"kongkong, kau memang lihay sekali!" Thay kam tua itu menarik nafas panjang, "Bukan, bukan begitu, Untuk melatih ilmu Tay-cu Taypi cian-yap Jiu, orang juga harus melatih pernafasannya, ini yang dinamakan latihan tenaga dalam .
Latihan itu dapat menahan racun dalam tubuhmu, Kalau kau tidak melatih ilmu itu, mungkin sejak empat lima bulan yang lalu, kau sudah dilanda sakit yang tidak tertahankan .
Sampai satu tahun kemudian, kau tidak dapat menahan nyeri itu lagi sehingga kau akan membenturkan kepalamu ke dinding atau menggigit tanganmu sendiri!" Berkata sampai di sini, dia berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya yang mulai memburu, "Yang harus disayangkan justru aku, penyakit ini membuat aku semakin lama semakin tidak berdaya, itulah sebabnya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi...." Perasaan Siau Po menjadi agak lega mendengar kata-katanya .
Di samping itu dia juga memikirkan untuk mencari akal guna meloloskan diri dari cengkeraman thay-kam tua yang licik ini .
"Biarlah, meskipun ilmunya tinggi sekali, tapi toh matanya sudah buta, Kalau aku menyembunyikan diri, mana mungkin dia bisa mencari aku?" pikirnya dalam hati .
Tiba-tiba sebuah ingatan yang bagus melintas di benak Siau Po .
"Baru saja aku mendapatkan sebilah belati mustika yang tajamnya luar biasa, Kenapa aku tidak mencobanya saja?" Membawa pikiran ini, dia segera berkata, "kongkong, kiranya sejak semula kau sudah tahu bahwa aku bukan Siau Kui cu yang asli, itukah sebabnya kau ingin menyiksa aku dengan cara ini" Ha.. .
ha.. .
ha.. .
ha...! sayangnya kau juga telah kena dikelabui olehku, Ha,., ha.. .
ha.. .
ha.,.!" Siau Po tertawa terbahak-bahak .
Sembari tertawa, Siau Po menundukkan tubuhnya dan mencabut belati yang terselip di kaos kakinya, Dia melakukannya dengan hati-hati .
Dan dia yakin, meskipun timbul sedikit suara, tapi suara tawanya itu akan menutupinya .
"Dalam urusan apa aku dikelabui olehmu?" Sengaja Siau Po mengarang-ngarang cerita agar perhatian thay-kam tua itu teralihkan .
"Sejak semula aku sudah tahu bahwa sup itu beracun, Aku langsung membicarakannya dengan Siau Hian cu...." "Apa katanya?" "Dia mengatakan bahwa kau ingin mencelakai aku!" Hay kongkong tidak dapat menutupi rasa terkejutnya .
"Oh! Jadi Sri Baginda menduga demikian?" "Kenapa tidak" Cuma waktu itu aku masih belum tahu bahwa Siau Hiancu adalah Sri Baginda .
Dia menganjurkan aku agar pura-pura tidak tahu demi menjaga diri terhadap hal yang tidak diinginkan .
Dia menyuruh aku setiap hari minum sup itu kemudian dimuntahkan kembali .
Kau kan tidak melihatnya, bukan?" Sembari berkata begitu, pisau belatinya telah terhunus, bagian yang tajamnya di arahkan ke Hay kongkong .
Diam-diam dia berpikir dalam hati .
"Aku harus menikamnya dengan tepat Kalau dia tidak langsung mati, tentu aku yang akan dibunuhnya!" Dalam usia tiga atau empat belas tahun, Siau Po sudah bisa menggunakan otaknya mencari akal dan pemecahan bagaimana harus berbuat otaknya cerdas, apa pun dapat dipelajarinya dengan cepat .
Hay kongkong setengah percaya setengah tidak dengan ucapan Siau Po itu .
Terdengar dia tertawa dingin .
"Kalau kau tidak makan sup itu, bagaimana kau bisa merasa nyeri di perutmu barusan?" Siau Po menarik nafas panjang .
"Masaiahnya begini, meskipun aku sudah muntahkan sup itu kembali, tetapi aku tidak sempat langsung mencuci mulut Karena itu, sedikit banyak racun itu menempel dilidahku, Lama-lama toh akan membawa pengaruh juga di tubuhku ini." Jarak Siau Po dengan thay-kam tua itu tinggal setengah tindak .
Dia tinggal menunggu kesempatan yang baik untuk menyerangnya tepat di tengah jantung .
"Bagus!" kata Hay kongkong .
"Racunku itu tidak ada obatnya, Kau makan sedikit reaksinya memang menjadi lambat, namun penderitaan yang akan kau rasakan juga semakin hebat!" Siau Po tertawa terbahak-bahak .
Tenaga dalamnya dikerahkan ke tangan kanan, tiba-tiba saja dia menikam ke jantung thay-kam tua itu! Hay kongkong tercekat hatinya, namun dia memang lihay sekali, begitu merasakan adanya serangkum angin dingin yang menyambar, dia langsung mempunyai dugaan buruk .
Dengan gerakan spontan, tubuhnya maju ke depan, tangannya menangkis sekaligus mengirimkan serangan .
Tangan kiri menangkis, tangan kanan menyerang .
Buk! Blam! Terdengar suara keras yang saling susul, dalam sekali gerak, kedua tangannya sudah memperlihatkan hasil .
Tubuh Siau Po terpental ke belakang dan menghantam daun jendela sehingga jebol seketika kemudian melayang keluar dan jatuh di atas tanah dengan menerbitkan suara keras, Siau Po merasa lengan dan seluruh tubuhnya nyeri bukan main .
Di pihak lain, Hay kongkong juga merasa terkesiap sebab telapak tangannya terasa bukan main nyerinya, Ternyata keempat jari tangannya telah terkutung akibat tangkisannya pada belati mustika Siau Po tadi .
Bahkan kalau reaksinya tadi kurang cepat, pasti saat ini dadanya sudah tertikam, namun sekarang hanya kulit luarnya saja yang tersayat .
Seandainya belati yang digunakan Siau Po bukan barang langka, ke empat jari tangannya sendiri juga tidak perlu terkutung karena tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali .
Terdengar Hay kongkong tertawa dingin, suaranya itu sungguh menggidikkan hati, Dalam dugaannya, mungkin Siau Po tidak dapat bertahan lebih lama lagi karena lukanya yang kelewat parah .
"Sungguh kematian yang terlalu enak baginya!" Thay-kam tua itu mendumel sendiri, Setelah itu dia mengoyak kain sprei untuk membalut luka di tangannya .
Setelah selesai, dia menggumam lagi seorang diri .
"Entah senjata apa yang digunakan bocah sialan itu .
Mengapa bisa begitu tajam" Eh, jangan-jangan yang digunakannya adalah senjata mustika!" Dengan membawa pikiran itu dia segera keluar dari jendela untuk mencari bocah itu .
Tapi, meskipun sudah meraba kesana kemari, dia tetap tidak berhasil menemukan Siau Po, apalagi senjata mustikanya .
Hay kongkong sempat bingung .
Karena meskipun matanya buta, dia dapat menduga dengan tepat di mana jatuhnya tubuh Siau Po tadi .
Dia juga masih hapal di luar kepala mana letak taman dan setiap pepohonan yang ada di sana .
Tapi meskipun sampai kewalahan dia mencarinya, tetap saja dia tidak menemukan apa-apa .
"Mungkinkah ada orang yang langsung menyingkirkan mayatnya?" tanyanya dalam hati, "Siapa orang itu dan kemana mayatnya disingkirkan" Mengapa aku tidak berhasil menemukannya?" Si thay-kam tua tetap yakin bahwa pukulannya sudah berhasil membunuh Siau Po .
Padahal, kenyataannya Siau Po memang belum mati, Dia hanya merasakan nyeri di seluruh tubuhnya, dadanya sesak .
Memang ketika terpanting keluar, dia sendiri mempunyai dugaan bahwa jiwanya akan melayang, Hampir saja ia putus asa .
Karena apabila hal itu terjadi, dendamnya karena dicelakai thay-kam tua itu pasti tidak bisa dibalas lagi .
Namun ketika menyadari dirinya tidak mati, cepat-cepat dia menggulingkan tubuhnya menjauhi tempat jatuhnya tadi, Hal ini karena mendadak ia ingat ada kemungkinan Hay kongkong tidak yakin akan kematiannya dan akan keluar untuk memastikannya .
Mengingat bahaya yang dihadapinya, dia segera menggulingkan tubuhnya, kemudian merayap beberapa tindak, namun dia roboh kembali, Dan kebetulan tanah tempatnya roboh itu cukup landai, sehingga dia bergulingan ke bawah .
Sampai sejauh belasan tombak, gerakan tubuhnya baru terhenti Akhirnya dia dapat berdiri juga walaupun seluruh tubuhnya masih terasa ngilu .
Untungnya belati mustika yang didapatkan dari rumah Go Pay masih tergenggam erat di tangannya .
"Sayang si tua bangka itu tidak sampai mampus di ujung belatiku ini .
Dasar nasibnya lagi terang!" gerutunya dalam hati .
Diam-diam dia juga bersyukur bahwa dirinya sendiri masih hidup, setelah menyelipkan kembali belatinya ke dalam kaos kaki, Siau Po berpikir kembali .
"Rahasiaku sudah terbongkar Aku tidak bisa tinggal lagi dengan kura-kura tua itu .
Berbahaya sekali jiwaku bisa diincarnya setiap saat .
Sayang uangku masih belum diberikan oleh So toako .
Aih Sudahlah, anggap saja aku sudah menghamburkannya dalam satu malam sehingga ludes! Tapi, bagaimana dengan dayang cilik itu?" Tiba-tiba ingatannya kembali pada Lui Cu .
"Pasti dia sedang menunggu aku! Hampir saja Siau Po menjerit kecewa ketika mendapatkan manisan buahnya sudah hancur semua." Aku harus menemuinya dan memperlihatkan manisan ini kepadanya, Biar bagaimana, manisan ini masih harum dan rasanya masih bisa dimakan...." Membawa pikiran demikian, Siau Po cepat-cepat melangkah keluar sesampainya di depan pintu pendopo, lagi-lagi nyaris dia berteriak saking kesal Ternyata pintu itu terkunci Mana mungkin dia bisa masuk ke dalam" Siau Po berdiri termangu-mangu .
pikirannya bingung .
Dia merasa gundah, Beberapa saat kemudian tiba-tiba pintu itu terbuka, lalu menyembullah sebuah kepala .
Ketika Siau Po memperhatikan dengan seksama, hatinya menjadi senang, Dia mengenali orang itu sebagai si dayang cilik yang mengadakan perjanjian dengannya .
Lui Cu sedang menggapai kepadanya sambil tersenyum manis, Tanpa berpikir panjang lagi Siau Po segera menghambur ke depan dan menyelinap masuk lewat celah pintu yang tersingkap .
"Aku khawatir kau tidak dapat masuk, Karena itu aku menunggumu di sini," kata si dayang cilik yang bibirnya tetap mengembangkan senyuman menawan "Sudah cukup lama juga aku menunggumu." "Maafkan keterlambatanku," sahut Siau Po .
"Di tengah jalan aku bertemu seekor kura-kura tua yang baunya bukan main .
Batoknya keras sekali Aku ditabraknya sehingga jatuh terguling." Lui Cu jadi tertegun mendengar keterangannya .
"Apakah di taman ini ada kura-kura yang begitu besar" Aih! Aku, kok belum pernah melihatnya, Lalu, apakah sakit sekali tubuhmu sekarang?" Siau Po sedang menghampiri nona cilik itu, ketika dia bertanya, Tiba-tiba saja dadanya terasa nyeri kembali, untuk sejenak dia sudah melupakannya tadi karena terlalu gembira melihat si nona membukakan pintu untuknya, dia sampai mengeluarkan suara erangan .
Lui Cu dapat melihat keadaan bocah itu, Cepat-cepat dia menghampiri Siau Po dan membimbingnya agar tidak sampai terguling .
"Masih sakit?" tanyanya lembut .
Baru saja Siau Po hendak menjawab pertanyaannya, tetapi gerakan bibirnya terhenti karena saat itu juga dia melihat sesosok bayangan yang berkelebat .
Bayangan itu besar dan gerakannya cepat, sehingga mirip dengan burung garuda, namun ketika bayangan itu berdiam diri, Siau Po dapat melihat tegas bahwa itu merupakan seseorang yang tubuhnya kurus dan membungkuk .
Malah Siau Po langsung mengenalinya sebagai Hay kongkong, si thay-kam tua .
jantungnya berdebardebar dengan kencang .
Lui Cu juga sudah melihat orang itu .
sementara itu, Hay kongkong menatap ke arah mereka dengan pandangan mata yang garang, sayangnya dia suda buta, Kalau tidak, tentu dia bisa mengenali Siau Po dan dayang cilik itu .