"Hwee Li, engkau suka akan kegagahan?"
"Tentu saja!"
"Ayahmu memang tinggi ilmu silatnya, akan tetapi dia belum lihai kepandaiannya tentang racun. Andaikata aku memiliki tingkat ilmu silat seperti dia, apakah dia tidak sudah tewas sekarang dan kalah olehku?"
Hwee Li agaknya seorang anak yang cerdas. Dia mengangguk dan berkata,
"Akan tetapi ilmu silatmu amat rendah, Enci...."
"Memang harus kuakui itu. Akan tetapi keahlianku tentang racun jauh melebihi ayahmu. Hwee Li, apakah kau kelak ingin menjadi seorang yang terpandai di dunia, tanpa ada yang mengalahkanmu?"
"Tentu saja! Ayahku bilang, kalau aku berlatih dengan tekun dan kelak mewarisi semua ilmu ayahku, aku tentu akan menjadi seorang paling pandai nomor satu di dunia."
"Ayahmu bohong! Andaikata ayahmu memiliki ilmu silat nomor satu di dunia, tetap saja dia tidak dapat membikin kau menjadi ahli nomor satu kelak, karena kalau kau bertemu dengan ahli racun nomor satu di dunia, kau akan celaka. Kau baru benar-benar bisa menjadi orang paling pandai kalau selain mewarisi ilmu silat ayahmu engkau juga mewarisi ilmu tentang racun dariku!"
Anak itu mengerutkan alisnya dan mengangguk,
"Omonganmu benar juga, Enci."
"Tentu saja benar. Kalau kau mau menjadi muridku kelak untuk mempelajari ilmu tentang racun, kau akan menjadi ahli racun nomor satu di dunia, tidak ada yang melawan lagi."
"Sebabnya?"
"Karena aku adalah murid dan pewaris ilmu-ilmu dari datuk ahli racun Ban-tok Mo-li...."
"Aihhhh....! Ayahku sudah lama menyebut-nyebut nama ini, mengatakan sayang bahwa wanita ahli racun nomor satu di dunia itu lenyap."
"Memang lenyap bagi dunia umum, akan tetapi tidak bagiku. Aku menjadi muridnya dan pewaris ilmu-ilmunya dan karena sekarang dia telah meninggal dunia, aku adalah ahli nomor satu di dunia, dan kelak engkau yang akan mewarisi kalau engkau suka menjadi muridku."
"Tentu saja aku suka sekali!"
Jawab Hwee Li dengan wajah girang.
"Kalau begitu, kau kuterima sebagai murid dan kelak setelah kau tamat belajar ilmu silat dari ayahmu, aku akan mulai mengajarmu tentang ilmu racun. Tapi lebih dulu harus bebaskan aku agar aku dapat menerima penghormatan sebagai muridku."
Hwee Li memang cerdik sekali. Dia memandang ragu.
"Akan tetapi, bagaimana kalau kelak kau melanggar janji dan kau pergunakan janji ini hanya untuk menipu aku agar kau dapat bebas?"
Ceng Ceng memaki di dalam hatinya akan kecerdikan anak ini.
"Bodoh!"
Bentaknya.
"Apakah ayahmu sebagai ahli nomor satu dalam ilmu silat juga suka membohongi orang dan melanggar janji?"
"Tentu saja tidak."
"Nah, aku pun sebagai ahli racun nomor satu, mana sudi melanggar janji? Hayo cepat kau bebaskan aku, apakah kau bisa menotok?"
"Aku sudah belajar ilmu menotok dari Ayah, akan tetapi aku tidak tahu bagaimana harus membebaskan totokan Ayah pada tubuhmu."
"Mudah saja, asal engkau sudah dapat menggunakan jari tanganmu untuk menotok. Kau totoklah jalan darah di bawah tengkukku, dengan dua jari."
Hwee Li mendorong tubuh Ceng Ceng menjadi miring, kemudian dia menotok tempat itu.
"Dukk!"
Ceng Ceng menyeringai kesakitan.
"Kurang ke atas sedikit...."
Keluhnya. Hwee Li kembali menotok, agak ke atas. Akan tetapi mula-mula totokannya tidak berhasil membebaskan Ceng Ceng, malah mendatangkan rasa nyeri. Akan tetapi setelah diulang-ulang sampai lima kali, akhirnya totokan itu ada hasilnya dan kedua lengan Ceng Ceng dapat digerakkan sedikit akan tetapi jalan darahnya belum mengalir dengan sempurna. Dia lalu mengerahkan sin-kangnya mendorong dari dalam dan berhasillah dia. Setelah kedua lengannya bebas, dia mengumpulkan tenaga lalu menotok bawah punggungnya sendiri untuk membebaskan kedua kakinya.
"Aihhh....!"
Dia bangkit duduk sambil mengelus-elus tempat yang ditotok Hwee Li tadi.
"Sekarang aku menjadi muridmu, Enci."
"Ya, kau lakukanlah upacara pengangkatan guru, berlutut dan memberi hormat delapan kali!"
Hwee Li lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Ceng Ceng yang sudah bangkit berdiri, memberi hormat sampai delapan kali sambil menyebut,
"Subo....!"
Begitu selesai memberi hormat, anak itu cepat meloncat bangun dan berkata,
"Subo, sekarang tiba giliranmu untuk mengucapkan janji kepadaku!"
Ceng Ceng tersenyum. Memang dia sudah merasa suka. kepada anak kecil ini dan andaikata kelak mereka dapat saling jumpa kembali, agaknya dia tidak akan keberatan untuk menurunkan ilmu kepada anak yang cerdas ini. Maka tanpa ragu-ragu lagi dia pun berkata,
"Aku berjanji...."