Yo Han memandang penuh selidik.
"Hemm, engkau adalah seorang tokoh di sini, bagaimana engkau hendak melindungi Li-moi? Apa maksudmu melindunginya mati-matian? Tanpa sebab yang jelas bagai-mana kami berdua dapat mempercayaimu?"
"Han-ko, aku percaya padanya. Dia sudah membuktikan-nya!"
Kata Sian Li yang merasa tidak enak terhadap Ki Bok.
"Justeru perlindungannya itu patut dicurigai, Li-moi. Bukankah dia seorang di antara mereka yang memusuhi engkau dan suhengmu? Tanpa alasan yang kuat, bagaimana mungkin dia melindungimu tanpa pamrih yang buruk?"
Mendengar ucapan Yo Han itu, Ki Bok segera berkata dengan terus terang,
"Baiklah, Yo-toako, aku membuat pengakuan. Aku bersedia melakukan apa pun untuk Sian Li dengan taruhan nyawaku karena aku jatuh cinta padanya."
"Ki Bok....!"
Sian Li berseru kaget dan memandang wajah pemuda peranakan Tibet itu. Tadinya ia hanya menganggap Ki Bok seorang yang baik sekali kepadanya, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pemuda itu jatuh cinta padanya. Dan kini pemuda itu membuat pengakuan sedemikian jujurnya di depan Yo Han! Cu Ki Bok menghela napas panjang sambil memandang kepada gadis itu.
"Maafkan aku, Sian Li. Terpaksa aku harus berterus terang. Aku merasa kagum dan jatuh cinta padamu, dan tidak peduli apakah engkau akan membalas cintaku, tidak peduli apakah akan menerima atau menolak ajakan kerja sama, tetap saja aku harus membebaskanmu. Karena itu, kuharap kalian berdua bersabar dan tidak membuat keributan. Aku akan mencarikan kesempatan sebaik dan seamannya untuk kalian."
Yo Han mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, aku akan tinggal di sini menemani Li-moi, harap saudara Cu Ki Bok menyampaikan kepada pimpinan di sini."
"Baik, Yo-toako, aku akan melaporkan kepada Suhu,"
Kata Ki Bok yang segera meninggalkan mereka. Ketika melihat para penjaga mendekat, dia berbisik kepada mereka agar melakukan penjagaan yang ketat, dan juga memberitahu bahwa Yo Han adalah kakak misan Sian Li yang tinggal di situ pula untuk menemani adiknya. Di pondok itu memang terdapat dua buah kamar, maka Yo Han dapat menempati kamar yang ke dua. Akan tetapi setelah Ki Bok pergi, Yo Han dan Sian Li yang sejak tadi diam termenung, masih bercakap-cakap di ruangan depan.
"Kiranya dia jatuh cinta padamu, Li-moi,"
Kata Yo Han melihat gadis itu termenung saja. Sian Li menarik napas panjang.
"Sungguh sama sekali tidak pernah aku memikirkan hal itu, tak pernah menduganya. Begitu beraninya mengaku cinta!"
Wajah gadis itu berubah kemerahan.