Diantara bangunan loteng dan tembok pendek terhampar sebuah tanah lapang, rumput yang tumbuh disana amat lebat dan mencapai ketinggian lutut.
Oleh karena kehadiran lapangan dengan semak tinggi inilah, bangunan loteng tampak terpencil dan sendu, seolah sama sekali tak ada penghuninya.
Sambil menarik napas panjang gumam Siau Jit: "Sebenarnya tempat ini adalah sebuah temat yang ind ah" "Betul, coba dinding pendek itu disingkirkan, lalu semua semak dibabat rata, mau dibangun gardu atau rumah gubuk disitu, aku yakin pasti banyak orang yang menyukainya dan kerasan tinggal disini" "Dan siaute adalah salah seorang diantaranya" sambung Siau Jit cepat.
"Menggunakan tempat semacam ini untuk mengurung manusia laknat macam Kelelawar, jelas siapa pun akan beranggapan kalau kelewat buang buang duit" Lui Sin yang selama ini murung, kali ini tak kuasa menahan diri lagi, timbrungnya: "Aku benar benar tak habis mengerti dengan jalan pemikiran para hiapsu dan kaum pendekar" Siau Jit tertawa getir.
"Rasanya bukan hanya locianpwee seorang yang merasa tak habis mengerti" "Benar, aku selalu beranggapan bahwa cara kerja mereka kadangkala sok berlebihan" Han Seng menambahkan.
"Mungkin saja tidak semua orang berpikiran begitu" "Asal ada seorang saja yang tidak berpikiran begitu, itu sudah lebih dari cukup" Suma Tang-shia manggut manggut dan tidak bicara lagi.
"Apakah orang itu adalah si Kelelawar?
" tiba tiba terdengar Siau Jit berseru sambil memandang ke arah bangunan loteng itu.
Tanpa terasa semua orang berpaling kearah yang ditunjuk.
Dalam ruang loteng itu tampak ada seorang kakek sedang duduk bersila.
Rambut beruban kakek itu tampak kusut tak rapi, dia mengenakan baju warna hitam dan duduk disitu tanpa bergerak, seakan sedang memikirkan sesuatu, ia duduk tak bergerak, penampilannya persis seperti sesosok mayat kering yang tak bernyawa.
Karena jaraknya terlampau jauh, lagipula kepalanya setengah tertunduk, semua orang tak dapat melihat jelas raut muka sesungguhnya.
Kalau wajah pun tak terlihat, tentu saja tak akan tampak perubahan mimik mukanya.
Namun mereka segera merasakan semacam perasaan yang amat misterius, khususnya ketika Suma Tang-shia menjawab: "Benar, dialah sang Kelelawarl", perasaan misterius itu terasa semakin kental.
Benarkah dia adalah si Kelelawar tanpa sayap, Kelelawar laknat yang membuat paras muka para jago berubah ketika mendengar namanya, Kelelawar bajingan yang selalu mengincar perempuan, membunuh orang tanpa berkedip dan selalu melakukan perbuatan jahat" Semua orang membelalakkan matanya lebar lebar, memusatkan segenap perhatian ke wajahnya.
Ciu Kiok merasakan pula jantungnya berdebar keras, perasaan ngeri, seram dan ketakutan segera menyelimuti dirinya.
Dialah satu satunya orang yang lolos dari kematian, lolos dari cengkeraman mautnya.
Kelihatannya si Kelelawar sama sekali tidak merasa kalau ada orang sedang celingukan diatas panggung, dia hanya duduk termangu ditempat tanpa bergerak sedikitpun juga.
Entah kenapa, setiap orang merasa seakan ada benda yang setiap saat dapat bergerak, seperti ada sekelompok Kelelawar yang setiap waktu bakal menyerang mereka.
Bahkan Suma Tang-shia pun punya perasaan seperti ini, dengan wajah sangsi tanyanya kepada Ciu Kiok: "Nona cilik, apakah orang ini yang kau jumpai di jalan raya di luar kota?
" Begitu pertanyaan itu diucapkan, tatapan mata semua orang serentak tertuju ke wajah Ciu Kiok.
"Apakah dia orangnya?
" tak sabar desak Lui Sin.
Ciu Kiok menatap sekejap sekeliling ruang loteng itu, mula mula ia tampak kebingungan, sesaat kemudian dengan nada meyakinkan sahutnya: "Bukan, bukan orang ini" "Bukan Kelelawar yang ini?
" desak Lui Sin cemas.
"Bukanl" sahut Ciu Kiok yakin.
"Rasanya orang inipun bukan kakek buta yang mengaku sebagai Kelelawar tanpa sayap yang kita jumpai pagi tadi" sela Siau Jit tiba tiba.
"Betul, pada hakekatnya seperti dua orang yang berbeda" Han Seng menambahkan.
Agaknya sekarang Lui Sin baru teringat akan peristiwa itu, gumamnya: "Sama sekali tak mirip" Perlahan Suma Tang-shia menyapu sekejap wajah ke emat orang itu, tanyanya kemudian: "Kalian sudah melihat dengan jelas?
" "Sekalipun dia tidak mendongakkan kepalanya, namun bagaimana pun dipandang, rasanya dia sama sekali tak mirip dengan Kelelawar yang kita jump ai pagi tadi" ujar Siau Jit.
"Tidak susah bila menginginkan dia mendongakkan kepalanya" kata Suma Tang-shia, setelah memandang sekejap bawah panggung, lanjutnya, "aku sengaja mengajak kalian masuk pada saat ini karena ada alasannya" Mengikuti arah yang dipandang, Siau Jit menyaksikan ada seorang perempuan tua berbaju abu abu sedang berjalan keluar dari balik barisan bunga dan menuju ke arah panggung.
Perempuan tua itu berusia enam puluh tahunan, wajahnya ramah, dia membawa sebuah keranjang terbuat dari bambu.
"Dia adalah , , , , , , , ,,
" tanya Lui Sin keheranan.
"Dia adalah Sim Ngo-nio, dayang tua dari keluarga kami, saatnya menghantar nasi untuk Kelelawar" "Ooh,,,,?
" "Walaupun kungfu yang dimiliki Kelelawar sangat tinggi, bagaimana pun dia tetap manusia, sekalipun dia tidak berubah jadi orang idiot pun, paling juga bisa menahan lapar selama berapa hari" "waah, tampaknya repot sekali untuk membiarkan Kelelawar ini tetap hidup" gumam Lui Sin dengan kening berkerut.
"Akupun berpendapat begitu, kenapa tidak dibantai saja, urusan jadi beres" ujar Suma Tang-shia.
"Betul sekali!
" Sementara pembicaraan masih berlangsung, Sim Ngo-nio telah naik keatas panggung dan memandang sekejap ke tujuh orang itu dengan pandangan sangsi dan penuh curiga.
Buru buru Suma Tang-shia memberi tanda kepada Sim Ngo-nio seraya berseru: "Sana, laksanakan saja tugasmu" Sim Ngo-nio tidak bicara apa apa, dia langsung menaiki tangga batu, biar usianya sudah banyak namun tindak tanduknya tidak mencerminkan ketuaan, setiap langkah kakinya masih mantap dan penuh tenaga.
"Aku rasa diapun seorang ahli silat" kata Siau Jit setelah memandangnya sekejap.
"Percayalah, ilmu silat yang dia miliki sama sekali tidak berada dibawah kemamuanku, bahkan mungkin jauh diatasku" "Sama sekali tak kusangka" Suma Tang-shia tertawa, sambungnya: "Tentu saja kau terlebih tak menyangka kalau dia dengan ayahku masih terhitung saudara seperguruan" Siau Jit tertegun, serunya kemudian: "Aah, sungguh diluar dugaan" Sambil merendahkan suaranya kembali ujar Suma Tang-shia: "Aku hanya bisa beritahu kepadamu bahwa dia amat menyukai ayahku, sayang ayahku sudah keburu mengawini ibuku, disaat ibuku meninggal, diapun sudah patah arang dan tidak berniat "Aah, sungguh diluar dugaan" Sambil merendahkan suaranya kembali ujar Suma Tang-shia: "Aku hanya bisa beritahu kepadamu bahwa dia amat menyukai ayahku, sayang ayahku sudah keburu mengawini ibuku, disaat ibuku meninggal, diapun sudah patah arang dan tidak berniat untuk menikah lagi" "Kejadian semacam ini terkadang memang tak bisa dipaksakan" Suma Tang-shia menghela napas panjang dan tidak bicara lagi.
Ternyata Sim Ngo-nio tidak langsung menaiki panggung batu itu tapi berhenti pada undakan trap pertama dekat dinding tembok.
Diujung tembok terdapat sebuah tabung bambu yang kasar dan besar, tabung itu langsung berhubungan dengan ruangan dalam bangunan loteng.
Sebenarnya sejak tadi Siau Jit, Han Seng maupun Lui Sin telah menaruh perhatian pada tabung bambu itu, hanya saja karena konsentrasi mereka tertuju pada si Kelelawar, maka selama ini tak semat menanyakannya kepada Suma Tang-shia.
Tapi sekarang, tanpa ditanya pun mereka sudah tahu apa kegunaan dari tabung bambu itu.
Sim Ngo-nio membuka kain biru penutup keranjang bambunya dan mengeluarkan dua buah tabung bambu pendek, kemudian secara beruntun dia lempar kedua tabung kecil itu ke dalam tabung bambu besar.
"Apakah isi tabung bambu itu adalah makanan?
" Siau Jit segera bertanya.
"Satu tabung berisi makanan, satu tabung yang lain berisi air bersih, tabung tabung itu akan menggelinding masuk ke dalam ruangan loteng itu melewati tabung bambu besar ini, biarpun setiap hari hanya dua tabung, namun repotnya bukan kepalang" "Aku lihat si Kelelawar benar benar seperti orang idiot" tiba tiba ujar Siau Jit, "kalau tidak, seharusnya ia dapat berpikir untuk menggunakan batang bambu ini untuk melarikan diri" Suma Tang-shia kontan tertawa.
"Justru lantaran dia tidak berbuat begitu, maka suasana diseputar sini masih tetap terjaga hingga kini, belum rata dengan tanah" "Jadi tiang bambu itu dihubungkan dengan sumbu bahan peledak?
" tanya Siau Jit tertegun.
"Betul!
Ketika mendengar ada benda menggelinding lewat tabung bambu itu, si Kelelawar segera akan berjalan menghampiri dan mengambil kedua tabung makanan dan air bersih itu , , , , , , , ,,
" Belum habis dia berkata, disebela h sana si Kelelawar sudah mendongakkan kepalanya.
< br/> Kini dia berjalan mendekati panggung batu dengan wajah menghadap ke atas.
Kini Siau Jit, Lui Sin maupun Han Seng dapat melihat wajahnya dengan sangat jelas, ternyata dia memang bukan kakek buta yang dijumpai pagi tadi.
Tanpa sadar serentak mereka berpaling ke arah Ciu Kiok.
Tampak Ciu Kiok menggelengkan kepalanya berulang kali, Kelelawar yang tersekap dalam loteng itu sama sekali bukan Kelelawar yang menipu Lui Hong, apalagi si Kelelawar yang membunuh To Kiu-shia serta Thio Poan-oh sekalian.
Mungkinkah si Kelelawar tanpa sayap ada yang asli dan gadungan" Tapi siapa yang berani menyamar jadi manusia seperti itu" Dalam waktu singkat perasaan semua orang jadi kalut, kacau setengah mati, dan pada saat itu pula si Kelelawar mulai bergerak.
Tampak seluruh tubuhnya mencelat ke tengah udara lalu begitu jatuh kembali ke bawah, ia berputar dilantai bagai gangsingan, dengan berapa kali putaran tubuhnya sudah melompat keluar dari ruang loteng.
Saat itulah semua orang baru melihat kalau ditangan kanannya ia menggenggam sebatang tongkat bambu.
Begitu menyaksikan tongkat bambu itu, baik Siau Jit maupun Han Seng dan Lui Sin segera merasa sangat mengenal dengan benda tersebut.
Fajar tadi, ketika bertemu dengan Kelelawar tanpa sayap, mereka saksikan ditangan orang itupun membawa sebuah tongkat bambu yang sama.
Dengan tongkat itulah dia menggurat sebuah gambar Kelelawar diatas tanah, beritahu kepada mereka bahwa dialah si Kelelawar.
Kelelawar tanpa sayap!
Walaupun jarak mereka cukup jauh, meski mereka tak dapat melihat secara jelas, namun baik warna, ukuran maupun bentuk dari tongkat bambu itu sama sekali tak berbeda dengan apa yang disaksikan Siau Jit bertiga.
Itulah sebabnya mereka merasa sangat mengenal dengan benda tersebut, perasaan kenal itu bukan dikarenakan benda itu sama sama sebuah tongkat bambu.
Tanpa sadar semua jago mulai tegang, mulai merasakan aliran darah bergerak cepat.
Pada saat itu pula paras muka Suma Tang-shia ikut berubah.