Kini mengertilah dia mengapa dia diajak menghadap Lulung Lama, bukan Dobhin Lama. Kiranya ketua perkumpulan Hek I Lama itu telah meninggal dunia! Padahal, kemarin masih bertanding dengan dia. Kalau begitu, agaknya kakek yang sudah tua renta itu terlalu memaksa diri mengerahkan tenaga ketika bertanding sehingga tubuh yang sudah tua itu kehabisan tenaga dan tewas. Mungkin ketika dia duduk bersila ketika selesai bertanding kemarin, dan diam saja melihat kecurangan anak buahnya yang mengeroyok, kakek itu sudah tewas. Kalau benar demikian, bukan Dobhin Lama yang curang, melainkan Lulung Lama dan anak buahnya. Juga penangkapan atas diri Sian Li tentu diatur oleh Lulung Lama, karena buktinya ketika Dobhin Lama merasa kalah, kakek tua itu mengembalikan mutiara hitam dan menyuruh Lulung Lama membebaskan Sian Lun.
"Siapa ,yang meninggal dunia itu?"
Tanya Yo Han, pura-pura terkejut dan tidak tahu.
"Dia adalah ketua kami...."
"Dobhin Lama yang bertanding melawan Sin-ciang Tai-hiap?"
Yo Han bertanya. Cu Ki Bok mengangguk dan kesempatan ini dipergunakan oleh Yo Han untuk cepat menghampiri peti mati dan berlutut di depan peti mati sambil mengeluarkan kata-kata yang bernada sedih penuh penyesalan.
"Losuhu, maafkan saya. Sungguh saya menyesal sekali bahwa Losuhu tewas karena pertandingan melawan Sin-ciang Tai-hiap. Bagaimanapun, saya merasa menyesal karena saya yang menjadi perantara. Akan tetapi, Tai-hiap tidak sengaja melukai Losuhu, Tai-hiap tidak pernah mau membunuh lawan. Sayangnya, setelah Losuhu tidak ada, anak buah Losuhu berbuat curang, tidak menepati janji. Bukan saja Sian Lun tidak dibebaskan, bahkan adikku Sian Li ditawan. Losuhu, saya menyesal sekali. Andaikata Losuhu tidak meninggal, tentu adik saya tidak ditawan...."
Sementara itu, Ki Bok telah mendekati gurunya dan menerangkan siapa adanya pemuda yang berlutut di depan peti mati itu. Setelah mendengar keterangan muridnya, Lulung Lama bangkit dan menghampiri Yo Han.
"Saudara Yo, bangkitlah. Mati hidup berada di tangan Tuhan dan tidak ada yang perlu disesalkan. Juga kami tidak melanggar janji. Ketahuilah bahwa Liem Sian Lun dengan sukarela berada di sini, bukan kami tawan. Dia memang sudah sadar dan ingin berjuang bersama kami menentang penjajah Mancu. Dialah yang menghendaki agar sumoinya ikut pula membantu perjuangan kami yang suci. Maka, tidak salah kiranya kalau engkau suka membujuk Sin-ciang Tai-hiap agar suka bekerja sama pula dengan kami."
Yo Han bangkit dan memberi hormat kepada Lulung Lama, lalu berkata dengan suara mengandung pena-saran.
"Saya datang sebagai utusan Tai-hiap yang menuntut agar Liem Sian Lun dan adikku Tan Sian Li dibebaskan dari sini, sesuai perjanjian."
"Omitohud, sudah pinceng katakan bahwa kami tidak menawan Liem Sian Lun dan...."
"Bagaimana saya dapat percaya kalau tidak bertemu sendiri dengan adik saya?"
Lulung Lama yang sudah mendengar penjelasan muridnya, tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, saudara Yo Han. Engkau boleh bertemu dengan adikmu itu. Ki Bok, antarkan dia bertemu dengan Nona Tan Sian Li."
Cu Ki Bok, mengajak Yo Han meninggalkan ruangan itu.
Yo Han girang bahwa mereka itu agaknya sama sekali tidak pernah mengira bahwa dialah sebenarnya Sin-ciang Tai-hiap. Kini Ki Bok mengajaknya ke bagian belakang perkampungan yang luas itu dan akhirnya dia melihat Sian Li yang duduk seorang diri di ruangan depan sebuah pondok. Ketika tadi diajak pergi ke tempat itu, diam-diam Yo Han memperhatikan dan dia tahu bahwa di tempat itu terdapat banyak sekali orang yang diam-diam melakukan penjagaan sehingga untuk mengajak Sian Li dan Sian Lun melarikan diri dari tempat itu bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Dia juga tadi melihat bahwa di ruangan perkabungan terdapat banyak sekali orang yang tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Dia melihat pula orang-orang Nepal yang bertubuh tinggi besar, orang-orang Han yang melihat pakaian mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang Pek-lian-kauw. Ketika Sian Li yang sedang termenung memikirkan sikap Sian Lun yang aneh, berubah sama sekali dan menjadi seperti boneka yang memuakkan di bawah pengaruh Pek-lian Sam-li, melihat ada orang datang menghampirinya, ia mengangkat muka. Ia girang melihat Cu Ki Bok yang amat baik kepadanya itu, akan tetapi ketika ia melihat orang ke dua, ia terbelalak saking kagetnya. Sama sekali tidak disangkanya bah-wa Yo Han akan muncul begitu saja, secara terang-terangan, di tempat itu. Karena ia tidak tahu bagai-mana maksud Yo Han dengan kemunculannya, maka ia pun tidak berani lancang membuka suara dan hanya memandang dengan mata terbelalak.
"Li-moi, sukur engkau dalam keadaan selamat dan sehat!"
Teriak Yo Han sambil menghampiri dan memegang kedua tangan gadis itu. Melihat sikap Yo Han yang wajar saja Sian Li merasa lega, apalagi ia pun percaya bahwa Cu Ki Bok adalah seorang pemuda yang baik dan yang ingin menolongnya.
"Han-ko, bagaimana engkau bisa datang ke sini?"
"Aku menjadi utusan Sin-ciang Tai-hiap untuk menyampaikan tuntutan kepada Hek I Lama agar engkau dan suhengmu itu dibebaskan, Li-moi. Mereka mengatakan bahwa Sian Lun dan engkau mau bekerja sama dengan mereka dan tidak ditahan, maka aku minta agar dapat melihat dengan mata sendiri dan dapat bicara denganmu."
"Aku memang diperlakukan dengan baik di sini, Koko, sebagai tamu. Adapun Suheng...."
Ia ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Yo Han memotong dan berkata kepada Cu Ki Bok, suaranya mengandung penasaran.
"Aku menuntut agar adikku dibebaskan sekarang juga. Kalau tidak, aku tidak akan pergi dari sini, aku harus menemani adik misanku ini!"
Ki Bok tersenyum.
"Yo-toako, engkau melihat sendiri bahwa Nona Tan Sian Li dalam keadaan sehat dan selamat. Sebaiknya kalian bicara berdua di sini, untuk membuktikan bahwa kalian di sini diberi kebebasan dan bukan menjadi tahanan."
Setelah berkata demikian, Ki Bok meninggalkan mereka berdua di ruangan depan pondok itu. Setelah Ki Bok pergi, Sian Li berkata
"Han-ko, duduklah. Kau tahu, Cu Ki Bok itu ternyata baik sekali. Dia bersung-guh-sungguh hendak menolongku,"
Ia lalu menceritakan tentang pertolongan Ki Bok ketika ia hendak dinodai pangeran Nepal. Setelah menceritakan pengalamannya sejak ia ditangkap oleh suhengnya sendiri ia bertanya,
"Akan tetapi kenapa engkau malah muncul di sini secara berterang, Han-ko? Bagaimana kalau mereka tahu siapa sebenarnya engkau?"
"Aku sengaja masuk ke sini agar dapat membantu nanti kalau orang-orang kang-ouw yang sudah ku-hubungi datang menyerbu. Kita sendiri tidak mungkin dapat melawan mereka yang banyak jumlahnya. Aku sudah minta bantuan orang-orang kang-ouw, sedangkan saudara Gak Ciang Hun dan ibunya melapor kepada para pendeta Lama dan pasukan pemerintah di Tibet tentang usaha pemberontakan Lulung Lama. Dan bagaimana kabarnya dengan suhengmu? Di mana dia sekarang?"
Mendengar pertanyaan ini, wajah Sian Li berubah muram dan ia mengepal tinju tangannya.
"Dia telah tersesat, menyeleweng dan kalau ada kesempatan akan kuhajar dia!"
Yo Han terkejut.
"Li-moi, apa yang terjadi?"
"Hah, jahanam keparat itu, pengkhianat busuk itu, dia telah merendahkan diri menjadi antek mereka, dia terbujuk oleh perempuan-perempuan hina Pek-lian-kauw, dan dia malah menipuku, menangkapku ketika aku hendak menolongnya."
Melihat gadis itu seperti akan menangis, Yo Han dapat menduga betapa sakit rasa hati gadis itu. Tentu Sian Li mencinta suhengnya dan kini amat kecewa melihat ulah suhengnya.
"Li-moi, bagaimana watak dan sikap suhengmu selama ini, sebelum dia tertawan gerombolan ini?"
Sian Li mengerutkan alisnya.
"Selama ini dia baik, setia dan membelaku. Akan tetapi agaknya dia telah tergila-gila kepada Pek-lian Sam-li, dan agaknya demi perempuan-perempuan itu, dia tidak segan untuk mengkhianatiku."
Muka Sian Li merah sekali dan jelas bahwa dia menahan diri agar tidak menangis karena ia memang merasa penasaran dan kecewa bukan main kalau mengenang sikap Sian Lun kepadanya. Yo Han merasa kasihan kepada gadis itu.
"Li-moi, jangan khawatir, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan dia."
Sepasang mata itu terbelalak.
"Apa maksudmu? Untuk apa bersusah payah memikirkan dia? Dia tidak minta dibebaskan.... hemmm, aku hanya ingin menghajarnya, membunuhnya!"
"Li-moi, tenang dan bersabarlah. Ada sesuatu yang aneh dengan sikap suhengmu itu. Kalau biasanya dia berwatak baik, maka sikapnya sekarang ini tidak wajar. Aku menduga bahwa dia tentu berada di bawah pengaruh sihir. Ingat, para pendeta Lama, orang-orang Pek-lian-kauw dan orang-orang Nepal adalah ahli-ahli sihir yang pandai."
Sian Li termenung dan menundukkan kepalanya. Ia pun sudah menduga akan hal itu, akan tetapi bagaimanapun hatinya tetap merasa panas dan tidak senang melihat sikap Sian Lun yang demikian akrab dan mesra terhadap tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu. Wajahnya menjadi semakin merah karena sekarang ia teringat akan ucapan Cu Ki Bok bahwa sikapnya itu dapat disangka orang sebagai tanda bahwa ia cemburu. Cemburukah ia terhadap Pek-lian Sam-li yang demikian mesra dengan Sian Lun? Bagaimanapun juga, tentu saja ia merasa tidak enak, Sian Lun telah dianggapnya sebagai suhengnya yang baik dan setia, bahkan ia tahu bahwa suhengnya itu jatuh cinta kepadanya. Baik ia membalas cinta itu ataukah tidak, tetap saja hatinya tidak enak sekali melihat betapa suhengnya menjadi kekasih tiga orang Pek-lian-kauw dan telah mengkhianatinya.
"Ingatlah, Li-moi, engkau tadi menceritakan bahwa engkau juga terkena pengaruh sihir pangeran Nepal itu dan untung ada Cu Ki Bok yang menolongmu. Nah, kuat dugaanku bahwa demikian pula halnya suhengmu itu. Karena pengaruh sihir, dia mau melaku-kan apa saja. Kita lihat saja nanti kalau dia sudah sadar dan tidak lagi terpengaruh sihir mereka."
"Kapankah penyerbuan itu akan terjadi?"
Tanya Sian Li yang mulai ragu-ragu tentang keadaan suhengnya walaupun ia yakin bahwa setelah melihat sikap Sian Lun, kiranya tidak akan mungkin lagi baginya untuk membalas cinta pemuda itu.
"Menurut perhitungan, malam ini mereka akan datang mengepung tempat ini dan menyerbu. Kita harus membantu dari dalam untuk membebaskan suhengmu dari cengkeraman mereka, baru melarikan diri keluar ketika penyerbuan terjadi."
Mereka menghentikan percakapan ketika nampak Cu Ki Bok datang menghampiri ke arah mereka.
"Dia orang baik Han-ko. Kurasa hanya dialah yang mempunyai landasan bersih dalam perjuangan melawan orang-orang Mancu."
"Akan tetapi bukankah dia murid Lulung Lama?"
"Benar, akan tetapi dia mengatakan bahwa andaikata aku tidak mau bekerja sama dengan mereka, dia tetap akan mencarikan jalan agar aku dapat lolos dari tempat ini."
"Hemm, agaknya dia cinta padamu, Li-moi."
Sian Li mengerutkan alisnya.
"Entahlah, akan tetapi aku yakin dia orang baik."
Percakapan terpaksa dihentikan karena Ki Bok yang berjalan santai menghampiri mereka telah tiba di situ. Dia tersenyum ramah.
"Bagaimana, Yo-toako. Sudah yakinkah engkau sekarang bahwa kami tidak menganggap adikmu sebagai tawanan melainkan sebagai tamu?"
Yo Han bangkit berdiri dan memandang marah.
"Biarpun diperlakukan dengan baik dan dianggap sebagai tamu, tetap saja adikku ini adalah tamu yang dipaksa dan ditahan di sini. Aku menuntut agar adikku dibebaskan sekarang juga dan ikut dengan aku pergi. Kalau tidak, terpaksa aku akan tinggal di sini menemaninya!"
Melihat sikap ini, Ki Bok lalu mendekati Yo Han dan berkata dengan suara perlahan.
"Yo-toako, apakah adikmu belum menceritakan semua? Sebaiknya engkau tidak membuat keributan karena kalau terjadi hal itu, aku sendiri tidak akan dapat melindungimu. Ketahuilah bahwa perkumpulan kami adalah pejuang-pejuang yang gigih dan kalau ada yang menentang akan dibunuh. Suhu sedang mengharapkan agar Sian Li suka bekerja sama membantu perjuangan, demikian pula Sin-ciang Tai-hiap. Andaikata Sian Li tidak maupun, tidak perlu menggunakan kekerasan dan percayalah, aku yang akan menjamin bahwa Sian Li akan dapat lolos dari sini dengan selamat."