Halo!

Kelelawar Tanpa Sayap Chapter 28

Memuat...

" "Mu,,,,

mungkin , , , , , , ,,

mungkin begitu" nada suara Ciu Liong ikut berubah agak aneh.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?

" Sambil tertawa getir Ciu Liong menggeleng.

"Yang pasti jenasah itu tak mungkin bisa balik sendiri bukan" ujar Tang Bu lagi dengan suara berat.

"Tentu saja!

" Ciu Liong memegang goloknya makin kencang.

Kawanan piausu yang mendengar pembicaraan itu tan pa sadar ikut membalikkan badan dan me mperhatikan sekeliling tempat itu.

Suasana di jalan raya amat hening, tak nampak sesosok bayangan manusia pun diseputar sana.

Hembusan angin malam seakan terasa makin dingin, seolah merasuk hingga ke lubuk hati paling dalam dari setiap orang.

Ciu Liong menyapu lagi sekeliling tempat itu sekejap, kemudian mengalihkan kembali pandangan matanya keatas jenasah tanpa kepala itu.

Tengkuk bekas tebasan sudah tak ada noda darah lagi, yang ada hanya warna putih pucat seperti daging bangkai ikan.

Makin dipandang Ciu Liong merasa makin bergidik, dengan susah payah akhirnya berhasil juga ia menenangkan diri, katanya kemudian: "Lebih baik kita angkut pulang lebih dulu jenasah ini" Tang Bu manggut-manggut, sambil menyimpan kembali sepasang kaitannya ia menyahut: "Biar aku saja yang membopong!

" Dia maju berapa langkah dan membopong mayat perempuan tanpa kepala itu, namun belum sampai tangannya bersentuhan, tiba tiba saja ia merasa gemetar keras.

Jangankan orang lain, dia sendiripun tak tahu mengapa bisa timbul perasaan ketakutan dan ngeri semacam itu.

Tapi akhirnya dia berhasil juga merangkul mayat tanpa kepala itu, saat itulah tiba tiba mayat itu bergerak.

Tak ampun Tang Bu menjerit sekeras-kerasnya.

Ketika melihat mayat peremuan tak berkepala itu mulai bergerak, para piausu lain pun ikut tercekat, paras muka mereka berubah hebat.

Menyusul kemudian peristiwa yang terjadi makin seram dan menakutkan!

Mayat itu sama sekali tidak berjalan, pun tidak menerkam kawanan jago, tapi setelah bergerak, bagian tubuhnya yang semula utuh tahu tahu terbelah dan terurai sama sekali.

Kepingan badan yang terurai itu seketika rontoh dan tersebar keatas tanah!

Dua kutungan kaki, sebuah kutungan lengan, semuanya tercerai belai dari balik bajunya yang putih, semua kutungan itu berwarna putih pucat, putih bangkai, tak ada darah, bahkan sedikit rona merah darah pun tak ada.

Tapi yang pasti kutungan tangan kaki itu adalah anggota tubuh manusia, tangan dan kaki seorang perempuan.

Suatu perasaan ngeri dan seram yang tak terlukiskan dengan kata seketika muncul dalam hati semua orang.

Diiringi jeritan kaget yang menggema di empat penjuru, Ciu Liong mundur selangkah dengan wajah berubah.

Sebaliknya Tang Bu masih berdiri ditempat semula, tampaknya tenaga untuk mundur pun sudah tak dimiliki lagi, sekujur tubuhnya gemetar keras.

Anehnya, bahkan dia sendiripun keheranan, ternyata ia tidak sampai muntah karena mual, tidak pula jatuh tak sadarkan diri.

Setelah jeritan kaget mulai sirap, suasana hening kembali mencekam sekeliling tempat itu.

Entah berapa lama kemudian, Ciu Liong baru berbisik: "Perbuatan siapakah yang begitu kejam dan sadis?

" "Dimana pula lengan kanannya?

" sambung Tang Bu.

Dia mencoba berjongkok lalu merogoh ke dalam baju sebelah kanan mayat itu.

Tiada lengan dibalik pakaian itu, ternyata lengan kanan sebatas ketiak mayat itu telah hilang lenyap tak berbekas.

Lalu ke mana larinya lengan itu" Tang Bu mencoba memeriksa sekeliling sana, lengan kanan itu sama sekali tak dijumpai disitu.

Serentak para piausu menyebarkan diri, mulai melakukan pencarian disekeliling tempat itu, namun walau sudah dicari sampai jauh pun, kutungan lengan itu tidak ditemukan juga.

Saat itulah mereka mendengar ada orang berteriak keras: "Siocia , , , , , , , ,,

" suara Lui Ang, ia sudah tersadar kembali, sambil membopong batok kepala Lui Hong, berjalan menuruni undakan batu dengan tertatih-tatih.

Tanpa sadar Tang Bu dan Ciu Liong maju menghampiri, buru buru tanyanya: "Empek Ang, sebenarnya apa yang telah kau lihat?

" "Siocia, aku melihat siocia!

" seru Lui Ang.

Suaranya masih gemetar keras, pada hakekatnya sama sekali tak mirip dengan suaranya.

"Kenapa dengan siocia?

" desak Tang Bu.

"Dia berjalan menuju ke sampingku, mengajakku berbicara, kemudian mencopot batok kepalanya dan diserahkan kepadaku!

" "Empek Ang, kau bicara jujur?

" tegur Ciu Liong dengan wajah hijau membesi.

Tentu saja diapun dapat melihat kalau Lui Ang tidak sedang berbohong, namun toh dia tak tahan untuk mengajukan pertanyaan tersebut.

"Aku tidak bohong" jawab Lui Ang cepat, "atau mungkin mataku sudah agak lamur , , , , ,,

mungkin mataku lamur , , , , ,,

" Bicara sampai disitu tubuhnya gemetar makin kencang, dua deret air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang berkeriput.

Batok kepala itu masih berada dalam bopongannya, tentu diapun tahu kalau pandangan matanya tidak lamur.

Namun sampai mati pun dia tak mau percaya bahwa apa yang dialami sekarang merupakan kenyataan.

Perasaan hatinya kini sakit dan pedih bagai diiris-iris dengan pisau tajam, sedihnya bukan kepalang.

"Empek Ang" Tang Bu ikut menimbrung, "sewaktu melihat siocia datang mendekat, apakah dia muncul dengan dandanan seperti itu?

" Sambil berkata ia menuding mayat tanpa kepala itu.

Mengikuti yang dituding Lui Ang berpaling, tapi begitu menyaksikan mayat tanpa kepala itu, lagi lagi matanya membalik lalu jatuh tak sadarkan diri.

Buru buru Tang Bu memayang badannya dengan wajah pucat bagai kertas, paras muka Ciu Liong pun ikut berubah sangat tak sedap dipandang.

Kendatipun Lui Ang tidak menyangkal maupun mengiakan, namun dari reaksi yang diperlihatkan setelah menyaksikan mayat tanpa kepala itu, dapat disimpulkan bahwa dandanan Lui Hong sewaktu menamakkan diri tadi memang demikian.

Sesosok mayat yang terpengkal jadi berapa bagian bukan saja dapat pulang sendiri, bahkan dapat pula berbicara, peristiwa semacam ini benar benar diluar pemikiran normal bahkan sama sekali tak masuk akal.

Tak heran kalau peristiwa ini terasa menyeramkan, sangat menakutkan!

.

Oo0oo

Fajar hampir menyingsing, kabut tebal menyelimuti permukaan tanah, membuat suasana terasa remang-remang.

Kereta kuda berlarian kencang menelusuri jalan raya, setengah li di luar kota Lok-yang.

Walaupun merasa agak letih, Siau Jit tetap duduk dengan badan tegak lurus, alis matanya selalu berkernyit menandakan ada masalah besar yang sedang dia pikirkan.

Dibelakang kereta mengikuti belasan ekor kuda, diatas pelana kuda terikat sosok mayat yang telah mulai kaku, yang diurusi berapa orang piausu.

Beberapa orang itu tampak sedih dan letih, perasaan berduka bercampur gusar menyelimuti wajah setiap orang.

Semenjak diresmikan, perusahaan ekspedisi Tin-wan piaukiok baru pertama kali ini menderita kerugian dan kematian yang paling parah.

Tentu saja orang yang paling berat perasaan hatinya adalah Lui Sin, ia melarikan kudanya dipaling depan, tubuhnya tampak agak membungkuk, peristiwa yang baru terjadi seolah membuat usianya bertambah tua berapa tahun.

Han Seng mengikuti dibelakang Lui Sin, dia membungkam dalam seribu bahasa, karena dia tak tahu harus berbicara apa.

Perasaan kedua orang itu sangat berat dan murung, tanpa terasa lari kuda pun ikut bertambah lambat.

Mendadak dari hadapan mereka berkumandang suara yang sangat aneh, suara itu muncul dari balik sebuah tikungan jalan.

Lui Sin segera menyadari akan hal itu, tegurnya: "Suara apa itu?

" "Suara orang yang berjalan dengan tongkat" sahut Han Seng cepat.

"Oooh,,,,”

dia tidak melanjutkan perkataannya karena telah melihat orang tersebut.

Seorang kakek beruban.

Kakek itu cukup tua, rambutnya putih beruban, wajahnya penuh keriput, matanya membalik keatas hingga tampak putihnya saja, ternyata seorang kakek buta.

Ditangan kirinya kakek itu memegang sebuah tongkat bambu, tongkat itu digunakan untuk menutul tanah, "Tok,tok, tok,,,,”

selangkah demi selangkah berjalan ke depan.

Ia berjalan langsung menyongsong kedatangan Lui Sin.

"Ooh, seorang kakek buta" ujar Han Seng setelah melirik sekejap.

"Ehmm" Lui Sin segera menarik tali les kudanya.

Mereka sama sekali tak kenal dengan kakek buta itu, tapi seandainya Ciu Kiok berada disitu, dia pasti akan menjerit kaget setelah berjumpa dengan kakek buta ini.

Kakek itu tak lain adalah si Kelelawar!

Kelelawar tanpa sayap!

!

Tentu saja diapun merasakan juga datangnya seseorang, sambil menghentikan langkah kakinya tiba tiba ia menegur: "Loya yang baik hati, tolonglah aku si buta tua" "Orang tua, apa yang kau butuhkan?

" tanya Lui Sin.

"Sebenarnya aku berada dimana sekarang?

" "Jalan raya di kota barat" "Ooh Thian, kenapa aku bisa sampai disini?

" seru si Kelelawar, "Loya yang baik hati, berbuatlah kebaikan, tolong bimbinglah aku si buta agar bisa duduk ditepi jalan" Tanpa curiga Lui Sin melompat turun dari kuda dan berjalan menghampiri.

Han Seng tidak mencegah, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dengan kakek buta itu, lagian diapun menganggap Lui Sin patut melakukan permintaan itu.

Lui Sin berjalan menghampiri kakek buta itu sambil berseru: "Kemaril" sambil berkata ia menjulurkan tangan kirinya.

Bersamaan waktu, si Kelelawar menjulurkan pula tangan kanannya.

Dengan cepat Lui Sin telah menggenggam tangan kanannya, tapi dengan cepat ia merasa hatinya bergidik.

Lengan si Kelelawar pada hakekatnya lebih dingin dari bongkahan es, lebih beku dari salju kutub.

Yang paling mengejutkan dan mengerikan adalah lengan itu ternyata halus dan mulus, sama sekali tak mirip dengan lengan seorang kakek berusia lanjut.

Lengan seorang lelaki tak mungkin sedemikian lembut dan halus.

Tanpa terasa sorot matanya dialihkan keatas lengan itu, kini dia baru melihat dengan jelas kalau lengan tersebut adalah lengan seorang wanita.

Tak kuasa lagi jeritnya: II "Lenganmu ini , , , , , , ,,

"Indah bukan?

" tanya si Kelelawar sambil tertawa.

"Indah!

" jawab Lui Sin tanpa sadar.

Si Kelelawar segera tertawa terkekeh.

"Kalau memang merasa indah, bagaimana kalau kusumbangkan untukmu?

" "Berikan untukku?

Post a Comment