Halo!

Jodoh Rajawali Chapter 107

Memuat...

"Andaikata benar demikian, mengapa?"

Kedua pipi itu berubah merah dan matanya bersinar marah.

"Aku sih tidak peduli! Akan tetapi karena kau bilang hendak mencarikan obat untuk Suma Kian Lee, dan melihat kau bermain gila, maka aku sudah menegurmu."

"Obat? Ah, benar! Agaknya aku sudah menemukan tempatnya, berkat petunjuk dari Cui-ma,"

Berkata demikian, Kian Bu lalu melangkah menuju ke gua yang ditunjuk oleh Cui-ma tadi. Hwee Li cepat mengikutinya dan mereka berdiri di depan gua besar yang agak gelap karena sinar matahari tidak dapat langsung masuk ke dalamnya. Akan tetapi lambat-laun mata mereka sudah menjadi biasa dan ketika mereka memasuki gua, kelihatanlah oleh mereka banyak sekali kerangka kecil di situ.

"Hemmm, Cui-ma bilang bahwa gua ini penuh tengkorak bayi dan anak kecil. Agaknya inilah gua tengkorak itu...."

Kata Kian Bu sambil memandang tengkorak dan tulang-tulang berserakan.

"Tidak ada tengkorak bayi atau anak kecil. Ini adalah tengkorak dan kerangka binatang, semacam monyet, hanya mukanya seperti anjing. Hemmm, tidak salah lagi, ini adalah kerangka binatang baboon yang tubuhnya monyet dan mukanya anjing. Ini agaknya menjadi kuburan mereka."

"Dan Cui-ma bilang di sini terdapat mata iblis...."

Kata pula Kian Bu. Mereka masuk terus ke dalam gua yang agak panjang itu. Tiba-tiba Hwee Li berseru,

"Ihhhhh...."

Dan otomatis tangannya memegang tangan Kian Bu. Pemuda ini pun terkejut sehingga dia pun membalas pegangan tangan itu. Mereka saling berpegang tangan dan jantung mereka berdebar tegang. Jauh di sebelah dalam, di tempat gelap, nampak banyak mata yang mencorong dan bersinar-sinar memandang ke arah mereka! Bukan mata manusia, bukan pula mata binatang, dan agaknya itulah mata iblis yang ditakuti oleh Cui-ma. Tiba-tiba Hwee Li tertawa dan melepaskan tangannya.

"Ah, memang benda yang berkilau dan mengeluarkan sinar, akan tetapi lihat, sinarnya tidak pernah bergerak. Bukan mata, melainkan benda-benda bersinar."

"Benar engkau, Nona. Dan agaknya inilah yang kucari. Lihat, bukankah sinarnya berubah-ubah dan seperti warna pelangi? Inilah jamur panca warna itu! Menurut penuturan Sai-cu Kai-ong, jamur itu hanya mengeluarkan sinar di tempat gelap, kalau di tempat terang tidak bersinar."

Kian Bu mendekat, berjongkok dan menggunakan tangannya mencabuti jamur-jamur itu. Jamur-jamur itu masih bersinar-sinar di tangannya ketika dia bawa keluar, akan tetapi setibanya di luar, jamur-jamur itu kehilangan sinarnya dan berubah sebagai jamur biasa saja!

"Inilah obatnya, tidak salah lagi!"

Kian Bu berseru dan menoleh ke arah kuburan Cui-ma sambil berkata,

"Terima kasih, Cui-ma, engkau telah menyelamatkan kakakku."

"Belum tentu,"

Tiba-tiba Hwee Li berkata.

"Kalau kau tidak dapat keluar dari sini dan cepat-cepat memberikan jamur itu kepada kakakmu, mana bisa dia tertolong? Mari, kuantar kau naik."

Hwee Li mengeluarkan suara melengking dan burung garuda itu menyambar turun lalu hinggap di atas batu di depan gadis itu.

"Siluman Kecil...."

"Namaku Suma Kian Bu, Nona."

"Sebaiknya sekarang kukenal sebagai Siluman Kecil saja. Kau akan kubantu agar dapat naik ke sana."

"Terima kasih, Nona. Akan tetapi...."

Kian Bu meragu karena dia merasa "ngeri"

Kalau harus duduk membonceng lagi. Dia tidak berani tanggung kalau tidak akan bangkit berahinya lagi duduk berhimpitan dengan nona yang amat cantik itu.

"Kau kira akan membonceng? Aku pun tidak mau....!

"Kalau aku duduk di depan...."

"Huh, di depan pun berbahaya. Seorang cabul seperti engkau!"

"Kalau begitu tinggalkan saja aku di sini, Nona, aku akan mencari jalan ke luar sedapatku dan aku tidak mau menyusahkanmu."

"Sombong!"

Hwee Li meloncat dengan gerakan ringan sekali ke atas punggung garudanya dan burung itu pun terbang ke atas. Hwee Li menjenguk ke bawah sambil berteriak,

"Kau bergantunglah pada ini!"

Dan sehelai sabuk sutera merah muda meluncur ke bawah. Kian Bu tersenyum. Memang banyak akalnya nona ini, pikirnya dan karena dia harus cepat-cepat dapat kembali ke kakaknya, maka dia pun lalu meloncat dan menangkap ujung sabuk sutera itu, bergantung di udara.

Gadis itu mengeluarkan suara melengking dan burungnya terbang ke atas dengan cepat sekali. Tubuh Kian Bu tetap bergantung dan diam-diam pemuda perkasa ini merasa ngeri juga. Dia tahu bahwa nyawanya berada di telapak tangan nona itu karena sekali saja nona itu melepaskan sabuk, betapapun tinggi kepandaiannya, dia tidak akan mungkin dapat menyelamatkan nyawanya lagi. Untuk keluar dari tempat itu, belum tentu akan dapat dilakukannya dalam waktu berhari-hari karena dia harus akan mencari-cari jalan lebih dulu, akan tetapi dengan menggantung pada sabuk sutera itu, dalam waktu beberapa menit saja dia sudah tiba di atas tebing dan dia meloncat turun. Burung garuda itu terbang perlahan berputaran di atas kepalanya dan gadis itu menjenguk ke bawah.

"Siluman Kecil, kau cepat bawa obat itu kepada kakakmu!"

Kian Bu menjura ke arah gadis itu dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata,

"Engkau sungguh amat baik, Nona. Engkau telah menolong aku dan berarti engkau telah menyelamatkan nyawa kakakku. Aku menghaturkan terima kasih atas bantuanmu."

"Aku tidak membantumu! Kalau tidak ingat kepada kakakmu, apa kau kira masih hidup setelah apa yang kau lakukan di atas punggung garuda kemarin?"

Wajah Kian Bu terasa panas dan menjadi merah sekali.

"Nona, semua itu terjadi tanpa kusengaja, apakah kau tidak dapat memaafkan aku?"

"Sudahlah, cepat pergi dan obati kakakmu."

"Tapi tinggalkan dulu namamu, Nona."

"Aku tidak ingin menjadi kenalanmu."

"Tidak, akan tetapi kalau kakakku bertanya siapa adanya dewi kahyangan yang menolongnya bagaimana aku akan menjawab?"

Disebut dewi kahyangan, Hwee Li tersenyum.

"Engkau memang perayu besar! Katakan saja bahwa lima enam tahun yang lalu aku pernah mengobati luka di paha kakakmu!"

Setelah berkata demikian, dia menepuk punggung garudanya yang terbang cepat ke atas. Kian Bu menjadi bengong. Pernah kakaknya dahulu bercerita betapa ketika kakinya terluka parah, terkena ledakan senjata rahasia Mauw Siauw Mo-li, paha kakaknya yang terluka itu diobati dan disembuhkan oleh seorang gadis cilik yang bernama Kim Hwee Li, yaitu puteri dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka! Jadi gadis cantik jelita itu adalah puteri ketua Pulau Neraka!

"Engkau Kim Hwee Li dari Pulau Neraka?"

Dia berseru nyaring ke arah burung garuda yang sudah terbang tinggi. Tidak ada jawaban kecuali suara melengking nyaring yang makin menjauh, entah lengking gadis aneh itu ataukah lengking garuda.

Kian Bu melakukan perjalanan cepat sekali, akan tetapi ketika dia tiba di perbatasan Propinsi Ho-nan di mana tempo hari pasukan kerajaan berada, kini tempat itu telah menjadi sunyi dan tahulah dia bahwa pasukan itu telah meninggalkan tempat itu. Dan hal itu memang benar. Setelah Pangeran Yung Hwa selamat sampai di istana kaisar, kaisar lalu memerintahkan agar pasukan kembali ke kota raja. Kaisar tidak ingin melihat timbulnya perang saudara yang baru, karena pasukan lebih diperlukan untuk menjaga perbatasan dengan negara tetangga dan melindungi tanah air dari serbuan orang-orang liar terutama dari utara dan barat, daripada dipergunakan untuk perang saudara. Adapun mengenai tanda-tanda dan sikap-sikap memberontak dari para gubernur, akan diserahkan kepada orang-orang pandai dari kerajaan untuk mengatasi dan membereskannya.

Setelah mendapatkan kenyataan bahwa pasukan telah meninggalkan tempat itu, Kian Bu terlngat akan pesan Sai-cu Kai-ong, maka tanpa membuang waktu lagi dia langsung pergi dengan cepat menyusul ke puncak Bukit Nelayan, yaitu bukit di tepi sungai sebelah selatan kota Pao-teng di mana Sai-cu Kai-ong tinggal. Beberapa hari kemudian, setelah dia tiba di puncak Bukit Nelayan, benar saja dia bertemu dengan Sai-cu Kai-ong dan kakaknya juga berada di situ, berbaring di dalam sebuah kamar dan keadaannya tidaklah separah ketika dia tinggalkan berkat perawatan yang baik dari seorang ahli pengobatan yang pandai, yaitu Sai-cu Kai-ong. Kakek itu girang dan kagum sekali menerima jamur panca warna dari Kian Bu.

"Benar...., benar inilah jamur yang mujijat itu.... aihhh, Suma-taihiap, sungguh engkau hebat sekali, dan kakakmu tentu akan sembuh dengan cepat berkat obat ini,"

Kata kakek itu sambil membawa masuk jamur itu untuk dibuatkan ramuan obat. Kian Bu memandang girang dan menoleh ketika kakaknya berkata,

"Bu-te, engkau telah bersusah-payah untukku. Aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu, adikku."

Kian Bu duduk di atas bangku dekat pembaringan kakaknya, wajahnya berseri gembira dan dia berkata,

Post a Comment