Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 111

Memuat...

"Jangan begitu, Dewi. Aku melakukan ini demi masa depanmu sendiri, aku harus pergi, sekarang juga. Jenderal Kao akan mengurus segala keperluanmu, tinggal engkau rundingkan dengan dia yang menganggap kau sebagai anaknya. Dia dapat mengantarmu kembali ke Bhutan atau kota raja menghadap Kaisar...."

"Paman.... Paman Gak.... apakah Paman tidak cinta kepadaku?"

"Demi Tuhan.... satu-satunya orang yang kusayang sepenuh hatiku pada saat ini adalah engkau seorang, Dewi. Akan tetapi, ngeri aku membayangkan untuk mencintamu dengan disertai keinginan memiliki dirimu lahir batin. Aku.... ah.... agaknya luka di hatiku masih belum sembuh, aku belum berani lagi mencinta wanita.... pengalaman yang lalu.... ah, kau mengerti, Dewi. Betapapun juga, kalau ada orang yang kusayang, kukasihi sepenuh hatiku, selain dia.... ah, kiranya orang itu hanya engkau, Dewi...."

Gak Bun Beng memeluk erat-erat, seolah-olah dia tidak ingin lagi melepaskan dara itu, kemudian mencium dahi yang halus itu, lalu tiba-tiba dia melepaskan rangkulannya dan meloncat pergi, dalam sekejap mata saja lenyap dari pandangan Syanti Dewi, hanya suaranya saja yang terdengar, mengandung rintihan jiwa yang menggetar,

"Selamat tinggal, Dewi....!"

"Paman Gak....!"

Syanti Dewi menjerit dan lari ke sana ke mari mencari-cari, namun pendekar itu telah lenyap dan akhirnya dara ini menjatuhkan diri di atas tanah, berlutut sambil menangis sampai mengguguk. Sampai lama sekali dara itu menumpahkan kedukaan hatinya seperti itu, sampai lupa waktu.

"Syanti Dewi, anakku.... mengapa engkau berduka seperti ini?"

Syanti Dewi mengangkat mukanya yang basah air mata. Melihat Jenderal Kao Liang berdiri di situ, mendengar jenderal itu tidak lagi menyebutnya tuan puteri, bahkan menyebutnya "anakku", hatinya yang penuh kecewa dan duka itu menjadi terharu.

"Paman....!"

Serunya sambil berlari ke depan lalu menjatuhkan diri berlutut di depan jenderal itu sambil menangis. Jenderal Kao Liang mengangkatnya bangun dan membiarkan gadis itu menangis dengan muka di atas dadanya, sambil mengelus rambut itu dengan hati penuh kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya.

"Tenanglah, anakku. Jangan meneruskan hati yang gelisah dan duka. Engkau tentu menangisi kepergian Gak-taihiap, bukan?"

Tanpa menjawab, Syanti Dewi mengangguk. Jenderal itu menghela napas panjang lalu berkata,

"Dia memang seorang yang amat luar biasa, seorang pendekar besar yang patut dijunjung tinggi, patut dihormati, bahkan patut pula menerima kasih sayang dara seperti engkau. Aku mengerti, seorang gagah seperti dia tentu tidak mau mempergunakan kesempatan untuk menyenangkan diri sendiri. Akan tetapi jangan kau khawatir, Anakku. Jodoh tidak dapat dipaksakan, juga tidak dapat dipisahkan. Kalau memang sudah berjodoh, tentu kelak dapat berkumpul kembali."

Sambil menghibur, Jenderal Kao Liang mengajak puteri itu kembali ke dalam rumah sehingga akhirnya reda juga kedukaan hati puteri itu. Akan tetapi setelah dia tidak menangis lagi, Syanti Dewi lalu mengajukan permintaan kepada Jenderal Kao Liang untuk mengantarkannya ke kota raja, ke istana Puteri Milana!

"Apakah kau tidak ingin kembali saja ke istanamu di Bhutan?"

Jenderal Kao Liang bertanya.

"Tidak, saya ingin bertemu dan bicara dengan Puteri Milana!"

Jawab Syanti Dewi dengan tegas. Dia tidak mengatakan kepada jenderal itu bahwa dia ingin bertemu dengan Puteri Milana bukanlah untuk keperluan dirinya sendiri, melainkan untuk menegur puteri itu yang telah membuat hidup Gak Bun Beng menjadi sengsara! Dia ingin menegur Puteri Milana!

"Baiklah, Syanti Dewi. Akan tetapi kau bersabarlah, karena tidak mungkin aku mengantarmu sekarang. Aku sudah menyusun pelaporan ke kota raja dan aku akan menunggu jawaban pelaporan tentang pemberontakan di sini dari Kaisar. Kalau jawaban itu tiba, tentu aku harus menghadap ke sana dan engkau sekalian akan kuantarkan kepada Puteri Milana."

Terpaksa Syanti Dewi menanti dengan sabar dan menekan kedukaan hatinya yang selalu mengenangkan Gak Bun Beng, pendekar sakti yang amat dikagumi dan yang telah menjatuhkan hatinya itu.

Kita tinggalkan dulu Puteri Syanti Dewi yang merana dan menderita kesengsaraan batin sebagai akibat cinta pertama itu dan kita mengikuti keadaan Candra Dewi atau Lu Ceng atau Ceng Ceng yang seolah-olah terkubur hidup-hidup di dalam dunia bawah tanah bersama nenek lumpuh Ban-tok Mo-li. Seperti telah diceritakan di bagian depan, melihat betapa Ceng Ceng membelanya ketika Siang Lo-mo datang menuntut diberikannya kitab catatan racun, timbul rasa sayang di dalam hati nenek lumpuh yang tidak waras lagi otaknya itu terhadap Ceng Ceng.

Dengan penuh kesungguhan hati mulailah nenek itu menurunkan ilmu-ilmunya kepada Ceng Ceng, terutama sekali ilmu menggunakan racun-racun berbahaya ke dalam tubuh sehingga dalam waktu beberapa bulan saja Ceng Ceng telah berubah menjadi seorang "gadis beracun"

Yang amat menyeramkan karena bukan saja dara ini dapat mengisi hawa, pukulan dan serangannya dengan hawa beracun, akan tetapi juga dapat menggunakan racun ke dalam seluruh anggauta tubuhnya sehingga setiap tamparan, jamahan tangan, kalau dikehendakinya, dapat membuat lawan roboh dan tewas. Bahkan dengan pengerahan istimewa, gadis ini dapat membuat ludahnya beracun pula! Dengan amat tekun Ceng Ceng melatih dirinya dengan semua ilmu kaum sesat yang mengerikan itu dan dalam waktu tiga bulan dia telah memperoleh kemajuan hebat sehingga jauhlah kalau dibandingkan dengan sebelum dia terjerumus ke dalam sumur maut.

Memang nenek yang sudah putus asa untuk dapat membalas dendam sendiri kepada Siang Lo-mo, mewariskan ilmu-ilmunya kepada muridnya ini, dengan harapan agar kelak Ceng Ceng dapat membalaskan dendamnya kepada sepasang kakek kembar yang lihai itu. Bahkan catatan racun yang aslinya, tidak seperti yang diberikan kepada Siang Lo-mo yang mengandung kesalahan-kesalahan yang disengaja, telah diperlihatkan dan diserahkan kepada Ceng Ceng untuk dipelajarinya sehingga dara ini bukan saja menjadi ahli dalam ilmu silat beracun, juga ahli pula dalam soal segala macam racun sehingga dengan tuntunan kitab catatan kecil itu dia dapat menyembuhkan segala macam keracunan! Selain memperoleh ilmu silat dan ilmu tentang racun, juga Ceng Ceng memperoleh sebatang pedang dari gurunya, sebatang pedang yang indah dan ampuh, akan tetapi sudah direndam racun yang bermacam-macam, lama, dan amat jahatnya.

Pedang ini yang tadinya merupakan sebatang pedang pusaka ampuh, terbuat dari logam pilihan, oleh Ban-tok Mo-li telah diubah menjadi sebatang pedang iblis yang amat mengerikan dan oleh nenek itu diberi nama Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun). Tiga bulan lewat dengan cepatnya dan pada suatu senja, seperti biasa kalau sudah lelah berlatih, Ceng Ceng yang tidak ada bosan-bosannya itu memeriksa terowongan dan mencari-cari jalan rahasia dari mana datangnya Siang Lo-mo. Terutama sekali dia memeriksa terowongan di mana dahulu sepasang kakek kembar itu muncul karena dia yakin bahwa tentu di sekitar tempat inilah terdapat sebuah pintu rahasia. Dia sudah hampir setiap hari mengetuk, memukul, mendorong dan menarik batu-batu dinding terowongan itu tanpa hasil. Sekali ini ia melihat-lihat ke atas. Terowongan itu cukup tinggi, tidak kurang dari dua tombak tingginya, dan permukaan dindingnya agak kasar karena batu-batunya menonjol.

Kalau pintu rahasia itu tidak berada di kanan kiri dinding terowongan itu, apakah terdapat di atas, di langit-langit terowongan, pikirnya. Dia lalu mengangkat kakinya menginjak batu menonjol, lalu mengenjot tubuhnya ke atas, berpegang kepada batu menonjol di langit-langit, kaki yang sebelah lagi menginjak batu menonjol yang lain, kemudian dengan kedua tangannya, mulailah dia mengetuk-ngetuk dan mendorong atau menarik batu-batu menonjol di sekitar langit-langit terowongan itu. Tiba-tiba jantungnya berdebar tegang ketika sebuah batu menonjol yang dipegang tangan kirinya ketika dia dorong bergerak sedikit! Dia membenarkan letak kakinya mencari tempat berpijak yang kuat, kemudian mengerahkan tenaganya mendorong batu menonjol itu.

"Kraaakkkk....!"

Terdengar suara batu bergeser dan tampaklah sebuah lubang yang bergaris tengah hampir satu meter terbuka di langit-langit terowongan itu! Ceng Ceng hampir bersorak girang. Tentu saja sampai bertahun-tahun Ban-tok Mo-li tidak dapat menemukan pintu rahasia ini karena nenek yang bernasib malang itu telah lumpuh kedua belah kakinya dan tidak dapat mempergunakan lagi kakinya itu,

Sedangkan rahasia pintu terowongan di langit-langit itu hanya dapat ditemukan kalau orang menggunakan kedua kakinya untuk memanjat dan kedua tangan untuk menarik. Dan agaknya ini pula yang menjadi satu diantara sebab mengapa dua orang kakek kembar itu membikin lumpuh kaki Ban-tok Mo-li. Dengan hati girang sekali Ceng Ceng lalu meloncat turun, mengambil kitab catatan racun dan pedang Ban-tok-kiam pemberian subonya, kemudian dia lari kembali ke bawah pintu rahasia itu. Baru saja kedua kakinya bergerak hendak meloncat ke atas memasuki lubang itu, tiba-tiba terdengar suara berkaok ular besar yang melingkar di batu menonjol tak jauh dari lubang rahasia itu, kemudian dengan kaget Ceng Ceng mendengar suara teguran subonya,

"Ceng Ceng, kau hendak pergi ke mana membawa-bawa pedang dan kitab?"

Ceng Ceng terkejut sekali. Dia maklum bahwa dia harus pergi meninggalkan gurunya, karena tidaklah mungkin baginya untuk pergi mengajak subonya yang cacad kedua kakinya itu. Tanpa menjawab dia menyelinap di ujung terowongan untuk bersembunyi. Akan tetapi tiba-tiba tampak tubuh subonya yang merangkak cepat sekali datang dari dalam.

"Heh-heh, aku tahu kau berada di situ, Ceng Ceng. Kau mencurigakan sekali, tentu engkau telah menemukan pintu rahasia itu, bukan? Heh-heh, jangan kau tinggalkan tempat ini tanpa aku, muridku!"

"Tidak! Subo harus tinggal di sini, biar teecu yang keluar dan kelak teecu akan membalaskan dendam Subo terhadap Siang Lo-mo!"

"Heh-heh-heh, enak saja! Tidak, kau harus membawa aku atau kau tidak akan dapat pergi dalam keadaan hidup!"

Ceng Ceng maklum akan watak subonya yang amat kejam. Ancaman subonya itu tentu akan dilaksanakan kalau dia tidak mau menurut, akan tetapi dia pun tidak mau menyia-nyiakan jalan kebebasan ini. Dan keluar dari tempat itu bersama subonya bukanlah kebebasan namanya. Subonya lihai sekali dan sekali mereka keluar dari neraka di bawah tanah itu, dia akan dipaksa untuk memenuhi kehendak subonya di bawah ancaman maut.

"Tidak, Subo. Teecu akan pergi sendiri!"

Ceng Ceng meloncat ke atas, ke arah lubang dan pada saat itu dia tidak lengah, melainkan dengan waspada dia memandang ke arah subonya.

"Kalau begitu mampuslah!"

Ban-tok Mo-li menggerakkan tangan kanannya dan melayanglah sebuah benda bulat yang mengeluarkan sinar ke arah Ceng Ceng dengan kecepatan hebat. Ceng Ceng terkejut.

Dia maklum bahwa subonya memiliki senjata-senjata rahasia yang aneh-aneh dan dia belum sempat mempelajarinya. Dia tidak tahu senjata rahasia apakah yang dipergunakan subonya saat itu untuk menyerangnya, maka dia mengambil keputusan untuk mengelak dengan jalan meloncat turun kembali karena dia tidak berani menangkis atau menendang bola yang meluncur ke arahnya itu sebelum dia tahu benda macam apa yang dipergunakan untuk menyerangnya selagi tubuhnya melayang ke atas itu. Akan tetapi, tiba-tiba ada bayangan meluncur dari atas menyambar ke arah bola yang melayang itu. Ceng Ceng sudah bergantung ke pinggir lubang sambil memandang ke bawah. Kagetlah dia ketika melihat bahwa yang meluncur itu adalah ular besar yang dengan moncong terbuka lebar menyambar ke arah senjata rahasia berupa bola itu.

"Ular tolol! Jangan....!"

Terdengar Ban-tok Mo-li yang sudah tiba di bawah tempat itu berteriak. Namun terlambat karena ular itu sudah mencaplok benda melayang itu dan terdengarlah bunyi ledakan keras dan tampak api bernyala besar membakar tubuh ular itu yang terpaksa melepaskan belitannya pada batu, jatuh ke bawah merupakan api berkobar-kobar. Terdengar jerit melengking mengerikan dan Ceng Ceng terbelalak memandang, lalu dia meloncat turun sambil berteriak,

"Subo....!"

Akan tetapi gadis ini hanya berdiri bingung dengan jari-jari tangan saling cengkeram, tidak tahu harus berbuat bagaimana melihat subonya yang tertimpa ular itu kini juga terbakar secara hebat! Melihat ular dan subonya bergulingan dan berkelojotan tanpa dia mampu menolong sedikit pun, Ceng Ceng memejamkan matanya, tidak tega menghadapi peristiwa yang amat mengerikan itu, kemudian dia meloncat lagi memasuki lubang terowongan, lalu merangkak dengan cepat melalui terowongan yang ternyata amat panjang dan gelap itu. Terowongan yang gelap itu ternyata amat panjang, berlika-liku dan selalu naik. Dara itu tidak tahu sampai berapa jauhnya dia merangkak-rangkak, kaki dan tangannya sampai terasa lelah, namun mengenangkan gurunya dia merasa ngeri dan terus melanjutkan perjalanan yang sukar itu tanpa berhenti.

Setelah melalui perjalanan yang amat sukar dan lama, kadang-kadang terowongan itu sempit dan licin basah, kadang-kadang melalui lantai yang penuh batu tajam dan runcing, akhirnya dia berhenti karena jalan itu buntu. Selama menempuh perjalanan sukar sambil merangkak-rangkak itu, dia harus meraba-raba dengan kedua tangannya karena amat gelap. Kini pun dia meraba-raba dan mendapat kenyataan mengejutkan bahwa jalan itu berhenti dan buntu, di depannya adalah dinding batu. Ketika dia meraba-raba lantai yang penuh dengan benda-benda berserakan seperti batu-batu besar, tiba-tiba keadaan di situ menjadi agak terang dan dia cepat mengangkat muka memandang ke atas. Hampir dia berteriak saking kaget dan heran, juga girangnya, dan cepat dia bangkit berdiri. Betapa enaknya rasa tubuhnya berdiri seperti itu setelah berjam-jam merangkak terus!

Kiranya tempat itu merupakan sebuah sumur yang cukup tinggi, biarpun tentu saja tidak setinggi sumur di padang pasir, sumur maut di mana dia terjungkal. Dan cuaca di dasar sumur itu menjadi makin terang, bahkan kini terdengar suara-suara orang di atas sumur! Ceng Ceng terkejut dan cepat menyelinap bersembunyi ke terowongan sambil mengintai ke atas. Tampaklah obor-obor dipegang tangan banyak orang, lalu tampak kepala-kepala orang yang kelihatannya aneh dan menyeramkan dari bawah itu. Keadaan menjadi makin terang dan ketika dia melihat lagi ke atas lantai sumur, hampir saja Ceng Ceng menjerit. Pantas saja sejak tadi dia mencium bau yang amat tidak enak, bau busuk, bau bangkai! Hanya karena dia sudah melatih diri dengan ilmu yang membuat tubuhnya beracun, maka tadi dia tidak begitu merasakan hal ini.

Sekarang, setelah keadaan menjadi terang oleh sinar banyak obor di atas sehingga dia dapat melihat bahwa benda-benda berserakan yang disangkanya batu-batu tadi ternyata adalah tumpukan tulang-tulang dan tengkorak manusia, barulah dia tahu bahwa tempat itu merupakan gudang tulang-tulang manusia, bahkan ada tulang-tulang yang masih belum bersih betul, masih ada sisa hancuran dan cairan bekas tubuh manusia yang tentu saja berbau busuk sekali! Ceng Ceng memandang lagi ke atas. Agaknya terdapat kesibukan-kesibukan di atas sumur itu, akan tetapi suara orang-orang itu tidak terdengar jelas, karena campur aduk tidak karuan. Tiba-tiba tampak oleh Ceng Ceng betapa banyak tangan manusia mengangkat sesuatu kemudian melemparkan benda yang panjang ke dalam sumur itu! Dengan cepat Ceng Ceng merangkak mundur ke dalam terowongan dan merasa ngeri karena dia sudah menduga benda apakah itu yang dilempar ke bawah.

"Bukkk!"

Benda itu terbanting keras dan betul dugaannya bahwa benda itu adalah mayat seorang manusia! Dia tidak sempat melihat apakah mayat itu laki-laki atau wanita, yang jelas bahwa mayat itu telanjang bulat dan jatuh menimpa tulang-tulang yang berserakan di tempat itu, karena agaknya orang-orang yang berada di atas itu mulai pergi meninggalkan sumur sehingga keadaan kembali menjadi gelap pekat. Ceng Ceng terpaksa merangkak mundur sampai belasan meter dari dasar sumur itu. Dia akan menanti sampai terang. Kalau dia mengingat-ingat akan waktu yang dipergunakan untuk merangkak-rangkak tadi, dia dapat menduga bahwa saat itu tentu sudah lewat tengah malam dan kiranya pagi tidaklah lama lagi.

Dia lalu rebah terlentang di dalam terowongan, beristirahat. Dia akan mencari jalan keluar kalau sudah pagi dan terang, dan untuk menanti datangnya pagi, dia memilih terowongan sempit ini daripada dasar sumur yang luas akan tetapi penuh dengan tulang dan mayat manusia. Tentu saja Ceng Ceng tak dapat tidur sekejap mata pun. Hatinya terlalu tegang dan dia ingin lekas-lekas dapat keluar dari tempat itu. Hatinya girang sekali ketika sinar matahari pagi mulai masuk ke dalam sumur itu. Ketika dia merangkak ke dasar sumur, hatinya jijik sekali melihat mayat telanjang seorang laki-laki tua yang dilempar dari atas semalam, dia menujukan perhatiannya ke atas tanpa banyak membiarkan pandang matanya melihat ke bawah. Tepat seperti diduganya malam tadi bahwa pasti ada jalan keluar karena terowongan rahasia ini adalah yang dilalui Siang Lo-mo,

Dengan girang dia mendapat kenyataan bahwa biarpun sumur itu dalamnya tidak kurang dari lima belas meter, namun dia sanggup naik melalui dindingnya yang kasar dan penuh batu-batu dan injakan kaki. Tanpa membuang banyak waktu lagi, mulailah Ceng Ceng merayap atau mendaki naik dengan harap-harap cemas agar jangan sampai ada muncul orang yang mengganggunya setelah dia tiba di luar sumur. Ketika akhirnya dia meloncat keluar, ternyata sumur itu berada di tengah hutan di lereng gunung! Bukan di tengah padang pasir lagi! Pantas saja kalau terowongan itu banyak mendaki, kiranya membawanya ke lereng bukit. Dan sumur itu adalah sebuah kuburan! Agaknya penduduk di sekitar daerah ini mempunyai cara penguburan yang aneh, yaitu melemparkan mayat-mayat dalam keadaan telanjang bulat ke dalam sumur ini!

Dia dapat mengetahui hal ini karena di tepi sumur terdapat banyak papan-papan nama yang ditancapkan di atas tanah, dan di situ terdapat pula bekas-bekas hio, agaknya mereka menyembahyangi leluhur mereka di tepi sumur ini secara beramai-ramai. Sumur ini merupakan kuburan bersama! Pantas saja Siang Lo-mo dapat menggunakan sumur ini tanpa diketahui orang, karena orang lain tentu tidak ada yang berani memasuki sumur yang dijadikan kuburan ini, yang tentu merupakan sebuah tempat yang keramat! Dengan perasaan yang mungkin hanya dapat dirasakan oleh seekor burung yang baru terlepas dari sangkarnya, atau seekor harimau yang baru terlepas dari kerangkeng, Ceng Ceng segera pergi dari tempat itu, menuruni lereng atau memilih jalan menurun untuk keluar dari dalam hutan yang cukup lebat itu.

Biarpun semalam suntuk tak pernah tidur dan baru saja mengalami ketegangan yang cukup hebat, namun kelegaan dan kegembiraan hatinya dapat terbebas secara yang tak disangka-sangkanya itu membuat wajah Ceng Ceng berseri-seri. Dan segala yang tampak di depan matanya, pohon-pohon dan batu-batu, bahkan rumput dan daun kering, kelihatan amat indah dan menyenangkan hatinya. Ingin dia tertawa-tawa, ingin dia bernyanyi-nyanyi, akan tetapi kadang-kadang dia berhenti dan termenung, alisnya berkerut kalau dia teringat kepada gurunya. Betapapun juga, harus ia akui bahwa Ban-tok Mo-li yang kejam dan mengerikan itu telah menyelamatkan nyawanya, bukan itu saja, bahkan nenek itu telah menurunkan ilmu-ilmunya kepadanya. Kini nenek itu telah tewas.

"Subo, aku akan membalaskan sakit hatimu terhadap Siang Lo-mo!"

Bisiknya sambil mengepal tinju dan dia cepat mengusir bayangan subonya dan melanjutkan perjalanannya dengan cepat karena dari atas dia melihat genteng-genteng rumah penduduk dusun di bawah sana. Dia berhenti di luar dusun itu ketika melihat anak sungai yang airnya jernih sekali. Timbul keinginan hatinya untuk mandi dan minum. Atau setidaknya dia harus mencuci mukanya di air yang jernih itu, karena kalau mandi dia khawatir dilihat orang. Cepat dia menuruni anak sungai itu, akan tetapi baru saja kedua tangannya menyentuh air, tiba-tiba terdengar orang berseru penuh kekhawatiran,

"Hei....! Nona...., jangan sentuh air itu...., lekas kau keluar dari situ!"

Tentu saja Ceng Ceng merasa heran sekali. Kalau orang itu melarangnya, tentu dia akan marah. Akan tetapi orang itu jelas bukan melarang, melainkan memperingatkannya seolah-olah orang itu merasa ngeri dan takut akan sesuatu.

"Mengapa tidak boleh, Lopek?"

Post a Comment