Halo!

Kisah Si Bangau Merah Chapter 122

Memuat...

"Akan kuusahakan, akan tetapi tidak sekarang. Setelah selesai pengurusan jenasah Supek. Engkau tidak hendak melayat dan duduk di dalam?"

Sian Li menggeleng kepala. Untuk apa masuk ka ruangan itu dia melihat Sian Lun di antara tiga wanita cabul itu? Ia khawatir tidak akan dapat menahan hatinya untuk tidak menyerang bekas suheng itu. Pula, tidak perlu berkabung terhadap kematian Ketua Hek I Lama yang menyebabkan Sian Lun tersesat dan ia sendiri tertawan. Ia lalu meninggalkan ruangan itu, keluar lagi. Senja telah mendatang, dan lampu-lampu penerangan mulai dipasang di perkampungan itu.

Sian Li kembali ke kamarnya dan seorang pelayan wanita setengah tua menyerahkan pakaian pengganti kepadanya, juga mempersiapkan air untuk mandi. Sian Li merasa senang. Ternyata Ki Bok memegang janjinya. Ia diperlakukan seperti seorang tamu terhormat, dilayani semua keperluannya walaupun diam-diam ia tidak pernah dilepaskan dari pengamatan tajam. Kepada pelayan itu ia pun dapat memesan semua keperluannya, minta disediakan makan malam. Bagaimana-pun juga, Sian Li tetap berhati-hati, memeriksa semua makanan dan minuman lebih dahulu sebelum memakan dan meminumnya. Penerangan dalam kamarnya juga cukup terang dan suasana cukup menyenangkan. Malam itu sore-sore bulan sudah muncul. Udara cerah dan langit bersih, bulan tiga perempat menyinarkan cahaya lembut.

Sian Li tidak betah berada di kamarnya. Ia keluar dan berjalan-jalan di taman bunga dalam perkampungan itu. Sebuah taman yang cukup luas dan terpelihara baik-baik. Agaknya, para pendeta Lama ini bukanlah orang-orang kasar, melainkan suka pula akan kedamaian dan keindahan. Agaknya para tokoh masih berada di ruangan berkabung, dari mana terdengar doa-doa untuk si mati. Sian Li melihat banyak pula penjaga di taman itu, bahkan ia dapat menduga bahwa begitu ia memasuki taman, maka tempat itu telah dikepung para anggauta Hek I Lama yang bertugas mengamatinya. Ia menduga-duga apakah Ki Bok juga ikut mengamatinya, ataukah pemuda itu sudah begitu percaya kepadanya sehingga ikut berkabung di ruangan itu.

Di dekat empang ikan emas terdapat bangku-bangku yang dilindungi atap. Sian Li duduk di satu, termenung. Bulan menari-nari di air yang digerakkan perlahan oleh ikan-ikan yang berkejaran. Ia teringat akan Yo Han dan kembali bibirnya tersenyum, senang sekali mengingat pemuda itu, orang yang ketika ia masih kecil paling disayangnya. Dan sekarang setelah mereka kembali saling berjumpa dalam keadaan sudah sama dewasa, ia tidak tahu! Yang jelas, penyelewengan Sian Lun hanya membuat ia marah, tidak membuat ia bersedih. Diam-diam ia malah merasa gembira bahwa hal ini membuktikan bahwa biarpun tadinya ia sayang kepada Sian Lun, kesayangan itu adalah keakraban antara kakak beradik seperguruan yang selalu ingin akrab dalam pergaulan, dalam latihan bersama. Ia tidak pernah mencinta Sian Lun!

Dan Yo Han? Ia tidak tahu, yang jelas, ia merasa bangga, kagum dan juga senang sekali dapat bertemu kembali dengan Yo Han! Yo Han takkan membiarkan ia terancam bahaya! Ia yakin bahwa pemuda itu pasti akan datang menyelamatkannya. Ia teringat betapa sejak kecil, ketika ia baru berusia empat tahun, dan Yo Han juga hanya seorang anak remaja yang lemah, Yo Han sudah berani membelanya mati-matian, bahkan mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri dengan menukar dirinya menjadi tawanan iblis betina Ang I Moli. Yo Han pasti akan menolongnya! Kini ia mencoba mengenang kembali apa yang dapat diingatnya ketika ia masih kecil, ketika Yo Han masih menjadi murid ayah ibunya. Samar-samar masih teringat olehnya betapa dahulu ia sering digendong Yo Han, diajak bermain-main, dihibur dan selalu disenangkan hatinya.

"Nona, alangkah cantiknya engkau....!"

Tentu saja Sian Li terkejut dan serentak sadar dari lamunan ketika tiba-tiba mendengar kata-kata pujian yang lembut itu. Ia meloncat berdiri dan membalik karena suara itu tadi datang dari belakang dan ia berhadapan dengan pria tinggi besar gagah perkasa itu. Pangeran Gulam Sing! Kalau saja ia tidak ingat akan janjinya kepada Cu Ki Bok, tentu Sian Li sudah menerjang dan menyerang pangeran Nepal yang dibencinya ini.

"Mau apa engkau? Pergi, aku tidak ingin bicara denganmu!"

Bentanya, lalu ia duduk kembali, membelakangi pangeran itu.

"Aduh, alangkah cantiknya! Marah-Marah semakin cantik jelita. Bukan main!"

Kata-kata itu diucapkan dalam bahasa Han yang patah-patah sehingga terdengar lucu, namun cukup membuat kedua pipi Sian Li menjadi merah oleh perasaan malu dan marah.

"Manusia biadab! Jangan mencari perkara, atau aku akan kehilangan kesabaran dan akan membunuhmu!"

Sian Li membentak lagi, kini memutar duduknya menghadapi pangeran itu dangan air mata barapi. Wajahnya tertimpa sinar bulan dan nampak cantik bukan main, Pangeran itu mengerutkan alisnya. Sebelum bangsa Han dijajah Mancu, memang Kerajaan Beng menganggap orang asing adalah bangsa biadab. Maka tentu saja Pangeran Gulam Sing merasa dihina sekali. Akan tetapi dia malah tertawa, suara tawanya bening dan aneh.

"Nona Tan Sian Li, aku seorang pangeran! Pandanglah wajahku baik-baik, aku seorang pangeran Nepal, bukan bangsa biadab. Seluruh bangsa Nepal kalau melihatku, menghormati dan memuliakan aku, bahkan tidak mampu bergerak. Engkau juga, Nona! Pandang aku baik-baik, aku seorang pangeran dan engkau harus tunduk kepadaku!"

Pangeran tinggi besar itu kini melangkah maju menghampiri Sian Li, Gadis itu hendak meloncat bangun, akan tetapi aneh, ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya! Terngiang di dalam telinganya perintah pangeran itu bahwa ia harus tunduk dan tidak mampu bergerak. Ia mencoba untuk mengerahkan tenaga sin-kangnya pada saat pangeran itu sudah memegang kedua tangannya dan menariknya bangkit berdiri. Di lain saat, ia sudah didekap dalam pelukan kedua lengan yang panjang dan besar itu, dan iamencium bau keharuman yang aneh keluar dari dada pangeran itu, di mana wajahnye didekap rapat.

"Pangeran, lepaskan nona itu!"

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan Pangeran Gulam Sing terkejut, lalu menoleh. Kiranya Cu Ki Bok yang membentak itu.

"Nona Tan Sian Li, mundurlah engkau!"

Sungguh aneh, baru sakarang Sian Li dapat bergerak, seolah tenaga tak nampak yang tadi mampengaruhinya telah lenyap. Tahulah ia bahwa ia tadi dipengaruhi sihir pangeran Nepal itu, dan agaknya Cu Ki Bok yang membebaskannya dari pengaruh sihir.

"Pangeran Iblis! Keparat busuk engkau!"

Ia pun membentak dan ia sudah menerjang dan menyerang Pangeran Gulam Sing. Pengeran itu mengelak dengan loncatan ke belakang dan ketika Sian Li hendak menyerang lagi, Ki Bok telah menghadang di depannya.

"Sian Li, ingat akan janjimu. Jangan membuat keributan di sini!"

Sian Li teringat dan ia pun menahan diri, mukanya merah dan matanya masih berkilat. Sementara itu, Pangeran Gulam Sing tertawa,

"Ha-ha-ha, saudara Cu Ki Bok, engkau malah membela Si Bangau Merah ini? Sungguh aneh sekali!"

"Pangeran."

Kata Cu Ki Bok dan suaranya mengandung kemarahan.

"Kalau Ketua Hek I Lama mendengar akan apa yang kau lakukan ini, tentu beliau akan menjadi tidak senang."

"Hem, Ketua Hek I Lama sudah mati, petinya juga belum diangkat dan ruangan berkabung!"

Kata pangeran itu membantah.

"Pangeran! Engkau tentu tahu bahwa wakil ketua adalah guruku, Lulung Lama dan setelah kini Supek Dobhin Lama meninggal dunia, gurukulah yang menjadi ketua! Nona Tan Sian Li ini menjadi tamu yang dihormati, dan Ketua Hek I Lama yang menugaskan aku untuk menjaganya. Kuharap Pangeran tidak membuat keributan di sini dan bersikap sebagai tamu dan sahabat yang baik."

"Aku protes!"

Pangeran itu marah-marah.

"Saudara Liem Sian Lun dan ketiga Pek-lian Sam-li telah berjanji akan menghadiahkan gadis ini kepadaku, dan sekarang engkau hendak menghalangiku! Beginikah sikap seorang sahabat?"

"Pangeran, lupakah Pangeran siapa Liem Sian Lun dan Pek-lian Sam-li? Mereka pun hanya tamu-tamu dari Hek I Lama seperti juga engkau. Nona ini adalah seorang tawanan kami, dan yang berhak memutuskan mengenai dirinya adalah ketua kami. Ketua kami menganggap Nona ini seorang pendekar wanita gagah perkasa yang patut diajak bekerja sama berjuang menentang orang Mancu. Bagaimana mungkin para tamu seperti Liem Sian Lun dan Pek-lian Sam-li dapat menghadiahkan Nona ini kepadamu? Mereka tidak berhak!"

"Orang muda, berani engkau bersikap seperti ini terhadap aku? Bagaimana kalau aku memaksa untuk memiliki gadis ini?"

Sepasang mata pemuda itu berkilat. Dia meraba pinggangnya di mana terdapat sabuk bajanya yang kedua ujungnya dipasangi pisau, senjatanya yang ampuh dan dia berkata dengan tegas.

"Pangeran, aku adalah utusan Ketua Hek I Lama dan aku melaksanakan tugas yang diperintahkan untuk menjaga Nona ini. Kalau ada yang berani mengganggunya, berarti dia melanggar peraturan di sini dan aku akan menghadapinya sebagai wakil ketua Hek I Lama!"

"Bocah sombong....!"

Akan tetapi pada saat itu, entah dari mana datangnya, nampak beberapa orang pendeta Lama Jubah hitam bermunculan. Mereka hanya berdiri memandang, akan tetapi sikap mereka jelas siap untuk membantu Cu Ki Bok. Melihat ini, Pangeran Gulam Sing sadar bahwa dia berada di tempat orang sebagai tamu. Dia memandang kepada Sian Li dan mengepal tinju.

Daging lunak yang sudah berada di depan bibir, terpaksa harus dia lepaskan! Dengan bersungut-sungut, memaki-maki dalam bahasanya sendiri, dia pun meninggalkan taman itu. Beberapa orang pendeta Lama itu pun, seperti bayangan-bayangan saja, lenyap dari dalam taman. Tahulah Sian Li bahwa andaikata Cu Ki Bok tidak berada di situ pun, para pendeta Lama itu tentu akan melihat ulah Pangeran Gulam Sing dan mereka akan turun tangan membantunya dan melapor kepada Cu Ki Bok. Betapapun juga, ia berterima kasih kepada pemuda ini dan ia bergidik kalau teringat betapa tadi ia didekap oleh pangeran Nepal yang tinggi besar itu tanpa mampu berkutik! Sian Li mulai percaya kepada Cu Ki Bok bahwa pemuda murid Lulung Lama ini memang benar-benar hendak melindunginya.

"Ki Bok, terima kasih atas pertolonganmu tadi. Apa yang telah terjadi denganku tadi? Kenapa aku tidak mampu bergerak! Apakah jahanam itu mempergunakan sihir?"

"Benar, Sian Li. Maafkan, aku agak terlambat. Akan tetapi, seperti kau lihat tadi, selalu ada beberapa orang anggauta Hek I Lama yang membayangimu sehingga engkau selalu aman. Para anggauta tadi tidak mengira bahwa pangeran itu akan menggunakan sihir."

"Kalau begitu, engkau pun ahli sihir. Ki Bok?"

Tanya Sian Li dan pemuda itu tersenyum, merasa girang bukan main melihat sikap gadis itu terhadapnya kini berubah, tidak lagi angkuh dan ketus seperti sebelumnya, kini nampak ramah bersahabat!

"Sian Li, engkau tahu bahwa aku murid Suhu Lulung Lama, murid seorang tokoh pendeta Lama. Oleh karena itu, selain ilmu silat, aku pun mempelajari ilmu-ilmu keagamaan dan juga ilmu kebatinan sehingga tidak aneh kalau aku pun mempelajari ilmu sihir."

"Hemm, kata orang tuaku dan juga paman kakek yang menjadi guruku, ilmu sihir dapat membuat orang menjadi sesat. Kenapa engkau mempelajarl ilmu seperti itu, Ki Bok?"

Pemuda itu tertawa.

"Aihh, engkau ini yang aneh sekali, Sian Li. Engkau sendiri masih keturunan keluarga para Pendekar Pulau Es, bahkan juga pendekar Gurun Pasir! Padahal, menurut yang kudengar, dahulu Pendekar Super Sakti Pulau Es adalah seorang sakti yang selain hebat ilmu silatnya, juga ahli dalam ilmu sihir!"

Sian Li tersenyum.

"Memang engkau benar, akan tetapi menurut orang tuaku, mempelajari ilmu sihir amatlah berbahaya karena ilmu seperti itu condong untuk menyeret orangnya kepada kesesatan."

Pemuda itu kini duduk di bangku, berhadapan dengan Sian Li yang juga sudah duduk.

"Segala macam ilmu mengandung daya tarik yang dapat menyesatkan orang, Sian Li. Ilmu apapun juga membuat orang merasa lebih pandai daripada orang lain, dan ada kecondongan mempergunakan ilmu yang dikuasainya itu untuk berkuasa atau mencari pengaruh atas orang-orang lain. Ilmunya sendiri tidak baik atau pun buruk. Baik buruknya tergantung dari dia yang mempergunakannya. Betapa baik pun sebuah ilmu, kalau dipergunakan untuk mencelakai orang lain ilmu itu menjadi jahat. Sebaliknya, ilmu yang dianggap jahat, kalau dipergunakan untuk menolong orang lain, akan menjadi ilmu yang baik. Bukankah begitu?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment