Halo!

Jodoh Rajawali Chapter 108

Memuat...

"Lee-ko, kau tidak semestinya mengucapkan terima kasih kepadaku, karena yang berjasa mendapatkan jamur mujijat itu bukanlah aku...."

"Aku tahu, memang Locianpwe Sai-cu Kai-ong juga telah melimpahkan budi kepadaku, akan tetapi engkau yang bersusah payah mendapatkannya, padahal menurut cerita Locianpwe itu, amat sukarlah mendapatkannya dan kau telah berhasil dalam waktu singkat."

"Ah, sama sekali bukan aku. Kalau tidak ada pertolongan orang itu, kiranya belum tentu satu bulan lagi aku sudah dapat kembali, bahkan belum tentu bisa mendapatkan jamur itu."

"Ah, begitukah? Siapakah penolong yang budiman itu, adikku?"

"Dia adalah seorang yang amat kau kenal baik, Koko."

"Siapa?"

"Pacarmu!"

Kian Lee terkejut dan mengerutkan alisnya memandang wajah adiknya yang berseri dan kemudian dia tersenyum. Biarpun adiknya ini telah mengalami banyak sekali perubahan, rambutnya putih semua persis seperti keadaan ayah mereka si Pendekar Super Sakti, wajah adiknya itu sudah nampak dewasa dan "matang", namun ternyata adiknya masih belum kehilangan sifat kebengalannya!

"Kian Bu, jangan main-main kau!"

Katanya menegur karena dia mengira bahwa yang dimaksudkan oleh Kian Bu itu tentulah Ceng Ceng, atau Lu Ceng, atau kini telah menjadi isteri Kao Kok Cu putera sulung Jenderal Kao Liang yang dulu berjuluk Topeng Setan. Begitu mendengar adiknya menyebut "pacarmu", terbayanglah wajah Ceng Ceng, akan tetapi Kian Lee cepat mengusir bayangan itu karena maklum bahwa tidak semestinyalah kalau dia membayangkan wajah isteri orang lain! Melihat wajah kakaknya menjadi agak muram, Kian Bu segera teringat dan maklum, maka cepat-cepat dia menyambung,

"Bukan dia maksudku, Lee-ko, akan tetapi dara cantik jelita yang menjadi pacarmu dalam cinta pertamamu. Hayo, masa kau lupa lagi siapa yang menerima cinta pertamamu?"

Kian Lee masih mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa adiknya ini bengal dan suka menggoda orang, terutama menggoda wanita-wanita muda. Dia sendiri jarang bergaul dengan wanita, dan selama hidupnya, baru satu kali dia jatuh cinta, jatuh cinta benar-benar dan ternyata yang dicintanya itu, Ceng Ceng, keponakan tirinya sendiri! Ceng Ceng adalah puteri gelap dari mendiang Wan Keng In, sedangkan Wan Keng In itu adalah anak kandung dari ibunya sendiri, jadi satu ibu lain ayah dengan dia! Tentu saja tidak mungkin dia berjodoh dengan Ceng Ceng dan kenyataan itu sebenarnya banyak menolongnya, karena kalau tidak, tetap saja dia akan patah hati, malah lebih parah lagi karena ternyata Ceng Ceng mencinta seorang laki-laki lain, yaitu Kao Kok Cu!

"Aku tidak mengerti siapa yang kau maksudkan itu, Bu-te,"

Katanya menggeleng ,kepala. Kian Bu tertawa.

"Dia sendiri tidak mau memperkenalkan namanya. Akan tetapi dia adalah seorang gadis yang cantik jelita dan manis sekali Koko, galak dan lincah, menunggang seekor garuda, pakaiannya serba hitam dan ilmu kepandaiannya hebat."

Kian Lee tetap tidak dapat menduga siapa adanya gadis itu.

"Siapakah dia, Bu-te? Katakanlah, siapa dia dan mengapa kau tadi mengatakan bahwa dia adalah pacarku."

"Dia tidak bilang begitu, Koko, maafkan aku. Akan tetapi dia hanya mengatakan bahwa dia dahulu pernah menolongmu dan mengobati pahamu yang terluka parah lima enam tahun yang lalu...."

"Aihhh....! Dia....?"

Tentu saja Kian Lee teringat baik akan peristiwa itu. Lima tahun lebih yang lalu dia terluka oleh ledakan senjata rahasia Mauw Siauw Mo-li, dan dia tentu akan tertawan musuh dan tidak berdaya dalam keadaan luka itu kalau tidak ditolong oleh seorang gadis cilik yang manis dan mungil, murid keponakan Mauw Siauw Mo-li sendiri, gadis yang muncul bersama banyak kucing, Kim Hwee Li atau puteri tunggal dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka! Terbayanglah dia wajah anak yang cantik itu.

"Benar dia, tentu kau ingat sekarang bukan, Koko?"

Tanya Kian Bu sambil tersenyum dan menyelidiki wajah kakaknya. Dia tahu bahwa kakaknya telah patah hati karena kasih tak sampai dan dia akan senang kalau kakaknya ini mendapatkan seorang pacar baru, dan gadis pakaian hitam itu memang hebat!

"Kim Hwee Li, puteri Hek-tiauw Lo-mo dari Pulau Neraka?"

Kian Lee menegaskan.

"Benar, dialah orangnya yaang memungkinkan aku secepat ini memperoleh jamur itu untukmu, Koko."

Kian Bu lalu menceritakan semua pengalamannya ketika dia mencari jamur dan bertemu dengan Hwee Li yang memboncengkannya turun ke bawah tebing itu. Tentu saja dia tidak berani menceritakan tentang peristiwa memalukan dan lucu ketika dia terserang oleh nafsu berahi yang bangkit ketika dia dibonceng di belakang tubuh Hwee Li dan betapa Hwee Li menjadi marah-marah dan menyerangnya sehingga dia terjatuh ke bawah.

"Dia.... dia cinta padamu, Koko."

"Hushhhhh....!"

Kian Lee membentak dengan muka berubah merah.

"Jangan menyalahtafsirkan kebaikan orang, Bute. Apakah karena dia dahulu pernah mengobati pahaku, kemudian sekarang membantumu mencari jamur panca warna, lalu kauanggap kebaikan hatinya itu sebagai tanda jatuh cinta? Kau sungguh terlalu merendahkan kebaikan orang, Bute."

"Bukan begitu, Lee-ko. Aku tentu saja tidak akan sembarangan bicara kalau tidak ada bukti-bukti nyata. Buktinya menyatakan bahwa dia cinta kepadamu."

"Hemmm, kau masih bengal seperti dulu, Kian Bu. Hayo apa buktinya?"

Kian Lee mendesak.

"Ketika dia mengobati pahamu dahulu tentu saja aku tidak dapat membuktikannya, apalagi ketika itu dia tentu masih kecil, belum dewasa, maka tidak patut bicara tentang cinta. Akan tetapi sekarang, hemmm.... dia telah menjadi seorang dara dewasa yang cantik jelita dan manis sekali, Koko...."

"Hal itu belum menjadi bukti bahwa dia cinta padaku, agaknya padamulah dia jatuh hati, Bu-te, karena engkau selalu pandai merayu wanita!"

"Tidak, Lee-ko, dengarlah dulu ceritaku. Kukatakan tadi bahwa dia menolongku membonceng garudanya turun ke dasar tebing. Nah, dalam penerbangan itu dia bertanya mengapa kau terluka, dan dia tadinya sudah menunjukkan pula bahwa hanya karena mendengar Suma Kian Lee terluka saja maka dia mau membantuku. Ketika aku berterus terang mengatakan bahwa kau terluka oleh pukulanku, sebelum aku sempat menceritakan bahwa hal itu kulakukan tanpa sengaja dia sudah menjadi begitu marah dan dia menyerangku sampai aku terjungkal dari atas punggung garudanya!"

"Ahhh....!"

Post a Comment