Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 120

Memuat...

"Bukan....bukan begitu.... kalau bukan engkau musuh besarku, tentu sudah kubunuh sejak tadi!!

Cin Liong mengerutkan alisnya. Wanita ini sungguh aneh, pikirnya. Dan memang kalau tadi dia memuji-muji, hal itu hanya dilakukannya untuk mengulur waktu sedangkan diam-diam dia terus berusaha untuk memulihkan tenaganya, untuk membuyarkan jalan darahnya yang buntu tertotok. Dia sendiri tidak mungkin dapat mengharapkan puteri seorang datuk sesat dapat menjadi seorang yang berbudi mulia dan baik. Watak seseorang amat dipengaruhi oleh lingkungannya, bahkan hampir dapat dipastikan bahwa watak dibentuk oleh lingkungan. Kalau sejak kecil terlahir dan tumbuh di dalam lingkungan penjahat, mana mungkin gadis ini tidak menjadi jahat pula?

"Apa yang kaumaksudkan, nona?! tanyanya dengan hati berdebar tegang dan tidak enak.

"Kao Cin Liong, aku.... sejak kecil aku bertemu dengan orang-orang kasar, setelah aku dewasa, ayahku berkali-kali mendesak agar aku suka menikah. Akan tetapi, di antara pemuda-pemuda kasar dan jahat itu, mana ada yang dapat menarik perhatianku? Sejak dewasa aku seringkali membayangkan dan mengimpikan jodoh seorang pemuda yang gagah perkasa, halus budi dan seperti pendekar-pendekar yang digambarkan dalam dongeng.

Maka, begitu melihatmu dikeroyok oleh para suhengku dan dengan gagah perkasa engkau mengalahkan mereka, melihat sikapmu yang halus, wajahmu, gerak-gerikmu.... sejak pertama kali melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu, dan aku.... aku menganggapmu sebagai seorang taihiap yang patut untuk kulayani selama hidupku. Kao-taihiap.... aku cinta padamu.... dan aku tidak akan mengingat lagi tentang permusuhan antara kita kalau saja engkau sudi menerimaku.... menerima cintaku....!

Cin Liong kaget bukan main. Sungguh tidak disangkanya bahwa urusan akan membelok ke arah itu. Mukanya menjadi merah dan jantungnya berdebar. Cinta? Betapa anehnya bicara tentang cinta pada waktu seperti itu, dalam keadaan seperti itu, di waktu nyawanya bergantung pada sehelai rambut.

"Nona Liok, maksudmu....!

"Terimalah aku sebagai isterimu, taihiap. Hanya kalau aku menjadi isterimu saja aku akan dapat menghabiskan seluruh permusuhan antara kita. Cinta seorang isteri lebih kuat daripada bakti kepada ayah yang sudah meninggal....!

"Ah, tidak mungkin, nona. Kita baru saja bertemu, bagaimana mungkin bagiku untuk bicara soal cinta?!

"Tapi aku cinta padamu, taihiap, aku cinta padamu....! Gadis itu mendekat, duduk di tepi pembaringan dan tiba-tiba iapun sudah menjatuhkan dirinya di atas dada Cin Liong dan menciumi muka pemuda itu, dengan malu-malu akan tetapi juga dengan nekat dan penuh perasaan.

Tentu saja Cin Liong menjadi bingung. Dia hanya dapat membuat gerakan lemah, akan tetapi tidak mampu menolak dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya seperti itu. Dan ketika bibir yang lunak itu mencium bibirnya, bagaimanapun juga darah mudanya tersirap, jantungnya berdebar dan seperti otomatis, bibirnya juga membalas, menyambut ciuman itu. Hal ini terasa oleh Liok Bwee yang mengeluarkan keluhan, mendekap lebih knat dan mencium penuh nafsu sampai keduanya terengahengah.

"Taihiap.... terimalah aku, aku mencintamu.... dengan seluruh jiwa ragaku.... aku akan menjadi seorang isteri yang mencinta, setia dan akan melakukan apa saja yang kau kehendaki....!

"Nona, tenanglah dan mari kita bicara baik-baik. Cinta adalah urusan hati, tidak mungkin orang dipaksa untuk mencinta atau membenci. Bebaskan dulu totokanku dan mari kita bicara dengan hati terbuka....!

Gadis itu menggeleng kepalanya.

"Tidak, taihiap. Aku hanya mempunyai dua pilihan. Kalau engkau berjanji mau menerima cintaku, berjanji akan mengambilku sebagai isterimu, baru aku akan membebaskan totokanmu, bahkan akan membebaskanmu dari sini, dari ancaman para suhengku dan para anak buah Eng-jiauw-pang.!

"Dan kalau aku menolak, engkau akan membunuhku?!

Kembali Liok Bwee menggeleng.

"Tidak, aku cinta padamu, aku tidak tega untuk membunuhmu. Kalau engkau menolak, aku akan menjagamu semalam ini, akan tetapi besok aku tak mungkin dapat mencegah kalau para suhengku datang membunuhmu.!

"Nona, tidak dapatkah engkau melihat betapa tak masuk akalnya maksudmu ini? Mana mungkin engkau memaksa seseorang untuk mencinta? Mana mungkin pertalian cinta dihubungkan dengan pemerasan seperti yang kau lakukan ini! Engkau seolah-olah hendak menukar nyawaku dengan janji cintaku. Apakah engkau tidak melihat bahwa kalau aku berjanji menerima cintamu karena aku takut dibunuh, maka janji dan cintaku itu adalah palsu, sekedar untuk alat menyelamatkan diri? Nona, janganlah engkau membiarkan dirimu ikut tersesat. Bebaskan totokanku dan mari kita bicara. Bagaimanapun juga, sudah jelas bahwa engkau adalah seorang yang baik, dan di antara kita terdapat pertalian persahabatan....!

"Aku membutuhkan cinta, bukan persahabatan.!

"Nona, cinta timbul kalau hati tertarik, terutama oleh budi bahasa dan kelakuan yang baik. Kalau hati ditekan, tak mungkin timbul cinta. Tidakkah kau dapat menyadari hal ini? Kalau kita bersahabat, mungkin dari situ tumbuh perasaan cinta, bukan dari paksaan.!

Tiba-tiba gadis itu menangis dan merangkulnya kembali.

"Ah, taihiap, aku takut.... aku takut kalau aku membebaskanmu, kau lalu meninggalkan aku tanpa janji.... dan aku.... hidupku akan kehilangan pegangan lagi....!

"Akan tetapi kalau engkau mempergunakan kesempatan ini untuk memerasku, untuk memaksaku membalas cintamu, sikapmu ini saja sudah menjauhkan hatiku, nona. Apakah engkau tidak menyadari akan hal ini? Dan seorang gadis seperti engkau, betapa mudahnya mencari seorang suami yang akan sungguh-sungguh mencintamu, asal saja engkau tidak mengikuti jejak lingkunganmu yang sesat.!

"Kao-taihiap.... aku.... aku takut untuk menerima cinta pria lain, aku belum pernah bertemu dengan pria sepertimu.... aku hanya menginginkan engkau seorang....! Gadis itu kembali menciuminya dengan penuh kemesraan dan rasa cinta yang bercampur dengan nafsu berahi.

"Braaakkk....!! Tiba-tiba daun pintu ruangan itu pecah berantakan dan muncullah lima orang suheng gadis itu dengan muka merah saking marahnya. Kedua tangan mereka masing-masing telah memakai sarung tangan cakar garuda, menandakan bahwa mereka telah berada dalam keadaan siap tempur! Liok Bwee terkejut dan melepaskan rangkulannya dari tubuh Cin Liong, dengan marah menghadap lima orang suhengnya itu.

"Kalian sungguh tidak tahu aturan, tidak pantas kuanggap sebagai saudara tua!! bentaknya

Si kumis tebal menudingkan telunjaknya ke arah muka gadis itu.

"Dan engkau sungguh tidak tahu malu dan amat merendahkan dirimu seperti pengemis cinta, lebih rendah daripada seorang pelacur! Mendiang suhu menunjuk seorang di antara kami scbagai calon suamimu dan engkau tinggal memilih seorang di antara kami. Akan tetapi engkau menolak kami semua dan kini mengemis cinta dari seorang musuh besar, pembunuh ayahmu sendiri!!

"Tutup mulutmu!! bentak Liok Bwee.

"Apa perdulimu dengan urusan pribadiku? Aku tidak sudi menjadi isteri seorang di antara kalian dan kalian menjadi sakit hati. Cih, tak tahu malu. Aku memilih siapapun untuk menjadi suamiku, apa hubungannya dengan kalian?!

Si kumis tebal menyeringai dan empat orang suhengnya juga tersenyum mengejek. Memang mereka merasa sakit hati karena ditolak sumoi mereka itu.

Post a Comment