Ho Tiong Jong yang mendengar tantangan oetti Kang dengan tenang ia menjawab.
Hmm.
oet-ti Kang.
Kau boleh menggunakan senjatamu, aku sendiri tidak perlu kalau hanya menghadapi orang semacam kau saja.
oet ti Kang panas hatinya.
Kim Hong Jie yang menyaksikan, tanpa merasa ia sudah nyeletuk.
Hmm orang itu sangat sombong, entahlah dia kepandaiannya sampai dimana" Kho cong yang mendengar kata-kata itu, sambil nyengir mengiyakan pendapatnya si jelita.
Memang orang itu kepandaiannya boleh juga, cuma lagaknya sombong betul, hingga orang yang menyaksikannya tidak menaruh simpati kepadanya.
Seng Giok Cin sementara itu sudah bisa mengenali ketika Ho Tiong Jong bertempur dengan oet-ti Koen telah mainkan pukulan Tok kay.
ialah Tok-liong ciang-hoat Ia diamdiam merasa heran Ho Tiong Jong dapat warisan ilmu silatnya Tok-kay, sedang menurut pengakuannya Tok-kay telah binasa ditangannya.
Betul-betul ini merupakan soal-soal ruwet dan ia baru dapat memecahkannya manakala ia sudah bisa bertemu dengan si pemuda untuk menanyakannya.
Tapi bagaimana jalannya ia dapat menemui Ho Tiong Jong" Kalau Seng Giok Cin terbenam dalam teka-teki adalah oet-ti Kang yang sudah jadi panas mendengar kata-kata yang sombong dari Ho Tiong Jong sudah berteriak keras, katanya, orang she Ho, kau cabut golokmu baru aku oet-ti Kang mau bertanding dengan kau, sebab kau dengan tangan kosong menandingi aku sama saja ketimun melawan duren.
mana bisa menang" juga taruh kata aku menang, aku juga tidak mempunyai muka untuk menghadapi sekalian tetamu, sebab kemenanganku itu tentu saja karena aku menggunakan senjata dan kau bertangan kosong.
Maka, hayolah kau cabut golokmu, keluarkan kau punya ilmu golok keramat yang kau banggakan Ho Tiong Jong pikir, ini oet-ti Kang kalau tidak dikasih hajaran tentu ia akan memandang enteng padanya, buktinya barusan ia mengucapkan kata-kata yang sangat menusuk hati, maka baiklah ia melayani dengan goloknya, bagaimana oet-ti Kang nanti bisa tahan atau tidak dengan kepandaiannya yang sekarang ia miliki" Segera ia mencabut golok bajanya, golok bukan sembarangan dan hadiah dari nona Seng, terhadap siapa ia sangat berhutang budi.
Kalau kau memaksa juga untuk aku mengeluarkan golokku, tidak ada halangannya, cuma saja rasanya kau tak dapat bertahan-lama kalau aku menggunakan senjata tajam.
Ha ha ha, oet-ti Kang, mari cepat maju.
Ia berkata sambil lintangkan goloknya didada, siap untuk menghadapi musuhnya yang ia tahu betul ada pandai sekali menggunakan pedangnya Cit-seng kiam yang tajam.
Kau tak usah banyak menjual lagak teriak oet-ti Kang seraya menyerang dengan pedangnya, tapi serangan itu dengan satu kelitan manis, sudah menemui sasaran kosong, hingga oet-ti Kang semakin naik hawa amarahnya.
Tiga kali lagi ia melancarkan serangan, semuanya hanya diegoskan dan dikelit dengan indah sekali, tanpa Ho Tiong Jong mengirim serangan balasan.
Hal mana, telah mengagumkan para penonton, serentak terdengar tampik sorik sorai yang gemuruh.
Kemarahannya oet ti Kang semakin menjadi jadi.
orang she Ho, hari ini.
kalau aku oet-ti Kang tak dapat mengirim kau menghadap ke Giam lo ong, benar benar aku bisa mati karena penasaranomongannya belum lampias sudah menjadi berhenti sendiri, karena ia sangat kaget, IHo-Tiong Jong yang dianggapnya takut terhadapnya tiba-tiba telah mengirim serangan hebat dengan goloknya.
Dikiranya Ho Tiong Jong hanya mengganda berkelit saja takut menghadapi ia punya ilmu pedang, padahal Ho Tiong Jong sebenarnya mau menguji kepandaiannya dihadapan orang banyak bagaimana ia melepaskan serangan lawan yang tangguh.
Ternyata kegesitannya sudah cukup boleh dibuat bangga.
Setelah ia merasa puas tiba tiba mendengar kata-katanya oet-ti Kan yang bukanbukan dengan mendadak saja hatinya sudah jadi sangat panas dan lantas menyerang kepada oet-ti Kang yang sedang mengumbar hawa amarahnya dengan keluarkan katakata yang tidak sedap untuk didengar oleh telinganya sang lawan.
Serangan Ho Tiong Jong ditangkis dengan pedangnya diam diam oetti Kang merssa sangat heran, sebab tenaganya Ho Tiong Jong tenyata bukan tenaganya Ho Tiong Jong yang tempo hari yang ketakutan sama bayangan putih.
Berpikir begitu, maka oet-ti Kang sudah memberikan perlawanan sangat hati hati pada pemuda yang mulai mengangkat nama itu.
Dengan begitu pertandingan jadi seruh sekali.
Pedang berkilau-kilau menyamber dengan ganas, dilain pihak golok berkelebatan dengan tidak kurang ganasnya.
Masing-masing telah mengeluarkan tipu silat simpanannya.
Ho Tiong Jong mainkan goloknya semakin lama semakin bagus hingga penonton merasa sangat kagum oleh kepandaiannya pemuda itu.
Diantaranya Kim Hong Jie yang jadi terpesona dengan tiba-tiba.
Itulah ilmu golok yaya-ku.
ia berkata dalam hatinya.
Lantas saja pikirannya telah melayang ke masa lima tahun yang lampau, ketika ia ketemu dengan Ho Tiong Jong dan pemuda itu telah mendapat hadiah dua belas jurus ilmu golok keramat dari yayanya.
Seharusnya ia menerima delapan belas jurus, tapi entah pemuda itu lantas tidak muncul lagi kerumahnya.
la tidak menyangka, bahwa di benteng seng-keepo ini ia dapat melihat lagi pemuda yang telah menolong mengambilkan bonekanya yang kecemplung kedalam sawah.
Sementara itu pertandingan telah berjalan dengan seru sekali^ ^1 I ^1 Kim Hong Jie kagum dengan ilmu golok yang diperlihatkan oleh Ho Tiong Jong Dia hebat dan tampan parasnya katanya dalam hati sendiri.
Matanya tidak berkesiap mengawasinya keatas panggung, dimana dua jago muda sedang mengukur tenaga dengan sungguh-sungguh.
oet ti Kang diam diam mengeluh, kenapa lawan-lawannya kini sangat sulit dirobohkan dan saban-saban tipu goloknya hampir saja mengenakan sasarannya.
ia menjadi lebih waspada ketika melihat Ho Tiong Jong yang dihadapi sekarang ada lain dengan Ho Tiong Jong yang tempo hari.
Pantasan pikirnya adikku dapat dikalahkan mentah-mentah.
Tapi oet-ti Kang tak usah menunggu lama-lama, karena babak yang menentukan sudah lantas tertampak, ketika dengan tiba-tiba Ho Tiong Jong membentak.
Kena.
ia jadi gelagapan dan lompat mundur.
Tapi keadaannya sudah menjadi memalukan, rambutnya terpapas sebagian, sedang pedang ditangannya tinggal sepotong saja.
Kutungan yang lainnya sudah jatuh dipapan panggung.
Mukanya tampak membisu dan mengawasi musuhnya yang tinggal berdiri tegak dengan wajah bersenyum-senyum.
Ho Tiong Jong tahu lawannya sudah kalah, ia tidak perlu menyerang lagi.
sementara itu tampik sorak sorai dibawah panggung riuh sekali.
Penonton dibikin kagum oleh serangan Ho Tiong Jong yang paling belakang, mereka tidak tahu entah dengan cara bagaimana pemuda itu bergerak dan menyabetkan goloknya, karena tahu-tahu setelah membentak kena oet-ti Kang lompat mundur dan rambutnya terpapas, sedang pedangnya yang sangat dibanggakan cit-seng-kiam telah menjadi doa potong.
Kim Hong Jie juga merasa sangat heran.
Dia bergerak aneh sekali, entah dengan ilmu silat apa ia telah mengalahkan lawan nya" demikian Kim Hong Jie menanya pada dirinya sendiri.
Betul-betul ia mengagumi pemuda tampan dan hebat ilmu silatnya itu.
Kalau dahulu ia begitu akrab pada Ho Tiong Jong dalam arti menyinta pada seorang kakak tapi kini entah bagaimana dengan mendadakan hatinya berdebaran dan tidak enak.
Parasnya yang putih dan ramai dengan senyuman sejenak telah menjadi bersemu merah, seperti yang merasa jengah.
Perlahan-lahan ia pegang dadanya sendiri yang berdebaran, ia ingin menghentikan debaran itu, tapi tidak bisa.
Entah bagaimana, saat hatinya seperti berbicara.
Apa kau tidak ingin menemui pemuda tampan itu " Suaranya sang hati membuat paras mukanya menjadi merah jengah.
sementara itu Ho Tiong Jong diatas panggang, dengan merendahkan dan hormat ia menjura kepada penonton, seakan-akan yang mengucapkan terima kasih atas sambutan yang meriah bagi kemenangannya tadi.
Diam diam ia merasa bangga, ia berpikir.
Beginilah rasanya kalau menjadi orang ternama Ia seperti ingat sesuatu, matanya lantas celingukan kan memandang ke tempatnya nona seng Justru Seng Giok Cin saat itu sedang memandang kepadanya, hingga dua pasang mata kebentrok.
Nona Seng bersenyum, kemudian tundukkan kepalanya.
Tinggal Ho Tiong Jong yang dak dik duk hatinya.
Bagaimana ia tidak dak dik duk hatinya dilirik dan dilempari senyuman oleh seorang gadis yang paling cantik diantara sekian banyak nona nona cantik yang hadir disitu.
Bagaimana Ho Tiong Jong peroleh kemenangan yang mengagumkan itu" Sebenarnya ilmu goloknya, seperti diketahui, hanya dua belas jurus saja.
Setelah ini habis di mainkannya, habis juga perlawanannya pemuda itu, kecuali ia mengulangi permainannya itu.
Pada saat ilmu golok keramatnya jurus yang dua belas dikeluarkan semua, ia agak kebingungan juga.
Tapi lantas ia mengingat akan ilmunya Tok-kay.
Tok liong Ciang hoat, maka ia sudah sambung ilmu goloknya dengan ilmunya Tok-kay itu.
Benar-benar hebat sebab begitu ilmu itu dimainkan kontan Oet ti Kang keteter dan akhirnya menemui kekalahannya yang memalukan.
ooOOoo
Ho Tiong Jong alihkan pandangannya ke-tempat Kim Hong Jie.
Gadis bersujen memikat ini melambai-lambaikan tangannya, sambil bersenyumsenyum ramai diwajahnya hingga Ho Tiong Jong kembali berdebaran hatinya.
Wajah Kim Hong Jie tidak bisa terluputkan dalam ingatannya.
Sebagai nona cilik yang baik kepadanya sekarang setelah menjadi nona dewasa agaknya Kim Hong Jie tidak melupakan pada dirinya.
Ia sebenarnya ingin turun untuk menghampiri si nona, akan tetapi ia masih belum boleh turun, karena harus menghadapi Taycu lagi sebagai babak terakhir ia memukul luitay.
Sebagai gantinya ia balas melambai-lambaikan tangannya.
Khoe cong yang berada didekatnya Kim Hong Jie menjadi mengira melihat kemesraan dua orang itu.
ia memang naksir pada nona Kim dan sebisa-bisa ia mendekati Kim Hong Jie supaya perhatiannya lebih tertarik kepadanya, ia melupakan wajahnya yang tidak dapat menarik gadis yang mana juga.
Melihat hidungnya yang pesek maka saja seorang gadis cantik sungkan mendekatinya.
Karena ia berpengaruh, ayahnyapun terkenal sebagai jagoan yang dimalui dalam kalangan Kangouw, maka masih juga ada gadis-gadis yang suka bicara berhadap-hadapan dengannya meskipun dalam hatinya tentu diam-diam merasa sebal melihat mukanya yang jelek.
Kemenangan Ho Tiong Jong yang aneh membikin jago-jago tua pada berdiri dari duduknya, seperti Han San dan Han Goat dari golongan Llongbun, Kauw Seng Ngo dari Kun lun-pay, cie Kauw, Pek Boe Taysu dan Seng Eng Pocu dari Seng keepo.
diantaranya Song Boe Ki yang kelihatan paling penasaran karena dua saudara seperguruannya kena dikalahkan mentah-mentah oleh Ho Tiong Jong.
la berkeputusan untuk turun tangan mengalahkan orang sho Ho itu.
juga dua saudara she Kong yang dijuluki Im-yang Siang kiam tidak ketinggalan, mereka anggap Ho Tiong Jong yang telah memperlihatkan ilmunya Kim-ci Gin ciang adalah akhli warisnya San-cu Lo-long Khong-Teng Shoe musuh besarnya darl partainya ialah Ngo bie-pay.
Terdengar Seng Eng membuka suara.
Saudara sekalian, setelah pertandingan dua wakil Tayeu selesai, sekarang adalah gilirannya Taycu sendiri yang akan maju Pek Boe Taysu, yang mendapat giliran-menjadi Tay-cu, tampak berbangkit dari duduknya dan bersenyum-senyum.