Lan yang kini bersama suaminya, Sim Houw, tinggal di Lok-yang, dan ada puteri mereka, Sim Hui Eng, yang kabarnya lenyap ketika berusia tiga tahun, demikian yang diketahui Suma Ceng Liong. Sepanjang yang diketahuinya, Sim Houw dan Can Bi Lanmempunyai seorang putera pertama Sim Hok Bu, namun anak itu meninggal dalam usia delapan tahun karena penyakit. Kalau pun masih ada murid-murid dari keluarga Istana Gurun Pasir,

Hal itu tidak diketahui sama sekali oleh mereka berempat dan harus mereka selidiki dulu dengan menanyakan kepada anggauta keluarga lain. Keluarga lain yang mereka catat adalah keluarga dari Lembah Gunung Naga, atau keturunan dari perguruan Suling Emas. Setelah Kam Hong meninggal dunia, maka yang tertua tentu saja adalah Bu Ci Sian ibu Kam Bi Eng, nenek yang kini tinggal seorang diri di puncak Bukit Nelayan menunggui makam suaminya. Tidak diketahui jelas siapa murid mereka bahkan Kam Bi Eng sendiri juga tidak tahu karena ibunya tdak pernah memberitahu. Kemudian ada Cu Kun Tek yang bersama isterinya, Pouw Li Sian murid Gak Bun Beng, tinggal di Lembah Gunung Naga sebagai pewaris keluarga Cu.Tidak diketahui dengan pasti keadaan mereka dan siapa saja yang masih terhitung murid atau keluarga perguruan Suling Emas dan Naga Siluman ini.

"Jangan dilupakan nama Yo Han,"

Sin Hong mengingatkan.

"Biarpun dia putera Yo Jin dan Ciong Siu Kwi yang tidak ada sangkut pautnya dengan ketiga perguruan, namun Yo Han pernah menjadi murid kami berdua, dan dia bahkan pernah kami anggap seperti anak sendiri."

Suma Ceng Liong mengangguk dan dia pun mencatat nama Yo Han. Masih jauh daripada lengkap daftar itu, hanya mereka catat nama-nama yang mereka kenal saja. Pada hari kelima, muncullah Tan Sian Li bersama Yo Han. Pagi hari itu, Suma Ceng Liong, Kam Bi Eng, Tan SinHong dan Kao Hong Li sedang duduk diserambi depan. Mereka berempat menengok dan begitu melihat Sian Li, mereka melompat bangun dan memandang dengan wajah berseri.

"Ibu....! Ayah....!"

Sian Li berteriak begitu melihat ayah ibunya, lalu berlari menghampiri mereka dan di lain saat ia sudah berpelukan dengan ibunya. Mereka gembira bukan main sampai melupakan Yo Han yang berdiri termangu, hatinya diliputi keharuan ketika dia melihat Tan Sin Hong dan Kao Hong Li. Karena mereka semua sedang asyik dan sibuk, diapun tidak berani mengganggu dan hanya berdiri di bawah, di luar serambi sambil memandang. Setelah Sian Li memberi hormat kepada ayah ibunya dan kepada Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, barulah dua orang tua ini berseru heran, dan memandang kepada Yo Han.

"Sian Li, mana Sian Lun? Dan dia itu.... siapa dia yang datang bersamamu?"

Tanya Suma Ceng Liong dengan suara heran. Kao Hong Li yang masih merangkul puterinya juga memandang kepada Yo Han dan bertanya,

"Sian Li, engkau datang bersama siapakah?"

Dalam perjalanan mereka, Yo Han pernah menasihatkan Sian Li untuk melapor kepada Suma Ceng Liong dan isterinya bahwa suhengnya itu tewas sebagai seorang pendekar dan tidak bercerita tentang penyelewengannya. Kini Sian Li, yang tidak biasa berbohong, dengan muka ditundukkan lalu berkata, suaranya lirih.

"Ayah Ibu, Kakek dan Nenek, dengan menyesal sekali aku harus mengabarkan bahwa Suheng Liem Sian Lun telah.... tewas...."

Post a Comment