KARENA tidak ada keputusan, maka Ho Tiong Jong terus ditahan, dalam suatu kamar tahanan yang gelap tak dapat melihat sinar matahari sepanjang hari.
la dalam Keadaan tidak berdaya, karena masih tertotok.
Seng Eng telah meninggalkan kawan-kawannya untuk beristirahat dirumah belakang.
Belum lama orang tua itu berada didalam kamarnya pintu kamarnya terdengar diketuk dan kelihatan masuk Seng Giok cin dengan wajah berseri-seri manja.
Hei, kau pergi kemana" Kenapa tidak menghadiri pertemuan kita " tanya sang ayah ketika nampak siapa yang masuk kedalam kamarnya.
Seng Giok cin ketawa.
Aku ada di kamar sembahyang ibu bagaimana dengan keputusan Ho Tiong Jong" ia menanya.
Semua orang mufakat dibunuh mati, jawab sang ayah.
Dibunuh mati" Seng Giok Cin menegasi.
Ya.
Kalau ia dibunuh lantas golongan Liong-bun menyerah pada kita, tidak apa, aku bisa mufakat diambilnya tindakan itu.
Tapi ayah, belum mengambil tindakan demikian, kata Seng Giok Cin Lebih baik kita jangan berhubungan lagi dengan golongan Liong bun, aku lihat mereka licik dan bisa membujuk Ho Tiong Jong supaya dia membantu pada kita.
Kasih saja ia memangku jabatan penting dalam benteng kita, aku lihat ilmu silatnya bukan sembarangan " Seng Eng tidak menjawab, matanya mengawasi pada wajahnya sang putri yang cantik.
Tapi.
biarlah aku nanti coba yang membujuk dia.
Kalau benar-benar dia mau menjadi orang kita.
lantas kita boleh mengatakan pada para tetamu bahwa dia sudah melarikan diri berbareng kita pura-pura mengirim orang untuk mengejarnya.
Barusan aku tidak menghadiri perundingan oleh karena aku hendak bicarakan dengan ayahaku punya pendapatan ini.
Seng Eng kembali tidak menjawab, tapi dari paras mukanya tampak seperti ia setuju dengan pikirannya sang anak yang berakal ini.
Terdengar Seng Giok cin berkata lagi.
Menurut pikiranku, kita hanya permainkan soal Ho Tiong Jong perlahan-lahan dapat melumpuhkan mereka.
Sekarang usaha ayah, mengumpulkan banyak orang dari berbagai partai dengan maksud mengetahui sampai dimana masing-masing punya kepandaian, tapi kita tak dapat membasmi mereka guna apa" Kita terang-terangan membunuh mereka tidak bisa, maka kita harus menggunakan akal, bukan" coba ayah pikir benar tidak" Hei akalmu baik sekali cin Jie.
tiba-tiba Seng Eng berkata dengan muka girang.
Kalau nanti berhasil, pihak kita menjagoi dikalangan persilatan, kaulah ada satu satunya orang yang berjasa besar.
seng Giok cin tertawa.
Sementara itu Seng Eng lalu keluar dan memerintahkan pada Ie Yang supaya Ho Tiong Jong dipindahkan tempat tahanannya, ialah ketempat tahanan yang berair.
Ketika Ie Yong masuk kekamar tahanan Ho Tiong Jong.
kelihatan pemuda ini sedang rebah ditempat tidur dengan badan lemas tidak bisa bergerak karena tertotok.
Tapi pikiran dan matanya tetap terang.
Ketika Ie Yong mengatakan dirinya akan dipindahkan ia tidak berkata apa-apa.
Ia melihat ada dua orang yang membawa usungan keatas ia kemudian direbahkan dan dibawa keluar kamar itu.Jalan yang dilalui ada berliku liku dan melewati beberapa pintu, ia sangat kaget dirinya akan dibawa kemana sih" Diam-diam ia berpikir, Kenapa aku masih belum juga dibunuh.
Aku mau dibawa ke mana sebenarnya" Kenapa totokan pada jalan darahku masih juga belum dibuka.
orang menyiksa aku sampai begini ada perlunya.
Dalam menanya nanya pada dirinya sendiri, tiba ia melihat ada berkelebat sesosok bayangan orang, Ketika ia tegasi bukan lain dari nona Seng.
Mulutnya bergerak-gerak seperti yang hendak bicara padanya akan tetapi Seng Giok Cin sebentar lagi sudah melenyapkan pada dirinya.
Ho Tiong Jong tidak ambil pusing.
Ia tenang tenang saja orang menggotong dirinya ia mau tahu sebenarnya orang mau bawa ia kemana" Pada suatu saat tiba-tiba orang-orang yang menggotong padanya berhenti, tampak Ie Yong menghampiri satu alat rahasia yang terdapat pada sebuah gambar yang melukiskan pemandangan alam tergantung didinding.
Setelah diputar beberapa kali, lantas terdengar suara krekek tiba-tiba telah terbuka sebuah pintu sempit.
ie Yong mengasih tanda pada yang membawa usungan, supaya Tiong Jong digotong masuk ke dalam kamar kecil itu.
Setelah berada didalam Ho Tiong Jong lihat dibawa turun melewati tangga batu, jalanan disitu sangat sempit kira-kira lebar tiga kaki dan tinggi satu tumbak.
Setelah berjalan kira kira tiga tombak.
telah diliwati empat belokan disitu keadaan ada terang karena ada dipasang lampu.
Tampak ada beberapa lubang hawa.
Melihat keadaan kamar dibawah tanah ini, Ho Tiong Jong menduga, kamar itu tentu memang disediakan untuk keperluan pemiliknya mengumpat disitu kalau menghadapi bahaya tak dapat diatasi.
Mereka tidak berhenti sampai disitu, karena usungan digotong terus, tiba-tiba mereka berjalan dijalanan yang sangat sempit, kemudian membiluk dan disitulah terdapat sebuah kamar batu, yang dinding dan pintunya semua terbuat daripada besi.
Dibagian atas pintu ada kedapatan lubang sebesar setengah kaki tapi ditutupi dengan besi juga.
Lubang ini dapat dengan sendirinya terbuka dan tertutup, Kamar itu ada mempunyai empat pintu.
Ie Yong telah membuka pintu yang sebelah kiri masuk kedalam kamar itu kira-kira hanya satu tombak persegi, bahkan tempat ini amat rendah.
Hei, orang kasar, sebenarnya aku mau diapakan sih" tanya Ho Tiong Jong pada ie Yong dengan tiba-tiba.
Ho Tiong Jong rupanya sudah sangat jengkel, Karena diusung orang sampai sudah sekian lamanya belum mendapat kepastian mau diapakan dirinya.
Kau jangan banyak rewel, aku melakukan ini hanya menurut perintah.
jawab Ie Yong dengan dingin.
Apa kau mau membunuh aku mati.
Siapa yang hendak membunuhmu" Kecuali kau banyak rewel Ho Tiong Jong jadi sengit, ia berteriak Kepala botak.
lekas kau katakan orang mau berbuat apa atas diriku, kalau tidak, sebentar kalau aku sudah merdeka awas dengan kepala botakmu Ie Yong paling jengkel kalau dikatakan kepala botak.
sekarang ia mendengar Ho Tiong Jong memakinya demikian, bukan main marahnya.
Manusia, tidak kenal mampus teriaknya.
Kau berani memaki aku begitu, awas aku bikin remuk kepalamu, kau tahu " Hm mana kau ada kemampuan untuk berbuat demikian " Ie Yong jadi naik darah.
ia cepat menghampiri Ho Tiong Jong yang tak berdaya, tangannya diangkat dan hendak memukul dengan hebatnya, tapi terdengar suara halus berkata.
Ie congkoan, kau tak dapat berbuat demikian.
Si kepala botak menjadi kaget, tangannya yang sudah diangkat telah ditarik kembali dan berpaling kearah suara tadi.
Kiranya yang berkata tadi ada nona Seng, yang telah mengunjukkan dirinya sekelebatan, kemudian menghilang lagi.
Ho Tiong Jong juga akan dapat melihat berkelebatnya tubuh yang langsing dari nona akan tetapi ia tampaknya acuh tak acuh.
Hm terdengar ie Yong menggeram sendirian.
la melihat kearahnya Ho Tiong Jong.
tampaknya sipemuda sedang menertawakan padanya.
bukan main mendongkolnya, akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa apa, Didalam kamar tahanan itu Ho Tiong Jong diletakan dilantai, tangan dan lehernya di ikat dengan rantai besi.
Disitu ada mengalir air yang keluar dari sumbernya.
Ketika Ho Tiong Jong dirantai air mengalirkan tingginya hanya satu kaki saja, tapi air itu mengalir terus memenuhi ruangan hingga sebentar saja sudah naik setinggi mulut Kematian baginya tjdak menjadi soal.
Mati disitu dan di mana saja ia tokh akan menemui ajalnya karena pengaruh racun dari Tok kay, akan tetapi ia tidak tahan merasakan kakinya yang kerendam air seperti digerumuti semut hingga ia berteriak-teriak seperti orang kalap.
Tiba-tiba ia hentikan berteriaknya, ketika mendengar seperti seorang tua berkata kepadanya.
Suara itu datangnya dari sebelah kanan dinding kamar tahanan.
Hei.
bocah, untuk apa kau ribut-ribut" Diamkan saja.
nanti juga sudah menjadi biasa lagi kau tidak akan merasakan apa-apa.
Ho Tiong Jong merasa malu mendapat teguran tadi.
Memang tidak semestinya ia berteriak-teriak seperti kebakaran jenggot disebabkan merasa seperti digerumuti semut saja kakinya.
Mungkin karena pengaruhnya air, yang sebentar lagi kalau sudah biasa kakinya terendam disitu akan tidak dirasakan pula yang demikian itu.
la celingukan mencari dari mana datangnya suara tadi.
ia tahu benar datangnya dari samping sebelah kanan, akan tetapi tidak kelihatan disitu mata hitungnya manusia.
Adakah setan penunggu disitu yang berkata-kata tadi" Demikian ia menanya pada dirinya sendiri.
Kau siapa" tiba-tiba ia menanya, setelah mencari orangnya sia-sia saja.
Ha ha ha kedengaran orang tadi tertertawa aku disini ditahan dikamar sebelah kau.
Aku ditahan disini sudah dua puluh tahun lamanya.
Aku tahu sudah banyak orang yang ditahan ditempatmu itu, akan tetapi di tahan tidak lama, maka aku percaya kaupun tidak akan mengalami penahanan yang lama.
Ho Tiong Jong lega hatinya, karena suara tadi suaranya manusia, bukannya setan seperti yang diduga semula.
Tapi, diam diam ia merasa heran, sebab apa orang itu ditahan disitu hingga sudah dua puluh tahun lamanya" Sementara itu ia merasakan air naik semakin tinggi, ia menanya.
Lopek aku disini kerendam air sampai dipaha, apakah dikamarmu juga kerendam" Tadinya betul ketika aku masih ditahan ditempat tahanan lain suka kerendam air akan tetapi sejak aku dipindahkan kesini, aku tidak mengalami lagi kerendam.
Hanya saja kakiku sudah kena penyakit reumatik sehingga sukar digerakkan.
Kalau sampai kini aku masih hidup terus, karena aku masih berpengharapan suatu hari aku dapat keluar dari kamar tahapanmu dan melihat lagi sinarnya matahari yang terang benderang.
Ho Tiong Jong berduka hatinya mendengar perkataannya si orang tua tadi.
Pikirnya, orang tua itu yang ditahan sudah dua puluh tahun lamanya masih memikirkan mau hidup, tapi dirinya sendiri bagaimana" Dalam tempo tiga hari setelah terkena racunnya Tok kay jiwanya akan melayang, mana ia berani mengharapkan hidup" Ia menghela napas beberapa kali, mukanya menjadi pucat dengan tiba-tiba.
Terdengar orang tua tadi berkata lagi.
Bocah, kau ini berbuat kesalahan apa sehingga ditahan ditempat ini" Ya, aku sendiri tidak tahu mengapa orang menahan aku disini" jawab Ho Tiong Jong dengan suara sedih.
Bocah.
kau ini rupanya terlalu banyak pikir hingga tidak tahu apa-apa.
Tapi, ia, memang didunia ini banyak peristiwa yang tak dapat dijawab dan banyak kejadian yang tak dapat diusut sebab musababnya.
Ho Tiong Jong setengah mengerti, separuh tidak atas kata-katanya si orang tua tadi.
Ia menanya.