Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 32

Memuat...

"Saudara, apakah kau menganggap jumlah itu terlalu sedikit?" "Bu.. .

bukan begitu," sahut Siau Po gugup, "Hanya.. .

saja aku masih kebingungan." "Begini, saudara, Dari jumlah itu kita ambil satu juta tail yang kemudian kita bagi dua .

Dengan demikian, satu orang mendapatkan lima ratus tail, Tapi kalau kau menganggapnya masih kurang, kita bisa atur lagi." Wajah Siau Po menjadi pucat pasi seketika, Ketika di Yang-ciu, apabila dia mendapatkan uang sebanyak lima atau enam tail saja, dia sudah merasa dirinya tibatiba menjadi orang terkaya di dunia, Tapi sekarang dia justru ditawarkan harta senilai lima ratus tail .

Bayangkan! Siau Po hampir tidak percaya pada pendengarannya sendiri .

Sebetulnya Siau Po masih terlalu muda untuk memahami tujuan So Ngo-tu yang sebenarnya .

Menteri itu ingin memenuhi kantongnya sendiri, tapi dia khawatir Siau Po akan mengadukannya kepada Sri Baginda .

Karena itu, dia menawarkan "bocah itu untuk mengambil apa saja yang ia sukai dan diberi bagian setengah dari jumlah harta yang akan disulapnya .

Dengan demikian, Siau Po tentu tidak berani berkata apa-apa kepada kaisar Kong Hi .

"Eh, saudara, ada apa denganmu" Kau tahu aku akan menuruti apa pun kehendakmu," kata So Ngo-tu heran .

Siau Po menghembuskan nafas lega .

"Toako, aku toh sudah mengatakan bahwa terserah kau saja, Kau ingin membagi aku setengah dari jumlah itu, rasanya terlalu banyak...." "Tidak, tidak terlalu banyak, Begini saja, kalau adik merasa jumlahnya terlalu banyak, Bagaimana kalau kita kurangi sejumlah seratus ribu tail untuk dibagikan rata kepada orang-orangku ini .

Jadi kita masing-masing mendapat empat ratus lima puluh ribu tail." "lde bagus, Tapi sayangnya aku tidak tahu bagaimana cara membaginya," sahut Siau Po .

"Mudah, serahkan saja pada toakomu ini .

Maka kubagi sama rata dan mengatakan kau yang menghadiahkannya, Dengan demikian, mereka akan tunduk dan menurut apa pun yang kau katakan .

Dalam urusan apa pun, kau bisa mengandalkan mereka...." "Baiklah kalau begitu." "Sekarang saudaraku, tentunya repot bagimu untuk membawa barang-barang ini pulang ke kamarmu Ada baiknya sebagian kita jadikan uang kontan dulu, sehingga jumlahnya tidak menyolok dan bisa kau bawa kemana-mana .

Tentu tidak ada orang yang menyangka bahwa kita ini sebenarnya kaya raya." Siau Po tersenyum, Dia merasa cara ini memang bagus sekali Namun dia masih ragu dengan semuanya ini .

Benarkah aku mempunyai harta sebanyak empat ratus lima puluh ribu tail" Uang begitu banyak, bagaimana cara memakainya" Kalau hanya untuk makan enak, tidak memerlukan uang sebanyak itu, Lebih baik aku kembali ke Yangciu saja dan membuka sepuluh rumah pelesiran di sana, ibu tidak usah bekerja lagi .

Dialah yang akan mengelola tempat itu menjadi besar dan menjadi saingan utama Li Cu-wan .

Hm! Aku ingin sekali melihat tampang-tampang orang yang menghinaku dulu .

Nama-ku tentu akan menjadi terkenal kemana-mana, Sungguh suatu kenyamanan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata .

So Ngo-tu melihat Siau Po berdiri terpaku, wajahnya termangu-mangu .

Dia berusaha menduga apa yang sedang dipikirkan bocah itu .

"Saudara, Sri Baginda dan Hong thayhou menunggu kitab ini .

sebaiknya kita antarkan secepatnya .

Mengenai harta Go Pay, nanti akan ku urus." Siau Po tersentak dari lamunannya .

Dia menganggukkan kepalanya, So Ngo-tu segera membungkus rapi kedua jilid kitab Si Cap Ji Cing-keng .

Dengan masing-masing membawa satu jilid, mereka kembali ke istana, Begitu bertemu dengan raja, keduanya segera memberikan laporan sekalian menyerahkan kedua jilid kitab itu .

Kaisar Kong Hi senang sekali, setelah itu dia mengajak Siau Po menyertainya membawa kitab itu ke kamar ibu suri, So Ngo-tu tidak masuk ke dalam .

Dia mengundurkan diri dan mengemukakan alasan bahwa dia akan membereskan harta benda Go Pay .

Ketika berjalan masuk, Raja menanyakan berapa jumlah harta Go Pay, Siau Po menjawab satu juta lebih seperti yang dikatakan So Ngo-tu .

Dia mengatakan demikian untuk berjaga-jaga apabila di kemudian hari hal ini terbongkar oleh kaisar Kui Kong Hi, Dia bisa menimpakan kesalahan kepada saudara angkatnya itu .

"Huh!" Kong Hi mendengus dingin, "Telur busuk itu, begitu banyak dia memeras rakyat, Coba bayangkan nasib rakyat jelata yang diperasnya!" "Kau tidak tahu hampir sebagian dari jumlah sebenarnya telah dimanipulasikan oleh So Ngo-tu dan dibagi ramai-ramai!" kata Siau Po dalam hati-nya .

Dia juga menertawakan kaisar yang ternyata begitu mudah dikelabui .

Sejenak kemudian mereka sudah sampai di kamar thayhou, Raja segera menyerahkan kedua jilid kitab tersebut sambil menjelaskan bahwa Siau Kui cu dan So Ngo-tu yang menemukannya di kediaman Go Pay .

"Siau Kui cu, pekerjaanmu bagus sekali!" puji Hong thayhou, Dia langsung menyambut kedua jilid kitab itu .

wajahnya berseri-seri .

Siau Po menjatuhkan diri berlutut dan menyembah Dia mengatakan bahwa semuanya berkat keberuntungan ibu suri sendiri .

Di samping ibu suri ada seorang dayang kecil, permaisuri berkata kepadanya .

"Lui Cu, ajaklah Siau Kui cu ke belakang, Dan berikan manisan buah untuknya." Dayang itu berusia sekitar tiga atau empat belas tahun, wajahnya manis dan menawan, Dia tersenyum sambil berkata, "Baik!" Siau Po langsung mengucapkan terima kasih kepada Hong thayhou .

"Siau Kui cu," kata Kong Hi .

"Setelah menikmati manisan buah, kau boleh langsung kembali ke kamarmu, Aku ingin berdiam di sini bersama thayhou, Kau tidak perlu menunggu lagi." Siau Po mengiakan, kemudian mengikuti Lui Cu .

Mereka menuju sebuah dapur kecil yang letaknya di bagian dalam .

Nona cilik itu membuka sebuah lemari di mana di dalamnya terdapat berpuluh macam manisan buah .

Ada juga beberapa macam kue .

Sambil tersenyum dia berkata kepada Siau Po .

"Kau bernama Siau Kui cu, karena itu kau harus makan dulu manisan Kui hoa siongci .

Dia mengeluarkan sebuah dus yang berisi manisan Kui-hoa campur Siong-ci .

Baunya harum sekali .

Siau Po tertawa .

"Cici yang baik, kau juga makanlah bersama." "Thayhou menghadiahkannya untukmu, bukan untukku, Kami yang menjadi pelayan, mana boleh mencuri makanan?" katanya terus-terang .

"Kalau kita makan secara diam-diam, tidak ada orang yang mengetahuinya, bukan?" Wajah si nona menjadi merah jengah, Dia menggelengkan kepalanya .

"Aku tidak bisa makan!" "Kalau tidak, begini saja, aku akan menunggu sampai kau selesai melayani thayhou, manisan ini aku bungkus dan nanti kita makan bersama-sama," kata Siau Po .

"Lebih baik kau makan sekarang saja .

Atau kalau memang kau ingin membungkusnya, boleh juga, Kau bisa nikmati di kamarmu, Tapi jangan kau tunggu aku, sebab selesai melayani thayhou, waktunya pasti sudah tengah malam," sahut Lui Cu malu-malu .

"Memangnya kenapa kalau tengah malam .

Malah bagus karena tidak ada yang tahu" Bukan" Cici katakan, di mana kau akan menunggu aku?" Melihat sikap Siau Kui cu yang demikian serius, Hati Lui Cu ikut tertarik .

Di antara beberapa dayang ibu suri, Usianya memang paling muda, wajahnya cantik dan manis, sayangnya dia tidak begitu akrab dengan kawan-kawannya dan tidak pernah bisa terbuka seperti terhadap Siau Kui cu sekarang .

Sikap bocah ini menarik simpatinya, Dia memperhatikannya lekat-lekat .

"Bagaimana kalau di taman luar?" tanya Siau Po .

Gadis cilik itu ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk juga, Bukan kepalang senangnya hati Siau Po .

"Bagus, kita sudah mengadakan perjanjian sekarang kau ambilkan manisannya, pilih saja yang kau sukai," kata Siau Po kembali .

Lui Cu tersenyum .

"Kan bukan aku yang makan, Kok, aku yang disuruh pilih" Kau suka makan manisan apa?" "Apa pun yang kau suka, aku pasti suka juga," sahut Siau Po .

Nada suaranya manis sekali sehingga hati Lui Cu jadi berbunga-bunga .

Gadis cilik itu segera memilihkan beberapa macam manisan kemudian dusnya diserahkan kepada Siau Po .

"Nanti kentungan ketiga, aku menunggumu diluar pendopo, jangan lupa!" kata Siau Po .

Lui Cu menganggukkan kepalanya, "Kau harus berhati-hati!" pesannya .

"Kau juga harus hati-hati!" kata Siau Po yang segera meninggalkan tempat itu .

Kalau ditilik dari usianya, Siau Po belum mengenal kata asmara, Dia masih seorang bocah cilik yang gemar bermain-main .

Baginya, penyamaran sebagai Siau Kui cu adalah sebuah permainan yang menyenangkan .

Apalagi sampai sekian jauh, tidak ada seorang pun yang mencurigainya, namun kegembiraannya agaknya berkurang ketika mengetahui bahwa teman berkelahinya Siau Hian cu adalah sang Raja .

Di samping itu, kedudukannya tiba-tiba saja meningkat banyak, tapi dia tidak merasa puas, bukan itu tujuannya menyamar sebagai Siau Kui cu di istana ini, itulah sebabnya dia merasa bersemangat kembali mendapat teman baru seperti Lui Cu .

Padahal dia sadar sedang bermain api, bila ketahuan, jiwanya bisa celaka, namun dia tetap nekad melakukannya karena hal ini membangkitkan kegembiraannya .

Sesampainya di kamar, Hay kongkong menanyakan apa saja yang dilakukannya hari ini .

Siau Po menceritakan bahwa dia dititahkan Sri Baginda untuk ikut dengan So Ngo-tu menggeledah rumah Go Pay, tujuannya untuk menyita harta benda orang itu .

Tentu saja dia tidak menceritakan soal harta yang disulap, serta pisau belati dan baju tipis yang diambilnya, Dia hanya mengatakan .

"Kongkong, thayhou menyuruh aku mengambil kitab Si Cap Ji Cin-keng .

Ternyata di rumah Go Pay, aku menemukan dua jilid kitab tersebut, persis dengan yang ada di samping meja thayhou...." Tampaknya Hay kongkong terkejut setengah mati mendengar keterangan Karena dia sampai terlonjak bangun .

"Di dalam gedung Go Pay, ada dua jilid kitab yang sama?" "Benar!" sahut Siau Po menegaskan "Thayhou dan Sri Baginda yang menitahkan aku mengambil kedua kitab itu, Kalau tidak, sudah kubawa kemari untuk kongkong." Wajah Hay kongkong berubah menjadi kelam .

"Hm! Hm! Bagus sekali!" Nada suaranya agak menyeramkan .

Dapat dipastikan bahwa hati Hay kongkong tidak senang mendengar berita itu .

Post a Comment