" Makin lama suara itu makin menjauh sebelum akhirnya lenyap.
Lui Sin semakin gusar, dilihat sikapnya dia seolah hendak ikut terjun ke dalam sungai, Han Seng yang berada disampingnya buru buru mencegah, hiburnya: "Toako, kau tak boleh kelewat emosi!
" "Betul" ujar Siau Jit pula, "disini tak tersedia sampan lain, tampaknya untuk sementara waktu kita harus lepaskan dia" "Bagaimana pun, aku bersumpah akan menemukan kembali bajingan tua itu dan mencincangnya hingga hancur berkeping!
" sumpah Lui Sin penuh kebencian.
"Kita punya banyak waktu untuk melakukannya, masih banyak kesempatan" sambung Han Seng.
Akhirnya Lui Sin menghembuskan napas panjang, tiba tiba tanyanya: "Loji, menurut pendapatmu, bajingan itu sebetulnya manusia atau setan?
" "Tentu saja manusia" jawab Han Seng setelah tertegun sesaat.
"Bagaimana menurut pendapat saudara Siau?
" kembali Lui Sin bertanya sambil berpaling ke arah Siau Jit.
"Seperti apa yang dikatakan saudara Han tentang setan dan dewa, semua itu hanya lelucon yang tak lucu, sekalipun benar benar ada setan, yang pasti si Kelelawar adalah manusia, hanya masalahnya kenapa ia berusaha menghindari kita?
" "Betul sekali perkataan saudara Siau" seru Han Seng sambil bertepuk tangan.
"Tapi menurut cerita yang beredar dalam dunia persilatan, konon si Kelelawar , , , , , , , , , ,,
" "Siapa yang bisa pertanggung jawabkan berita yang tersiar dalam dunia persilatan?
" tukas Han Seng cepat.
"Tapi diantara kita tak pernah terjalin dendam maupun sakit hati" Han Seng berkerut kening, ujarnya kemudian: "Andaikata orang ini benar-benar si Kelelawar, maka apapun yang dia lakukan bukanlah perbuatan yang aneh" "Maksudmu , , , , , ,,
" "Konon orang ini setengah lurus setengah sesat, melakukan pekerjaan apa pun disesuaikan dengan kondisi perasaan hatinya, senang gusar tak menentu, bahkan terkadang dia tak berbeda seperti orang yang kehilangan ingatan, sinting!
" "Menurut pandanganku" timbrung Siau Jit, "tujuannya menghadang orang dan melakukan pembantaian yang dia lakukan kali ini tak lain karena nona Lui Hong" "Betul, tak diragukan tujuannya melakukan pembantaian karena ingin menghilangkan saksi, dan kemunculannya kali ini disebabkan dia tahu kalau Ciu Kick belum mati, dia sangka kita sudah mengetahui semua perbuatannya sehingga dia anggap tak perlu lagi untuk merahasiakan identitas diri" "Begitu cepatkah kabar berita yang diperoleh bajingan itu?
" tanya Lui Sin.
"Semestinya apa yang dia katakan sudah menunjukkan kesemuanya itu dengan jelas" "Untung saja kabar beritanya tidak terhitung sangat cepat" ujar Siau Jit dengan suara dalam, "kalau tidak, sekarang dia tak bakalan munculkan diri dihadapan kita semua, sebaliknya pasti akan menyusup ke dalam perusahaan Tin-wan piaukiok secara diam diam" "Mau apa dia ke sana?
" "Tentu saja membunuh Ciu Kiok!
" Siau Jit menegaskan, "asal dia berhasil membunuh Ciu Kiok maka semua mata rantai peristiwa ini akan putus ditengah jalan" "Betul sekali!
" seru Lui Sin dengan wajah berubah.
Tanpa sadar dia menatap kembali kutungan lengan yang berada ditangannya, lalu dengan perasaan gusar bercampur ragu, katanya: "Lantas apa tujuan dia menebas kutung lengan kanan Hong-ji?
" "Agar kita semua tahu kalau dialah pelaku peristiwa berdarah ini, tahu kalau nona Hong sudah t erjatuh ke tangannya" "Padahal dengan satu pernyataan pun sudah lebih dari cukup" seru Lui Sin geram.
"Bisa jadi dia kuatir kita tidak percaya dengan pernyataannya, mungkin juga lantaran otak orang ini memang kurang beres, bagi seorang manusia normal, tak mungkin dia akan melakukan perbuatan semacam ini" Lui Sin mengangguk berulang kali.
"Betul juga perkataanmu" katanya, "sejujurnya, tadi pun aku sempat dibuat sangat terkejut" "Padahal bukan hanya cianpwee yang kaget, kami pun ikut terperanjat dibuatnya, begitu menyaksikan kita semua kaget, dia tampak gembira sekali" "Aku rasa inilah tujuannya yang paling utama" "Tadi dia mengatakan telah menghantar pulang nona Hong ke piaukiok" kata Siau Jit.
II "Yaa, tadi dia memang berkata begitu Lui Sin membenarkan, setelah menghela napas, tambahnya, "meskipun kehilangan lengan kanannya, asal jiwanya terselamatkan, hal ini jelas merupakan keberuntungan ditengah ketidak beruntungan" Siau Jit tidak bersuara lagi, begitu pula Han Seng, terbungkam dalam seribu bahasa.
Lui Sin melirik mereka sekejap, tiba tiba perasaan ngeri dan seram terlintas dibalik matanya, dengan cepat dia menatap wajah Han Seng lalu tegurnya: "Jite, maksudmu?
" Han Seng manggut manggut.
Cepat Lui Sin berpaling kearah Siau Jit, belum sempat buka suara, sambil menghela napas Siau Jit telah berkata lebih dulu: "Ada sementara perkataan yang tidak sepantasnya kuutarakan, tapi mau tak mau harus kuucapkan juga" "Kalau begitu katakan saja" "Padahal apa yang hendak kukatakan sudah cianpwee ketahui juga" Lui Sin tertawa getir.
"Lohu sama seperti kau, orang yang lurus dan suka bicara langsung, tapi berada dalam situasi seperti ini, terkadang aku perlu juga membohongi diri sendiri" Setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Apakah kau hendak mengatakan, meski si Kelelawar telah menghantar balik putriku, namun dia tidak pernah menegaskan kalau yang dikirim balik itu orang hidup atau orang mati,,,,”
Siau Jit menghela napas panjang.
"Sekalipun tak banyak yang kuketahui tentang orang ini, namun menurut apa yang kutahu, bila dia sudah menebas kutung lengan seseorang, itu berarti dia tak akan membiarkan orang itu tetap hidup" Lui Sin mendongakkan kepalanya memandang cuaca, lalu katanya: "Apa pun yang terjadi, asal kita kembali ke piaukiok, bukankah semuanya akan jadi jelas" Habis berkata ia membalikkan tubuh dan berjalan menelusuri jalan semula.
Han Seng serta Siau Jit mengikuti dari belakang, langkah mereka terasa berat, seberat perasaan hati yang mengganjal dada mereka sekarang .
Suma Tang-shia masih menanti ditempat semula, melihat ke tiga orang itu sudah balik, ia baru bertanya sesudah menghembuskan napas panjang: "Apakah si Kelelawar berhasil kabur?
" "Benar, ternyata diluar hutan sana terdapat sebuah sungai besar" "Dan Kelelawar sudah siapkan perahu disana?
" sambung Suma Tang-shia.
Siau Jit manggut-manggut.
Suma Tang-shia segera berpaling ke arah Lui Sin, kembali tanyanya: "Apakah lengan itu benar-benar lengan putrimu?
" "Kelelawar mengaku kalau lengan ini ditebas dari tubuh putriku" "Mana putrimu?
" "Katanya sudah dihantar balik ke piaukiok, tapi aku tak jelas dengan cara apa dia menghantarnya balik" paras muka Lui Sin sangat berat, dengan cepat dia melompat naik keatas kudanya.
"Kalau begitu mari kita tengok ke piaukiok" ajak Suma Tang-shia.
Seusai berkata, dia segera naik kembali ke dalam keretanya.
Lui Sin segera melarikan kudanya dipaling depan.
Langit sudah terang, namun cahaya lentera didalam gedung utama perusahaan Tin-wan piaukiok masih terang benderang bermandikan cahaya.
Disisi kiri gedung berderet peti mati berisikan mayat para piausu yang tewas ditangan Ong Bu-shia, disisi kanan berserakan pula sejumlah mayat piausu yang tewas ditangan Kelelawar.
Jenasah Lui Hong diletakkan diatas sebuah meja berkaki delapan yang berada ditengah gedung, jenasah yang telah dimutilasi, jenasah yang telah terbelah jadi enam bagian.
Ternyata lengan kanan yang diserahkan Kelelawar kepada Lui Sin memang lengan kanan milik Lui Hong.
Padahal kalau ingin membunuh, sekali tusukan pun sudah lebih dari cukup, namun dia telah mencincang tubuh Lui Hong jadi enam bagian, pada hakekatnya hanya orang gila yang bisa melakukan kesemuanya itu.
Si Kelelawar pun sama sekali tak bohong, kecuali lengan kanan itu, bagian tubuh lain milik Lui Hong telah dihantar balik semua ke gedung piaukiok.
Dikirim balik dengan begitu saja.
Sesungguhnya Lui Sin sudah mempersiapkan diri, dia sudah bersiap sedia menerima kenyataan bahwa Lui Hong yang dihantar balik ke perusahaan piaukioknya dalam keadaan mati.
Tapi mimpi pun dia tak mengira kalau mayat yang diterima justru merupakan mayat yang terpisah pisah, sesosok mayat yang tercincang, mayat yang dimutilasi.
Menyaksikan pisahan anggota tubuh putrinya, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri mendelong , , , , , ,,
hingga kini, seperminum teh lamanya sudah lewat, ia masih berdiri menjublak, terperangah dan berdiri dengan mata terbelalak.
Suasana sangat hening, tak ada suara, tak ada yang bicara, tak terkecuali Han Seng.
Suma Tang-shia bersandar dalam pelukan Siau Jit, sekujur tubuhnya gemetar keras.
Siau Jit sendiri berdiri dengan kening berkerut, seolah ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.
Seluruh gedung piaukiok terjerumus dalam keheningan yang mendekati kematian, begitu sepi, hening tapi tegang.
Angin berhembus lewat menembusi ruangan, berapa lembar rontokan daun ikut melayang masuk dan berserakan dilantai, menambah kentalnya suasana kematian ditempat itu.
Daun yang rontok memang perlambang dari suatu kematian.
Lagi lagi angin berhembus masuk ke dalam ruangan.
Sisa hawa dingin diujung musim gugur membuat suasana bertambah beku, mengibarkan pula ujung baju semua orang.
Saat itulah Lui Sin meraung keras: "Sungguh menjengkelkan!
" tiba tiba ia muntahkan darah segar lalu roboh terjungkal ke tanah.
Buru buru Siau Jit dan Han Seng maju membangunkan tubuhnya dan memayang keatas bangku, tampak paras muka Lui Sin berubah kuning bagai kertas emas, sepasang matanya terpejam rapat, ia berada dalam keadaan tak sadarkan diri.