Halo!

Kelelawar Tanpa Sayap Chapter 33

Memuat...

" pinta Ciu Kick sambil menggigit bibir.

"Pastil" janji Lui Sin tegas.

Kembali Ciu Kick berpaling kearah Siau Jit, pintanya pula: "Siau kongcu, kau , , , , , , ,,

" "Nona Ciu Kick tak usah berkata lagi" tukas Siau Jit, "dalam peristiwa ini aku pun akan turut ambil bagian" Akhirnya sekulum senyuman tersungging juga diwajah Ciu Kick, kepada Lui Sin katanya: "Tuan, bolehkah aku menengok wajah siccia untuk terakhir kalinya?

" "Lebih baik rawat dulu luka lukamu itu" bujuk Lui Sin dengan wajah makin pedih.

"Sebenarnya apa yang telah dilakukan Kelelawar terhadap tubuh siccia?

" desak Ciu Kick serius.

"Aai, jangan ditanya lagi!

" Lui Sin menggeleng.

"Tidak, tuan, kau harus beritahu kepadaku!

" desak Ciu Kick sambil mercnta bangun.

Akhirnya Lui Sin mengaku: "Tubuh Hong-ji telah dimutilasi menjadi enam bagian!

" Air mata Ciu Kick meleleh keluar makin deras, tiba tiba tubuhnya terjengkang ke belakang dan lagi-lagi jatuh tak sadarkan diri.

"Bocah yang malang , , , , ,,

" bisik Lui Sin sedih.

Han Seng ikut menghela napas sedih.

ll "Aaai, bisa dimaklumi katanya, "hubungannya dengan Hong-ji selama ini melebihi hubungan saudara" Lui Sin segera mengulapkan tangannya seraya berseru: "Sun toa-nio!

" Perempuan tua yang selama ini berdiri disisi ruangan segera maju sambil mengiakan.

"Loya ada perintah apa" Silahkan diutarakan" "Kau harus baik-baik merawat Ciu Kick" "Loya tak usah kuatir" jawab Sun Toa-nic dengan air mata berlinang, "selama ini dia sudah kuanggap seperti anak sendiri" Tanpa bicara lagi Lui Sin manggut-manggut, kemudian setelah memeriksa jidat Ciu Kick, ia baru bangkit berdiri dan melangkah keluar tinggalkan tempat itu.

Langkah kakinya terlihat jauh lebih berat daripada ketika datang tadi.

Siau Jit bertiga mengikuti dibelakang, siapa pun tak bersuara atau bicara.

Warna musim gugur menyelimuti halaman, suasana sendu musim gugur semakin mencekam tempat itu.

Setelah sekian lama menelusuri jalan setapak, tiba tiba Lui Sin menghentikan langkahnya, mengepal tinjunya dan menengadah memandang langit sambil mengeluh: "Kelelawar sialan, biar kau sembunyi dalam alam baka pun, aku tetap akan menyerbu masuk dan menyeretmu keluar!

" "Dewasa ini, masih ada satu persoalan yang harus kita selidiki hingga jelas dan tuntas" sela Han Seng.

"Mati hidup si Kelelawar?

" tanya Siau Jit.

Han Seng manggut-manggut.

"Semua orang mengatakan dia sudah mati, walaupun berita itu hanya kabar angin, namun tak mungkin ada asap kalau tiada api, berita ini pasti timbul karena ada penyebabnya" "Biarpun ketika berada di sampan dia mengaku hendak terbang balik ke alam baka, tapi siapa yang mau percaya dengan perkataan semacam itu" Menurut pandanganku, lebih baik kita kumpulkan berapa orang cianpwee untuk membicarakannya" "Tidak perlu!

" tiba tiba seseorang menyela.

Suara dari Suma Tang-shia!

Dengan perasaan heran Siau Jit berpaling: "Toaci , , , , , , , ,,

" "Kalian cukup bertanya padaku saja" Lui Sin, Han Seng sama sama berdiri terperangah, tidak terkecuali Siau Jit.

Menyaksikan hal itu, kembali Suma Tang-shia tertawa, ujarnya: "Rupanya kalian sudah lupa kalau Suma Ticnggcan adalah ayahku, salah satu diantara delapan jago ampuh dari Kanglam yang mengerubuti si Kelelawar waktu itu?

" "Aaah betul" seolah baru tersadar, Siau Jit berseru keras, "sudah pasti ayahmu jauh lebih mengerti tentang nasib dan mati hidup si Kelelawar itu" "Nah itu dia, jadi menurut kau, aku tahu cukup jelas tidak?

" "Tentu, tentu saja kau tahu jelas" Suma Tang-shia segera tertawa manis.

"Sejak kapan kau berubah jadi begitu pintar?

" gcdanya.

Siau Jit tidak menjawab, hanya tertawa getir.

Han Seng turut tertawa getir, katanya: "Tampaknya persoalan ini bakal membuat kita semua pusing tujuh keliling , , , , ,,

" Lui Sin berpaling pula kearah Suma Tang-shia sambil bertanya: "Jadi bagaimana ceritanya" Dalam pertarungan itu, apakah si Kelelawar sudah mampus atau mungkin dia masih hidup?

" "Boleh dibilang sudah mampus, boleh dibilang juga belum mampus seratus persen" jawab perempuan itu.

"Oya?

" Dengan perasaan keheranan dan tak habis mengerti, Siau Jit serta Han Seng sama-sama menengok ke arah Suma Tang-shia, tampaknya mereka pun tak paham dengan maksud jawaban itu.

Suma Tang-shia segera menerangkan: "Jika mampus yang dimaksud adalah menandakan seseorang sudah tidak berada di dunia ini lagi, maka orang itu boleh dibilang belum mampus" Ketiga orang jagoan itu tetap tidak mengerti.

Suma Tang-shia menjelaskan lebih jauh: "Setelah pertempuran itu, Kelelawar telah berubah menjadi dua orang yang beda, sudah bukan Kelelawar yang dahulu lagi, bukankah hal ini bisa dikatakan kalau Kelelawar sudah tak ada lagi, sudah mampus?

" "Ooo, jadi Kelelawar sesungguhnya tidak mati dalam pertempuran berdarah itu?

" akhirnya Siau Jit memahami juga maksudnya.

"Benar" Suma Tang-shia mengangguk.

"Lantas dia telah berubah menjadi manusia seperti apa?

" tanya Siau Jit lagi.

"Dia sama sekali sudah kehilangan ingatannya" "Idiot maksudmu?

" selidik Siau Jit.

"Betul, idiot!

" "Jadi maksud nona, akhir dari pertempuran itu si Kelelawar sama sekali tidak kehilangan nyawanya, tapi sudah kena dihajar hingga berubah menjadi idiot?

" sela Lui Sin.

"Yaa, idiot!

" Suma Tang-shia mengulang sekali lagi.

Maksud dari idiot adalah tidak berbeda jauh dengan kematian, sebab dalam pandangan orang normal, idiot memang satu keadaan dimana mati jauh lebih enak daripada hidup.

Tentu saja hal ini menurut sudut pandang manusia normal.

Berbeda menurut sudut pandang orang idiot, bagi mereka hidup atau mati sama sekali tak ada bedanya, karena mereka memang tak bisa memilih, kalau tidak, mungkin sejak awal mereka sudah memilih mati.

Walaupun kebanyakan kehidupan mereka jauh lebih sengsara daripada anjiing atau babi, namun sebagian besar dapat hidup terus, bahkan hidup dengan hati gembira.

Tak ada yang tahu bagaimanakah dunia dari orang orang idiot, tentu saja hal ini berlaku bagi orang yang normal.

Lui Sin menatap wajah Suma Tang-shia, sampai lama kemudian ia baru bertanya lagi: "Kenapa Kelelawar bisa berubah jadi orang idiot?

" "Apakah gara gara pertempuran waktu itu?

" sambung Han Seng.

"Benar, waktu itu ayahku bersama delapan jago dari kanglam mengerubuti si Kelelawar di ll lembah Hui-jin-gan , , , , ,,

"Maksudmu lembah Hui-jin-gan di gunung Kiu-hca-san?

" sela Siau Jit.

Suma Tang-shia menggeleng.

"Aku sendiripun tak tahu kenapa tempat tersebut disebut hui-jin-gan (Bukan tempat manusia), hanya kuketahui kalau disana terdapat sebuah dinding batu yang amat besar, di atas dinding batu itulah tertera tiga huruf besar yang b erbunyi Hui-jin-gan.

Mereka sengaja memil ih tempat itu untuk mengercyok Kelelawar, aku rasa te mpat itu memang cocok sekali untuk men ghabisi kelaknatan Kelelawar" "Dan si Kelelawar datang memenuhi undangan"' tanya Siau Jit.

Suma Tang-shia tertawa hambar.

"Sebelum terjadinya pertempuran itu, si Kelelawar sama sekali tak tahu kalau undangan tersebut merupakan sebuah perangkap, kalau dibilang kejadian itu merupakan pertarungan adu jiwa, mungkin lebih cocok kalau dibilang merupakan satu bokongan, satu serangan gelap" "Jadi delapan jago sudah bersembunyi dan membuat perangkap lebih dulu ditempat tersebut sebelum kehadiran si Kelelawar?

" "Benar, begitulah kejadiannya.

"Tapi cerita yang tersiar dalam dunia persilatan tidak berkata begitu" sela Han Seng.

Kembali Suma Tang-shia menghela napas.

"Delapan jago lihay mengerubuti satu orang saja sudah merupakan satu kejadian yang tak enak didengar, kalau dibilang kejadian itu adalah sebuah bokongan, bukankah orang akan semakin mentertawakan kawanan jago itu?

" Mendengar sampai disini, Lui Sin segera tertawa terbahak-bahak, serunya: "Hahahaha, untuk menghadapi manusia laknat macam Kelelawar, lohu rasa memang tak perlu bicarakan soal peraturan dunia persilatan lagi, jadi kenapa peduli soal enak tidak enak, mentertawakan atau bukan" "Sayangnya tidak setiap orang berpendapat begitu" "Menurut pandanganku, walaupun ilmu silat yang dimiliki ke delapan jago itu sangat hebat, mereka pun berjiwa ksatria dan suka menegakkan keadilan, namun jiwa mereka masih tidak terbuka, masih sangat terkekang oleh segala tradisi" kata Lui Sin sambil tertawa.

Agaknya Suma Tang-shia setuju dengan pendapat itu, ia mengangguk.

"Betul, kalau tidak mereka pun tak usah ambil peduli bagaimana pandangan orang lain terhadap mereka" "Itulah yang lohu maksudkan" "Namun sewaktu mengurung dan menyerang Kelelawar, mereka sama sekali tak ambil peduli dengan segala peraturan dunia persilatan, saat itu jiwa, pikiran dan kekuatan mereka terhimpun jadi satu, mereka hanya tahu bagaimana membantai musuh dalam waktu singkat" "Bagus sekali, memang sudah sepantasnya manusia laknat semacam itu dibantai hingga tuntas" puji Lui Sin sambil bertepuk tangan.

Sudah jelas rasa benci dan dendamnya terhadap Kelelawar telah merasuk hingga ke tulang sumsum.

Post a Comment