Tanyanya dengan heran.
"Ha-ha-ha, ternyata ingatanmu kuat sekali, Puteri! Benar, Siang In adalah muridku."
Hati Syanti Dewi girang sekali. Beberapa tahun yang lalu ketika dia dikejar-kejar oleh Raja Tambolon dan anak buahnya, dia pernah ditolong dan disela-matkan oleh kakek yang pandai ilmu sihir ini dan dari percakapannya dengan Siang In dia tahu bahwa kakek ini adalah guru Siang In (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali). Maka tentu saja dia menjadi girang dan menaruh kepercayaan kepada kakek ini."
"Locianpwe, baru saja Siang In juga datang dan berjanji hendak membawaku keluar dari sini...."
"Itulah sebabnya aku datang sendiri, Puteri Syanti Dewa. Keadaan di sini amat berbahaya dan terlalu banyak orang pandai menghendaki dirimu. Rencana Siang In tentu akan gagal kalau aku tidak cepat turun tangan. Sekarang kau diamlah saja dan menurut segala petunjukku."
Syanti Dewi tidak terkejut mendengar itu karena dia maklum bahwa dia berada di tempat berbahaya, maka dia lalu mengangguk.
"Cepat kau tanggalkan pakaian luarmu,"
Bisik kakek itu dan ketika, Syanti Dewi melihat kakek itu mulai menanggalkan pakaian luar pelayan yang ditotoknya itu, mengertilah dia maksudnya dan tanpa ragu-ragu lagi dia membalikkan tubuhnya dan menanggalkan pakaian luarnya. Dia tidak perlu merasa malu dalam keadaan seperti itu, apalagi yang melihat dia dalam pakaian dalam yang tipis itu hanya seorang kakek sakti yang sudah amat dipercaya.
"Aih, sukarnya....!"
Kakek itu mengomel ketika dia mencoba untuk mengenakan pakaian luar Syanti Dewi pada pelayan itu sehingga Syanti Dewi yang cepat sudah mengenakan pakaian luar pelayan itu segera membantunya. Kakek itu memang cerdik. Yang dipilihnya adalah seorang pelayan yang selain cantik juga memiliki bentuk tubuh yang hampir sama dengan bentuk tubuh Syanti Dewi sehingga ketika pakaian mereka saling ditukar, dapat pas sekali. Setelah selesai, kakek itu lalu berbisik,
"Cepat kau atur rambutnya seperti sanggul rambutmu dan tambah bedak di mukanya biar wajahnya seputih wajahmu."
Syanti Dewi cepat melakukan semua perintah itu, kemudian See-thian Hoat-su sendiri menggunakan alat penghias yang terdapat di dalam kamar itu untuk mengubah bentuk bibir dan alis serta mata Syanti Dewi dengan menggunakan pemerah bibir dan penghitam. Sebentar saja, ketika dia selesai dan Syanti Dewi melihat bayangannya sendiri dalam cermin, puteri ini hampir tertawa geli melihat betapa dia sudah berubah menjadi seorang wanita yang bermata sipit, alisnya tebal dan mulutnya lebar, mukanya ada beberapa totol hitam yang melenyapkan semua kemanisannya.
"Mari cepat...."
Kata kakek itu dan dia segera menarik pelayan yang sudah mengenakan pakaian Syanti Dewi, mendudukkannya di atas kursi, lalu dia memandangnya dengan sinar mata penuh pengaruh yang amat kuat sambil berkata,
"Kau tidak akan dapat bicara semalam ini dan akan menurut saja apa yang dilakukan orang-orang kepada dirimu!"
Setelah menanamkan kata-kata ini melalui sihir ke dalam benak pelayan itu,
Seethian Hoat-su lalu menggandeng tangan Syanti Dewi dan di bawa menyelinap ke luar melalui jendela, tidak lupa untuk leblh dulu meniup padam lilin yang bernyala di atas meja. Akan tetapi baru saja mereka meloncat ke luar dan menutupkan daun jendela, Syanti Dewi menahan seruan kaget dan memegang lengan kakek itu. Dua orang pengawal berjalan dengan langkah tegap ke arah mereka! Akan tetapi, kakek itu sudah menggerakkan kedua tangannya ke arah dua orang pengawal itu. Mereka memandang, terkejut dan berdiri seperti patung dengan mata terbelalak, sama sekali tidak dapat bergerak sampai kakek itu menggandeng tangan Syanti Dewi dan menariknya pergi dari situ. Setelah kakek dan puteri itu lenyap, barulah keduanya sadar, saling pandang dan merasa terheran-heran.
"Eh, kenapa kita berdiri bengong di sini?"
Tanya yang seorang.
"Heran, aku merasa seperti baru saja terjadi sesuatu, akan tetapi ternyata tidak ada apa-apa. Seperti mimpi saja,"
Kata yang ke dua.
"Hemmm, agaknya kita tadi terlalu banyak minum arak."
Dan mereka melanjutkan perondaan mereka. Sementara itu, See-thian Hoat-su mengajak Syanti Dewi bersembunyi di tempat gelap, di ruangan dekat dapur yang penuh dengan pot-pot bunga dan pohon katai. Hwa-i-kongcu Tang Hun memang mempunyai kegemaran mengumpulkan bunga-bunga dan pohon-pohon katai yang aneh dan indah dalam pot-pot kuno dan dikumpulkan di ruangan itu. Bukan ruangan tertutup, akan tetapi cukup gelap dan Syanti Dewi merasa heran sekali mengapa penolongnya itu mengajaknya bersembunyi, dan di tempat terbuka seperti itu.
"Kenapa kita tidak lari....?"
Bisiknya.
"Sssttttt.... kita tunggu sampai terjadi keributan,"
Jawab See-thian Hoat-su. Syanti Dewi hendak bertanya mengapa mereka bersembunyi di tempat terbuka seperti itu, akan tetapi dia mengurungkan niatnya bicara karena pada saat itu muncul tiga orang yang berjalan ke arah tempat itu. Mereka berjalan sambil bercakap-cakap, dan ternyata mereka adalah dua orang tamu yang agaknya melihat-lihat, diantar oleh seorang pengawal.
"Ini adalah kumpulan-kumpulan bunga-bunga aneh dan pohon-pohon katai yang disayang sekali oleh Kongcu,"
Si pengawal menerangkan. Mereka melihat-lihat bunga itu, bahkan seorang dari mereka mendekati Syanti Dewi dan mencium-cium, mendengus-dengus.
"Hemmm, wangi....!"
Katanya.
"Sayang agak gelap tempat ini sehingga kita tidak dapat mengagumi bunga-bunga ini dengan jelas."
"Besok saja kita melihat-lihat lagi ke sini,"
Kata tamu ke dua dan mereka berjalan pergi. Syanti Dewi sudah gemetar saking tegang dan gelisahnya. Rambutnya tadi dicium-cium oleh orang itu dan dia disangka bunga! Dia terheran-heran akan tetapi ketika dia menoleh kepada kakek itu yang terkekeh geli, mengertilah dia bahwa peristiwa aneh itu adalah akibat permainan sihir kakek ini. Tentu tiga orang yang tadi datang telah melihat mereka berdua seperti bunga dalam pot, maka rambutnya dicium oleh seorang di antara mereka. Teringatlah dia akan permainan sihir dari Siang In yang membuat dara itu kelihatan seperti sebuah kursi bagi orang lain!
"Kenapa kita harus menunggu sampai terjadi keributan, Locianpwe?"
Dia berbisik. Kakek itu menarik napas panjang.
"Siang In terlalu sembrono. Dia tidak melihat bahwa di sini hadir orang dari Nepal yang memiliki kekuatan sihir lebih hebat daripada dia. Kalau kita lari sekarang dan ketahuan, banyak bahayanya akan gagal karena di depan orang itu tentu saja tidak mungkin mengandalkan kekuatan sihir."
Saat yang dinanti-nanti oleh kakek See-thian Hoat-su itu ternyata tidak lama. Tiba-tiba terdengarlah canang dipukul bertalu-talu tanda bahaya dan disusul teriakan-teriakan nyaring. Dari tempat sembunyi itu, mereka melihat berkelebatnya banyak wanita-wanita pelayan dan melihat pula seorang pelayan wanita tua yang cantik memondong Syanti Dewi palsu tadi dengan gerakan ringan sekali. Lalu terdengar keributan di ruangan pesta, disusul padamnya lampu-lampu dan ributnya suara orang bertempur!
"Sekarang....!"
Kakek itu berbisik dan dia menggandeng tangan Syanti Dewi, diajaknya melarikan diri melalui jalan belakang.
"Heiii, siapa....?"
Akan tetapi dua orang itu sudah jatuh terjungkal oleh kakek See-thian Hoat-su sebelum dua orang pengawal itu dapat melihat jelas. Dengan cepat See-thian Hoat-su lalu memondong tubuh Syanti Dewi dan dibawanya melompati pagar tembok di taman belakang. Tanpa banyak halangan karena semua orang sedang sibuk ber-kelahi dan mengejar-ngejar penculik Syanti Dewi palsu, See-thian Hoat-su dapat membawa pergi puteri itu dari puncak Bukit Naga Api. Setelah pergi jauh, Syanti Dewi berkata,
"Locianpwe, bagaimana dengan Siang In? Kenapa kita tidak menanti dia?"
Kakek itu menurunkan tubuh Puteri Bhutan dan menyeka peluhnya, lalu memandang ke angkasa yang indah penuh bintang.
"Ahhh, dia bukan anak kecil lagi, tentu dapat menjaga diri sendiri."
"Akan tetapi.... tentu dia akan mencari-cari Locianpwe dan saya...."
"Dia tidak tahu bahwa aku berada di sini, dan biarlah dia mencarimu untuk meluaskan pengalamannya, ha-ha!"
Kakek yang aneh itu tertawa dan Syanti Dewi tidak membantah lagi. Kakek ini mempunyai watak yang luar biasa anehnya dan dia tahu bahwa memang orang-orang sakti di dunia kang-ouw ini mempunyai watak yang kadang-kadang mendekati watak orang gila!
"Lalu.... laiu kita akan pergi ke mana, Locianpwe?"
Tanyanya penuh keraguan.