Halo!

Kisah Si Bangau Merah Chapter 129

Memuat...

"Kita harus waspada malam ini. Kalau tidak meleset perhitunganku, malam inilah penyerbuan itu akan terjadi. Karena Sian Lun sudah tidak ada, kini kita hanya mencari kesempatan untuk melarikan diri saja dari tempat ini. Aku tidak ingin terlibat dalam pertempuran antara persekutuan ini melawan pasukan Tibet. Mengertikah engkau, Li-moi?"

Gadis itu mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, aku harus membunuh pangeran Nepal jahanam itu, Han-ko!"

Yo Han menatap tajam wajah Sian Li.

"Kenapa harus, Li-moi?"

"Pertama, dia pernah hampir memperkosaku, dan untung ada Cu Ki Bok yang menolongku. Ke dua, dia telah membunuh Suheng. Tidak pantaskah kalau aku membalas dendam dan membunuhnya?"

"Li-moi, siapakah kita ini maka boleh membunuh sesama manusia begitu saja? Li-moi, kita mempelajari ilmu bukan untuk menjadi pembunuh. Kurasa ayah ibumu sendiri, juga guru-gurumu tentu telah memberita-hu akan kebenaran itu. Kita sebagai manusia tidak berhak untuk membunuh manusia lain, dengan alasan apapun juga."

"Tapi, Han-ko. Bukankah dia juga telah membunuh Suheng? Bukankah dia hampir memperkosaku dan hal-hal itu saja membuktikan betapa jahatnya dia? Dia layak dihukum, dibunuh agar jangan menambah kejahatannya lagi dan mengganggu orang lain."

Yo Han menggeleng kepalanya.

"Katakanlah dia jahat dan dia telah membunuh suhengmu. Kalau kita membalas dan membunuhnya, lalu apa bedanya antara dia dengan kita?"

"Jelas bedanya, Han-ko! Kita membunuhnya untuk membe-rantas kejahatan sedangkan dia membunuh Suheng untuk melakukan kejahatan...."

"Tidak begitu, Li-moi. Kalau kita tanya kepadanya, tentu dia memiliki alasan yang cukup kuat mengapa dia membunuh suhengmu. Setiap orang yang melakukan sesuatu tentu akan mempunyai alasan untuk membela diri. Padahal yang mendorong pembunuhan adalah sama, yaitu balas dendam, kebencian dan permusuhan. Kalau engkau hendak membunuhnya, maka jelas dasarnya adalah dendam kebencian."

"Aih, sekarang aku mengerti mengapa Ayah dan Ibu mengatakan engkau seorang yang baik hati akan tetapi aneh, Hanko."

"Apa yang dikatakan ayah ibumu tentang diriku?"

Yo Han ingin sekali mendengarnya.\n\n\n\n"Ayah dan Ibu pernah bercerita kepadaku bahwa engkau memiliki bakat ilmu silat yang luar biasa, akan tetapi anehnya, engkau sama sekali tidak mau mempelajari ilmu silat karena engkau selalu berpendapat bahwa ilmu silat adalah ilmu memukul dan membunuh orang. Sekarang, setelah engkau memiliki ilmu kepan-daian yang tinggi, engkau pantang membunuh orang, betapapun jahatnya orang itu. Aku sudah men-dengar sepak terjangmu sebagai Sin-ciang Tai-hiap. Han-ko, kalau begitu, untuk apa engkau mempelajari ilmu silat sampai begitu tinggi?"

"Untuk apa? Selain untuk membela diri dari ancaman bahaya, untuk menyehatkan dan menguatkan tubuh, untuk menguasai gerakan yang mengandung seni tari yang indah, juga kepandaian itu dapat kupergunakan untuk menolong orang lain yang terancam bahaya. Bahkan dengan kepandaian ini dapat kita pakai untuk menekan orang tersesat agar mereka kembali ke jalan yang benar. Bagaikan obat bagi orang sakit, obat yang keras namun manjur, ilmu silat dapat kita pergunakan menyembuhkan orang sakit batin sehingga dia jera menjadi penjahat dan kembali ke jalan benar."

Sampai beberapa lamanya, Sian Li berdiam diri, memikirkan apa yang dikatakan Yo Han, lalu ia menghela napas panjang.

"Kalau begitu, dalam pertemuan nanti, aku tidak boleh mencari Gulam Sing dan tidak boleh menyerangnya?"

"Dia lihai sekali, Li-moi."

"Aku tidak takut, dan aku tidak gentar biar terancam maut melawannya!"

Kata gadis itu dengan sikap gagah. Yo Han tersenyum.

"Aku percaya, Limoi. Dan aku pun tidak akan membiarkan engkau menghadapi dia seorang diri. Akan tetapi, ingatlah bahwa dia akan memimpin orang-orangnya untuk melawan pasukan Tibet. Kalau kita ikut bertempur berarti kita telah terlibat dalam perang antara mereka. Padahal, aku minta bantuan orang-orang kang-ouw hanya agar kita mendapat kesempatan untuk melarikan diri saja, bukan untuk bertempur dan saling bunuh."

"Jadi berarti.... aku harus membiarkan saja Gulam Sing itu melakukan kejahatan tanpa dihukum?"

"Li-moi, tidak ada perbuatan tanpa akibat yang menimpa Si Pembuat sendiri. Tidak ada orang yang tidak menuai dan memakan hasil tanamannya sendiri. Tuhan Maha Adil, Li-moi. Ingatlah, seorang yang berjiwa pendekar pantang untuk mendendam, katena perbuatan apa pun yang didasari dendam dan kebencian, maka perbuatan itu sudah pasti sesat dan jahat. Kita menentang perbuatan jahat, tanpa dendam kebencian kepada orang yang melakukan kejahatan itu. Sekali engkau menurutkan perasaan hati dalam tindakanmu, maka engkau akan melakukan hal yang bagi orang lain akan dianggap jahat pula. Musuh yang paling berbaha-ya bukan terdapat di luar diri kita, melainkan di dalam diri sendiri. Musuh itu adalah kalau nafsu sudah merajalela di dalam hati akal pikiran."

"Aihh, aku menjadi pening, Han-ko. Terserah kepadamu sajalah. Aku ingat bahwa Ayah dan Ibu meng-anggap engkau seorang yang berbudi mulia, karena itu, apa pun yang kau katakan tentu benar."

Dua orang ini sama sekali tidak mengira bahwa pada saat itu, para pimpinan gerombolan itu pun sedang bersiap siaga, dan mereka pun mengadakan pertemuan dan membicarakan kematian Sian Lun dan akibatnya.

"Biarlah Sin-ciang Tai-hiap datang kalau dia marah karena aku membunuh pemuda itu,"

Kata Pangeran Gulam Sing.

"Aku tidak takut kepadanya. Dan kita begini banyak. Kalau kita maju bersama menghadapinya, apakah seorang saja dia akan mampu mengalahkan kita?"

"Ada satu hal yang aneh sekali dan membuat kami berpikir-pikir,"

Kata Ji Kui, orang tertua dari Pek-lian Sam-li.

"Apakah yang kau maksudkan?"

Lulung Lama bertanya karena suara wanita itu terdengar penuh rahasia dan penuh kesungguhan. Semua orang memandang kepadanya.

"Tentu kalian telah melihat sendiri betapa kami bertiga mempergunakan kekuatan sihir untuk memaksa Sian Li dan Yo Han berlutut kepada kami. Akan tetapi, mereka berdua sama sekali tidak jatuh berlutut, bahkan kami terhuyung oleh pukulan tenaga kami yang membalik Bukanlah ini aneh sekali?"

"Apanya yang aneh?"

Kata Lulung Lama mendongkol.

"Gadis itu adalah keturunan keluarga Pendekar Pulau Es dan Naga Gurun Pasir. Kalau ia dapat menolak kekuatan sihir kalian, tidak dapat dibilang aneh."

Melihat Ketua Hek I Lama yang baru itu marah-marah. Pek-lian Sam-li berdiam diri. Juga semua orang diam. Suasana menjadi sunyi sampai tiba-tiba Pangeran Gulam Sing menggebrak meja.

"Memang aneh!"

Katanya melalui penterjemahnya.

"Aku mengenal kekuatan sihir Pek-lian Sam-li, cukup kuat bahkan lebih kuat daripada kekuatan sihirku. Tidak mungkin nona itu akan dapat bertahan menghadapi serangan sihir mereka, apalagi menolak dan membuat tenaga mereka membalik. Menghadapi sihirku saja, ia tidak tahan dan tunduk...."

Dia menoleh kepada Cu Ki Bok, teringat betapa dia sudah hampir berhasil menguasai Sian Li akan tetapi muncul pemuda itu yang menggagalkannya.

"Itulah yang membuat kami berpikir-pikir,"

Kata Ji Kui yang mendapat angin oleh pertanyaan Gulam Sing itu.

"Kami pun tahu akan kemampuan gadis itu. Jelas bukan ia yang menolak kekuatan sihir kami, akan tetapi Yo Han, kakak misannya itu."

"Hemmm, rasanya tidak mungkin,"

Kata Cu Ki Bok, Yo Han itu hanya utusan Sin-ciang Tai-hiap, dan sepanjang pengetahuanku, dia seorang pemuda yang lemah dan...."

"Kami sudah mempertimbangkan semua itu dan kami hampir merasa yakin bahwa Yo Han itu adalah Sin-ciang Tai-hiap sendiri!"

Kata pula Ji Kui dan sekali ini semua orang terlonjak saking kaget hati mereka.

"Omitohud....! Apa maksudmu? Dia.... dia Sin-ciang Tai-hiap?"

Teriak Lulung Lama.

"Kami hampir yakin akan hal itu,"

Kata Ji Kui pula sambil menoleh ke arah Pangeran Gulam Sing.

"Pangeran, ingatkah engkau betapa mudahnya engkau menundukkan Sian Li dengan sihirmu? Rasanya tidak mungkin kalau sekarang ia bukan saja mampu bertahan terhadap pengaruh sihir kami, bahkan membuat tenaga kami membalik. Jelaslah bahwa yang memiliki kekuatan dahsyat itu tentu pemuda bernama Yo Han itu. Siapa di antara kita yang sudah membuktikan sendiri bahwa pemuda itu lemah? Dan biarpun selama ini Sin-ciang Tai-hiap menutupi mukanya, dan biarpun mungkin suaranya yang diubah, akan tetapi bentuk tubuhnya serupa benar dengan Yo Han itu. Kalau dia pemuda biasa yang lemah, bagaimana dia dapat bersikap sedemikian beraninya, bukan saja mengunjungi adik misannya di sini, bahkan minta ditahan pula di sini dengan alasan menemani gadis itu! Hemm, siapa lagi dia kalau bukan Sin-ciang Tai-hiap?"

"Omitohud....! Kalau begitu, celaka, kita telah kebobolan! Ki Bok, bagaimana hal ini sampai dapat terjadi?"

Lulung Lama menegur muridnya. Wajah Cu Ki Bok berubah, matanya terbelalak. Pendapat Pek-lian Sam-li itu masuk diakal dan dia sendiri pun baru sekarang menyadari kemungkinan itu. Yo Han adalah Sin-ciang Tai-hiap! Kenapa dia tidak memikirkan kemungkinan itu? Biasanya dia amat cerdik dan tidak mudah ditipu. Inilah akibatnya kalau dia tergila-gila! Karena dia mencinta Sian Li, dia tidak ingat apa-apa lagi kecuali untuk melindungi gadis itu. Dia bangkit berdiri.

"Suhu, kalau benar demikian, teecu yang akan menangkap Yo Han itu!"

Dan dia pun berlari keluar. Akan tetapi di luar dia masih mendengar teriakan-teriakan mereka yang berada di dalam.

"Kalau dia Sin-ciang Tai-hiap, kita harus menyerbu beramai-ramai, sekarang juga!"

Terdengar teriakan suhunya. Ki Bok maklum bahwa inilah saatnya dia harus bertindak cepat.

Dia harus menyelamatkan Sian Li terlebih dahulu. Mengenai Yo Han, kalau benar dia Sin-ciang Tai-hiap dan tidak mau bekerja sama, dia sendiri akan membantu untuk mengeroyok dan membunuh pendekar yang berbahaya itu. Akan tetapi, yang terpenting baginya, sekarang juga sebelum terlambat dia harus menyingkirkan Sian Li dari situ, harus dapat membiarkan gadis itu lolos. Dia tidak tahu betapa ketika semua orang menyerbu keluar, Ji Kui, orang pertama dari Pek-lian Sam-li, mendekati Lulung Lama dan membisikkan sesuatu yang mem-buat Lulung Lama mengerutkan alisnya dan nampak terkejut dan marah. Ki Bok mengerahkan seluruh kepandaiannya, berloncatan dengan cepat sekali dan dia mengetuk daun pintu pondok di mana Sian Li dan Yo Han tinggal. Enam orang petugas jaga segera menghampirinya dari tempat penjagaan,

Juga ada belasan orang muncul dari tempat persembunyian. Ternyata pondok itu dijaga ketat sehingga kalau penghuninya hendak melarikan diri, maka tentu usaha itu akan ketahuan. Akan tetapi ketika para petugas itu mengenal Ki Bok, mereka memberi hormat dan segera mundur kembali setelah Ki Bok memberi isarat. Sian Li dan Yo Han tidak tidur. Mereka di kamar masing-masing duduk bersila dan meng-himpun tenaga, menanti datangnya saat penyerbuan seperti yang diharapkan Yo Han. Ketika mereka mendengar ketukan pada daun pintu depan, keduanya yang memang selalu siap siaga, segera keluar dari dalam kamar. Yo Han memberi isarat kepada Sian Li untuk membuka daun pintu sedangkan dia menyelinap kembali ke dalam kamarnya. Sian Li maklum bahwa Yo Han ingin mengintai apa yang akan terjadi.

"Siapa di luar?"

Sian Li bertanya dari balik daun pintu.

"Sian Li, ini aku, Ki Bok. Cepat buka ada urusan penting sekali,"

Terdengar suara Ki Bok berbisik dari luar pintu. Mendenger ini, Sian Li cepat membuka daun pintu. Ki Bok masuk dan memandang ke sekeliling, wajahnya cemas.

Post a Comment