Kim Hong Jie kerutkan alisnya bersenyum.
Kalau betul dia berani berbuat begitu kepadaku awas, aku nanti tinju mukanya, baru dia tahu rasa.
katanya dengan jenaka sekali.
Seng Giok Cin yang merasa geli dengan kelakuannya sang kawan telah menekap mulutnya yang mungil menahan ketawanya.
Mereka lalu turun kebawah, tapi Seng Giok tidak turut menghampiri ketika Kim Hong Jie nyelonong terus mendekati Ho Tiong Jong.
Ho Tiong Jong kenali sang dara, ada Kim Hong Jie, tapi ia pura-pura tidak tahu, ia tinggal diam saja.
Terdengar Kim Hong Jie menegur.
Hei, kau ini apa bukannya yang bernama Ho Tiong Jong.
Betul aku Ho Tiong Jong.
Kau siapa" Aku Kim Hong Jie jawabnya bersenyum sepasang sujennya memain karenanya.
Ho Tiong Jong menatap wajah si gadis sebentar lalu tundukkan kepalanya.
Aku mau tanya kau, apa kau takut mati tidak" Kim Hong Jie menanya lagi.
Ho Tiong Jong membisu.
Hei, aku tanya kau, apa kau tuli tidak menjawab" Ho Tiong Jong mendelu hatinya, tapi ketika menatap parasnya si nona yang ramai dengan senyuman amarahnya lumer seketika.
Ya, jawabnya, aku bukannya orang luar biasa, mana tidak takut mati" Pikirnya Ho Tiong Jong, dengan menjawab begitu si nona akan membukai rantai dan totokan pada tubuhnya, kemudian ia bisa merdeka lagi.
la rela untuk membantu nona disampingnya yang dahulu pernah berbuat baik kepadanya.
Tapi ia tidak tahu pikirannya Kim Hong Jie ada lain.
Si nona pikir, kalau Ho Tiong Jong menjawab tidak takut mati ia akan membuktikan matanya menghajar pemuda itu.
Keduanya menjadi salah paham dalam anggapannya masing-masing.
si nona tiba tiba unjuk roman serius, ia mendekati Ho Tiong Jong.
tangannya diangkat seakan akan yang hendak menghajar muka si anak muda itu.
Ho Tiong Jong melihat kelakuannya Kim Hong Jie telah tertawa.
Nona Kim.
katanya, Kalau kau mempunyai keberanian teruskanlah tanganmu memukul diriku.
Aku tak dapat menipu dan berkata bohong kepadamu.
Kim Hong Jie melengah ia tarik pulang tangannya sebentara n akan kemudian secepat kilat tangannya digerakkan memukul lehernya.
Seng Giok Cin yang menyaksikan itu sudah menjadi sangat kaget.
Cepatlah ia menghampiri dan menarik tangannya Kim Hong Jie diajak berlalu dari situ.
Dengan tergesa-gesa mereka naik tangga dan kemudian menggabruti pintu tahanan.
Kiranya pukulan tadi dari nona Kim bukannya pukulan yang membinasakan sekalipun kelihatannya dilakukan dengan hebat sekali.
Pukulan itu justeru yang membuka totokan pada jalan darahnya sipemuda.
Ho Tiong Jong tidak menyangka akan kejadian itu, hingga diam-diam bukan main girangnya.
Kiai ia sudah bisa gerakkan lagi tubuhnya dengan leluasa.
Seng Giok Cin dan Kim Hong Jie setelah berada diluar, telah membicarakan halnya Khoe Cong punya kelakuan dan pertandingan Hoa Siang Jie dengan Pek Boe Taysu bagaimana kesudahannya.
Kelakuannya Khoe Cong sangat ceriwis, mata nya yang seperti alap-alap selalu mengawasi orang, hanya muka tidak bosan bosannya, maka keduanya telah mengambil keputusan untuk seberapa bisa menjauhkan diri dari Khoe Cong dan tidak mau mengajak bicara pula.
Selagi mereka sedang enaknya berjalan hendak ke tempat pertandingan pula, tibatiba ada satu bayangan meluncur datang.
Kiranya bayangan itu ada Khoe Cong yang mereka sangat benci.
Hei, nona-nona kemana saja kalian pergi" tanyanya sambil cengar-cengir.
Menurut keputusan mereka berdua, memang sudah tidak kepinginan lagi bicara dengan orang ceriwis ini, akan tetapi karena ingin mengetahui kesudahannya pertandingan Pek Boe Taysu dengan Hoan Siang Jie, maka Kim Hong Jie terpaksa tekan rasa ditemuinya dan menanyakan pada orang she Khoe itu halnya pertandingan Pek Boe Taysu dengan Hoan Siang Jie.
Hmm jawabnya, dengan nada suara tidak enak.
Benar Pek Boe Taysu sudah bertempur dengan Hoan Siang Jie.
akan tetapi kelihatannya ia menempur lawannya secara main-main saja.
Seng Giok Cin mendengar itu, dalam hatinya berpikir, mungkin kesudahan itu atas pesan ayahnya, yang tidak ingin melukai hatinya Kun-lun-pay, jangan menambah musuh lagi yang tidak ada perlunya.
Demikian, Seng Giok Cin lalu mengajak kawan-kawannya untuk pergi ke lapangan adu silat untuk menyaksikan pertandingan selanjutnya.
Ketika mereka lewat ditempatnya Hoan Sian Jie, nona Seng bersenyum dan manggut-kan kepalanya, yang telah disambut dengan gembira oleh pemuda kosen itu Tapi Khoe Cong yang melihatnya merasa cemburu, lantas saja keluarkan perkataannya yang mengejek.
Siauwhiap benar benar jempol ilmu silatnya Kun-lun-pay tak usah malu diwakili olehmu.
Nah sutera yang indah itu yang didapatkan sebagai hadiah tadi kini boleh diterimakan kepada nona Seng.
Hoan siang Jie memang ada menantikan nona Seng.
maka ia tidak mengubris katakatanya Khoe Ciong tadi ia hanya menerimakan sutera hadiah dari kemenangan dalam pertandingan kepada nona Seng.
Kong Soe Jin, yang tertua dari Im yang Siang-kiam, tiba-tiba telah mendengarkan suaranya berkata.
Ya, aku Khong Soe Jin, juga hendak naik panggung untuk mendapat segeblok kain sutera yang akan ku hadiahkan kepada nona Seng ha ha ha.
Para tetamu yang mendengarnya menjadi melengak.
Perkataannya Kong soe Jin itu sungguh kasar sekali sebab tidak seharusnya ia berkata demikian kalau memang hatinya ada niatan untuk memikat hatinya putri dari Seng Pocu.
Kelakuannya dengan otomatis tampak menjemukan-Matanya terus menerus mengawasi pada siJelita Seng Giok Cin Kim Hong Jie sebal melihatnya, ketika ia melirik pada Khoe Cong, tampak pemuda muka buruk ini unjuk sikap yang gusar sekali" Wabahnya berubah bengis dan menakutkan matanya bersinar buas mengawasipada Hoan Siang Jie yang tengah menerimakan geblokan sutra kepada nona Seng.
Diam-diam Kim Hong Jie menghela napas.
Pikirnya, karena banyak pemuda yang setolol Khoe Cong ini, maka didunia sering terbit keonaran yang tidak diingini.
Perkataan Kong Soe Jin dibuktikan dengan melompat naiknya ia keatas panggung, hingga si hati Khoe Cong melototkan matanya lebar-lebar, kemudian ia anjurkan kawannya bernama Hui Seng Kang untuk melayani Kong Soe Jin.
Hui Seng Kang lalu minta permisi pada Seng Pocu untuk ia melayani Kong Soe Jin, untuk mana Seng Pocu tidak berkeberatan.
KAU juga ingin naik panggung, boleh saja, kata Seng Pocu sambil mengurut-urut jenggotnya, tapi aku harap kalian berdua akan mengunjukkan ilmu silat yang sebaikbaiknya supaya penonton merasa puas.
Nah, pergilah kau layani dia.
Terima kasih atas perkenan Pocu.
kata Hui Seng yang lantas menghampiri panggung luitay.
Dengan sekali enjot saja badannya telah melayang dan sebentar lagi ia sudah berhadapan dengan Kong Soe Jin dengan mata melotot.
Kong Soe Jin lihat wajahnya Hui Seng Kang yang hitam legam ditambah dengan mata yang kejam dan licik, maka pikirannya ia harus berhati-hati melayaninya orang ini.
Setelah ia bersedia, lantas mempersilahkan lawannya menyerang.
Hui Seng Kang tidak sungkan-sungkan lagi, lantas gerakkan tangannya menyerang.
Betul hebat tenaga dalamnya orang she Hui itu, karena serangan dengan telapakan tangannya itu telah perdengarkan suara wut wut yang hebat sekali.
Kong Soe Jin tidak mengira bahwa tenaga dalam dan luarnya sang lawan ada demikian lihay, maka ia berikan perlawanan dengan hati-hati, supaya dalam sepuluh gebrakan saja ia sudah dapat menjatuhkan lawan-lawannya.
Hui Seng Kang melihat Kong Soe Jin tak berani menyambut keras lawan keras, maka ia terus melancarkan serangan yang bertubi-tubi, hingga penontonnya dibikin kagum oleh ilmu silatnya yang lihay.
Kong Soe Jin terus didesak.
Kelihatannya dengan susah payah ia dapat menangkis serangan lawannya.
Hal mana telah membikin hatinya sang adik Kong soe Tek, berdebaran melihatnya.
Ia sangat menguatirkan kekalahan engkonya.
Khoe Cong yang duduk tidak jauh dari Kong Soe Tek sudah keluarkan ejekannya dan menghina.
orang she Kong itu hanya sebegitu saja kepandaiannya, aku kira tidak sampai tiga puluh jurus ia sudah harus mencium papan sedikitnya kalau tidak terpental jatuh kebawah luitay, ha ha ha.
Kong soe Tek merasa tertusuk hatinya oleh kata kata Khoe Cong yang menghina, akan tetapi ia tidak sempat meladeni orang she Khoe itu karena perhatiannya dibikin gelisah oleh pertandingan diatas panggung.
Engkonya kelihatan terus-terusan di desak oleh lawannya, hingga ia hanya dapat menangis tetapi tidak dapat membalas menyerang.
Kong soe Tek diam diam merasa heran bahwa engkonya hari ini bertanding telah unjukkan kepandaiannya yang jelek sekali.
Apakah sang engko itu tidak enak badan, entahlah tapi ia diam-diam sudah menyiapkan dirinya kalau kiranya yang saudara tua itu dikalahkan oleh Hui Seng Kang, ia akan naik panggung untuk menebus kekalahan engko nya.
Kong Soe Jin hanya mengandalkan ilmu mengentengi tubuhnya saja antuk sabansaban meluputkan diri dari serangannya Hui Seng Kang yang dahsyat.
Semakin lama Hui seng Kang tampak semakin gesit dan lincah, ilmunya beberapa macam seperti gaya Kepelan kilat .
semua kuli berbareng membunyikan tambur, Angin puyuh menyapu dedaunan, dan sebagainya telah diperlihatkan dengan baik sekali.
Karena mana Kong Soe Jin jadi terdesak terus-terusan, sampai terdesak keping gir lui-tay.
hinggi Kong soe Tek yang melihatnya semakin tidak enak hatinya.
Hei sahabat jangan lemas begitu semangatnya.
Bangun sedikit, kenapa sih" Demikian terdengar Khoe Cong mengejek pada Kong Soe Jin.