Halo!

Kelelawar Tanpa Sayap Chapter 32

Memuat...

" "Mengembala mayat?

" tanya Lui Sin setelah tertegun sejenak.

"Betul, konon banyak orang yang pernah menyaksikan sendiri ketangguhan ilmu ini, hanya sayang belum ada yang bisa menjelaskan bagaimana mungkin mayat mayat itu bisa berjalan menuruti perintah seseorang" "Jadi menurut toaci, besar kemungkinan jenasah nona Lui digembala si Kelelawar dengan ilmu sesat itu hingga berjalan balik sendiri ke tempat ini?

" tanya Siau Jit sambil menghembuskan napas dingin.

"Sebetulnya apa yang kukatakan hanya salah satu penjelasan, hanya penjelasan semacam ini memang sukar diterima dengan nalar sehat" Lui Sin tertawa getir, ujarnya: "Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, si Kelelawar sudah mati, tapi sekarang dia muncul kembali, kalau orang mati pun bisa bangkit lagi, urusan apa pula yang tak mungkin terjadi?

" Siapa pun dapat menangkap kalau perkataan itu adalah ucapan orang putus asa, apa boleh buat.

Suma Tang-shia seperti akan mengucapkan sesuatu tapi diurungkan kembali, akhirnya ia tetap membungkam.

Kembali Siau Jit menghela napas, katanya lagi: "Persoalan apa pun, pada akhirnya pasti akan terungkap hingga jelas" "Sekarang juga kita pergi mencari jawaban yang sesungguhnya" sahut Lui Sin sambil mengepal tinjunya.

"Baikl" kata Siau Jit dengan wajah bersungguh sungguh, "satu hari urusan ini belum tuntas, sehari pula aku orang she-Siau tak akan meninggalkan kota Lok-yang" "Bagusl Kau memang seorang hohan sejati!

" Baru berbicara sampai disitu, terlihat Han Seng sudah berjalan masuk dari luar gedung, tiba dihadapan Lui Sin, serunya: "Semua perintahmu telah kulaksanakan!

" "Bagus sekali!

" "Tapi ada berapa orang saudara tua yang enggan tinggalkan tempat ini" ujar Han Seng setelah termenung sejenak.

"Menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan?

" "Untuk saudara saudara kita yang tak takut mati, apa salahnya bila toako biarkan mereka tetap tinggal disini?

" "Tapi , , , , , , , ,,

" "Mereka adalah saudara-saudara kita yang tak takut mati, sekalipun toako mengusir mereka dari sini, toh mereka bisa bertahan diluar kantor piaukiok, daripada membiarkan mereka berkeliaran, bukankah jauh lebih aman bila menampung mereka didalam gedung saja" "Ehm, cengli juga perkataanmu itu, baiklah, kita putuskan sesuai pemikiranmu itu" Kembali Han Seng berkata: "Sewaktu berada ditikungan serambi tadi, kebetulan siaute bertemu dengan Sun Toa-nio , , , , , ,,

" "Apakah Ciu Kiok telah tersadar kembali?

" "Benar, Sun Toa-nio memang akan melaporkan kejadian ini kepada toako" "Bagus1ah" Lui Sin segera berpaling ke arah Siau Jit dan Suma Tang-shia, lalu ajaknya, "mari kita bersama-sama menengok Ciu Kiok, siapa tahu dari mulutnya bisa mendapat keterangan yang lebih jelas" Siau Jit mengangguk.

II "Betul, siapa tahu dia dapat memberi petunjuk yang berharga katanya.

"Ayoh jalan!

" dengan langkah lebar Lui Sin berjalan keluar lebih duluan.

Cahaya lentera masih menerangi seluruh ruang kamar.

Paras muka Ciu Kiok lebih pucat daripada cahaya lentera, dia memang banyak kehilangan darah, karena itu wajahnya tampak layu dan kelihatan letih sekali, namun kondisinya jauh lebih baik daripada sewaktu pertama kali tiba di piaukiok.

Seluruh ruangan dipenuhi bau obat yang kental, kini mulut luka Ciu Kiok telah dibubuhi obat terbaik dan dibalut dengan rapi.

Setelah tersadar dari pingsannya tadi, Sun Toa-nio telah buatkan semangkok kuah obat pemulih darah untuknya.

Kini ia masih berbaring lemas diatas ranjang, matanya mendelong seperti orang bodoh, entah apa yang sedang ia pikirkan.

Sampai suara langkah kaki bergema dalam kamar, sorot matanya baru perlahan lahan dialihkan, namun ia tetap tak berpaling.

Baginya, berpaling merupakan satu pekerjaan yang amat sulit, begitu pula kondisinya sewaktu duduk.

Pertama-tama ia saksikan Lui Sin, tanpa terasa butiran air mata jatuh bercucuran.

Lui Sin segera menghiburnya.

ll "Kau sudah berusaha sekuat tenaga dalam peristiwa ini, tak perlu bersedih hati katanya.

"Entah bagaimana keadaan siocia sekarang?

" bisik Ciu Kiok sambil terisak.

Kelopak mata Lui Sin sedikit mengejang, tapi dengan cepat dia menjawab: "Mati hidup sudah diatur takdir, jadi kau tak perlu menguatirkan keselamatannya" Tiba tiba berkilat sorot mata Ciu Kiok, serunya tak tahan: "Siau kongcu!

" Ternyata ia sudah melihat kehadiran Siau Jit yang berjalan masuk ke dalam ruangan.

"Kita pernah bertemu?

" tanya Siau Jit.

"Masa kongcu lupa?

" "Tidak, dalam sekali pandang, aku segera dapat mengenalimu" Semu merah pipi Ciu Kiok yang pucat setelah mendengar perkataan itu, pintanya cepat: "Kongcu, kau harus segera selamatkan nona kami" "Sebenarnya apa yang telah terjadi?

" tanya Siau Jit sedih.

Ciu Kiok mencoba mengingat kembali kejadian yang dialami, kemudian ujarnya: "Waktu itu rombongan kami tiba disebuah warung teh dekat jalan raya, tiba tiba kakek penjual teh menghentikan kami semua, katanya ada seorang tamu dari marga Siau menitipkan sepucuk surat untuk siocia kami" "Apa isi surat itu?

" tanya Siau Jit.

"Ditunggu kedatanganmu di luar hutan kuil Thian-liong-ku-sat, ada urusan penting akan dirundingkan.

Tapi dalam surat tidak tercantum nama kongcu" "Jadi siocia kalian pun pergi memenuhi undangan itu?

" "Sepeninggal siocia, kami pun masuk ke warung teh untuk menunggu, siapa sangka dalam air teh telah dicampuri racun, berapa orang rekan yang keburu meneguk air teh itu seketika keracunan dan menemui ajal!

" "Lanjut!

" seru Lui Sin geram.

"Kemudian kakek penjual teh itupun berubah!

" ketika bicara sampai disini, mimik muka Ciu Kiok kembali memperlihatkan rasa ngeri dan takut yang luar biasa.

"Berubah?

" tanya Lui Sin keheranan.

"Tampang mukanya berubah jadi sangat menakutkan, sepasang matanya seperti dua gumpal api setan, saat itulah kami baru sadar kalau siocia sudah tertipu" "Bagaimana kemudian?

" "Kakek itu mulai mencicit tertawa aneh, suara tertawanya mirip seekor tikus, dia beritahu kepada kami kalau dialah si Kelelawar!

" "Kelelawar!

" Lui Sin menggertak gigi hingga gemerutuk, Han Seng menarik napas dingin sedang Siau Jit dan Suma Tang-shia saling bertukar pandangan tanpa mengucapkan sesuatu.

Ciu Kiok bercerita lebih lanjut: "Begitu mendengar nama itu, paras muka paman To serta paman Thio berubah hebat, mereka segera mengepung kakek itu rapat rapat, dari pembicaraan yang kemudian berlangsung, rasanya si Kelelawar itu sudah mati lama" "Ehm, apa yang dikatakan Kelelawar itu?

" tanya Lui Sin.

"Tiba tiba ia bersuit nyaring, lalu seluruh ruang warung dipenuhi kawanan Kelelawar, Il jumlahnya banyak sekali dengan suara bagai merintih dia melanjutkan, "kemudian kami pun bertempur sengit, akhirnya satu per satu kami tewas diujung senjatanya yang konon disebut golok Kelelawar.

"Golok itu aneh sekali bentuknya, gagang golok berlambangkan seekor Kelelawar besar, tubuh golok melengkung bagai bulan sabit, tapi tajamnya luar biasa, walau dipakai untuk membunuh namun tiada darah yang menodai mata golok!

" Mendengar sampai disini Lui Sin segera berpaling kearah Siau Jit serta Suma Tang-shia sambil berkata: "Ternyata dugaan kalian berdua tidak salah" Kepada Ciu Kiok tanyanya: "Kau masih bisa bertahan?

" Ciu Kiok mengangguk perlahan.

"Kalau begitu ceritalah lebih jauh, coba cerita lebih detil" pinta Lui Sin.

Maka Ciu Kiok pun melanjutkan kembali penuturannya yang belum selesai.

Oo0oo

Pintu dan jendela kamar sudah tertutup rapat, hawa dingin diujung musim gugur telah tertahan diluar jendela.

Tapi penuturan Ciu Kiok seolah menghadirkan kembali hawa dingin diujung musim gugur, menyusup dan menghimpit perasaan hati setiap orang.

Akhirnya dengan air mata bercucuran ujar Ciu Kiok: "Seharusnya aku pergi ke kuil Thian-liong-ku-sat untuk melakukan pelacakan, tapi dengan ilmu silat yang kumiliki, apa gunanya pergi ke situ" Maka terpaksa aku pulang kemari" Sambil menggenggam tangan Ciu Kiok yang lembut, hibur Lui Sin: "Semua yang kau lakukan sudah betul, bila kaupun pergi ke kuil Thian-liong-ku-sat, maka selama hidup peristiwa ini akan tetap menjadi misteri, tetap akan menjadi rahasia pribadi si Kelelawar" Perlahan Ciu Kiok berpaling kearah Siau Jit, lalu tanyanya: "Siau kongcu, kenapa kaupun bisa sampai disini?

" "Apakah kau sudah lupa dengan apa yang kau katakan setibanya di piaukiok waktu itu?

" kata Lui Sin.

Ciu Kiok menggeleng, rupanya dia sudah tak dapat mengingat kembali semua kejadian itu.

"Waktu itu kau mengatakan kalau semua orang telah terbunuh, nona ditipu orang, bahkan sempat menyinggung nama Siau kongcu" Lui Sin menerangkan.

"Ehm" "Kebetulan ada orang melihat kehadiran Siau kongcu dirumah makan Tay-pek-lo, maka kami pun pergi mencarinya untuk menanyakan duduknya persoalan" "Jadi tuan sekalian sempat berkelahi?

" tanya Ciu Kiok terperanjat.

"Gara-gara bertarung, kami pun jadi bersahabat, malah akhirnya sempat mendatangi kuil Thian-liong-ku-sat bersama-sama" "Apakah berhasil menemukan siocia?

" desak Ciu Kiok.

"Tidak!

" Lui Sin menggeleng.

"Tapi aku tidak bohong , , , , , ,,

" Lui Sin segera menggenggam tangan Ciu Kiok, ujarnya penuh emosi: "Anak baik, tak ada orang yang mengatakan kau bohong" Setelah menarik napas dalam-dalam, lanjutnya: "Kami sudah memastikan kalau semua peristiwa berdarah ini merupakan hasil karya Kelelawar" "Tapi,,,,

bukankah Kelelawar sudah mengirim surat yang mengabarkan kalau dialah yang menangkap siocia, tapi apa tujuannya" Apakah dia ingin memeras kita" Apa yang mau diperas?

" Lui Sin menggeleng.

"Kelelawar tidak mengirim surat, tapi sudah munculkan diri dihadapan kami" Setelah berhenti sejenak, terusnya: "Ketika mendapat tahu kalau kau belum.

mati, disangkanya kau telah menceritakan semua kejadian kepada kami, karena itulah terpaksa dia munculkan diri dihadapan kami" ll "Ooh rupanya begitu , , , , , , ,,

"Untung saja dia menganggap begitu, kalau tidak, mungkin ia sudah menyerbu masuk ke dalam piaukiok dan membunuhmu untuk menghilangkan saksi!

" "Membunuhku untuk menghilangkan saksi?

" Ciu Kiok makin tercengang.

"Betul, dia sengaja membunuh kalian semua karena bertujuan untuk melenyapkan saksi" Tak tahan Ciu Kiok menghirup udara dingin, diapun mengalihkan pembicaraan, tanyanya: "Aaah betul, apakah sudah diketahui siocia berada dimana sekarang?

" Lui Sin tidak menjawab, dia hanya menghela napas panjang.

Tercekat perasaan hati Ciu Kiok setelah mendengar helaan napas itu, buru buru tanyanya: "Tuan, apa yang sebenarnya terjadi dengan siocia?

" "Dia sudah mati" jawab Lui Sin dengan suara parau.

Paras muka Ciu Kiok semakin pucat.

"Tidak, tidak mungkin!

" jeritnya sedih.

Lui Sin kembali menghela napas panjang.

"Sebenarnya aku tak ingin memberitahukan berita duka itu pada saat seperti sekarang, tapi akupun tak tega mengelabuhi dirimu, membiarkan kau menguatirkan terus keselamatan jiwanya" Paras muka Ciu Kick semakin pucat.

"Tidak, tidak mungkin!

" jeritnya sedih.

Lui Sin kembali menghela napas panjang.

"Sebenarnya aku tak ingin memberitahukan berita duka itu pada saat seperti sekarang, tapi akupun tak tega mengelabuhi dirimu, membiarkan kau menguatirkan terus keselamatan jiwanya" Ciu Kick tidak menjawab, hanya air matanya bercucuran makin deras.

Kembali Lui Sin berkata: "Kelelawar sengaja munculkan diri karena ingin memberi kabar atas kematian Hong-ji,,,,

selain mengirim kembali jenasah Hong-ji kepada kita" "Kenapa dia harus membunuh siccia?

" tanya Ciu Kick sambil menangis.

"Kamipun tak tahu, dia juga tidak menjelaskan" "Tuan, kau harus balaskan dendam bagi kematian siocia, harus!

Post a Comment