Melihat sikap dan mendengar ucapan suhengnya itu, Sian Li tertegun. Ia masih sangsi. Benarkah suhengnya itu telah sadar dan hendak menolongnya? Ataukah ini pun hanya siasat busuk belaka? Agaknya Sian Lun maklum pula akan kesangsian sumoinya.
"Lihat, Sumoi. Aku telah membunuh empat orang penjaga di depan. Engkau larilah melalui pintu belakang, langsung ke pagar bambu sebelah selatan dan lolos dari sana. Kalau ada yang mengejar, biar aku yang akan menghadapi mereka."
Sian Li berlari ke depan dan ia melihat betapa empat orang penjaga di situ telah menggeletak mandi darah. Diam-diam ia terkejut. Kiranya Sian Lun benar-benar tidak membual. Ia menoleh kepada Yo Han untuk minta pendapatnya. Yo Han juga sejenak tertegun melihat perubahan tiba-tiba pada diri Sian Lun itu. Akan tetapi, Yo Han segera dapat menduga bahwa tentu kini Sian Lun telah sadar, menyesal dan ingin menebus dosanya! Maka dia pun diam-diam merasa girang sekali.
"Kalau memang hendak meloloskan diri, marilah kita bertiga lari bersama selagi ada kesempatan!"
Kata Yo Han. Akan tetapi pada saat itu, rombongan para pimpinan yang tadi melakukan pengejaran telah tiba pula di depan pondok, dipimpin oleh Pangeran Gulam Sing dan tiga orang Pek-lian Sam-li. Melihat ini, Sian Lun terkejut dan dia pun cepat berkata,
"Sumoi, pergilah ke belakang. Cepat!"
Dan dia sendiri sudah melompat keluar untuk menyambut para pengejar. Dia tahu bahwa bicara dengan mereka tidak ada gunanya lagi. Dia telah membunuh empat orang penjaga. Tentu mereka tidak akan meng-ampuninya, apalagi melihat dia berusaha membantu Sian Li melarikan diri. Dengan pedang di tangan dia pun menyerbu ke arah Pangeran Gulam Sing yang berada paling depan.
"Kalian hendak memberontak?"
Pek-lian Sam-li membiarkan pemuda bekas kekasihnya itu dihadapi Gulam Sing yang mereka yakin akan mampu menundukkan pemuda itu. Mereka sudah meloncat ke depan Sian Li dan Yo Han, diikuti oleh para pimpinan lain. Sian Li sudah siap untuk melawan walaupun ia tidak memegang senjata. Akan tetapi Yo Han maklum behwa keadaan mereka tidak menguntungkan. Kini agaknya terpaksa dia harus mem-buka rahasianya. Dia harus melindungi Sian Li walaupun agaknya sudah terlambat untuk melindungi Sian Lun. Jarak di antara mereka terlalu jauh dan kalau dia meloncat untuk melindungi pemuda itu, berarti dia harus meninggalkan Sian Li dan hal ini berbahaya sekali. Karena mereka berpisah, maka dia tidak mungkin dapat melindungi keduanya dan tentu saja dia lebih memberatkan Sian Li daripada pemuda itu.
Dia pun sudah siap membela Sian Li dan dia sudah melangkah maju untuk menghadapi pengeroyokan orang-orang lihai dari persekutuan pemberontak itu. Sementara itu, tanpa mengeluarkan kata apa pun. Sian Lun sudah menyerang Gulam Sing dengan pedangnya. Kalau tadinya dia memandang Gulam Sing sebagai rekan, keduanya menjadi kekasih Pek-lian Sam-li, kini dia memandangnya sebagai musuh dan serangan-serangan yang dilancarkan Sian Lun adalah serangan maut yang dimaksudkan untuk mem-bunuh. Namun, Gulam Sing ternyata lihai sekali. Tingkat kepandaian pangeran Nepal ini memang lebih tinggi dibandingkan Sian Lun. Dia menggunakan golok melengkung untuk membendung gelombang serangan pedang Sian Lun dan setiap kali golok bertemu pedang, Sian Lun merasakan tangannya tergetar dan pedangnya terpental. Dia kalah tenaga dan sebentar saja dia mulai terdesak hebat.
"Kalian hendak melarikan diri? Jangan harap dapat keluar dari sini dalam keadaan bernyawa!"
Kata Ji Kui sambil tersenyum mengejek, kemudian, setelah memberi isarat kepada dua orang adiknya Ji Kui yang sudah mengerahkan kekuatan sihir dibantu dua orang adiknya, membentak nyaring.
"Tan Sian Li dan Yo Han pandanglah kami dan kalian berdua harus mentaati perintah kami! Berlututlah kalian! Hayo, berlutut!"
Sian Li merasa ada kekuatan aneh yang seperti hendak menariknya untuk menjatuhkan diri berlutut. Akan tetapi karena ia sudah siap siaga sebelumnya, ia dapat mengerahkan sin-kang dan melawan. Tiba-tiba saja kekuatan aneh yang menariknya itu lenyap seperti disapu angin dan tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu mengeluarkan suara terkejut dan heran. Mereka agak terhuyung ke belakang dan terengah-engah. Pengerahan tenaga sihir mereka. membalik dan menghantam isi dada mereka sendiri! Kini mereka siap untuk menyerang, dan ketiganya sudah mencabut pedang. Gerakan itu diikuti oleh kawan-kawannya yang sudah mengepung Yo Han dan Sian Li, akan tetapi sebelum para pengepung itu bergerak menyerang, tiba-tiba terdengar bentakan,
"Tahan semua senjata!"
Pek-lian Sam-li menengok dan mereka melihat bahwa yang membentak itu adalah Cu Ki Bok. Tiga orang wanita ini diam-diam merasa tidak suka kepada pemuda ini. Pertama mereka tidak mampu mempermainkan Ki Bok, dan ke dua mereka tidak berani menentangnya mengingat bahwa Ki Bok adalah murid dan kepercayaan Lulung Lama.
"Cu-enghiong (Orang Gagah Cu), dua orang ini jelas hendak melarikan diri, kenapa engkau melarang kami membunuhnya? Mereka hendak memberontak!"
Kata Ji Kim.
"Itu fitnah belaka,"
Kata Ki Bok.
"Suhu membutuhkan bantuan mereka, juga bantuan Sin-ciang Tai-hiap. Bagaimana kalian dapat lancang membunuh mereka? Pula, mereka sama sekali tidak melarikan diri. Liem Sian Lun itu yang hendak berkhianat."
"Empat orang penjaga telah mereka bunuh!"
Kata Ji Kui.
"Tidak mungkin. Lihat, Nona Tan Sian Li dan saudara Yo Han ini sama sekali tidak memegang senjata, dan empat orang penjaga itu jelas tewas karena bacokan dan tusukan pedang. Yang memegang pedang hanyalah Sian Lun, jadi dialah yang membunuh para penjaga, bukan dua orang tamu ini. Atas nama Suhu, aku melarang kalian mengganggunya. Suhu perlu bicara dengan mereka."
Sikap Cu Ki Bok keras dan tegas sehingga para anak buah Hek I Lama tidak berani melanggar, juga para tamu tentu saja tidak berani menentang tuan rumah. Apalagi karena apa yang dikemukakan pemuda itu memang benar. Empat orang penjaga itu tewas karena terluka pedang, sedangkan dua orang itu sama sekali tidak memegang senjata.
"Suheng....!"
Tiba-tiba Sian Li berseru, terbelalak dan ia pun meloncat dari situ. Ternyata Sian Lun telah terkena tendangan Gulam Sing yang disusul bacokan golok melengkung. Baco-kan itu merobek perutnya dan pemuda itu roboh sambil kedua tangan menekan perutnya yang terluka parah untuk menahan agar isi perutnya tidak terburai keluar! Pangeran Gulam Sing tertawa bergelak dengan bangga sambil membersihkan goloknya, dan Sian Li sudah berlutut di dekat tubuh suhengnya. Sian Lun mendekap perut dan darah membasahi seluruh tubuhnya. Akan tetapi dia masih sempat me-mandang Sian Li dan berkata lemah,
"Sumoi, kau maafkanlah.... aku.... dan mintakan ampun untukku.... dari Suhu dan Subo.... aku.... aku berdosa...."
Kepala itu terkulai, kedua tangan terlepas dari perut dan ususnya terburai.
"Suheng....!"
Sian Li menjerit ngeri melihat keadaan suhengnya, dan ia pun melompat berdiri, membalik dan menghadapi Pangeran Gulam Sing dengan mata melotot dan muka merah.
"Kau.... kau.... jahanam busuk.... kau telah membunuhnya!"
Lian ia pun menerjang dengan nekat, menggunakan tangan kosong sambil mengerahkan sin-kang dingin dari Pulau Es. Sambil tertawa dan memandang ringan, pangeran Nepal itu menangkis dan hendak menangkap kedua tangan gadis itu. Dia terlalu memandang rendah, tidak tahu bahwa dalam serangan itu, Sian Li mengerahkan seluruh tenaga Swat-im Sin-kang dari Pulau Es. Maka, begitu dua pasang tangan bertemu, Pangeran Gulam Sing terdorong ke belakang dan dia pun menggigil kedinginan! Dia terkejut setengah mati dan terpaksa dia melempar tubuh ke belakang dan bergulingan agar tidak menerima serangan susulan lawan. Akan tetapi hal itu tidak perlu karena Yo Han sudah berada di dekat Sian Li, menyabarkan gadis itu.
"Hentikan seranganmu, Li-moi. Serahkan saja urusan ini kepada Sin-ciang Tai-hiap."
Ucapan itu selain dapat menyabarkan Sian Li, juga membuat para pengepung menjadi gentar karena Yo Han menyebut-nyebut nama Sin-ciang Tai-hiap yang tentu akan marah sekali karena Sian Lun telah dibunuh. Sian Li kembali menghampiri mayat suhengnya dan menangis. Ki Bok cepat mendekatinya.
"Sudahlah Sian Li, tidak ada gunanya lagi ditangisi. Aku akan menyuruh orang-orangku untuk mengurus jenazah suhengmu baik-baik dan memperabukan jenazah itu agar abunya dapat kau bawa kalau kau menghendakinya. Sebaiknya engkau dan Yo-toako berdiam saja di pondokmu malam ini dan jangan keluar."
Sian Li meng-angguk dan merasa berterima kasih sekali. Kalau tidak ada Ki Bok, mungkin ia dan Yo Han juga sudah dikeroyok banyak orang dan entah bagaimana akibatnya. Agaknya, murid Lulung Lama ini memang benar-benar jujur dan hendak menolongnya, tentu saja tidak berani berterang karena kalau hal itu diketahui Lulung Lama, tentu dia sendiri akan celaka dan dianggap sebagai seorang pengkhianat. Yo Han agaknya mengerti akan keadaan Ki Bok, maka dia pun mengajak Sian Li memasuki kembali pondok mereka. Peristiwa kematian Sian Lun itu tentu saja. menimbulkan perubahan pada rencana yang tadi telah diputuskan, yaitu untuk menghadapkan Sian Li dan Yo Han dan minta mereka menentukan sikap.
Bagaimanapun juga, Sin-ciang Tai-hiap yang pernah mengadu ilmu melawan Dobhin Lama menuntut dibebaskannya Sian Lun dan kini pemuda itu telah tewas. Tentu akan terjadi hal yang lebih gawat, maka atas permintaan Ki Bok, Lulung Lama menunda keputusan itu. Penjagaan diperkuat karena mereka khawatir kalau Sin-ciang Tai-hiap telah mendengar akan kematian Sian Lun itu dan akan datang menyerbu malam itu. Sementara itu, di dalam pondok Sian Li masih duduk termenung, wajahnya agak pucat dan kedua matanya berlinang air mata. Biar pun tadinya ia marah dan membenci Sian Lun yang mengkhianatinya dan melihat suhengnya itu bermain gila dengan tiga orang wanita Pek-lian-kauw, namun pada akhir hidupnya suhengnya itu telah bersikap gagah, bahkan telah mengorbankan nyawa sendiri demi membelanya.
Sian Lun telah bertekad untuk membebaskannya dengan pengorbanan nyawanya. Walaupun usaha membebaskannya itu gagal karena keburu ketahuan para tokoh persekutuan itu, namun tidak urung nyawanya menjadi korban. Pada akhir hidupnya, Sian Lun telah menebus kesalahannya dengan perbuatan gagah dan membuktikan cintanya kepadanya. Terkenanglah ia akan masa lalunya, ketika ia dan Sian Lun masih sama-sama belajar ilmu di bawah pimpinan Kakek Suma Ceng Liong dan isterinya, selama lima tahun lebih. Teringatlah ia betapa Sian Lun selalu bersikap manis dan baik kepadanya, betapa Sian Lun selalu menyayangnya dan teringat akan semua ini, air matanya runtuh kembali.
"Suheng...!"
Ia mengeluh. Yo Han menghampirinya dan duduk di depannya, terhalang meja.
"Li-moi, tidak ada gunanya menangisi kematian Sian Lun. Bagaimanapun juga, dia tewas sebagai seorang pendekar yang gagah dan tidak mengecewakan!"
Sian Li mengusap air matanya dan menghela napas.
"Dia patut dikasihani, Han-ko."
Yo Han mengangguk.
"Sudah kuduga. Kesesatannya tentu tidak wajar. Dia masih terlalu muda dan kurang pengalaman sehingga mudah saja dikuasai musuh dengan ilmu sihir. Akan tetapi dia telah menebus kesalahannya, telah menghapus dosanya dengan darah dan dia.... dia ternyata amat mencintamu, Li-moi."
Sian Li mengangguk. Teringat akan pengalamannya di perahu dengan Sian Lun, ketika pemuda itu menyatakan cinta kepadanya dan ia mendorong suhengnya sehingga tercebur di air!
"Memang Suheng pernah menyatakan cinta kepadaku, akan tetapi aku menolaknya karena aku menyayanginya sebagai kakak seperguruan, tidak lebih daripada itu."
Yo Han menarik napas panjang, melihat kenyataan yang membuat nuraninya mencela diri sendiri. Kenapa hatinya merasa senang mendengar bahwa Sian Li tidak membalas cinta kasih Sian Lun?