Tantangnya.
"Losuhu, aku tidak pernah memegang senjata!"
Kata Sie Liong dengan harapan agar lawannya itu merasa malu dan mundur.
"Sebaiknya kita hentikan saja ribut-ribut yang tiada gunanya ini dan membiarkan aku untuk bicara dengan Tibet Ngo-houw."
"Tidak! Kau kalahkan dulu sepasang pedangku, baru engkau boleh bicara dengan kelima orang suheng Tibet Ngo-houw!"
Si cebol berkeras. Sie Liong menarik napas panjang. Ketika dia memandang kepada para pimpinan Kim-sim-pai, mereka itu diam tak bergerak seperti arca. Dia melihat sebuah rak senjata di sudut, dan dengan perlahan dia menghampiri rak itu, mengambil sebatang tombak bergagang kayu dan mematahkan mata tombaknya. Gagang tombaknya saja yang berada di tangannya dan diapun berkata,
"Baiklah, kalau engkau memaksa, losuhu, biar aku meminjam gagang tombak ini saja, agar tidak sampai melukaimu dengan senjata yang tajam atau runcing."
Sie Liong mempergunakan senjata itu bukan karena takut menghadapi sepasang pedang lawan, melainkan untuk berjaga diri. Kalau sampai terpaksa dia didesak dan dikeroyok, dia harus memiliki senjata untuk melindungi dirinya dan tidak ada senjata di dunia ini yang lebih baik baginya dari pada sebatang tongkat! Jawaban Sie Liong itu membuat wajah Ki Tok Lama menjadi semakin merah karena jelas memandang rendah kepadanya.
"Lihat pedang!"
Bentaknya untuk berlagak bahwa dia tidak menyerang lawan tanpa peringatan lebih dahulu. Dua gulungan sinar bekkelebat ketika sepasang pedang di tangannya digerakkan secara cepat dan kuat sekali. Namun, dengan tenang Sie Liong bergerak mundur dan mengelak dari dua kali sambaran kilat dari sepasang pedang lawan. Tongkat di tangannya tidak tinggal diam dan ujung tongkat itu diputarnya sedemikian rupa sehingga ujungnya seperti berubah menjadi belasan banyaknya. Dan ujung-ujung tongkat ini sekarang menyambar-nyambar ke arah jalan darah di seluruh tubuh Ki Tok Lama! Pendeta Lama itu terkejut bukan main dan terpaksa dia memutar sepasang pedangnya untuk melindungi diri dari serangan banyak ujung tongkat itu!
Akan tetapi, di antara ujung-ujung tongkat itu yang tentu saja sesungguhnya hanya memiliki dua ujung saja namun karena tongkat itu bergerak dengan menggetar, maka ujungnya nampak menjadi banyak, kini ada yang menyerang ke arah pergelangan lengan lawan yang memegang pedang, sementara ada ujung-ujung lain yang masih mengancam jalan darah tubuh Ki Tok Lama. Tentu saja pendeta ini menjadi semakin kaget dan bingung. Dia lebih condong melindungi tubuh yang akan tertotok, maka tak dapat dihindarkan lagi, kedua pergelangan tangannya tertumbuk ujung tongkat secara aneh sekali dan kedua tangan itu tiba-tiba teraaa lumpuh dan sepasang pedangnyapun terlepas dari tangannya. Akan tetapi Sie Liong menghentikan gerakan tongkatnya, berdiri tegak di depan Ki Tok Lama dan berkata,
"Losuhu, silakan mengambil kembali sepasang pedangmu."
Dengan muka agak pucat dan mata terbelalak penuh rasa penasaran dan kemarahan, Ki Tok Lama bergerak cepat, menyambar sepasang pedang itu dari atas lantai, kemudian memutar sepasang pedangnya, siap untuk melakukan penyerangan yang lebih dahsyat dan nekat lagi.
"Tahan senjata!"
Tiba-tiba Kim Sim Lama berseru.
"Ki Tok Lama, kau mundurlah!"
Ki Tok Lama hanya memandang melotot ke arah Sie Liong sejenak, akan tetapi dia tidak berani membantah perintah susioknya dan diapun mundur sambil menyimpan kembali sepagang pedangnya di balik jubah merah.
Kiranya ketika Sie Liong mulai melayani Ki Tok Lama tadi, Kim Sim Lama yang memandang penuh perhatian, menjadi kagum dan tertarik. Dia berbisik-bisik kepada Thay Ku Lama, orang pertama dari Tibet Ngo-houw. Setelah memerintahkan Ki Tok Lama untuk mundur, Kim Sim Lama lalu diam saja dan menyerahkan kepada Thay Ku Lama untuk menghadapi Sie Liong seperti yang mereka bisikkan tadi. Thay Ku Lama bangkit dari bangkunya, lalu menghampiri Sie Liong yang sudah siap siaga karena kini yang maju adalah orang pertama dari Tibet Ngo-houw. Sejenak mereka saling pandang, kemudian Thay Ku Lama yang bertubuh besar dengan perut gendut itu menarik napas panjang.
"Omitohud, sekarang pinceng ingat. Memang engkau adalah bocah yang dahulu itu, dan agaknya engkau telah menjadi murid para tosu pelarian itu. Bukankah ilmu tongkatmu tadi adalah Thian-te Sin-tung yang amat hebat dari Pek Sim Sian-su?"
Sie Liong terkejut. Sungguh tajam pandang mata Thai Ku Lama ini, dan pengetahuannya tentang ilmu silat amat luas. Hal itu saja membuktikan bahwa lima orang Harimau Tibet ini memang tidak boleh dipandang ringan.
"Sesungguhnya, losuhu, aku pernah menerima bimbingan dari suhu Pek Sim Sian-su,"
Jawabnya jujur.
"Hemm, begitukah? Nah, sekarang katakan, apa keperluanmu mencari kami Tibet Ngo-houw? Katakan saja terus terang karena yang hadir di sini bukanlah orang-orang lain bagi kami."
Sie Liong memandang ke arah lima orang itu bergantian, kemudian dia berkata dengan suara lantang.
"Tibet Ngo-houw, dengarlah baik-baik. Aku mewakili para locianpwe dan para pertapa yang selama ini kalian kejar-kejar, untuk bertanya kepada kalian, apa sesungguhnya yang mendorong kalian berlima untuk memusuhi mereka! Jawablah sejujurnya, benarkah kalian menjadi utusan Dalai Lama untuk membasmi para tosu dan pertapa asal Himalaya?"
Thay Ku Lama tertawa bergelak, perutnya yang gendut itu terguncang dan di antara suara ketawanya itu terdengar bunyi berkokok dari dalam perutnya, seperti suara katak besar. Pendeta Lama ini memang memiliki ilmu yang amat hebat, yang disebut Hek-in Tai-hong-ciang, suatu pukulan yang didorong oleh tenaga dari perut yang kalau dia pergunakan, selain dari perutnya keluar bunyi berkokok nyaring dan kedua kakinya ditekuk dalam-dalam seperti berjongkok, juga telapak tangannya itu mengeluarkan uap hitam.
"Ha-ha-ha-ha-ha, tentu saja Dalai Lama yang mengutus kami untuk membasmi para pertapa Himalaya yang dianggap pemberontak!"