So Ngo-tu langsung mengambil hio yang mana kemudian disulutnya dan diajaknya Siau Po menjatuhkan diri berlutut bersama-sama .
"Murid bernama So Ngo-tu, hari ini murid bersama...." "Kui Siau-Po!" kata Siau Po menyebut namanya, tapi dia menggunakan she Kui .
"Benar-benar edan! Aku sampai lupa menanyakan nama lengkapmu!" Seru So Ngotu sambit menepuk kepalanya sendiri, "Siau Po... .
Nama yang bagus, kau memang mustika di antara manusia!" Siau Po artinya mustika kecil, Dan saat itu, ketika mendengar ucapan So Ngo-tu, Siau Po justru berkata dalam hatinya .
"Hm, itu katamu, Di Yang-ciu, orang justru memanggilku si kura-kura kecil!" So Ngo-tu melanjutkan sumpahnya .
"Murid, So Ngo-tu .
Hari ini, murid mengangkat saudara dengan Kui Siau Po, untuk selanjutnya kami akan hidup bahagia dan sengsara bersama-sama, Siapa tidak jujur atau tu!us, biarlah dia diku-tuk, untuk selamanya tidak bisa maju dan akan mendapat celaka di akhir nanti." Selesai bersumpah, dia menyembah tiga kali, kemudian berkata kepada Siau Po .
"Nah, sekarang giliranmu!"
Siau Po menurut, dia juga memasang hio dan menjatuhkan diri berlutut serta menyembah Namun sebelum mengucapkan sumpahnya, diam-diam dia berkata dalam hati .
"Aku lebih muda, tak sudi aku mati bersama-sama denganmu Lagipula namaku bukan Kui Siau Po!" Setelah itu baru dia bersumpah "Murid Kui Siau Po, thay-kam dalam istana dan sehari-harinya dipanggil Siau Kui cu, hari ini mengangkat saudara dengan So Ngo-tu tayjin .
Kami ingin hidup bahagia dan sengsara bersama-sama, Kami tidak terlahir dalam hari, bulan dan tahun yang sama, tapi ingin mati bersama dalam hari, bulan serta tahun yang sama, jikalau Siau Kui cu tidak jujur dan setia, biarlah Siau Kui cu terkutuk Tidak akan berumur panjang dan selamanya tidak mendapat rejeki." Selesai bersumpah, dia menyembah lagi tiga kali, otaknya memang cerdik Dia terus menyahut nama Siau Kui cu, dengan demikian yang bersumpah itu bukan dia, tapi Siau Kui cu adanya .
Setelah itu, keduanya saling memberi hormat dengan berlutut dan menganggukkan kepala sebanyak delapan kali .
"Saudara Kui, sekarang kita telah mengangkat saudara, kita harus bergaul lebih daripada saudara kandung sendiri, Lain kali, bila kau memerlukan bantuan, silahkan katakan saja terus-terang .
jangan sungkan-sungkan." Siau Po tertawa .
"Hal itu tidak usah dibicarakan lagi, Sejak dilahirkan, aku memang tidak tahu apa arti sungkan." Kembali So Ngo-tu tersenyum .
Tentang pengangkatan saudara ini, ada baiknya jangan diketahui pihak ketiga agar tidak menimbulkan kesirikan orang lain, menurut peraturan kerajaan, kami dari menteri pihak luar tidak boleh bergaul akrab dengan pembesar dalam istana, Karena itu, sebaiknya urusan ini diketahui kita berdua saja." "Benar!" sahut Siau Po menyetujui pendapat itu, "Saudara Kui, di hadapan umum aku tetap memanggilmu Kui kongkong, dan kau tetap menyebutku So tayjin, ini demi kebaikan kita masing-masing, Beberapa hari lagi, aku akan mengundangmu ke rumahku untuk minum arak sambil menonton Dengan demikian kita dua bersaudara dapat merasakan saat-saat menyenangkan bersamasama." Siau Po senang sekali, Dia tidak suka minum arak, tapi nonton wayang merupakan kegemaran utamanya, Dia langsung bertepuk tangan sambil tertawa gembira .
"Bagus! Aku memang suka nonton .
Kapan?" "Kalau kau memang suka nonton, aku bisa mengundangmu setiap waktu .
sebaiknya kau yang tentukan sendiri kapan waktu senggangmu." "Bagaimana kalau besok?" "Baik! Besok pun jadi .
Siang-siang aku akan menunggumu di depan pintu," sahut So Ngo-tu .
"Tapi bagaimana dengan aku" Apakah seorang thay-kam dapat keluar masuk istana dengan leluasa?" "Mengapa tidak" Asal kau sudah selesai melayani Sri Baginda, tidak ada pekerjaan lagi yang harus kau lakukan .
Kau kan Sieceng thay-kam dan kau juga sangat disayang oleh Sri Baginda, Siapa yang berani melarangmu?" Siau Po tersenyum Dalam hati dia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan istana dan tidak akan kembali lagi, Tetapi kalau dipikir-pikir lagi sekarang, dia tidak berniat meninggalkan istana itu cepat-cepat karena rupanya dia dapat keluar masuk dengan bebas .
"Baiklah, demikian saja kita tetapkan, Kita adalah saudara, senang sama-sama, nonton pun harus sama-sama," katanya kemudian .
So Ngo-tu segera menarik tangannya .
"Nah, mari kita kembali ke kamar Go Pay!" Siau Po menurut .
Di kamar Go Pay, So Ngo-tu mulai memeriksa daftar barangbarang dan meneliti benda-benda lainnya yang dikeluarkan dari dalam gudang rahasia .
"Saudara, apa yang kau inginkan?" tanyanya kepada Siau Po .
"Aku tidak tahu barang apa yang paling berharga, Toako, kau saja yang pilihkan buatku." "Baik!" sahut So Ngo-tu yang segera mengambil dua rangkaian mutiara dan sebuah kuda-kudaan dari batu kumala, "Kedua barang ini sangat berharga, kau menyukainya bukan?" "Aku sih suka saja," kata Siau Po .
Dia langsung menerima benda-benda yang disodorkan itu kemudian dimasukkan ke dalam saku pakaiannya .
Setelah itu, Siau Po iseng-iseng menjamah barang-barang lainnya, tangannya secara sembarangan mengambil sebilah pisau belati yang panjangnya kurang lebih lima dim .
sarungnya terbuat dari kulit ikan .
Beratnya tidak berbeda dengan belati lainnya, Tanpa disengaja dia mencabut belati itu, tiba-tiba dia merasa ada serangkum hawa dingin yang menerpa .
Siau Po mengeluarkan seruan tertahan, Dia segera memperhatikan belati itu dengan seksama, Anehnya, tubuh belati itu berwarna hitam pekat dan tidak mengkilap, malah warnanya agak kusam .
Dia menduga belati itu tentunya sejenis senjata pusaka, sebab Go Pay menyimpannya di gudang rahasia .
Namun bentuknya tidak jauh dengan belati biasa, dengan ayal-ayalan dia melemparkan pisau itu, tetapi dia dikejutkan suara yang keras .
Rupanya pisau itu menancap di ujung meja sampai sebatas gagangnya .
"Ah!" So Ngo-tu juga mengeluarkan seruan terkejut .
Keduanya mengawasi dengan mata terbelalak, lebih-lebih Siau Po, karena dia tahu bahwa dia melemparkan sembarangan tetapi ternyata sanggup menembus meja itu .
"Aneh! Belati itu tajam sekali, sehingga meja itu seperti sepotong tahu saja!" Cepat-cepat Siau Po mengambil belati itu dan memperhatikannya dengan teliti .
"Pisau belati ini aneh sekali!" Pengalaman So Ngo-tu sudah banyak sekali, suatu ingatan melintas di benaknya .
"Mari kita coba lagi!" katanya sambil mengambil sebatang golok Go Pay yang tergantung di dinding kamar, Ketika dia menghunusnya, golok itu mengeluarkan cahaya berkilauan yang menandakan tajamnya yang luar biasa .
Dia merentangkan golok itu kemudian berkata kepada Siau Po .
"Saudara, coba kau tebas golok ini dengan belati itu!" Siau Po menurut .
Dia mengayunkan belati ditangannya untuk menebas go!ok .
Keduanya pun jadi tertegun seketika .
Karena kenyataannya golok itu terkutung menjadi dua bagian begitu saja oleh tebasan belati tersebut .
"Bagus!" seru mereka serentak Golok itu terkutung seperti kayu yang dibelah, tidak terdengar suara dentingan logam sebagaimana biasanya, Hal ini membuktikan bahwa senjata belati itu memang benda mustika yang langka .
"Saudaraku, selamat!" kata So Ngo-tu kepada Siau Po .
Bibirnya ramai dengan senyuman, "Beruntung sekali kau mendapatkan senjata pusaka itu, Menurut pendapatku di antara semua benda-benda milik Go Pay, mungkin belati ini yang paling berharga!" Tentu Siau Po senang sekali .
"Toako, kalau kau menginginkannya, ambillah!" So Ngo-tu segera mengibaskan tangannya .
"Tidak! Kakakmu ini pembesar militer, sekarang menjadi pembesar sipil, perang sudah selesai, kami tidak membutuhkan senjata tajam lagi, sebaiknya yang simpan kau saja belati itu." Siau Po menganggukkan kepalanya, Dia segera menyelipkan pisau itu di pinggangnya .
"Saudara, ukuran belati itu pendek sekali .
sebaiknya kau selipkan dari kaos kakimu saja .
Lagi-pula menyelipkan di pinggang mudah terlihat, nanti timbul banyak pertanyaan." Memang ada peraturan dalam istana kaisar Ceng, kalau bukan siwi tingkat satu, siapa pun dilarang membawa senjata tajam .
Siau Po segera mengiakan dan menyelipkan belatinya dalam kaos kaki .
Dia sudah mendapatkan pisau pusaka itu, hal lain tidak menarik perhatiannya lagi, Dia terus memikirkan pisau itu sementara yang lainnya bekerja .
Di keluarkannya lagi pisau belati itu dan dicobanya untuk menebas tombak yang ada di sudut ruangan .
Ternyata tombak itu juga terkutung jadi dua bagian, Setelah itu dia seperti ketagihan, apa saja yang ditemuinya, dibabat seenaknya .
Terakhir dia malah menggurat gambar seekor kura-kura di atas meja .
Setelah selesai, jatuhlah bagian yang di guratnya ke atas lantai dengan bentuk seekor kurakura .
Sementara itu, So Ngo-tu yang asyik memeriksa barang-barang, melihat sepotong pakaian yang tipis sekali, Dia merasa heran karena pakaian itu mengeluarkan cahaya seperti perak .
Dia segera mengambil pakaian itu dan mengangkatnya, terasa ringan seperti kapas, pakaian itu bukan terbuat dari bahan sutera, entah dari bahan apa, pokoknya halus sekali, "Saudaraku, kemarilah!" So Ngo-tu memanggil Siau Po .
Dia ingin mengambil hati adik angkatnya itu, Karena itu, barang bagus yang ditemukannya, langsung dia serahkan kepada Siau Po agar hati bocah itu senang .
"Adik, coba kau pakai baju ini, rasanya pasti hangat sekali, buka dulu baju luarmu dan pakai ini di bagian dalam." "Apakah itu juga baju pusaka" Apakah mengandung keajaiban?" tanya Siau Po .
"Entahlah, kau pakai saja," sahut So Ngo-tu .
"Baju ini kebesaran...." "Tidak apa-apa .
Baju ini kan tipis dan lemas, longgar sedikit tidak menjadi masalah." Siau Po menerima baju itu .
Memang ringan sekali .
Dia teringat ketika di Yang-ciu, ibunya juga membuatkan sehelai baju hangat untuknya, tetapi sebelum selesai, dia sudah pergi .
"Ada baiknya aku pakai baju ini, Nanti kalau pulang ke Yang-ciu, aku akan memperlihatkannya kepada ibu," pikirnya dalam hati .
Siau Po langsung membuka baju luarnya dan mengenakan baju tipis itu .
Baju itu memang kebesaran tetapi empuk dan hangat .
Kemudian So Ngo-tu meminta daftar yang telah dicatat orang-orangnya .
Dia mendapatkan jumlah yang besar sekali, Untuk beberapa saat dia sampai terkesima karenanya .
"Sungguh luar biasa kekayaan Go Pay ini, Harta bendanya melebihi dugaanku." So Ngo-tu memberi isyarat dengan gerakan tangan agar orang-orangnya mengundurkan diri .
Setelah itu baru dia berkata lagi kepada Siau Po .
"Saudara, ada pepatah bangsa Han yang mengatakan "merantau sejauh ribuan li untuk memperkaya diri." sekarang kebetulan kita mendapat tugas yang menyenangkan Kita ambil saja sebagian harta ini, nanti akan kuubah daftarnya .
Bagaimana menurut pendapatmu?" "Aku tidak mengerti hal semacam ini," sahut Siau Po .
"Urusan ini aku serahkan kepada toako saja." So Ngo-tu tertawa .
"Jumlah kekayaan Go Pay seluruhnya ada 2.353.481 taiI .
Bagaimana kalau kita main sulap sedikit dengan merubah angka dua di depan menjadi satu" Setuju?" Siau Po terperanjat .
"Maksud toako...?" Dia bingung, sebab jumlah yang hendak dikurangkan So Ngo-tu mencapai satu juta tail, Kemudian jumlah itu akan dibagi rata dengannya .
So Ngo-tu tertawa lebar .