Padahal jarak mereka hany terpaut dua kaki saja .
"Jangan bersuara!" bentak Hay kongkong garang, "Kalau tidak menurut apa kataku, kau akan mati! jawab perlahan-lahan, siapa kau?" "Aku.. .
aku...." Lui Cu menjadi gugup karena takut .
Thay-kam tua itu mengulurkan tangannya meraba kepala nona cilik itu, Dia juga mengusap wajahnya .
"Kau dayang keraton, bukan?" "Be.. .
nar," sahut si nona cilik .
"Sekarang sudah tengah malam, apa yang kau lakukan di sini?" suaranya perlahan, tapi sinis sekali .
"A.. .
ku,., sedang men.. .
cari udara segar...." Hay kongkong tersenyum, namun senyumannya itu benar-benar menggidikkan bagi siapa pun yang melihatnya, rembulan menyembunyikan dirinya sebagian sehingga cuaca tampak kelam .
"Dengan siapa kau di sini?" tanya Hay kongkong kembali .
Dia menoleh, telinganya dipasang, Dia dapat mendengar deru nafas seseorang yang lain .
Tadi, karena terkejut, nafas Lui Cu memburu, itulah sebabnya Hay kongkong bisa mengetahui bahwa di sana ada orang, sedangkan Siau Po berdiri di samping nona cilik itu, tentu saja suara nafasnya juga tidak luput dari telinga thay-kam tua yang tajam itu .
Mendengar pertanyaan Hay kongkong, Siau Po terkejut setengah mati, Dia ingin memberi isyarat kepada si nona, tapi dia tidak berani bersuara atau menggerakkan kaki tangannya karena takut ketahuan Untung Lui Cu juga cerdik sekali, dia dapat menduga isi hati Siau Po dari sinar matanya .
"Ti.. .
tidak..." sahutnya cepat .
"Di mana Hong thayhou sekarang?" tanya Hay kongkong kembali "Antar aku menemuinya!" "Kong.,, kong.. .
kau,., aku ha.. .
rap kau jangan ber.. .
kata apa-apa kepada ibu suri, lain kali.. .
aku tidak berani lagi," kata Lui Cu panik .
Nona cilik ini menyangka Hay kongkong sudah memergoki perbuatannya dan akan diadukan kepada Hong thayhou .
"Kau tidak perlu memohon apa-apa kepadaku .
Kalau kau tidak antar aku sekarang, aku akan membunuhmu!" Hay kongkong mencekal tangan nona itu erat-erat, sebelah tangannya lagi mencekik leher dayang itu .
Wajah si nona cilik jadi merah padam karena nafasnya sesak .
Siau Po juga terkejut setengah mati, Hampir saja dia mengeluarkan seruan .
Untung saja dia dapat mengendalikan perasaannya .
"Lekas jawab!" bentak Hay kongkong, Cekikannya pada leher si nona dikendurkan .
"A.. .
ku akan mengajakmu Ma.. .
ri," sahut Lui Cu lirih .
Terpaksa dayang cilik itu mengajak Hay kongkong masuk ke dalam pendopo yang mana merupakan tempat tinggal ibu suri, Tetapi si nona sempat mengedipkan matanya kepada Siau Po agar dia segera meninggalkan tempat itu .
"Thayhou berada di kamar tidur," katanya perlahan .
Hay kongkong mengikutinya, tapi tangan kirinya tetap mencekal nona itu .
Otak Siau Po bekerja keras, Dia mengkhawatirkan Lui Cu, juga mencemaskan ibu suri, Diam-diam dia berpikir dalam hati .
"Pasti si kura-kura tua ini akan mengadukan samaranku kepada Hong thayhou, dia juga akan menceritakan kematian Siau Kui cu dan kebutaan matanya yang disebabkan olehku, Dia akan meminta kepada Hong thayhou untuk memerintahkan para pengawal menangkap aku .
Bahaya sekali, Tapi, mengapa ia tidak mengadu kepada Sri Baginda saja" Apakah karena tahu aku bersahabat baik dengan Raja dan kaisar Kong Hi akan membela aku" Apa yang harus kulakukan sekarang" Ah! Aku harus segera melarikan diri, Tapi, mana mungkin" Pintu istana sudah dikunci, lagipula di depan banyak pengawal sebentar lagi Hong thayhou pasti akan menitahkan mereka menangkapku, Biarpun seandainya punya sayap, rasanya sulit untuk meloloskan diri dari tempat ini..." Ketika Siau Po masih bingung untuk mengambil keputusan Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita .
"Ah! Hay tayhu! Akhirnya kau datang juga mencariku!" Siau Po terkesiap, Suara itu sinis dan menggidikkan hati orang yang mendengarnya, namun yang paling membuat dia terkejut justru karena dia mengenalinya sebagai suara Hong thayhou, Rasanya dia ingin sekali mengambil langkah seribu meninggalkan tempat itu .
Tepat pada saat itu juga, terdengarlah suara Hay kongkong .
"Benar! Hambamu ini memang Hay tayhu, Hambamu datang kemari untuk memberi hormat kepada kau orang tua!" Nada suara thay-kam tua itu tak kalah sinis dan menyeramkan .
Tampaknya dia mengandung niat yang kurang baik .
Siau Po keheranan, diam-diam dia berpikir dalam hati .
"Eh, siapa kiranya si kura-kura tua ini dalam anggapannya" Mengapa bicaranya begitu kurang ajar kepada thayhou" Nada suaranya juga tidak enak didengar .
Mungkin thayhou juga tidak menyukainya, Eh, bukankah aku sudah tidak mungkin melarikan diri dari tempat ini" Mengapa aku tidak coba menentangnya saja" Bukankah aku baru mendapat pujian dari Sri Baginda dan Hong thayhou karena jasaku yang besar" Apa artinya membunuh seorang Siau Kui cu dan membutakan matanya thay-kam tua itu" Aku rasa itu bukan kesalahan besar .
Kalau perlu, mungkin saudara So Ngo Ta bisa membantuku .
Tapi kalau aku kabur, kemudian si kura-kura tua ini mengoceh sembarangan siapa yang berani menentang atau menyangkalnya" Pasti kesalahanku akan dibesar-besarkan olehnya!" pikir Siau Po dalam hatinya .
Otaknya terus bekerja, "Bagaimana kalau thay-hou menanyakan alasanku membunuh Siau Kui cu" Apa yang harus kujawab" Aku.. .
akan mengatakan.. .
aku akan mengatakan.. .
oh ya, aku akan mengatakan bahwa aku mendengar Siau Kui cu dan si kura-kura tua ini memburuk-burukkan thayhou dan Sri Baginda .
Karena mendengar kata-kata yang kotor, sehingga aku tidak dapat menahan diri, lalu kubunuh Siau Kui cu dan kubutakan mata si kura-kura tua .
Bagaimana kalau aku ditanya apa saja kata-kata kotor yang dilontarkannya" Ah, aku toh dapat mengarangnya, Kalau berkelahi dengan kura-kura tua itu, aku memang bukan tandingannya, Tapi kalau adu bicara, hm.. .
dia harus belajar sepuluh tahun lagi untuk menandingi aku .
Lihat saja nanti!" Dengan berpikiran demikian, perasaan Siau Po jadi agak Iega .
Dia juga menjadi berani, Dibatalkannya niat untuk meninggalkan tempat itu, karena resikonya toh terlalu besar .
Namun masih ada satu hal yang menjadi pemikirannya, yakni kepandaian Hay kongkong yang tinggi sekali, "Dalam satu gebrakan saja dia sanggup membunuh diriku, sebaiknya aku mencari posisi yang tersembunyi dengan demikian bila dia menyerang aku, dia tidak akan berhasil mencapai maksud hatinya itu," demikian pikir Siau Po .
Terdengar suara ibu suri yang berkata .
"Kau ingin memberi selamat kepadaku" Mengapa tidak datang di siang hari, malah di tengah malam begini, Aturan dari mana itu?" "Aku mempunyai sebuah rahasia yang ingin kuceritakan kepada thayhou, siang hari terlalu banyak orang dan banyak telinga, kalau sampai rahasia ini diketahui tentu tidak baik," sahut si thay-kam tua .
"Nah, ini dia!" kata Siau Po dalam hati, "Sekarang dia pasti ingin membeberkan kesalahanku Biar aku dengarkan dulu apa yang akan diocehkannya, kalau sudah setengah nanti, baru aku menukasnya, tentu belum terlambat untuk menyangkalnya!" Siau Po menoleh ke kanan kiri, dia ingin mencari sebuah tempat yang aman dan leluasa untuk mendengarkan percakapan itu, Kemudian dia melihat sebuah gunung buatan di samping kolam ikan emas, dia segera menuju ke tempat itu yang dianggapnya cukup bagus .
"Kalau si kura-kura tua menyerang, aku akan loncat ke dalam koIam, Lalu berenang ke seberang dan menerjang masuk ke dalam kamar thayhou, Meskipun kura-kura tua itu mempunyai sembilan nyawa, tentu dia tidak berani menyerbu masuk." "Hm!" Terdengar thayhou mendengus dingin "Rahasia apakah yang ingin kau sampaikan" Katakan saja sekarang!" "Apakah di sini tidak ada orang lainnya?" tanya Hay kongkong, "Apa yang ingin hamba sampaikan adalah sebuah rahasia besar!" "Apakah kau ingin masuk ke dalam untuk memeriksanya" Bukankah ilmu silatmu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali" Apakah kau tidak bisa mendengar bahwa di sini tidak ada orang lainnya?" tantang thayhou .
"Mana berani hamba masuk ke dalam kamar thayhou" Bolehkah thayhou keluar ke sini, sebab ada rahasia besar yang ingin hamba utarakan." "Huh! Semakin lama nyalimu semakin besar saja! siapakah yang kau andalkan sehingga sikapmu demikian kurang ajar?" tegur thayhou .
Mendengar teguran ibu suri, hati Siau Po merasa puas .
"Memang kura-kura tua ini sudah keterlaluan, beraninya bersikap demikian tidak sopan terhadap Hong thayhou!" batinnya .
Sementara itu, terdengar sahutan Hay kong-kong .
"Hambamu mana berani...." "Hm!" suara Hong thayhou semakin dingin, "Kau.. .
kau memang sudah lama tidak memandang sebelah mata terhadapku! Malam ini, tanpa terduga-duga kau datang kemari, sebetulnya niat busuk apa yang terkandung dalam hatimu?" Semakin puas hati Siau Po mendengarnya, "Oh, dasar kura-kura tua .
Ketemu batunya kau kali ini! Rasanya aku tidak perlu campur tangan lagi, Thay-hou sendiri bisa memakimu sepuas hati!" Terdengar suara Hay kongkong yang tetap tenang .
"Kalau thayhou memang tidak mau mendengarnya, tidak apa-apa .
sebetulnya aku mempunyai berita tentang orang itu .
Nah, aku pergi saja!" Orang tua itu berlagak seakan ingin meninggalkan tempat itu dengan membalikkan tubuhnya .
Sedangkan Siau Po yang mengira bahwa si thay-kam tua hendak berlalu, belum apaapa sudah kegirangan "Ah, kau mau pergi" Pergilah! Lebih cepat lebih baik!"
Namun saat itu juga terdengar suara Hong thayhou yang agak gugup .
"Kau mempunyai berita apa?" "Berita dari gunung Ngo-tay san!" "Dari Ngo-tay san?" tanya ibu suri menegaskan suaranya agak bergetar "Apa maksudmu?" Tiba-tiba Hay kongkong menggerakkan tangannya dan terkulailah tubuh Lui Cu .
Siau Po yang melihat itu terkejut setengah mati "Aih, si kura-kura membunuh nona yang manis itu .
Pasti thayhou akan marah sekali Dengan demikian ucapannya yang menyalahkan aku, tentu tidak akan dipercaya lagi!" pikir si bocah dalam hati .
"Siapa yang kau lukai?" tanya thayhou gugup .
"Salah seorang dayangmu," sahut si thay-kam tua .