Halo!

Kelelawar Tanpa Sayap Chapter 26

Memuat...

Siau Jit memandang sekejap ke langit langit ruangan lalu memandang pula ke lantai, serunya cepat: "Coba lihat, dilantai terdapat bekas kaki" Ketika semua orang mengalihkan pandangan matanya, benar saja, diatas lantai yang penuh debu tertera dua baris bekas telapak kaki.

"Lihat, ada bekas kaki laki, ada pula bekas kaki perempuan" Suma Tang-shia menambahkan.

"Yang perempuan pasti Hong-ji, tapi siapa yang lelaki itu?

" tanya Lui Sin.

"Tidak mungkin bekas kaki saudara Siau" jawab Han Seng.

"Jite, atas dasar apa kau berkata begitu yakin?

" "Toako, apakah kau tidak perhatikan kalau bekas kaki yang ditinggalkan saudara Siau sama sekali berbeda dengan bekas kaki lelaki pada umumnya" Kini Lui Sin baru memperhatikan, katanya kemudian setelah menghela napas: "Untung saja muncul Ong Bu-shia yang membuat keon aran, coba kalau tidak, pertarungan habis habisan antara kita bertiga pasti akan berakhir tragis dan konyol, bikin tertawa orang lain saja" "Urusan sudah lewat, lebih baik tak usah cianpwee pikirkan lagi" sela Siau Jit.

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya: "Lebih baik kita lakukan pengejaran dengan mengikuti bekas telapak kaki itu" Tanpa banyak bicara lagi Lui Sin merebut sebuah lamion dari tangan seorang piausu kemudian melakukan pengejaran dipaling depan.

Bekas telapak kaki itu langsung menuju ke ruang belakang kuil.

Rombongan jago itupun menelusuri serambi panjang, mengikuti bekas telapak kaki yang tertinggal.

Disepanjang lantai serambi tertera dua baris telapak kaki, sementara diatas tiang belandar penuh bergantungan Kelelawar dalam jumlah banyak.

Dimana cahaya lentera memancar lewat, kawanan Kelelawar itu beterbangan karena kaget.

Kali ini, meski Han Seng tidak bersuara lagi, namun perasaan curiga dan keheranan yang mencekam hatinya makin menebal, begitu pula dengan Lui Sin, ia tampak semakin cemas bercampur panik.

Siau Jit sendiripun tampak amat serius.

Setelah kejadian berkembang jadi begini, kendatipun semuanya membuktikan kalau peristiwa itu tak ada sangkut paut dengan dirinya, namun bukan berarti dia dapat cuci tangan dengan begitu saja.

Pada dasarnya lelaki ini memang memiliki rasa ingin tahu yang sangat kuat, sedang masalah yang dihadapi sekarang tampak begitu rahasia dan penuh misterius, hal ini semakin membangkitkan rasa ingin tahunya.

Tak bisa disangkal lagi sasaran utama dari sang pembunuh adalah Lui Hong, dari penuturan Lui Sin serta Han Seng dapat diketahui bahwa Lui Hong bertemperamen tinggi, untuk membunuhnya jelas lebih gampang daripada menculiknya.

Sudah jelas orang ini tidak ingin Lui Hong mengalami gangguan apapun, itulah sebabnya ia mencatut namanya dengan memancing Lui Hong meninggalkan rombongan pengawalan barang.

Sedang tujuan utamanya membunuh orang tak lain karena dia ingin menghilangkan saksi dan bukti.

Dalam kenyataan Ciu Kiok hanya terluka dan tidak sampai mati, tak disangkal kejadian ini merupakan satu kemukjijatan, justru karena itu pula mereka baru dapat mendatangi kuil kuno Thian-liong-ku-sat.

Kalau dilihat dari bekas telapak kaki yang tertinggal, kemungkinan besar Lui Hong telah bertemu dengan orang itu lalu mengikuti orang tersebut menuju ke ruang belakang.

Itu berarti mereka berdua saling mengenal, kalau tidak meski bekas telapak kaki terdapat dua pasang, seharusnya mereka berjalan saling mengintil.

Dalam posisi seperti ini, semestinya nona Lui sudah seharusnya merasakan gelagat yang tidak beres.

Tak tahan Siau Jit menghela napas panjang.

Selama ini Suma Tang-shia hanya membungkam diri, seakan sedang memikirkan sesuatu, setelah mendengar helaan napas Siau Jit, ia baru berkata: "Siau kecil, tampaknya nona Lui sangat kesemsem dengan dirimu" "Toaci, jangan bergurau" seru Siau Jit tertawa getir.

"Memang salah perkataanku" Coba berganti orang lain yang mengundangnya datang kesitu, biar mau datangpun belum tentu ia datang seorang diri, seandainya sendirianpun, setelah tiba disini seharusnya dia langsung menemukan hal hal yang mencurigakan dan segera mundur dari tempat ini" "Mungkin saja ia sudah tak sempat berbuat begitu" "Kalau dibilang satu pertarungan sengit telah terjadi, mana mungkin bekas telapak kaki yang tertinggal tampak begitu teratur dan rapi?

" "Ehm, benar juga perkataanmu itu" "Menurut pendapatku, kemungkinan besar lantaran dia melihat sederet bekas telapak kaki itu dan mengira itu bekas kakimu, menyangka kau telah menantinya di ruang belakang kuil, maka dia pun menuju ke belakang mengikuti bekas kaki yang dijumpai" "Kemungkinan besar memang begitu" Sementara pembicaraan berlangsung, sampailah mereka diujung serambi, didepan sana merupakan sebuah halaman luas dengan rumput ilalang dan semak yang amat lebat.

Selewat halaman itu merupakan bangunan kuil yang telah roboh tinggal puing berserakan.

Disitulah letak ruang belakang kuil kuno Thian-liong-ku-sat, tempat dimana Lui Hong terjebak dan masuk perangkap.

Sebelum meninggalkan tempat itu, Kelelawar tanpa sayap telah merobohkan seluruh ruangan kuil itu hingga ambruk dan hancur, itu berarti semua bekas pertarungan, semua petunjuk yang tertinggal ikut tertutup dibalik puing bangunan yang roboh.

Dipandang dari sudut mana pun, tempat itu tak lebih hanya berupa sebuah bangunan roboh, siapa pun tak bakal curiga kalau dibawah puing bangunan terdapat ruang rahasia bawah tanah yang lebih menyeramkan daripada neraka jahanam.

Lui Sin menghentikan langkahnya diujung serambi, gumamnya: "Bekas kaki terhenti sampai disini, selanjutnya mereka pasti melewati halaman dengan semak lebat itu , , , , , ,,

" "Tapi sebenarnya dia hendak ke mana?

" tanya Han Seng.

"Diseberang sana merupakan sebuah bangunan kuil yang sudah roboh, tak ada alasan dia pergi ke sana" "Rumput ilalang dan semak yang tumbuh dihalaman sini jauh lebih tinggi dan lebat daripada didepan sana" ujar Suma Tang-shia, "andaikata orang yang mengundangnya bersembunyi dibalik semak lalu membokongnya secara tiba tiba, hal ini bisa dia lakukan dengan mudah sekali" Mendengar itu Lui Sin segera berkerut kening.

"Maksud nona, orang itu turun tangan disini lalu membawa hong-ji pergi dari tempat ini?

" tanya Han Seng.

Suma Tang-shia mengangguk.

"Tempat ini jelas bukan tempat persembunyian, ini berarti tak mungkin ada orang yang tinggal disini" katanya.

"Itulah sebabnya lapisan debu ditempat ini amat tebal" Siau Jit menambahkan.

Han Seng menghela napas panjang.

II "Aaai, bicara soal kuil kuno, hanya disinilah tempatnya keluhnya murung.

Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, tak tahan kembali dia menghela napas panjang.

Tiba tiba Lui Sin melompat turun ke tengah halaman, teriaknya keras keras: "Hong-ji , , , , , , , , , ,,

" Ditengah keheningan malam, suara teriakan itu kedengaran nyaring sekali dan bergaung sampai ke tempat yang jauh, namun tiada jawaban.

Lui Sin tidak berteriak untuk kedua kalinya, karena teriakan pertama sudah lebih dari cukup, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri termangu tanpa bergerak.

Sepasang tangannya mulai gemetar, menyusul kemudian sekujur badannya ikut gemetar.

Lampion yang berada dalam genggamannya tampak bergetar keras, cahaya pucat yang memancar diwajahnya membiaskan raut muka yang putih tanpa rona darah.

Cepat Han Seng menyusul ke sampingnya sambil menghibur: "Toako, Hong-ji panjang usia dan selalu dilindungi Thian, aku rasa meski dia terjebak ditangan orang jahat, nyawanya tak bakal terancam" Lui Sin tertawa sedih.

"Dalam keadaan seperti ini, apa gunanya kau berusaha menghiburku?

" Han Seng terbungkam, tak sanggup berkata.

Kembali Lui Sin melanjutkan: "Mati hidup ada ditangan Thian, seandainya Hong-ji kehilangan nyawa pun aku tak bisa berbuat apa apa" Dalam keadaan seperti ini ternyata dia masih mampu tertawa, katanya lagi sambil menepuk bahu Han Seng: "Toako mu sudah puluhan tahun hidup bermandikan darah, mati hidup sudah bukan ganjalan lagi bagiku, saudaraku, kau tak usah kelewat kuatir" Han Seng manggut-manggut.

"Andaikata Hong-ji benar benar menjumpai mara bahaya, kita berdua segera pergi mencari pembunuh itu dan membuat perhitungan" janjinya.

"Memang seharusnya begitu" Lui Sin tertawa tergelak, nada suaranya sangat menyedihkan.

"Mari kita periksa dibagian luar saja" ajak Suma Tang-shia tiba tiba, "siapa tahu didepan sana kita akan temukan petunjuk yang berharga" Sambil berpegangan tangan Siau Jit, dia berjalan masuk ke balik semak belukar.

Sekali lagi Lui Sin dan Han Seng bergerak maju, dibawah cahaya rembulan yang pucat, rombongan itu bergerak ditengah semak bagaikan sukma sukma gentayangan.

Saat itu malam semakin kelam, suasana makin gelap mencekam.

Sesaat lagi fajar akan menyingsing, inilah saat paling gelap sepanjang hari.

Oo0oo

Waktu itu, kegelapan malam mencekam seluruh kota Lokyang.

Saat seperti ini, kebanyakan orang sudah terlelap tidur, meski Lokyang merupakan kota ramai, namun cahaya lentera yang menyinari sudut kota saat ini amat minim dan redup.

Tentu saja terkecuali suasana diseputar perusahaan ekspedisi Tin-wan piaukiok.

Cahaya lentera menyinari seluruh pelosok bangunan perusahaan membuat suasana disitu terang benderang, kawanan piausu, pembantu, pelayan berjalan mondar mandir melaksanakan tugas masing masing, suasana cukup ramai.

Ada yang membereskan jenasah rekannya, ada yang melakukan patroli sambil bersiap siaga, ada pula yang menyampaikan kabar duka kepada para sanak anggota piausu yang tewas ditangan Ong Bu-shia serta Kelelawar tanpa sayap hari itu.

Meski begitu, sama sekali tak nampak kekacauan disana, didikan serta disiplin tinggi yang diterapkan Lui Sin serta Han Seng dihari hari biasa membuat mereka bersikap dan bertindak teratur.

Pintu gerbang perusahaan terbuka lebar, dua tiga orang piausu meronda diseputar sana, sementara si pengurus rumah tangga Lui Ang berjaga seorang diri disitu.

Dia menyaksikan Lui Hong tumbuh dewasa, selama ini dia pun selalu menganggap dirinya sebagai kakek gadis itu, karenanya sama seperti Lui Sin sekalian, dia amat menguatirkan keselamatan gadis itu.

Bila sampai malam nanti belum juga ada kabar berita tentang Lui Hong, mungkin sulit baginya untuk tidur nyenyak.

Dengan perasaan tak tenang ia berjalan mondar mandir diseputar pintu gerbang, berulang kali ia melongok ke arah ujung jalan, berharap bisa melihat Lui Sin mengajak pulang Lui Hong dalam keadaan selamat tanpa kekurangan sesuatu apa pun.

Malam semakin larut, udara terasa makin dingin, hembusan angin mengibarkan rambutnya yang telah beruban, dibawah sinar lentera, kerutan diwajahnya tampak lebih nyata dan jelas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment