Meskipun demikian, dalam hati mereka sebetulnya timbul juga kecurigaan .
Kekuataan Go Pay luar biasa, lagipula dia juga tokoh nomor satu bangsa Boan Ciu, Bagaimana dia dapat dikalahkan dengan mudah oleh beberapa orang bocah cilik" Di balik semua ini pasti ada apa-apanya, pikir kedua menteri itu .
Tetapi mereka tidak berani meminta keterangan dari raja .
Bahkan mereka sudah merasa senang karena satu saingan sudah tergeser .
Terdengar Kiat Si berkata .
"Perlu Baginda ketahui bahwa Go Pay mempunyai banyak antek di dalam istana, kalau perlu kita harus sapu bersih seluruh antek-anteknya .
Kita harus mencegah apabila mereka berbalik pikiran, Hamba rasa sebaiknya Ngo tayjin tetap di sini saja untuk melindungi Baginda, jangan sampai berpisah satu tombak pun darinya .
Hamba sendiri akan menurunkan titah untuk menawan seluruh antek Go Pay." "Baik!" kata Raja menganggukkan kepalanya .
Kong Cin-ong memberi hormat kemudian mengundurkan diri .
sementara itu So Ngo Ta memperhatikan Siau Kui cu sambil tersenyum .
"Saudara cilik, hari ini kau berjasa telah menyelamatkan nyawa Sri Baginda, Kau sungguh hebat!" Siau Po merendah .
"Semua ini berkat rejekinya Sri Baginda yang besar, Kami yang menjadi budak-budak, mana bisa berbuat jasa apa-apa!" Kong Hi senang mendengar Siau Po tidak mengharap apa-apa, terutama dia tidak menceritakan perihal berkelahinya melawan Go Pay .
"Sayang sekali dia hanya seorang thay-kam sehingga tidak bisa dihadiahkan kedudukan yang tinggi .
Baiknya ku hadiahkan jumlah uang yang besar saja," pikir Kong Hi dalam hatinya .
Sementara itu, Kong Cin-ong bekerja dengan tangkas .
Dalam sekejapan saja seluruh antek Go Pay sudah dibekuknya, Dia kembali dengan membawa sejumlah menteri dan pangeran yang semuanya meminta maaf atas keteledoran mereka dan juga mengucapkan selamat kepada Sri Baginda yang terlepas dari marabahaya .
Akhirnya Raja dipersilahkan memilih pemimpin siwi yang baru dan sekaligus beberapa siwi lainnya untuk menggantikan antek-antek Go Pay yang tertangkap .
"Kalian pasti sudah letih sekali," kata Raja, sementara itu, para pangeran dan menteri itu menjadi bergidik melihat mayat para thay-kam yang berserakan dalam keadaan mengenaskan .
Bahkan ada beberapa orang yang mencaci maki Go Pay karena kekejamannya itu .
Setelah itu Heng Pou Siang Si segera membawa Go Pay untuk dipenjarakan, sedangkan para pangeran dan menteri masih menghibur Raja dengan beberapa patah kata sebelum mengundurkan diri ke tempat masing-masing .
Kong Cin-ong juga menyampaikan pesan Raja agar tidak menyiarkan maksud jahat Go Pay supaya tidak membuat terkejut permaisuri atau ibu suri .
Cukup disalahkan karena kekurangajarannya dan tidak becus dalam pemerintahan saja .
Para pangeran itu memuji kebijaksanaan kaisar Kong Hi mengingat kejahatan Go Pay itu besar sekali, padahal selama Kong Hi memerintah, meskipun belum terlalu lama, tetapi juga bukan baru beberapa bulan, tampuk pemerintahan yang sebenarnya diatur oleh Go Pay, jadi raja cilik itu hanya mendengarkan apa yang dikatakan menterinya itu, sekarang melihat kebijaksanaannya, otomatis mereka merasa kagum dan tidak henti-hentinya memuji .
Kaisar Kong Hi sendiri merasa puas atas apa yang dilakukannya, rasanya baru sekarang dia dapat mencicipi bagaimana menjadi raja yang sesungguhnya .
Diam-diam dia melirik kepada Siau Kui cu .
Didapatinya bocah itu hanya berdiri diam di pojok, Kaisar Kong Hi berkata dalam hati: "Aih! jasa bocah ini benar-benar sulit dibalas!" Begitu para pangeran dan menteri-menteri sudah keluar semua, So Ngo Ta berkata kepada kaisar Kong Hi .
"Sri Baginda kamar tulis ini harus dibersihkan Keadaannya benar-benar tidak enak dilihat Sebaiknya Sri Bagihda kembali dulu ke kamar sendiri untuk beristirahat!" Kong Hi mengangguk mengiakan Dia lantas mengundurkan diri .
Kong Cin-ong dan So Ngo Ta mengantarnya sampai di luar kamar Ketika raja hendak berlalu, Siau Kui cu masih berdiri di sudut dengan termangu-mangu .
Karena tidak mendapat perintah apa-apa, dia menjadi bingung apa yang harus dilakukannya .
Raja segera mengangguk kepadanya dan berkata, "Mari ikut aku!" Siau Po sudah menduga bahwa kamar raja itu pasti luar biasa indahnya, dia memang ingin sekali melihat kamar raja, tetapi begitu masuk ke dalam, dia jadi melongo .
Sebab kamar raja itu demikian sederhana sehingga hampir tidak berbeda dengan kamar rakyat umumnya .
Hanya bantal dan spreinya yang terbuat dari sutera bersulaman indah .
Kong Cin-ong dan So Ngo Ta tidak ikut masuk ke dalam kamar .
Mereka hanya mengantarkan dan kemudian mengundurkan diri .
Sebab kamar raja tidak boleh dimasuki orang lain kecuali para thay-kam, dayang-dayang, ratu serta selir-selir .
Sehabis minum ramuan Som Tung yang disajikan dayangnya, Kong Hi berkata kepada Siau Kui cu palsu .
"Siau Kui cu, mari kau ikut aku menghadap Hong thayhou!" Kaisar Kong Hi belum menikah, kamarnya terpisah tidak jauh dari kamar Hong thayhou, Begitu sampai di sana, Kong Hi langsung masuk ke dalam, Siau Po disuruh nya menunggu di luar .
Berdiri menunggu di depan seorang diri, pikiran Siau Kui cu alias Siau Po melayanglayang .
"llmu Taycu Taypi Cian Yap-jiu telah aku kuasai demikian pula dengan ilmu Pat Kua Yu-Ciong ciang milik raja, Untuk apa aku terus menyamar sebagai thay-kam di sini" Setiap hari aku harus berlutut memberi hormat dan munduk-munduk kepada Siau Hian cu .
Hal ini membuat pikiranku jadi mumet, Go Pay telah berhasil dibekuk, Siau Hian cu tidak memerlukan bantuanku lagi sebaiknya besok aku lari saja dari istana ini dan tidak perlu kembali lagi! pikirnya dalam hati .
Selagi pikirannya bekerja, seorang thay-kam tua berjalan keluar dan menghampirinya .
"Saudara Kui, Hong thayhou menitahkan saudara masuk ke dalam untuk menyampaikan hormat kepada beliau," katanya sembari tersenyum .
Mendengar keterangannya, lagi-lagi hati Siau Po mengeluh .
"Celaka dua belas! Kembali aku harus bertekuk lutut dan mengangguk-angguk sehingga dahiku sakit karena membentur lantai terus menerus .
Dan kau, Hong thayhou, mengapa bukan kau saja yang menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk terhadap aku Wi Siau-po?" Meskipun dia berpikir demikian, tetapi dengan sikap hormat dia mengiakan .
Kemudian dia mengiringi thay-kam itu masuk ke dalam kamar .
Mereka melewati dua buah ruangan, sampai di depan sebuah pintu, thay-kam tua tadi menyingkapkan tirai penyekat sambil berkata .
"Lapor kepada thayhou, Siau Kui cu telah datang menghadapi Selesai berkata, dia memberi isyarat kepada Siau Po .
Siau Po mengerti .
Dia melangkah masuk, Di bagian dalam masih ada selapis tirai lainnya yang bertaburkan batu manikam, sinarnya berkilauan .
Sungguh indah, Tirai itu disingkap oleh seorang dayang .
Sambil menunduk, Siau Po melangkahkan kakinya .
Diam-diam dia melirik ke atas, dilihatnya seorang wanita cantik berusia kurang lebih tiga puluh enam tahun duduk di sebuah kursi .
Dia langsung menduga bahwa wanita itulah Hong thayhou atau ibu suri .
Tanpa menunda waktu lagi, dia segera menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat .
Hong thayhou tersenyum sembari mengangguk kecil .
"Bangunlah!" perintahnya, Ketika Siau Po bangkit, dia berkata kembali "Sri Baginda mengatakan bahwa hari ini kau telah membuat jasa besar dengan membantu menawan Go Pay...." "Harap thayhou ketahui bahwa hamba hanya tahu bagaimana bersetia kepada Sri Baginda dan melindunginya .
Apa pun yang Sri Baginda titahkan, hamba hanya menjalankan .
Usia hamba masih muda, karena itu pengetahuan hamba pun dangkal sekali" Belum ada satu tahun Siau Po menjadi thay-kam gadungan dalam istana, tetapi karena otaknya cerdas, dengan cepat ia dapat mengerti adat istiadat yang berlaku di tempat itu .
Selama dia bermain judi, kawan-kawannya sering bercerita tentang pengalaman mereka dan dia mendengarkan dengan seksama .
Dia tahu bahwa raja maupun ibu suri tidak suka pada orang yang mengagul-agulkan jasanya .
Semakin besar pahalanya, orang itu harus bersikap pura-pura bodoh agar tidak timbul masalah yang tidak diinginkan jangan sekali-kali bersikap congkak dan angkuh, pasti usianya tidak bakal panjang .
Apalagi orang yang tidak disukai oleh junjungannya .
Ternyata ibu suri senang sekali dengan sikap Siau Po .
Terdengar dia berkata kembali .
"Kau masih muda, tetapi kau sudah tahu aturan dan setia, Kegagahanmu melebihi Go Pay yang telah menjadi siau-po .
Aih, anak! Hadiah apakah yang pantas kita berikan kepadanya?" tanya ibu suri kepada Sri Baginda .
Kong Hi menjawab dengan hormat .
"Silahkan thayhou saja yang memutuskannya." Hong thayhou berpikir sejenak, terdengar dia seperti menggumam seorang diri .
"Di dalam Siang-sian tong, apakah tingkatanmu?" tanyanya kepada Siau Po .
"Ah, sudahlah, sekarang aku akan mengangkat kau menjadi thay-kam tingkat enam dan kepala thay-kam, Kau harus selalu mendampingi Sri Baginda!" Mendengar kata-kata ibu suri, Siau Po ngedumel dalam hati .