"Toako, kenapa kau?
" jerit Han Seng agak panik.
Suma Tang-shia segera maju menghampiri, setelah diperiksa sejenak, katanya: "Tak perlu panik, dia hanya jatuh pingsan lantaran hawa amarah yang menyerang hati hingga membuat hawa darahnya bergejolak, setelah muntah darah dia malah jauh lebih mendingan" "Segera kupanggil tabib , , , , , , ,,
" "Tidak perlu" tukas Suma Tang-shia sambil menggeleng, kemudian sambil berpaling tambahnya, "Siau kecil, gunakanlah tenaga dalammu untuk menenangkan gejolak hawa darah ditubuh Lui enghiong" Siau Jit mengiakan, ia segera tempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Leng-tay-hiat ditubuh Lui Sin dan mengalirkan hawa murninya.
Kembali Suma Tang-shia berkata kepada Han Seng: "Disini terdapat berapa butir pil, minumkan dengan air panas, setelah sadar nanti, Lui enghiong akan sehat kembali" Sambil berkata ia ambil keluar sebuah botol porselen, membuka penutupnya dan mengeluarkan tiga butir pil warna hijau sebesar kacang kedele.
Buru buru Han Seng menerimanya sambil perintahkan orang untuk mengambil air hangat.
Dalam pada itu Lui Sin telah siuman kembali dari pingsannya.
Setelah menelan ke tiga butir pil dan mengatur napas sebentar, paras muka Lui Sin pun pulih kembali dalam keadaan normal.
Setelah menghembus napas panjang katanya: "Saudara Siau, silahkan tarik kembali tanganmu" Waktu itu telapak tangan kanan Siau Jit masih menempel diatas jalan darah Leng-tay-hiat, mendengar itu serunya: "Cianpwee, kau , , , , , ,,
" "Aku sudah tidak apa apa" tukas Lui Sin sambil menggeleng, "tadi aku hanya merasa mendongkol sekali , , , , , ,,
" Lambat laun sikapnya pulih kembali jadi tenang dan terkendali, melihat itu Siau Jit pun segera menarik kembali tangannya.
Setelah duduk, kembali Lui Sin menghembuskan napas panjang, ujarnya geram: "Kelelawar bajingan terkutuk, aku orang she-Lui bersumpah akan mencincang tubuhmu!
" "Toako, kau harus baik baik jaga diri" hibur Han Seng.
Lui Sin segera tertawa keras.
"Hahaha,,,,
toakomu tak gentar dibacok orang, apalah artinya hanya muntah darah" Sambil berkata perlahan-lahan ia bangkit berdiri, lalu pesannya lagi: "Saudaraku, tolong sampaikan pesanku, mulai hari ini perusahaan piaukiok menutup diri, diharapkan pemilik barang yang belum sempat terkirim untuk mengambil kembali barangnya, sementara ongkos tanggungan akan kita kembalikan lipat dua, selain itu perintahkan kasir perusahaan untuk membagikan uang pesangon kepada semua anggota perusahaan, minta mereka untuk mencari pekerjaan lain" Setelah tertawa tambahnya: "Padahal urusan semacam ini tak perlu kuperintahkan lagi, aku yakin kaupun tahu harus berbuat bagaimana" Sambil menghela napas Han Seng manggut manggut.
"Toako tak perlu kelewat merisaukan persoalan ini" "Saudaraku, masa kau masih belum paham?
" kata Lui Sin sedih, "mengandalkan ilmu silat yang kita miliki, kendatipun berhasil menemukan si Kelelawar, belum tentu kita berdua sanggup selamatkan jiwa, lagipula jangan lupa, masih ada seorang Ong Bu-shia!
" "Betul sekali" Han Seng mengangguk dengan wajah berubah.
Lui Sin menatap wajah saudaranya sekejap, kemudian katanya lagi: "Sejak dulu, kau adalah juru pikir perusahaan piaukiok kita, kenapa dalam urusan hari ini, justru aku yang berulang kali harus mengingatkan dirimu?
" Han Seng tertawa getir.
"Sejujurnya, pikiran siaute saat ini ibarat setumpuk jerami, kacaunya bukan kepalang" "Jangankan kau, aku yakin kita semua tak akan mampu menenangkan hati" sela Lui Sin sambil tertawa.
Kemudian setelah menepuk bahu Han Seng, tambahnya: "Karena Hong-ji toh sudah mati, rasanya tak ada urusan lagi yang harus buru buru kita selesaikan" Tanpa menjawab Han Seng manggut-manggut.
"Kalau begitu, pergilah laksanakan tugasmu" kata Lui Sin lagi sambil mengulapkan tangannya.
Baru saja Han Seng akan mengundurkan diri, tiba tiba Lui Sin berseru lagi: "Saudaraku, jangan lupa dengan bagianmu!
" Dengan perasaan melengak Han Seng mengangkat wajahnya, lalu serunya sambil tertawa sedih: "Toako, apa maksud perkataanmu itu?
" "Bagaimana pun, selama ini kita sudah menjadi saudara yang baik, sebagai toako, aku tak ingin menyeret kau dalam kekalutan ini dan menghantar kematian dengan percuma!
" Han Seng tertawa keras.
"Toako, apa kau tidak merasa kelewat melecehkan diri siaute" Biarpun toako sudah melupakan janji yang pernah kita ucapkan sewaktu angkat saudara dulu, sampai mati siaute akan mengingatnya terus didalam hati" Setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Bila toako ngotot terus, biarlah siaute mati lebih dulu didalam gedung piaukiok ini" "Hahaha, bagus, saudara yang hebat!
" seru Lui Sin kemudian sambil tertawa keras, "anggap saja toako salah bicara, jangan dimasukkan ke dalam hati" Dengan air mata berlinang Han Seng memberi hormat, katanya: "Kalau begitu biarlah siaute laksanakan dulu semua urusan yang toako perintahkan" Menyaksikan bayangan punggung Han Seng keluar dari gedung, Lui Sin baru berpaling kearah Siau Jit dan Suma Tang-shia sambil berkata: II "Apakah kalian berdua , , , , , , ,,
Sambil tertawa Suma Tang-shia menukas: "Ada satu urusan, mungkin Lui lo-enghiong masih belum tahu" "Urusan apa?
" tanya Lui Sin tercengang.
"Walaupun aku tak akan mati dihadapanmu, tapi kalau mulai mengumpat, caci maki ku bisa galak sekali" Lagi lagi Lui Sin tertegun, tapi sejenak kemudian ia sudah tertawa tergelak.
"Hahaha, bagus, bagus sekali" "Urusan apa?
" tanya Lui Sin tercengang.
"Walaupun aku tak akan mati dihadapanmu, tapi kalau mulai mengumpat, caci maki ku bisa galak sekali" Lagi lagi Lui Sin tertegun, tapi sejenak kemudian ia sudah tertawa tergelak.
"Hahaha, bagus, bagus sekali" Kembali Suma Tang-shia berkata sambil berpaling kearah Siau Jit: "Sedang saudaraku yang satu ini, aku yakin tidak gampang bagimu untuk mengusirnya pergi" "Aku tak akan mengusir, aku tak akan mengusir!
" Sekali lagi Lui Sin duduk diatas bangku, ditatapnya batok kepala Lui Hong sekejap, setelah pejamkan mata tiba tiba ia berteriak keras: "Empek Ang!
" Waktu itu Lui Ang memang sudah berada disamping majikannya, mendengar teriakan itu, buru buru dia maju sambil bertanya: "Loya ada perintah apa?
" "Jadi kaulah orang pertama yang bertemu siocia?
" Sekilas perasaan sangsi menghiasi wajah Lui Ang, tapi dia manggut tiada hentinya.
"Coba terangkan sekali lagi semua pengalaman yang kau hadapi pagi tadi!
" Dari sikap, nada pembicaraan serta penampilannya, jelas Lui Sin telah berhasil mengendalikan diri dan tampil normal seperti sedia kala, bahkan jauh lebih tenang.
Lui Ang mengisahkan semua pengalamannya secara detil, apalagi disampingnya hadir Suma Tang-shia yang begitu teliti, berulang kali perempuan itu mengajukan pertanyaan untuk memperjelas duduknya perkara.
Sampai pada akhirnya Lui Ang tak kuasa mengendalikan diri lagi, ia menangis tersedu-sedu.
Tentu saja rasa sedih yang mencekam perasaan Lui Sin tak terkirakan bahkan jauh melebihi rasa sedih Lui Ang, namun perasaan sedihnya saat ini sudah tertutup oleh perasaan ngeri, seram dan keheranan yang kental.
Tanpa terasa Suma Tang-shia menyandarkan kepalanya dalam pelukan Siau Jit.
Mereka semua bukan termasuk type orang bernyali kecil, namun setelah mendengar penuturan Lui Ang, tak urung berdiri juga bulu kuduknya, seseorang yang anggota tubuhnya telah terbelah enam ternyata sanggup berjalan sendiri untuk kembali ke rumahnya, bahkan dapat pula berbicara dan mencopot batok kepala sendiri untuk diserahkan kepada orang lain, jelas peristiwa semacam ini sungguh menakutkan, horor dan menggidikkan hati.
Pada hakekatnya satu kejadian yang susah dipercaya dengan nalar sehat.
Lui Ang jelas tidak berniat untuk bohong, lagipula bohong tak ada keuntungan bagi dirinya.
Selesai mendengar penuturan itu, Lui Sin termenung sambil berpikir sejenak, kemudian sambil menatap Siau Jit dan Suma Tang-shia, katanya sembari menuding kearah Lui Ang: "Dia adalah pelayan tua kami, mengurusi semua urusan rumah tangga disini, aku berani menjamin dia sangat setia dan bisa dipercaya, bahkan selama ini dia menganggap Hong-ji seperti putri kandung sendiri" Sambil menangis terisak kata Lui Ang pula: ll "Akulah yang melihat nona Hong tumbuh dewasa , , , , , , ,,
"Oleh sebab itu semua yang dia ucapkan seratus persen dapat dipercaya" tukas Lui Sin.
"Kami sama sekali tak pernah menaruh curiga terhadap perkataan orang tua ini" ujar Siau Jit, "hanya saja , , , , , , ,,
" Tidak menunggu hingga dia menyelesaikan perkataannya, Lui Sin telah bertanya lagi kepada Lui Ang: "Empek Ang, apakah waktu itu kau minum arak?
" Lui Ang menggeleng.
"Loya juga tahu, kecuali tahun baru, hamba tak pernah minum arak" "Aku percaya kau tidak minum arak, lagipula dalam situasi seperti ini, biar sedang mengantuk pun, aku yakin kau pasti berusaha menjaga kesadaranmu" Setelah berhenti sejenak, tambahnya: "Tapi bagaimana pula penjelasanmu tentang peristiwa ini?
" "Cerita setan , , , , , , ,,
" kata Siau Jit.
"Aku tak pernah percaya dengan hal hal tahayul semacam itu" tukas Lui Sin cepat.
"Begitu pula dengan aku" Siau Jit segera berpaling ke arah Lui Ang dan ujarnya lagi, "orang tua, apakah kau tidak melihat ada seseorang berdiri dibelakang mayat nona Hong?
" "Budak yakin tidak ada" Kontan saja Siau Jit berkerut kening.
"Berarti hanya ada satu penjelasan, mula mula ada orang lain yang menenteng pulang batok kepala itu, sedang bagian tubuh yang lain baru dipasang dibawah dinding tembok setelah dia orang tua jatuh tak sadarkan diri" "Ehm, penjelasan ini sangat masuk diakal" Tiba tiba Suma Tang-shia menyela: "Konon batok kepala itu sempat berbicara, seharusnya dia orang tua hapal bukan dengan logat suara putrimu?
" "Betull" seru Lui Sin sambil bertepuk tangan, cepat ia berpaling ke arah Lui Ang dan katanya, "seharusnya kau sangat mengenal logat suara siocia bukan?
" "Suara itu datang sayup sayup, seperti ada seperti tidak, seperti melayang seperti mengambang, dalam perasaan budak, suara itu berasal dari seorang wanita, kemudian setelah bertemu siocia, baru kudengar kalau suara itu suara dari siocia" Untuk sesaat Lui Sin termenung, dia tak tahu harus bicara apa lagi.
Tiba tiba Suma Tang-shia berseru lagi: "Diwilayah Siong-say (Oulam) terdapat sejenis ilmu sesat, apakah Lui enghiong pernah mendengarnya?