Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 107

Memuat...

Kian Bu berseru heran sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Kaliah mengacau!"

Pangeran itu membentak pula karena dia pun melihat betapa banyak diantara para tamu menggelengkan kepala tidak setuju kalau dua orang muda itu ditangkap.

"Ah! Ah! Jadi kami yang mengacau?"

Kian Bu berteriak pula tanpa takut sedikit pun.

"Dua orang jagoan kampungan tadi telah mengeluarkan tantangan dan penghinaan terhadap Pulau Es, dan siapa pun tahu bahwa Majikan Pulau Es adalah Pendekar Super Sakti! Pendekar itu adalah mantu dari Yang Mulia Kaisar dan ayah dari Puteri Milana yang hadir di sini sebagai tamu kehormatan! Kami berdua maju menghajar orang yang menghina mantu Kaisar malah dituduh pengacau! Kalau begini, siapa yang mengacau?"

Mendengar ucapan ini, Liong Bin Ong menjadi merah mukanya. Apa yang diucapkan dua orang pemuda remaja itu terdengar oleh semua orang dan hampir semua orang mengangguk-angguk membenarkan.

"Siapa kalian?"

Bentaknya.

"Sebagai putera-putera Pendekar Super Sakti, tentu saja kami tidak membiarkan orang-orang macam mereka itu menghina Pulau Es."

"Kian Bu....! Kian Lee....!"

Milana tak dapat menahan lagi kegirangan hatinya. Dia sudah bangkit berdiri dan menghampiri dua orang pemuda itu yang serta merta berlutut di depan Milana.

"Enci Milana....!"

Mereka berkata hampir berbareng. Milana tertawa dan sekaligus mengusap air matanya, menyuruh bangun mereka dan memeluk mereka, menarik mereka ke ruangan tamu kehormatan dan memperkenalkan mereka kepada Pangeran Liong berdua dan para tamu.

"Mereka adalah adik-adikku Suma Kian Bu dan Suma Kian Lee dari Pulau Es!"

Melihat keluarga yang saling bertemu itu bergembira dan disambut oleh para tamu dengan girang, dua orang Pangeran Liong saling pandang dengan muka pucat.

Tentu saja mereka tidak dapat berbuat sesuatu terhadap adik-adik Puteri Milana, yaitu cucu Kaisar sendiri, apalagi karena semua tamu tadi jelas menyaksikan betapa dua orang pemuda itu mengalahkan dua orang jagoan yang dianggap menghina Pulau Es. Berbondong para tamu datang dan menghaturkan selamat kepada Puteri Milana yang telah bertemu dengan dua orang adiknya yang gagah perkasa. Dengan alasan kedatangan dua orang adiknya, Puteri Milana dan suaminya yang terluka pundaknya itu bergegas meninggalkan tempat pesta, pulang ke istana mereka sendiri. Setelah Han Wi Kong yang patah tulang pundaknya itu memperoleh perawatan dari seorang tabib dan mengundurkan diri untuk beristirahat di kamarnya sendiri, Milana mengajak dua orang adiknya bercakap-cakap sampai semalam suntuk.

Tidak ada habis-habisnya mereka saling menceritakan keadaan masing-masing, dan terutama sekali dengan penuh kerinduan hati Milana ingin mendengarkan segala hal mengenai Pulau Es. Ketika dia mendengar tentang Siang Lo-mo, dua orang kakek kembar yang pernah dilawannya di rumah penginapan itu ternyata pernah pula menyerbu Pulau Es dengan kawan-kawannya, puteri ini mengerutkan alisnya dan dengan penuh kekhawatiran dia dapat menduga bahwa Pangeran Liong ternyata dibantu oleh orang-orang pandai. Beberapa hari kemudian, setelah membawa dua orang adiknya menghadap kepada Kaisar, Milana lalu memberi tugas kepada kedua orang adiknya yang dia tahu memiliki kepandaian yang cukup tinggi untuk menjaga diri dan untuk menunaikan tugas rahasia itu. Dia menyuruh Kian Lee dan Kian Bu pergi ke utara, menemui Jenderal Kao Liang dan menceritakan semua keadaan di kota raja,

Mengajak Jenderal Kao yang amat setia dan yang menguasai sebagian besar pasukan itu untuk mengerahkan pasukan menumpas pemberontak-pemberontak tanpa menanti perintah Kaisar lagi karena Kaisar tentu saja terpengaruh oleh para pangeran yang menjadi saudaranya sendiri itu, dan tidak percaya bahwa mereka merencanakan pemberontakan. Pendeknya Milana mengajak Jenderal Kao untuk mendahului gerakan pemberontakan dan sekaligus membasmi pemberontak yang belum sempat bergerak itu. Tengah malam telah lewat. Udara amat dingin membuat para penjaga yang berkumpul di gardu benteng mengantuk dan mereka berusaha untuk melawan dingin dengan api unggun besar. Perang antara dinginnya hawa udara dan panasnya api unggun mendatangkan kehangatan yang membuat orang cepat mengantuk, apalagi setelah bertugas menjaga dan meronda sehari semalam menanti penggantian giliran besok pagi.

Banyak diantara para penjaga itu yang mendengkur tanpa dapat ditahan lagi, ada yang berbaring begitu saja di bawah gardu, ada yang tidur sambil bersandar gardu, dan yang belum tidur rata-rata sudah melenggut digoda kantuk yang berat. Mereka sudah malas meronda. Pula, perlu apa diadakan perondaan secara ketat? Benteng itu penuh pasukan tentara, siapa berani mengantar nyawa memasuki benteng? Kelengahan para penjaga karena ngantuknya ini makin memudahkan dua orang yang bergerak seperti iblis saja di malam hari itu. Dengan gerakan ringan bukan main mereka meloncat ke atas pagar tembok, lalu melayang turun dan cepat menyelinap diantara bangunan-bangunan di dalam benteng, menghindarkan diri dari pertemuan dengan penjaga-penjaga yang bertugas di dalam.

Dua sosok bayangan orang itu berkelebatan kadang-kadang naik ke atas genteng dan berloncatan, kemudian melayang turun lagi dan menyelinap diantara bangunan-bangunan rumah asrama para pasukan tentara. Dari gerak-gerik mereka, jelas bahwa selain memiliki kepandaian tinggi, juga dua orang ini sudah hafal akan keadaan di situ. Tentu saja demikian karena seorang diantara mereka ini adalah Jenderal Kao Liang dan yang seorang lagi adalah Pendekar Sakti Gak Bun Beng. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Jenderal Kao Liang dibantu Gak Bun Beng pergi ke benteng yang dikuasai oleh Panglima Kim Bouw Sin, untuk menumpas para pemberontak. Menyetujui pendapat Bun Beng agar tidak mendatangkan perang saudara secara terbuka antara pasukan-pasukan sendiri, maka jenderal itu bersama Bun Beng memasuki benteng berdua saja secara diam-diam dan menggunakan waktu malam untuk menyelidik.

Sudah tentu saja andaikata Jenderal Kao masuk dari pintu gerbang, para penjaga akan mengenalnya dan tidak akan ada yang berani melarangnya, akan tetapi kalau hal itu dilakukan dan Kim Bouw Sin mendengar akan kedatangannya, tentu panglima yang memberontak itu akan mengadakan persiapan untuk mencelakakannya. Maka mereka berdua memasuki benteng malam itu secara diam-diam, dan berkat pengetahuan jenderal itu tentang benteng di mana dahulu dia pernah menjadi komandannya, maka mereka berdua dapat dengan mudah menyelinap masuk dan langsung menuju ke tempat kediaman Panglima Kim Bouw Sin. Akhirnya, Jenderal Kao dan Bun Beng sudah tiba di balik pintu ruangan besar di mana Panglima Kim Bouw Sin tampak sedang berunding dengan belasan orang, dan kelihatan panglima itu marah-marah.

"Kalian sungguh-sungguh tidak ada gunanya!"

Agaknya entah sudah berapa puluh kali dia memaki seperti itu.

"Sekarang, semua gagal dan kita akan celaka."

"Kim-ciangkun, apakah tidak sebaiknya kalau kita mengirim pasukan yang lebih kuat dan diam-diam berusaha lagi untuk...."

"Jangan sembrono! Setelah kegagalan itu, tentu Kao Liang akan berjaga dengan teliti dan kuat. Lebih baik kita cepat melaporkan kepada Pangeran Liong dan kalian yang ikut membantu di sumur maut harus cepat menyembunyikan diri sehingga andaikata dia datang memeriksa, dia tidak akan menemukan bukti apa-apa di sini."

"Bagus sekali siasatmu, akan tetapi rahasiamu telah terbuka, Kim Bouw Sin! Pengkhianat hina, pemberontak busuk, menyerahlah kalian!"

Bentakan suara Jenderal Kao yang amat nyaring ini tentu saja amat mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan itu. Mereka meloncat bangun dan memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat ke arah jendela yang tiba-tiba bobol dari luar diikuti melayangnya tubuh dua orang yang kini sudah berdiri di situ memandang mereka dengan sinar mata berapi. Kim Bouw Sin tidak mengenal siapa adanya laki-laki gagah berpakaian sederhana bercaping lebar yang berdiri di samping Jenderal Kao itu, akan tetapi mengerti bahwa rahasianya telah terbuka, dia cepat berseru,

"Bunuh mereka!"

Sebelum menyerbu masuk, Jenderal Kao yang melihat betapa diantara belasan orang itu terdapat Kim Bouw Sin dan tiga orang panglima pembantunya, juga terdapat dua orang yang dia lihat ikut mengeroyoknya di sumur maut, telah membisiki Gak Bun Beng bahwa mereka berdua harus dapat menangkap hidup atau mati Kim Bouw Sin, tiga orang pembantunya, dan dua orang pengeroyok itu.

Yang lain-lain hanyalah kaki tangan yang tidak begitu penting, akan tetapi tiga orang pembantu dan dua orang pengeroyok itu merupakan saksi penting sekali akan pemberontakan Kim Bouw Sin yang menjadi kaki tangan Pangeran Liong seperti dapat dibuktikan dari perundingan mereka tadi. Gak Bun Beng mengangguk dan menyerbulah mereka ke dalam ruangan itu. Aba-aba yang dikeluarkan oleh mulut Kim Bouw Sin tidak perlu diulang kembali karena semua yang hadir dalam perundingan itu mengenal belaka siapa adanya laki-laki berusia lima puluhan tahun yang bertubuh tinggi besar, gagah perkasa dan berpakaian panglima itu. Sungguhpun kebanyakan diantara mereka tidak ada yang mengenal laki-laki yang lebih muda, berusia empat puluh tahunan berpakaian sederhana itu, namun mereka dapat menduga bahwa laki-laki itu tentulah kaki tangan Jenderal Kao.

Hanya dua orang yang ikut menyerbu ke sumur maut mengenal Bun Beng dan mereka ini menjadi begitu kaget dan ketakutan sehingga ketika Kim Bouw Sin dan yang lain-lain mencabut senjata dan menyerbu, dua orang ini lari menyelinap dan berusaha pergi dari tempat berbahaya itu. Pada saat itu, Jenderal Kao Liang sudah mencabut pedang panjangnya dan dengan gagah perkasa menghadapi serbuan lima enam orang, sedangkan Gak Bun Beng dengan tangan kosong sedang menghadapi hujan senjata para kaki tangan Kim Bouw Sin yang rata-rata terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi. Akan tetapi melihat dua orang yang tadi ditunjuk oleh Jenderal Kao sedang berusaha menyelinap pergi, Bun Beng melepaskan topi caping lebarnya dan sekali tangannya bergerak, topi caping lebar itu meluncur, mengeluarkan suara berdesing, berputar-putar seperti gasing dan menyambar ke arah lutut kedua orang yang melarikan diri itu dari belakang.

"Crak-crakkk!"

Dua orang itu mengeluarkan suara menjerit dan roboh terjungkal karena kedua lutut kaki mereka seperti dibacok senjata tajam, membuat mereka berdua lumpuh tak dapat bangun kembali sedangkan mata mereka terbelalak memandang ke arah benda yang masih berputaran dan kini melayang kembali ke arah Gak Bun Beng. Caping itu memang dilemparkan dengan gerakan istimewa pergelangan tangan sehingga berputar amat cepatnya, maka ketika menyentuh lutut kedua orang itu, dalam keadaan terputar seperti golok tajamnya dan bersentuhan dengan lutut mereka itu membuat caping tadi yang masih berputar cepat itu berbalik arah dan melayang kembali ke arah pemiliknya. Memang hal ini telah diperhitungkan oleh Bun Beng melalui latihan-latihan yang tekun bertahun-tahun lamanya.

Dengan tenang Bun Beng menghadapi pengeroyokan orang banyak, tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas ketika dia melihat capingnya melayang kembali dan menyambar benda itu, terus dipakai di atas kepalanya dan mulailah dia menggunakan kaki tangannya menghadapi pengeroyok. Jenderal Kao yang dikeroyok oleh Kim Bouw Sin sendiri bersama kaki tangannya, mengamuk hebat. Pedangnya bergerak seperti seekor naga bermain-main di angkasa, lenyap bentuk pedangnya berubah menjadi segulungan sinar yang menyilaukan mata tertimpa cahaya lampu di ruangan itu dan dalam belasan jurus saja dia telah berhasil merobohkan dua diantara tiga panglima pembantu Kim Bouw Sin yang mengakibatkan seorang tewas dan yang seorang lagi setengah mati karena kaki kanannya buntung dan pundaknya terluka parah.

Gan Bun Beng yang sudah lama sekali, belasan tahun sudah, tidak pernah melukai orang apalagi membunuh, merasa ngeri juga maka dia mengambil keputusan untuk cepat mengakhiri pertempuran itu tanpa terlalu banyak membunuh orang. Tiba-tiba dari dalam perutnya, melalui kerongkongannya keluar pekik melengking yang luar biasa sekali, sedangkan kedua lengannya didorongkan ke depan. Menyambarlah angin-angin pukulan yang berhawa dingin, dan semua pengeroyoknya yang berjumlah delapan orang itu roboh semua, sebagian karena sudah lumpuh mendengar pekik melengking itu dan sebagian lagi roboh oleh dorongan angin pukulan yang mengandung hawa dingin luar biasa itu.

Kemudian tubuhnya mencelat ke arah Jenderal Kao yang sedang mengamuk dan dengan beberapa kali menggerakkan tangan dan kakinya, robohlah seorang panglima pembantu dan dua orang yang tadi ditunjuk oleh Jenderal Kao, yaitu dua orang yang pernah mengeroyok jenderal itu di sumur maut. Jenderal ini kagum dan juga girang sekali, pedangnya mendesak hebat kepada bekas pembantunya dan betapa pun Kim Bouw Sin mempertahankan dengan pedangnya, namun tidak sampai sepuluh jurus dia roboh, pedangnya terlepas dari pegangan dan lehernya sudah dicengkeram oleh jari-jari tangan kiri Jenderal Kao! Melihat robohnya para panglima itu, sisa para pengeroyok menjadi jerih dan cepat melarikan diri keluar dari ruangan sambil berteriak-teriak minta bantuan. Dari luar berbondong-bondong masuklah para pengawal dari penjaga yang bersenjata lengkap.

"Gak-taihiap, lekas bawa dua orang itu!"

Bun Beng sendiri bingung menghadapi keadaan yang amat gawat itu. Kalau semua pasukan datang menyerbu, mereka berdua mana mungkin mampu melawan puluhan ribu orang tentara? Maka dia tidak banyak bertanya, cepat dia menyambar dua orang yang dirobohkannya tadi, menotok mereka lalu mengempit tubuh mereka, mengikuti Jenderal Kao yang sudah memanggul tubuh Kim Bouw Sin dan meloncat keluar dari ruangan itu melalui jendela. Terdengar suara anak panah yang banyak sekali mengaung dan berdesir me-nyambar, namun Jenderal kao dapat meruntuhkannya dengan putaran pedangnya sedangkan Bun Beng sudah melesat ke atas dengan cepat sekali, diikuti oleh Jenderal Kao.

"Mari kau ikuti aku!"

Jenderal Kao berkata dan keduanya lalu berloncatan melalui atap rumah-rumah di dalam benteng itu menuju ke menara! Dengan kecepatan luar biasa keduanya dapat tiba di menara. Belasan orang penjaga menara ketika melihat bahwa yang muncul adalah Jenderal Kao yang mengempit Panglima Kim Bouw Sin dan seorang pria gagah yang membawa dua orang, menjadi terkejut, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Hai, para penjaga! Aku Jenderal Kao datang untuk membasmi pemberontakan dan pengkhianatan. Hayo kalian lekas bunyikan tanda agar seluruh perajurit berkumpul!"

Dengan suara yang nyaring dan penuh wibawa jenderal itu membentak, lalu menambahkan.

"Ataukah kalian hendak ikut memberontak pula dan ingin kubunuh semua di sini?"

Para penjaga itu menjadi ketakutan, apalagi melihat bahwa panglima mereka telah tidak berdaya. Dua orang diantara mereka cepat meniup terompet dan memukul tambur tanda berkumpul bagi seluruh penghuni benteng itu. Sementara itu pagi sudah mulai tiba, biarpun cuaca masih remang-remang, namun tidaklah segelap tadi. Para perajurit yang sedang tidur lelap itu terbangun dan menjadi kaget sekali, cepat-cepat mereka berpakaian dan berlari-lari menuju ke lapangan terbuka di bawah menara.

Dalam keadaan hiruk-pikuk itu, tentu saja berita tentang penyerbuan dua orang yang menggegerkan itu diterima dalam keadaan bingung dan simpang-siur oleh para perajurit sehingga mereka itu tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi dan menyangka bahwa tanda berkumpul itu tentu ada hubungannya dengan berita kekacauan itu. Karena sudah terlatih, dalam waktu singkat saja semua perajurit telah berkumpul rapi di lapangan itu, menghadap ke menara dipimpin oleh perwira yang mengepalai pasukan masing-masing. Dari atas menara, Jenderal Kao melihat bahwa tidak ada seorang pun panglima yang hadir. Dari atas dia dapat melihat jelas karena para perajurit yang bertugas bagian penerangan telah memasang banyak lampu dan obor untuk menerangi tempat itu. Padahal Kim Bouw Sin mempunyai lima orang pembantu sebagai panglima-panglima di benteng itu.

Tiga orang di antara yang lima itu ikut mengkhianati pemerintah dan telah dirobohkan, akan tetapi yang dua lagi, Panglima Kwa dan Panglima Coa, tidak nampak hadir. Apakah yang dua itu pun ikut memberontak dan dalam keadaan berbahaya itu telah melarikan diri? Setelah semua perajurit telah berkumpul, Jenderal Kao membawa Panglima Kim Bouw Sin yang setengah pingsan itu ke depan menara sehingga tampak oleh semua perajurit karena di bagian depan menara itu telah dipasangi lampu oleh para penjaga yang menjadi bingung sekali melihat betapa panglima mereka ditawan oleh Jenderal Kao yang terkenal galak dan ditakuti juga disegani dan dihormati semua perajurit itu. Melihat munculnya Jenderal Kao yang memegang tengkuk Panglima Kim Bouw Sin dan memaksa bekas komandan benteng itu berdiri di sampingnya, terkejutlah semua perajurit dan di bawah menjadi bising.

Post a Comment