" tanya Lui Sin tercengang.
"Perkataan seorang lelaki ibarat kuda yang dicambuk, tak akan terkejar kembali" Selesai berkata dia tarik kembali tangan itu, kemudian ketika dijulurkan keluar lagi, tangan itu sudah terlepas dari badannya.
Kali ini Lui Sin bersin berulang kali karena bergidik, sekali lagi sinar matanya dialihkan keatas lengan itu.
Lengan itu dipapas kutung sebatas ketiak, sama sekali tak nampak rona darah, dekat sikut terlihat sebuah "toh" berwarna merah hati.
Tatapan mata Lui Sin tertuju keatas tanda hati berwarna merah darah itu, menatapnya tanpa berkedip.
Tiba tiba saja tubuhnya gemetar, gemetar keras sekali.
Han Seng yang menyaksikan kejadian itu kontan berseru: "Bukankah diatas lengan kanan Hong-ji terdapat pula sebuah tanda merah berbentuk hati?
" "Benar, mirip sekali" Dari balik mata si Kelelawar yang putih tiba tiba muncul biji mata, biji mata berwarna hijau tua, biji mata menyerupai api setan yang menatap Lui Sin.
Tanyanya sambil tertawa: "Masa lengan milik putri sendiri pun tidak kau kenali?
" "Apa kau bilang?
" teriak Lui Sin dengan wajah berubah.
"Masa sampai sekarang kau masih menyangka lengan ini adalah lenganku?
" kembali si Kelelawar mengejek, selesai berkata sebuah lengan kanan muncul lagi dari balik bajunya.
Lengan kanan berbentuk cakar burung.
Paras muka Lui Sin berubah menakutkan, bentaknya: "Apa kau bilang?
" "Dia bilang, lengan itu adalah lengan milik Hong-ji!
" seru Han Seng menimali.
Sepasang mata Lui Sin terbelalak lebar, biji matanya melotot keluar, sambil menatap si Kelelawar tegurnya: "Siapa kau sebenarnya" Kenapa lengan milik putriku bisa berada ditanganmu?
" "Siapakah aku" Masa kau tidak tahu?
" si Kelelawar tertawa aneh.
Dengan satu gerakan cepat dia melukis seeekor Kelelawar diatas tanah dengan tongkat bambunya, bahkan Kelelawar itu digambarkan sedang menghadap ke arah Lui Sin.
Berubah makin hebat paras muka Lui Sin, khususnya setelah melihat lukisan itu, teriaknya tertahan: "Kelelawarl" "Hahaha, betul sekali, akulah si Kelelawar" sahut kakek itu sambil tertawa aneh.
Han Seng segera mencabut pedangnya, tapi pada saat yang bersamaan si Kelelawar telah melempar tongkat bambunya ke depan, persis menghantam gagang pedang itu.
"Triiing!
" baru saja pedang itu tercabut tiga inci dari sarungnya, tongkat bambu itu sudah menumbuk diatas gagang pedang tadi hingga tersarung kembali.
Tak terlukiskan rasa kaget Han Seng menjumpai kejadi an ini.
Terdengar si Kelelawar berkata lagi sambil tertawa: "Biarpun tak bersayap, aku tetap bisa terbang!
" Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, dia sudah rentangkan sepasang tangannya dan melambung ke udara.
Tubuhnya langsung meluncur naik keatas sebatang pohon besar yang tumbuh disisi jalan.
"Kelelawar tanpa sayap!
Hadang dia!
" bentak Han Seng nyaring, sekali lagi dia mencabut pedangnya dan meluncur kearah si Kelelawar bagaikan anak panah yang terlepas dari busur.
Sekilas cahaya pedang melintas pula dari sisi tubuhnya bagai lintasan cahaya petir, langsung mengancam tubuh si Kelelawar.
Pedang pemutus usus milik Siau Jit!
Rupanya dia sudah muncul disitu, mendengarkan semua pembicaraan, menyaksikan semua adegan, ketika Han Seng berteriak: "Hadang dia!
" pedangnya sudah diloloskan dari sarung, tubuh berikut pedang pun sudah melesat maju secepat petir.
Walaupun dia menyerang belakangan namun serangannya tiba lebih dulu, sayang gerakan tubuh Kelelawar tanpa sayap jauh lebih cepat, belum lagi serangan itu mencapai sasaran, dia sudah menyelinap ke belakang pohon dan sekali lagi menyusup ke balik pepohonan disisi jalan.
Ditengah kilatan cahaya pedang dan gugurnya dedaunan, dengan kecepatan tinggi Siau Jit melesat ke depan, ujung pedangnya menutul diatas dahan lalu badannya menyelinap ke balik pepohonan itu.
Dengan cepat ia saksikan bayangan punggung si Kelelawar sedang kabur ke balik kegelapan, cepat dia menjejakkan ujung kakinya diatas dahan, seperti burung gereja yang terbang di angkasa, ia kejar kakek itu dengan kecepatan tinggi.
Dalam pada itu Han Seng telah membalikkan badan dan menyusul di belakang Siau Jit.
Saat itulah terdengar Lui Sin meraung keras, dengan tangan kanan mencabut golok emasnya, tangan kiri menggenggam kutungan lengan, dia mengejar dipaling belakang.
Berbareng itu pintu kereta terbuka, Suma Tang-shia munculkan diri, ia tidak ikut mengejar namun hanya mengawasi bayangan punggung Lui Sin yang semakin menjauh.
Perasaan sangsi, ragu terlintas dibalik kelopak matanya.
Apa yang ia sangsikan" Apa yang membuatnya keheranan" Sang Kelelawar meluncur tiada hentinya, hinggap dari satu batang pohon ke batang pohon yang lain, sepasang ujung bajunya yang terpentang lebar membuat orang itu persis seperti seekor Kelelawar yang sedang terbang.
Siau Jit mengejar ketat di belakangnya, ilmu meringankan tubuh yang dia miliki hampir setara, hal ini membuat mereka berdua selalu terpisah satu jarak, walau jarak itu tidak terlampau besar.
Terdengar ujung baju bergema tersampok angin, biarpun tak dapat melihat bayangan tubuhnya, dia yakin tak bakal kehilangan jejak.
Han Seng dan Lui Sin yang menyusul dibelakang Siau Jit lambat laun makin tertinggal jauh.
Bicara tentang ilmu meringankan tubuh, tentu saja mereka berdua masih bukan tandingan Siau Jit, sekalipun begitu, mereka tetap melakukan pengejaran secara ketat.
Sorot mata mereka telah berubah jadi merah membara, seakan ada kobaran api yang membakar dan menyala dengan hebatnya.
Api kemarahan!
!
Tiba tiba suara ujung baju tersampok angin hilang dan berhenti.
Siau Jit sama sekali tidak berhenti, dia masih melanjutkan pengajarannya dengan ketat.
Cahaya pedang telah melindungi seluruh bagian penting ditubuhnya, ia telah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang terjadi, khususnya terhadap datangnya serangan bokongan.
Begitu melesat maju lagi sejauh tiga tombak, diapun menyaksikan kilauan cahaya air, ternyata diluar hutan merupakan sebuah sungai yang luas dengan ombak yang besar, kabut tebal masih menyelimuti permukaan air.
Sebuah sampan kecil berlabuh tiga tombak ditepi pesisir sungai, seseorang telah berdiri tegak diujung sampan itu.
Kelelawar!
Siau Jit menghentikan gerakan tubuhnya persis ditepi pantai pesisir, dia mencoba memeriksa seputar sana, namun tidak dijumpai sampan kedua yang berlabuh.
Terdengar si Kelelawar kembali mengejek sambil tert awa aneh: "Aku bisa terbang, apakah kau bisa juga?
" Siau Jit tertawa dingin.
"Bila terdapat sebuah sampan lagi, akupun dapat terbang!
" "Sayang disini hanya terdapat sebuah sampan yang kuinjak sekarang!
" "Memang sayang sekali" dengus Siau Jit.
Sementara itu Han Seng telah menyusul tiba, sambil melotot gusar teriaknya: "Apakah kau benar-benar si Kelelawar tanpa sayap?
" "Ditanggung asli!
" sahut Kelelawar tertawa.
Baru saja Han Seng akan bertanya lagi, Lui Sin yang telah menyusul tiba telah menghardik pula: "Bukankah kau sudah mampus?
" "Memangnya kau lihat aku sudah mampus?
" si Kelelawar balik bertanya.
"Menurut berita yang beredar dalam dunia persilatan, kau sudah mampus banyak tahun berselang" "Mati karena dikerubuti delapan jago lihay dari Kanglam bukan?
" "Memangnya berita itu hanya berita isapan jempol?
" "Mungkin saja hanya isapan jempol, tapi orang yang telah mati tak mungkin bisa hidup kembali bukan?
" kata si Kelelawar.
"Peduli amat kau sudah mampus atau masih hidup, aku ingin tahu, benarkah lengan ini adalah lengan putriku?
" teriak Lui Sin nyaring.
"Dijamin asli!
" "Darimana kau dapatkan lengan putriku ini?
" "Aaagh, jadi kau belum tahu kalau putrimu sudah terjatuh ke tanganku?
" si Kelelawar balik bertanya.
Lui Sin tertegun, untuk sesaat dia termangu dan tak mampu bicara.
"Rupanya perbuatan ini betul betul merupakan hasil karya busukmu?
" bentak Han Seng pula.
Si Kelelawar menghela napas panjang.
"Karena dia sudah terjatuh ke tanganku, bukankah kelewat gampang bila aku ingin memotong sebuah lengannya?
" "Mengapa kau harus berbuat begitu" Kenapa?
" jerit Lui Sin.
Si Kelelawar garuk garuk rambutnya yang tak gatal, sahutnya berapa saat kemudian: "Mungkin saja secara tiba tiba aku jadi gila,,,,
kau harus tahu, seseorang yang sedang gila, dapat melakukan perbuatan apa pun, bukan begitu?
" Lui Sin makin gusar, bentaknya lagi: "Mengapa kau bunuh piausuku, menculik putriku?
" "Mungkin saja karena putrimu kelewat cantik!
" Merah padam selembar wajah Lui Sin saking gusarnya.
"Sebenarnya apa yang telah kau lakukan terhadap putriku?
" jeritnya.
"Pulang saja ke piaukiok mu, bukankah segala sesuatu akan jadi jelas dengan sendirinya" "Jadi kau telah menghantar dia pulang?
" "Kecuali lengan kanannya, yang lain sudah kuhantar balik" "Kelelawar bajingan!
Kemari kau, mari kita berduel sampai salah satu mampus!
" tantang Lui Sin kalap.
"Ooh, maaf, maaf sekali!
" tampik Kelelawar sambil nyengir dingin.
"Dasar bedebah tak bernyali!
" Kembali si Kelelawar tertawa aneh.
"Coba kalau fajar tidak segera menyingsing, tantanganmu pasti akan kulayani, tapi sekarang mau tak mau aku harus segera terbang pergi" "Terbang ke mana?
" "Alam bakal" begitu selesai bicara, kembali ia melambung ke udara.
Bersamaan dengan gerakan itu, sampan kecil tadi ikut melayang pula ke udara.
Ditengah percikan bunga air, saman berikut si Kelelawar telah melesat ke tengah sungai dengan kecepatan tinggi, menyusup ke balik kabut tebal.
Kemudian lenyap tak berbekas, lenyap ditelan kabut.
Ketika air dan asap merapat kembali, manusia berikut sampan telah hilang tak berbekas.
Siau Jit, Lui Sin maupun Han Seng hanya berdiri tertegun ditepi pesisir, mereka tak mampu berbuat apa apa, lagipula diseputar sana tidak terdapat sampan lain.
Tentu saja mereka pun tak dapat terbang.
Paras muka Lui Sin telah berubah hijau membesi, jeritnya bagai orang kalap: "Ke1elawar,,,,
dengarkan baik baik, biar kau masuk ke neraka atau naik ke bukit golok, akan kucari dirimu hingga ketemu!
" Dari kejauhan terdengar si Kelelawar tertawa aneh sambil menyahut: "Bagus, akan kusambut kedatanganmu dengan senang hati!