Halo!

Kisah Pendekar Bongkok Chapter 116

Memuat...

Song Gan mendekat dan mencium pipi wanita itu.

"Engkau tahu perasaanku terhadapmu, Pek Lan, dan engkau tahu tidak ada kesenangan lebih besar bagiku melebihi kesenangan bekerja sama denganmu dan selalu berada di dekatmu. Akan tetapi, bagaimana dangan suci? Kalau ia marah kepadaku dan menentang kita, ia akan menjadi penghalang besar dan menambah musuh yang amat berbahaya bagi kita."

"Kenapa menjadi musuh? Bukankah ia memusuhi Pandekar Bongkok? Ajak saja ia bergabung dangan kami. Thai-yang Suhu, guruku dalam ilmu sihir itu tentu akan suka pula bergabung dangan kalian."

"Maksudmu pendeta yang kulihat bersamamu di rumah makan itu?"

Baru sekarang Bong Gan teringat akan pendeta itu.

"Jadi dia itu gurumu yang baru?"

"Dia sahabat subo Hek-in Kui-bo dan kini mengajarkan ilmu sihir kepadaku, menjadi guruku pula."

"Dan kalian hendak pergi ke mana-kah? Mengapa sampai pula di Lasha?"

"Kami hendak pergi menghadap Kim Sim Lama, ketua Kim-sim-pai...."

"Ah! Sie Liong Si Pendekar Bongkok juga ke sana!"

"Akan tetapi dia sebagai lawan Kim-sim-pai, sedangkan kami datang sebagai sababat. Guruku, Thai-yang Suhu, adalah seorang sahabat Kim Sim Lama dan kami datang untuk menggabungkan diri dengan Kim-sim-pai yang mempunyai cita-cita besar."

"Cita-cita bagaimana?"

Bong Gan mulai tertarik.

"Menggulingkan Dalai Lama dan menjadi penguasa seluruh Tibet!"

"Wah, pemberontakan? Apa hubungannya itu dengan kita? Aku tidak mau menjadi pemberontak di negeri asing!"

"Bong Gan, engkau bodoh. Kaukira akupun suka membantu pemberontakan orang Tibet? Kita bukan ikut memberontak, melainkan membantu Kim-sim-pai mencapai cita-citanya. Kalau mereka berhasil, kita tinggal pilih. Kedudukan tinggi dan kekuasaan di Tibet, atau kita dapat pulang ke timur membawa kekayaan yang amat besar. Di sini tempat harta yang amat banyak, emas permata, dan benda-benda aneh yang tak ternilai harganya."

Bong Gan mengerutkan alisnya.

"Jadi engkau dan Thai-yang Suhu hendak bersekutu dengan Kim-sim-pai, membantu pemberontakan mereka untuk mencari kedudukan tinggi atau harta benda?"

"Tentu saja, untuk apa lagi kalau bukan mencari keuntungan? Apa artinya hidup ini kalau tidak mencari keuntungan dan kesenangan?"

Bong Gan mengangguk-angguk.

"Hem, aku tertarik sekali, Pek Lan. Akan tetapi.... bagaimana dengan suci Yauw Bi Sian?"

"Kau ajak saja ia bersama kami."

"Uh, engkau tidak tahu bagaimana wataknya! Ia keras hati dan sudah pasti ia tidak akan suka kalau mendengar kita membantu Kim-sim-pai untuk suatu pemberontakan di Tibet. Ia.... ia.... hemm, condong untuk menentang segala yang dianggapnya jahat."

"Hi-hik, kaumaksudkan ia seorang pandekar wanita?"

Bong Gan mengangguk.

"Begitulah! Guru kami, Koay Tojin, menentang segala bentuk kejahatan dan...."

"Dan kau sendiri?"

Bong Gan menyeringai.

"Aku lebih suka mencari kesenangan dan keuntungan seperti engkau, Pek Lan."

"Kalau begitu, tinggalkan saja suci-mu yang pura-pura alim itu. Engkau ikut dangan kami bargabung dengan Kim-sim-pai dan persetan dengan gadis itu!"

"Ah, tidak bisa begitu, Pek Lan. Meninggalkan ia begitu saja? Ah, aku.... aku...."

"Hemmm, aku tahu! Engkau jatuh cinta kepada suci-mu yang cantik itu, bukan? Dasar mata keranjang kau!"

"Tidak banyak bedanya denganmu, Pek Lan."

Bong Gan membalas.

"Hemm, kalau begitu. Bujuk dan rayu ia agar suka bergabung dengan kami. Kalau ia begitu lihai, kami lebih senang lagi dan Kim Sim Lama tentu akan suka menerima bantuannya."

"Itulah sukarnya, Pek Lan. Terus terang saja, pernah aku menyatakan cintaku kepadanya dan ia.... ia agaknya tidak menolak, akan tetapi dengan tegas mengatakan bahwa aku dilarang bicara tentang cinta sebelum kami bertemu Pendekar Bongkok dan berhasil membalas kematian ayahnya. Kalau saja ia suka menerima cintaku sekarang juga.... kalau saja ia dapat menjadi milikku sekarang, tentu akan mudah mengajaknya bekerja sama denganmu."

Pek Lan terkekeh genit dan merangkul leher kekasihnya.

"Huh, kalau bukan aku yang mendengar ucapanmu itu, apakah orang tidak akan menjadi gila oleh cemburu? Engkau laki-laki mata keranjang! Baiklah, jangan khawatir, guruku Thai-yang Suhu tentu akan dapat membantumu menundukkan suci-mu itu. Akan tetapi hanya dengan satu syarat, yaitu setelah engkau berhasil menundukkan suci-mu, engkau harus mengajaknya untuk bergabung dengan kami!"

Tentu saja Bong Gan merasa girang bukan main.

"Baik, aku berjanji! Dan iapun tentu akan setuju karena bukankah dengan bekerja sama, akan lebih mudah untuk menghadapi Pendekar Bongkok?"

"Dan setiap saat aku menginginkan engkau harus melayaniku dengan taat!"

Bong Gan tertawa.

"Tentu saja, dengan segala senang hati!"

"Nah, kalau begitu, sekarang aku menginginkan"."

Post a Comment