Tanyanya ketika laki-laki setengah tua itu sudah tiba dekat sambil berlarian.
"Aihh, Nona, harap cepat keluar. Air sungai itu beracun!"
"Hemm, beracun?"
Ceng Ceng tertarik sekali dan memandang air itu, lalu membawa tangannya yang basah ke depan hidungnya, bahkan lalu menjilatnya. Memang beracun, pikirnya, akan tetapi hanya tipis dan lemah saja kekuatan racun itu, agaknya karena sudah tercampur air yang amat banyak itu.
"Biarlah aku ingin mencuci muka dan minum!"
Jawabnya seenaknya dan dia lalu mencuci mukanya, bahkan menyendok air dengan kedua telapak tangan dan diminumnya. Hemmm, menyegarkan rasanya.
"Nona! Jangan.... ahhh, anakku pun sekarang hampir mati karena minum air ini, dan di kampung kami sudah ada enam orang yang tewas. Mengapa Nona begini nekat?"
Ceng Ceng makin tertarik dan dia lalu meloncat ke darat. Sekali loncat saja dia telah tiba di depan laki-laki tua itu yang memandang terbelalak kemudian menjatuhkan diri berlutut!
"Kiranya Nona adalah seorang pendekar wanita yang sakti....! Nona tidak takut racun dan Nona melompat seperti terbang.... kalau begitu, saya mohon dengan hormat, sudilah kiranya Nona menolong kami, mengobati puteraku dan beberapa orang lain yang belum tewas akan tetapi yang menderita sakit hebat karena air sungai ini."
Ceng Ceng mengangguk.
"Baik, akan kucoba untuk menyembuhkan mereka. Mari!"
Kakek itu girang sekali dan cepat mengajak Ceng Ceng memasuki perkampungan itu langsung menuju ke sebuah rumah yang paling besar dan paling indah di dusun itu.
Kiranya orang tua itu adalah hartawan yang paling kaya di dusun itu, dan dia lalu dengan singkat menceritakan kepada isterinya yang masih menangis bahwa nona muda ini hendak mengobati putera mereka. Ibu yang cemas ini cepat mengajak Ceng Ceng memasuki sebuah kamar dan di atas pembaringan rebahlah seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang membengkak mukanya dan panas badannya. Ceng Ceng menghampiri, dan sebentar saja dia sudah tahu bahwa anak ini memang keracunan, racun yang sama dengan yang dia dapatkan di dalam anak sungai tadi. Racun yang sama sekali tidak berbahaya kalau saja orang tahu cara pengobatannya.
Cepat dia menotok jalan darah di dada kiri anak itu dan menyuruh Sang Ibu mengambil abu dapur, merendam abu itu di dalam air, lalu memberikan air itu setelah abunya mengendap, untuk diminumkan anaknya. Setelah ditotok dan minum obat sederhana ini, anak itu benar saja sembuh, bengkak pada mukanya mengempis dan napasnya tidak memburu lagi, panas tubuhnya pun menurun! Tentu saja hartawan itu menjadi girang sekali dan orang lain yang menderita keracunan yang sama lalu dibawa ke rumah gedung itu dan semua diobati oleh Ceng Ceng dan dapat diselamatkan nyawanya. Rumah itu penuh dengan penduduk dan mereka semua berlutut menghaturkan terima kasih kepada Ceng Ceng dipimpin oleh kepala dusun itu yang masih adik kandung sendiri dan Si Hartawan tadi. Ceng Ceng berkata,
"Harap Cu-wi sekalian bangkit dan jangan berlebihan. Aku hanya ingin tahu mengapa air sungai itu beracun, apakah biasanya tidak begitu?"
"Tentu saja tidak, Lihiap (Pendekar Wanita),"
Jawab Si Kepala Dusun setelah semua orang bangkit.
"Sejak turun-temurun, anak sungai itu memiliki air yang jernih dan bersih dan yang menjadi air minum seluruh penduduk dusun. Akan tetapi sejak tiga hari yang lalu, tiba-tiba saja airnya mengandung racun yang jahat itu sehingga ada enam orang penduduk kami tewas, yang lain sakit dan tentu akan tewas pula kalau tidak ada pertolongan Lihiap."
"Hemm, sungguh aneh,"
Kata Ceng Ceng.
"Racun seperti itu adalah buatan orang dan tak mungkin dapat meracuni sungai kalau tidak sengaja dilakukan orang."
"Kami mendengar berita bahwa di selatan sana keadaan dusun-dusun lebih parah lagi karena mengamuknya racun yang entah datang dari mana. Kami tadinya tidak percaya sampai air sungai itu menjadi beracun,"
Jawab Si Kepala Dusun.
"Terpaksa kami menggunakan air dari sumber di atas bukit untuk keperluan kami."
"Dan Cu-wi tahu mengapa sebabnya semua itu?"
"Tidak, Lihiap, kami tidak tahu."
"Hemm, kalau begitu tentu ada apa-apa di selatan sana. Aku akan pergi ke sana menyelidikinya."
Mendengar uacpan ini, semua orang memandang dengan muka berubah.
"Ada apakah di selatan?"
Ceng Ceng bertanya melihat sikap mereka itu. Si Kepala Kampung memandang ke kanan kiri seperti orang ketakutan, lalu berkata lirih,
"Sebaiknya kalau Lihiap jangan mengambil jalan ke selatan. Kurang lebih lima puluh li dari tempat ini terdapat tempat yang dinamakan Lembah Bunga Hitam, dan tempat itu amat berbahaya...."
"Mengapa....?"
"Penghuni Lembah Bunga Hitam adalah golongan yang amat ditakuti di sekitar daerah ini...., dan sudah banyak yang menjadi korban keganasan mereka, namun tidak ada yang berani melawan karena mereka itu amat lihai...."
Ceng Ceng tersenyum.
"Tak usah Cu-wi khawatir, aku mampu menjaga diriku."
Akan tetapi kepala kampung dan hartawan itu, juga para penduduk, menahan Ceng Ceng pergi seketika. Mereka lebih dulu ingin menjamu Ceng Ceng untuk menyatakan terima kasih mereka. Bahkan melihat betapa pakaian yang dipakai dara itu sudah amat lapuk, Si Hartawan sudah cepat menyiapkan pakaian baru untuk Ceng Ceng, dan setelah dara itu dipaksa untuk makan minum bersama mereka, lalu seekor kuda yang besar dihadiahkan pula kepada dara itu. Ceng Ceng juga tidak menolak pemberian itu, menerima dengan gembira dan berterima kasih. Dia memang amat membutuhkan pakaian bersih, dan kuda itu pun dapat berguna baginya. Maka dengan diantar oleh para penduduk sampai di pintu dusun, dara ini berangkat melanjutkan perjalanannya menuju ke selatan.
Akan tetapi baru kurang lebih sepuluh li kudanya dilarikan ke selatan, tiba-tiba di luar sebuah hutan dia melihat penduduk dusun berbondong-bondong pergi mengungsi ke utara. Keadaan mereka sungguh menyedihkan, kelihatan muka mereka pucat ketakutan, pakaian kumal dan penuh duka, ada yang menggendong anak ada pula yang menggandeng dua anak di kanan kiri, ada yang menggendong buntalan pakaian dan memikul barang-barang yang sempat mereka bawa lari ngungsi. Ceng Ceng meloncat turun dari kudanya dan memegang kendali kuda, memandang orang-orang itu yang agaknya tidak mempedulikannya, bahkan agaknya memandang kepadanya dengan penuh curiga dan penuh kebencian. Akhirnya dia bertanya kepada dua orang laki-laki setengah tua yang berjalan berdampingan sambil bercakap-cakap,
"Ji-wi Lopek (Paman Tua Berdua) agaknya kalian semua mengungsi dengan tergesa-gesa dan ketakutan, apakah yang terjadi di selatan?"
Dua orang laki-laki itu berhenti dan memandang kepada Ceng Ceng dengan penuh keheranan.
"Apakah Nona hendak maksudkan bahwa Nona belum tahu akan apa yang sedang dan telah terjadi, dan sekarang Nona hendak melakukan perjalanan ke selatan?"
Tanya yang berjenggot pendek.
"Benar, Lopek. Akan tetapi, apakah sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa Lopek sekalian melarikan diri dan pergi mengungsi?"
"Aihh, tadinya kami mengira tentu Nona adalah seorang di antara mereka! Kalau ternyata bukan, harap Nona cepat membalikkan kuda dan ikut melarikan diri bersama kami sebelum terlambat."