Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 121

Memuat...

"Sumoi, kami tidak perduli engkau mau memilih orang macam apa untuk menjadi suamimu. Engkau hendak memilih anjing Kao Cin Liong inipun terserah, bukan urusan kami. Akan tetapi, si keparat Kao Cin Liong ini adalah pembunuh suhu dan kami sudah bersumpah untuk membalas dendam atas kematian suhu. Maka, sekarang juga dia harus mati di tangan kami. Engkau boleh menikah dengan bangkainya saja!! Berkata demikian, si kumis menubruk ke arah Cin Liong yang belum mampu melawan itu, kedua tangan cakar baja itu terulur.

"Tahan!! Liok Bwee berteriak sambil bergerak ke samping, kedua lengannya menangkis serangan maut dari twa-suhengnya itu.

"Plak! Plak!!

Tubuh Liok Bwee terhuyung akan tetapi serangan si kumis tebal gagal. Marahlah murid pertama dari ketua Eng-jiauw-pang itu.

"Sumoi, engkau hendak membela musuh besar, melindungi pembunuh ayahmu sendiri?!

"Dia adalah tawananku, siapapun tidak boleh mengganggunya!! bentak Liok Bwee dengan sikap garang dan ia sudah meloncat ke depan tempat tidur itu, melindungi Cin Liong.

Meiihat ini, lima orang murid kepala Eng-jiauw-pang itu menjadi marah bukan main. Mereka melangkah maju dengan sinar mata penuh ancaman.

"Sumoi, menyingkirlah. Biarkan kami membalas dendam kepada musuh besar kita, dari selanjutnya kami tidak akan mencampuri urusanmu lagi,! kata pula seorang di antara mereka.

"Tidak!!

Si kumis tebal melangkah maju.

"Sumoi, sekali lagi kuperingatkan, jangan melindungi musuh. Menyingkirlah!!

"Tidak. Siapapun tidak boleh mengganggunya selama aku masih hidup!!

"Sumoi, itu berarti pengkhianatan! Kami akan menganggap engkau berpihak kepada musuh dan terpaksa kami akan menggunakan kekerasan terhadapmu!!

"Terserah! Kalian orang-orang berwatak pengecut, beraninya hanya pada orang yang sudah tidak mampu melawan. Kalian harus melangkahi mayatku untuk dapat menjamahnya!! gadis itu berkata dengan nekat.

"Engkau anak durhaka! Murid murtad!! Si kumis tebal berteriak marah dan diapun sudah menyerang sumoinya sendiri dengan gerakan yang amat cepat dan kuat. Liok Bwee mengelak dan balas menyerang. Biarpun ia puteri mendiang Eng-jiauw Siauw-ong, akan tetapi ia tidak pernah memakai sarung tangan cakar garuda. Sejak kecil ia merasa tidak senang dan jijik dengan senjata ini, maka oleh ayahnya yang lihai ia dilatih ilmu silat tangan kosong, terutama sekali ilmu menotok.

Ilmu inilah yang kini ia pergunakan untuk melawan dua tangan baja twa-suhengnya. Totokan-totokan jari kedua tangannya menyambar dan menyambut serangan lawan dan karena ilmu menotok jalan darah ini memang diciptakan oleh Eng-jiauw Siauw-ong untuk mengganti ilmu cakar baja yang tidak disukai puterinya, maka tentu saja ilmu menotok ini tepat sekali untuk menghadapi cakar baja itu. Terjadilah perkelahian yang seru, ramai dan mati-matian antara sumoi dan twa-suhengnya itu. Empat orang suhengnya yang lain hanya berdiri menonton karena mereka merasa yakin bahwa twa-suheng itu tentu akan dapat mengalahkan sang sumoi.

Dari tempat dia rebah, Cin Liong memperhatikan perkelahian itu dan diapun dapat melihat bahwa kalau hanya satu lawan satu,ilmu silat tangan kosong yang disertai ilmu totokan lihai dari Liok Bwee itu akan mampu menandingi cakar baja dari si kumis tebal. Akan tetapi di situ masih ada empat orang suheng gadis itu yang dia tahu setiap saat dapat turun tangan membantu si kumis.

Maka dia amat mengkhawatirkan keselamatan gadis yang mempertahankan nyawanya dan membelanya mati-matian itu. Cin Liong kembali mengerahkan tenaga sin-kangnya, namun tetap saja jalan darahnya belum pulih dan tenaga sin-kangnya tidak mau timbul, hanya dia mampu menggerakkan tubuhnya agak lebih kuat daripada tadi. Betapapun juga, dengan kekuatan otot biasa, tidak mungkin melepaskan diri dari belenggu kaki tangan itu dan ini berarti bahwa dia tidak akan mampu melindungi diri sendiri, apalagi membantu Liok Bwee.

"Nona, bebaskan totokanku!! Tiba-tiba dia berseru karena kiranya hanya nona itu yang akan mampu membebaskannya. Sekali terbebas, tidak sukar baginya untuk mematahkan belenggu dan menghajar lima orang tokoh Eng-jiauw-pang itu.

Liok Bwee yang sedang berkelahi mati-matian melawan twa-suhengnya, mendengar teriakan ini dan teringatlah ia bahwa pria yang dicintanya itu terancam bahaya maut dan hanya akan selamat kalau totokan yang membuatnya tidak berdaya itu dibebaskan. Iapun tahu akan kesaktian pemuda itu dan dapat menduga bahwa sekali totokannya dibebaskan, pemuda itu akan mampu melepaskan diri dari belenggu dan sekali terlepas, lima orang suhengnya ini bukanlah lawannya.

Maka iapun cepat mengelak dari sambaran cakar besi twa-suhengnya yang agaknya sudah marah sekali kepadanya dan mengirim serangan maut yang bermaksud merobohkan dan menewaskan itu, kemudian cepat sekali Liok Bwee meloncat ke samping, ke arah pembaringan di mana Cin Liong rebah dengan maksud untuk membebaskan totokannya atas diri pemuda itu. Akan tetapi, empat orang suhengnya yang sudah tahu akan maksudnya, cepat menubruknya dari kanan kiri sebelum ia sempat mendekati Cin Liong. Delapan buah cakar baja menyerangnya dan tentu saja Liok Bwee tidak dapat melawan serangan empat orang ini sehingga kedua lengannya telah kena dicenakeram!

"Lepaskan aku! Keparat! Lepaskan aku!! teriaknya dan meronta sehingga kuku-kuku baja itu merobek baju dan kulit lengannya sehingga berdarah. Akan tetapi empat orang itu tidak mau melepaskannya dan pada saatitu, si kumis tebal yang agaknya sudah marah dan benci sekali kepada snmoi yang bukan saja menolak cintanya akan tetapi kini malah mencinta dan melindungi musuh besar Eng-jiauw-pang, agaknya sudah tidak dapat menahan panasnya hati lagi. Pada saat itu dia menubruk sambil menggerakkan kedua cakar bajanya.

"Crott! Crottt!! Cakar baja yang runcing itu telah mencengkeram tengkuk dan punggung Liok Bwee.

"Aihhhhh....!! Liok Bwee menjerit saking nyerinya ketika kuku-kuku baja yang tajam itu menusuk kulit dagingnya. Melihat ini, empat orang suhengnya yang lain melepaskannya dan twa-suhengnya, si kumis tebal itu agaknya juga terkejut sendiri melihat betapa dia telah mencengkeram tubuh sumoinya yang pernah dicintanya! Maklum bahwa dia telah membunuh sumoinya, kemarahannya ditumpahkan kepada Cin Liong. Dia mengangkat tubuh sumoinya yang sudah tak berdaya itu ke atas kepalanya, dengan masih mencengkeram tengkuk dan punggung, lalu dilontarkannya tubuh sumoinya itu dengan penuh geram ke arah Cin Liong yang rebah di atas pembaringan.

"Nih, ambillah sebelum engkau kucincang!! bentaknya.!Brukkkk....!! Tubuh Liok Bwee yang sudah lunglai itu menimpa Cin Liong di atas pembaringan dan dipan inipun runtuh terguling. Tentu saja tubuh pemuda itu terbawa pula, terguling di atas lantai dalam keadaan menelungkup.

Dengan wajah beringas dan pandang mata bengis, lima orang itu kini menghampiri Cin Liong dengan cepat, seolah-olah mereka hendak berlomba membunuh atau menyiksa musuh besar yang sudah tidak berdaya, rebah menelungkup dengan kaki tangan terbelenggu dan tubuh tertotok itu. Tubuh Liok Bwee juga terlempar sampai ke sudut ruangan di mana ia menggeletak mandi darah, tidak mampu bergerak lagi.

"Jangan bunuh dia terlalu cepat!! Si kumis tebal memperingatkan para sutenya. Musuh besar ini amat dibencinya dan sudah mendatangkan banyak sekali kerugian. Bukan hanya kematian suhu mereka, akan tetapi juga kematian empat orang anak buah, bahkan kini matinya Liok Bwee juga dia timpakan kepada pemuda yang amat dibencinya itu. Para sutenya mengerti dan setuju, maka mereka menubruk dengan maksud mencengkeram dan menyiksa musuh besar itu agar mati perlahan-lahan dan mengalami penderitaan yang amat hebat.

Akan tetapi, pada saat mereka berlima menubruk ke arah tubuh yang menelungkup tak berdaya itu, tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dari mulut Cin Liong dan tubuhnya yang menelungkup itu tiba-tiba saja bergerak, membalik dan kedua tangannya yang tadinya terbelenggu itu tiba-tiba saja bergerak, belenggu terlepas dan kedua tangannya mendorong dengan kekuatan yang dahsyat. Juga belenggu pada kedua kakinya putus semua pada saat itu juga!

"Blaaarrrr....!! Hebat bukan main tenaga yang keluar dari kedua telapak tangan pemuda itu, seperti ada kilat meledak dan akibatnya, lima orang yang tadi menubruknya itu terlempar dan terjengkang semua, lalu terbanting keras ke atas lantai! Seketika itu dua orang di antara mereka tidak mampu bergerak lagi karena kepala mereka pecah. Mereka berdua inilah yang paling dekat dan langsung menerima hantaman kedua tangan Cin Liong.

Tiga orang yang lain hanya kena disambar hawa pukulan saja, akan tetapi hal itu cukup membuat mereka terjengkang dan terbanting keras. Mereka masih dapat bangkit dengan kepala pening dan muka mereka pucat, mata terbelalak saking kagetnya. Sama sekali mereka tidak mengetahui bahwa ketika tubuh Cin Liong terlempar dari atas dipan tadi dan jatuh menelungkup di atas lantai, pada saat itu Cin Liong dapat meminjam tenaga inti bumi, dengan Ilmu Sin-liong-hok-te dia dapat menggerakkan hawa sakti dari pusarnya dan seketika jalan darahnya pulih kembali diterjang oleh hawa sin-kang yang berputar dari pusar.

Maka, ketika para pengeroyoknya menubruk, dengan Sin-liong-ciang-hoat dia menyambut dan karena sin-kangnya masih sedang penuh-penuhnya menguasai kedua lengannya, maka tentu saja lima orang musuh itu tidak kuat menahan, bahkan yang terkena hantaman langsung seketika mati dengan kepala pecah sedangkan yang lain, termasuk si kumis tebal, terguncang hebat sehingga ketika mereka bangkit lagi, mereka merasa kepala mereka pening!

Cin Liong sudah bangkit dan pertama kali yang dilakukannya adalah meloncat ke dekat tubuh Liok Bwee, berlutut dan memeriksa gadis itu tanpa memperdulikan akibat sambutan terhadap lima orang pengeroyok itu. Dia melihat betapa punggung dan tengkuk gadis itu luka-luka, demikian pula kedua lengannya, terkena cakar-cakar baja yang mengandung racun! Cepat dia menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan jalannya racun ke jantung, dan menotok jalan darah untuk mengurangi rasa nyeri.

Pada saat itu, si kumis dan dua orang sutenya melihat kesempatan baik selagi pemuda itu memeriksa dan mengobati Liok Bwee. Dua orang sute si kumis tebal sudah menubruk dari kanan kiri. Cin Liong maklum bahwa dirinya diserang oleh dua orang dari kanan kiri, maka diapun dengan hati-hati menurunkan lagi tubuh Liok Bwee dan secepat kilat membalik, kedua tangannya menyambut dengan dorongan, menyambut dua orang yang menyerangnya.

Post a Comment