Pertandingan babak pertama ini dinyatakan serie.
Sekarang di mulai dengan pertandingan menggunakan senjata.
Dalam pertandingan menggunakan senjata ternyata Kwee Hoei kalah setingkat.
IAR bagaimana wakil Taycu yang kosen itu mempertahankan dirinya, tapi akhirnya ia harus menyerah kalah kepada lawannya yang lebih pandai.
Kwee Hoei terdesak dan lompat turun dari luitay.
Melihat kekalahan ini, Beng Siong Tojin yang mendapat giliran menjadi Taycu saat itu.
telah mendelikkan matanya.
Entah bagaimana tosu licik itu telah gerakan tubuhnya tahu-tahu sudah berada dihadapanya Kie cin.
Kie cin kaget juga menghadapi Ban Siong Tojin yang sudah terkenal, sedang penontonpun kelihatan merasa kuatir dengan turunnya tosu telengas itu, menguatirkaa Kie cin sebagai lawannya akan mendapat celaka.
Memang betul berat bagi Kie cin menghadapi Taycu ini tapi ia masih coba pertahankan dirinya jangan sampai cuma dua tiga gebrakan sudah kalah.
Ban Siong Tojin melihat dalam lima jurus masih juga kelihatan Kie cin alot dijatuhkan, hatinya sudah menjadi jengkel.
Wajahnya tampak menghitam hingga penonton kaget.
Hanya dalam tiga jurus kemudian saja Kie cin dibikin jatuh dari atas luitay.
Tapi belum lama Ban Siong Tojin menikmati kebanggaannya tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin dari arah sebelah timur panggung, yang dengan suara keras berkata.
Hmmmm Lo cit yang namanya terkenal sebagai pendekar pada masa tiga puluh tahun yang lampau di dua propinsi oaw-lam dan ouw pak.
tidak tahunya kepandaiannya cuma sebegitu saja.
IHei, Lo cit apakah masih kenali pada aku ini Beng Siang" Sambil berkata Beng siang berbangun dari duduknya, menghampiri kepanggung luitay, kemudian lompat naik keatas luitay menghadapi Ban siong Tojin-Si tosu kaget juga melihat Beng Siang yang naik.
orang she Lo, kata Beng Siang sambil menjura lucu kepada Ban Siong Tojin, Tiga puluh tahun kita tak bertemu, aku tidak menyangka kau sudah berubah menjadi imam.
kau tentu masih kenali aku Beng Siang, bukan" Ha ha ha.
Ban Siong Tojin ketawa dingin.
Beng sicu, tentu saja aku kenali kau.
Apakah kau hendak menagih kekalahanmu tempo hari" Bagus.
Antara dua orang ini kira-kiranya ada yang mempunyai ganjalan-ganjalan pada tiga puluh tahun yang lampau.
Pada masa itu Ban Siong Tojing masih bernama Lo cit, terkenal sebagai jagoan dalam kalangan rimba hijau (kawanan penjahat) dalam dua propinsi oaw lam dan oew-pak.
Selagi ia menjalankan operasinya dalam dua propinsi itu telah ketemu dengan Beng Siang, yang pada saat itu masih muda baru berusia tujuh belas tahun dan belum lama bekerja menjadi piauwsu (pelindung antaran).
Beng Siang tidak mau menyerahkan barang yang dihubungnya hendak di ganggunya oleh Lo cit, maka mereka lantas bertempur.
BENG SIANG hanya tahan di dalam dua puluh gebrakan saja lantas sudah dilemparkan oleh lawannya.
Sejak mana ia masih penasaran kepada Lo cit, yang sekarang sudah tukar bulu menjadi imam bernama Ban Siong Tojin.
Beng Siang belakangan telah menceburkan diri juga kalangan hitam, kepandaian ilmu silatnya bertambah tinggi, hingga merebut nama harum dikalangan kang-ouw.
Kini dikalangan pendekar berjalan hitam, ia merupakan salah satu jago yang dimalui.
Seng Pocu tidak tahu ganjalan diantara dua orang itu, diam-diam merasa heran melihat mereka berhadapan seakan-akan hendak menyelesaikan urusan lama.
Sambil mengurut-urut jenggotnya ia perdengarkan tertawanya bergelak-gelak.
Suara tertawa yang penuh mengandung teka-teki untuk orang yang tahu siapa Seng-Eng , tapi untuk mereka yang tidak tahu riwayatnya Seng Pocu menganggap ketawanya itu sebagai tertawanya tuan rumah yang gembira dan berdiri tidak kesana kemari (netral).
Terdengar Beng Siang berkata lagi.
Lo cit, eh, totiang, aku bukan saja hendak menagih, tapi juga mau tau apa kau bisa melemparkan diriku lagi atau tidak" Aku lihat kau tadi begitu mudah mengalahkan lawan, membuat hatiku ketarik untuk mencoba kepandaianmu yang tinggi.
ia berkata sambil mengeluarkan senjatanya dua belas belati yang berbentuk senapan berbendera warna merah satu set senjata aneh yang belum dilihat pada sebelumnya.
Bagus kata Ban Siang Tojin.
Tapi Beng Sicu harap sabar dahulu, sebab kau harus mengalahkan wakil Taycu baru ketemu dengan aku Hm Beng Siang memotong.
Silahkan kau turun dan lantas panggil wakil Taycu itu naik panggung.
Ia kelihatan sangat mendongkol pada musuhnya, yang ia anggap takut untuk menghadapi ia.
Belum lama Ban Siong Tojin turun, lantas naik panggung seorang pemuda dengan mata jahat dan wajah yang bengis.
Banyak penonton tidak kenali siapa orang itu, akan tetapi Ho Tiong Jong lantas kenali ia ada Song Boe Ki, muridnya Sisiluman Khoe Tok yang mempunyai julukan si Tangan Telengas.
Ho Tiong Jong diam diam girang melihat Boe Ki akan mempertunjukkan kepandaiannya diatas lutay, sebab ia nanti akan dapat mengukur sampai dimana tingginya murid kepala dari Khoe Tok yang kejam itu.
sebaliknya hatinya tidak enak.
karena saat itu ia tidak melihat Khoe Kie, sahabat karibnya yang sangat baik kepadanya.
Ho Tiong Jong pikir, mungkin Khoe Kie karena saking banyak musuhnya ia tidak berani menongolkan dirinya disitu.
Penonton kebanyakan menganggap Song Boe Ki hanya mencari mati melawan Beng Siang yang sudah terkenal namanya.
Sahabat aku bernama Song Boe Ki.
Seorang tidak ternama, tapi dengan kemurahan Seng Pocu aku telah diangkat menjadi wakilnya Taycu.
Maaf, kalau kau tidak begitu bernapsu melayani aku, orang tidak ternama.
demikian Song Boe Ki membuka mulut ketika sudah berhadapan dengan Beng siang.
Beng Siang sejenak tidak memberi jawaban, matanya mengawasi pada sipemuda di depannya yang berparas bengis dan mata jahat seperti maling.
tidak kenal siapa adanya pemuda muka jahat ini, muridnya siapa dia" Tapi hatinya sudah marah, tak dapat berpikir lama-lama.
lantas berkata singkat.
Silahkan!! Inilah tanda tantangan buat lawan turun tangan Song Boe Ki tidak sungkan-sungkan lagi.
lantas gerakan tangannya mengibas.
Angin keras dari kibasan tangan ini, hingga Beng Siang kaget juga karena tak menduga pemuda itu ada mempunyai tenaga demikian kuat.
la geser kakinya berkelit, kemudian balas menyerang dengan sampokan tangannya yang dinamai Menyapu ribuan tentara .
kiranya serangan Song Boe Ki hanya serangan pura-pura saja maka Beng siang menjadi amat marah.
Ia lalu menyerang hebat sekali.
Song Boe Ki tidak keder.
ia keluarkan ilmunya tiga belas jalan menyembah pada Tuhan, ilmu pukulannya yang ajaib yang ia sangat andalkan.
Pertandingan segera sudah sampai pada jurus ke tiga puluh, inilah ada limit dari pertandingan pertama dan boleh dirubah dengan pertandingan menggunakan senjata dalam pertandingan kedua yang ditetapkan dalam dua puluh gebrakan.
song Boe Ki keluar dari kalangan pertandingan dengan berseru.
Saudara Beng, pertandingan pertama sudah habis sekarang boleh dimulai dengan pertandingan babak kedua menggunakan senjata.
Tidak ada penggantian wakil Taycu, song Boe Ki lagi yang maju dalam pertandingan peng gunakan senjata.
Banyak penonton yang mengutuk kelakuannya Song Boe Ki itu.
Tanpa Beng siang mengeluarkan dua belas senjata yang berbentuk senapan berbendera warna merah.
Sedang Song Boe Ki menggunakan satu set senjata lingkaran yang dinamai cu-bo ciang-gun .
Penonton tahan napas menunggu pertandingan ini dilakukan.
Ho Tiong Jong sambil menonton orang mengadu kepandaiannya sambil matanya mencari-cari nona Seng, perlunya hendak melaporkan tentang kematiannya Tok-kay, kemudian ia akan lantas meninggalkan tempat itu.
Hatinya gelisah tidak keruan.
Tiba-tiba ia melihat Soe coe Liang menarik-narik tangannya Ho Yang dan Kiuw Yang diajak meninggalkan tempat itu.
Ketika mereka berjalan, Ho Yang, ia melambai-lambaikan tangan nya sambil berjalan mengampiri.
Mereka bercemn dengan gembira dan bercakap-cakap.
dengan begitu Soe coe Liang dengan dua kawannya tidak jadi meninggalkan tontonan itu dan pada menonton lagi bersama-sama Ho Tiong Jong.
Beng Siang dan Song Hee Ki bertarung dengan seru sekali.
Keduanya sama tandingan, hingga senjata kedua pihak tak dapat berbuat banyak untuk mendesak musuhnya.
Masing-masing telah mengeluarkan ilmu simpanannya.
Hanya ilmu istimewanya Beng Siang tidak mau keluarkan, perlunya ilmu istimewanya ini untuk digunakan dalam pertempuran nanti melawan Ban Siong Tojin, musuh lamanya itu.
Jurus demi jurus telah dilewatkan cepat sekali, segera dua puluh jurus sudah berakhir.
Pertandingan lantas dinyatakan seri dan Beng Siang boleh maju lagi melawan Taycu, Belum lama Song Bee Ki turun dari luitay sudah tertampak dihadapannya beng Siang berdiri Ban Siong Tojin, yang tidak banyak mengambil tempo lagi setelah Song Boe Ki turun telah enjot tubuhnya melayang keatas luitay.
Bagus.
kata Beng Siang.
kita ada kenalan lama, sembari aku mau menagih kekalahan kita boleh meramaikan pertemuan ini.
ayototiang, keluarkanlah senjatamu untuk main-main dengan kupunya besi karatan ini Beng Siang sambil unjukkan senjatanya.
Baik, Ban Siong Tojin memotong, sambil keluarkan senjata kebutannya.
Ketika senjata itu dikebutkan, segera pula berdiri lempeng bulu-bulunya satu tanda bahwa kekuatan lweekangnya Ban Siong Tojin yang hebat telah disalurkan pada senjatanya Beng Siang terkejut juga melihatnya.
ia cepat siap-siap dengan senjata yang aneh untuk menangkis serangannya Ban Siong Tojin.
Dua musuh lama ini perlahanlahan sudah mulai saling menyerang.
Kepulan dari dua belas bendera saling samber, indah sekali kelihatannya.
Senjata Ban Siong Tojin lihay sekali, beberapa kali menyerang bagian-bagian jalan darah terpenting pada tubuh musuhnya, hingga Beng Siang tampak kewalahan dan ia hanya bisa menjaga tapi tak dapat balas menyerang.
Beng Siang mengeluarkan ilmu istimewanya yang tadi tidak diperlihatkan melawan Son Boe Ki.
Ia melontarkan dua senjatanya sekaligus menyerang musuh punya badan bagian kiri dan kanan, tapi Ban Siong Tojin sekali menggetarkan kebutannya dua senjata Beng Siang itu sudah kena digulung.
Hanya saking kuatnya tenaga serangan dua senjata tadi membuat Ban Siong Tojin sampa mundur selangkah dan berdiri tegak lagi.