Sian Li pernah mendengar ini, maka ia pun mengangguk dan kini pandangannya terhadap pemuda itu sama sekali berubah. Ia tidak tahu benar bahwa semua agama di dunia ini mengajarkan orang agar hidup bijaksana dan baik. Pelajaran agama yang dipelajari Ki Bok dari pendeta Lama, tentu saja juga mengatakan yang baik-baik. Kalau terjadi kejahatan dilakukan orang beragama, maka hal itu berarti bahwa orang itu telah menyeleweng daripada pelajaran agamanya sendiri. Tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan orang untuk menjadi jahat. Justeru yang dinamakan agama adalah pelajaran tentang budi pekerti, mengajarkan orang untuk menjadi manusia yang baik dan berguna bagi manusia lain. Cu Ki Bok yang sejak kecil menjadi murid pendeta Lama, tentu saja juga membaca kitab-kitab agama yang pada hakekatnya tiada bedanya dengan kitab-kitab agama lain, yaitu menuntun manusia ke arah jalan hidup yang benar.
"Sebenarnya, oleh orang tuaku dan paman kakekku, aku pun telah menerima latihan kekuatan batin yang dimaksudkan menolak pengaruh sihir. Akan tetapi, tadi aku sama sekali tidak mengira bahwa pangeran Nepal itu akan mempergunakan sehingga aku menjadi lengah. Ki Bok, apakah kau kira Sian Lun juga terpengaruh sihir?"
Tiba-tiba timbul dugaan ini dalam pikiran Sian Li. Ki Bok menarik napas panjang.
"Mungkin saja, akan tetapi yang jelas suhengmu itu seorang pria yang lemah dan mudah dirayu. Sungguh sayang sekali karena sesungguhnya dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Kalau dia bekerja sama dengan kami untuk menentang penjajah Mancu, hal itu baik-baik saja. Akan tetapi aku khawatir kalau dia sampai terseret oleh Pek-lian-kauw, melakukan hal-hal yang tidak patut."
Hening sejenak. Kemudian Sian Li mengangkat muka memandang pemuda itu.
"Ki Bok, engkau kini kuanggap sebagai seorang sahabat. Aku percaya kepadamu. Katakanlah, apa maksud gurumu dengan menahanku di sini? Berterus terang sajalah agar hatiku tidak menjadi ragu kepadamu."
"Mudah sekali diduga, Sian Li. Engkau tahu bahwa Hek I Lama sedang menyusun kekuatan...."
"Hemm, untuk memberontak kepada pemerintah Dalai Lama di Tibet?"
"Benar, akan tetapi selain hal itu merupakan urusan dalam para pendeta Lama, juga satu di antara sebabnya kerena pemerintah Tibet mengakui kekuasaan pemerintah Mancu. Nah, Hek I Lama dianggap memberontak karena tidak menyetujui hal itu. Karenanya, Hek I Lama yang kini dipimpin oleh Suhu Lulung Lama menyusun kekuatan dan mengharapkan bantuan orang-orang kuat, untuk bersama-sama menentang penjajah Mancu, juga untuk menentang pemerintah Tibet yang mau menjadi taklukan orang Mancu."
"Jadi aku ditahan untuk dibujuk agar mau bekerja sama dengan Hek I Lama?"
"Begitulah. Suhu mengha-rapkan engkau akan membantu pula. Bukankah penjajah Mancu merupakan penjajah yang menindas bangsa kita? Aku sendiri pun mempunyai darah Han, Sian Li. Aku akan merasa gembira sekali kalau engkau suka bekerja sama dengan kami."
"Dan bagaimana kalau aku menolak kerja sama? Apakah aku akan dibunuhnya?"
Cu Ki bok mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala keras-keras.
"Suhu tidak akan memaksa orang untuk bekerja sama. Paksaan itu akhirnya hanya akan merugikan kami sendiri, karena orang yang dipaksa bekerja sama akhirnya mudah saja menjadi pengkhianat. Tidak, engkau tidak akan dipaksa. Andaikata ada yang akan memaksa atau mengganggumu, demi Tuhan, aku akan membelamu dengan taruhan nyawaku, Sian Li!"
Pemuda itu bicara penuh semangat, membuat Sian Li terheran dan ia menatap wajah pemuda itu penuh selidik. Namun, sinar bulan tidak cukup terang sehingga tidak melihat betapa wajah pemuda itu berubah kemerahan.
"Akan tetapi.... kenapakah, Ki Bok? Kenapa engkau hendak membelaku seperti itu? Kenapa engkau begini baik kepadaku? Padahal, bukankah sejak pertama kali saling bertemu, kita berhadapan sebagai musuh?"
Pemuda itu menggeleng kepala.
"Hanya salah paham, Sian Li, hanya karena saling memperebutkan kebenaran masing-masing. Sudahlah, sebaiknya engkau kembali ke dalam kamarmu untuk beristirahat. Besok, setelah jenazah Supek diperabukan, mungkin Suhu akan bicara denganmu tentang ajakan bekerja sama itu."
"Apa yang harus kujawab?"
"Sudah kukatakan, kalau engkau suka bekerja sama, aku akan merasa berbahagia sekali, Sian Li."
"Kalau aku menolak?"
Pemuda itu menghela napas panjang.
"Aku akan merasa kecewa sekali. Akan tetapi tentu saja terserah. kepadamu, dan aku yang akan membantumu agar dapat pergi dari sini dalam keadaan bebas dan aman."
Tentu saja hati Sian Li menjadi girang bukan main.
"Sungguh mati, amat sukar menilai keadaan hati atau watak aseli seseorang,"
Katanya.
"Tadinya kukira engkau seorang yang amat jahat, Ki Bok, tidak tahunya engkau adalah seorang yang berhati mulia. Sebaliknya, suhengku yang kunilai sebaik-baiknya orang, ternyata malah seorang manusia yang budinya rendah!"
Pemuda itu tersenyum.
"Karena itu, jangan tergesa-gesa menilai seseorang, Sian Li. Yang hari ini kau nilai baik, mungkin besok akan kau cela, sebaliknya yang kemarin kau cela, hari ini akan kau puji. Mungkin kalau hari ini aku kau nilai baik, besok lusa akan kau nilai jahat lagi, siapa tahu?"
Sian Li tertawa.
"Aku mengerti, Ki Bok. Penilaian seseorang tergantung daripada kepentingan si penilai, kalua diuntungkan, tentu menilai baik, kalau dirugikan, akan menilai buruk. Akan tetapi, juga tergantung kepada orang yang dinilai. Setiap perbuatan baik tentu mendatangkan kekaguman, dan perbuatan buruk mendatangkan celaan. Bukankah demikan?"
"Engkau memang cerdik, Sian Li. Nah kau bersabar dan tenanglah saja, dan harap menjaga diri agar jangan sampai terpancing keributan sebelum Suhu Lulung Lama bicara denganmu. Selamat malam dan selamat tidur."
Sian Li yang sudah bangkit, tersenyum.
"Selamat bermimpi, Ki Bok."
Mereka berpisah dan Sian Li sama sekali tidak mengira bahwa ucapannya tadi sungguh terjadi. Ia mengatakan selamat bermimpi hanya untuk berkelakar, tidak tahunya malam itu Ki Bok benar-benar bermimpi semalam suntuk, mimpi bertemu dengannya dan berkasih sayang dengannya! Gak Ciang Hun, ibunya, dan Yo Han bekerja dengan cepat.\n\n\n\nYo Han segera menghubungi para tokoh di perbatasan yang pernah disadarkannya, sedangkan Nyonya Gak dan puteranya pergi menghadap para pendeta Lama dan pasukan pemerintah yang berada di benteng daerah perbatasan tak jauh dari tempat itu. Panglima yang menjadi komandan pasukan Tibet itu menerima laporan Gak Ciang Hun dan ibunya. Dia segera berunding dengan para pendeta Lama. Tentu saja mereka sudah mendengar akan adanya gerakan Hek I Lama, akan tetapi karena gerombolan itu tidak melakukan kekacauan, pasukan pemerin-tah pun tadinya mendiamkan saja. Bagaimanapun juga para pimpinan Hek I Lama dahulunya adalah tokoh-tokoh pendeta Lama yang terkenal. Akan tetapi, ketika mendengar laporan Gak Ciang Hun dan ibunya bahwa gerombolan pendeta Lama jubah hitam itu kini bersekutu dengan orang-orang Nepal yang menjadi pelarian dari negara mereka,
Juga bersekutu dengan kaum pengemis sesat dan orang-orang Pek-lian-kauw, komandan itu merasa khawatir dan dia pun cepat mengerahkan pasukan, siap untuk melakukan penyerbuan terhadap gerombolan yang kini merupakan persekutuan besar dan hendak melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Tibet itu. Sementara itu, para tokoh sesat yang kini telah sadar akibat kebijaksanaan Sin-ciang Tai-hiap, ketika pandekar aneh itu minta bantuan mereka tentu saja mereka menjadi gembira dan mereka seakan berlumba untuk membuktikan bahwa kini mereka bukanlah penjahat-penjahat lagi, melainkan orang-orang gagah yang siap mengganyang pemberontak dan penjahat yang mengganggu ketenteraman.
Setelah menerima kesanggupan para tokoh kang-ouw itu, Yo Han yang ketika menemui mereka mengenakan capingnya yang menyembunyi-kan mukanya dan mengurai rambut, cepat kembali ke bukit yang dijadikan sarang Hek I Lama. Dia pun menanggalkan penyamarannya dan ketika dia muncul di depan pintu gerbang yang seperti benteng itu, dia sudah menjadi seorang pemuda biasa, bukan lagi pendekar yang selalu menyembunyikan mukanya itu. Yo Han maklum bahwa dia tidak perlu menyamar kalau ingin memasuki perkampungan yang menjadi sarang gerombolan itu dengan aman. Pemuda murid Lulung Lama itu pernah melihat dia bersama Sian Li, pernah pula bicara dengan dia. Oleh karena itu, ketika para penjaga pintu gerbang menghadang dan membentaknya, dia pun berkata dengan suara tenang.
"Aku bernama Yo Han, dan aku ingin bertemu dengan saudara Cu Ki Bok. Aku sudah mengenalnya."
Yo Han dipersilakan menunggu dan dua orang penjaga lalu berlari masuk untuk memberi kabar kepada Cu Ki Bok. Selama dua hari ini, sejak jenazah Dobhin Lama diperabukan, ketua baru mereka, Lulung Lama, memerintahkan agar penjagaan diperketat dan semua anggauta Hek I Lama diharuskan bersiap siaga. Lulung Lama maklum bahwa Sin-ciang Tai-hiap tentu tidak akan tinggal diam dan akan datang menyerbu untuk membebaskan Tan Sian Li.
Oleh karena ingin memancing munculnya Sin-ciang Tai-hiap inilah maka dia memerintahkan agar gadis itu tetap menjadi tawanan, walaupun diperlakukan dengan baik. Dia sudah membujuk agar gadis itu suka membantu perjuangannya, dengan harapan kalau gadis itu mau bekerja sama seperti halnya Sian Lun, mungkin Sin-ciang Tai-hiap akan mau pula membantunya. Dan mengingat bahwa gadis itu dan suhengnya adalah murid keluarga Pulau Es, maka kalau mereka bekerja sama dengan perkumpulannya, tentu lebih mudah menarik tokoh-tokoh kang-ouw untuk bekerja sama pula. Ketika dua orang penjaga itu melapor bahwa ada orang bernama Yo Han mencarinya, Cu Ki Bok yang sudah lupa lagi akan nama itu, menduga-duga siapa orang yang mencarinya di tempat itu.
Apalagi nama orang itu menunjukkan bahwa dia tentu orang Han. Dia sedang bingung memikirkan Sian Li. Gurunya tidak berhasil membujuk gadis itu untuk bekerja sama. Sian Li selalu menolak, dengan halus maupun kasar. Akan tetapi gurunya tetap belum mau membebaskan Sian Li. Menurut gurunya, gadis itu sengaja di tahan untuk memancing datangnya Sin-ciang Tai-hiap. Agaknya Lulung Lama masih penasaran dan belum puas kalau belum mendapatkan bantuan pendekar aneh itu. Sian Li juga bertahan, tidak mau bekerja sama. Ia selalu mencari kesempatan untuk dapat meloloskan diri, dan harapan satu-satunya hanya pada Cu Ki Bok yang selama ini bersikap baik dan tidak mencurigakan. Kemarin, ketika ia kebetulan bertemu dengan Sian Lun di taman bunga, ia tidak mampu mengendalikan kemarahannya.
"Keparat busuk, penghianat jahanam!"