Sebentar lagi ia sudah membikin lubang kuburan, dengan hati-hati ia kubur mayatnya Tok kay dengan kepalanya ditempelkan pada lehernya.
Ia bekerja cepat, sebentar saja ia sudah selesai mengubur mayatnya si pengemis jahat.
Sambil berdiri dengan hati terharu menghadapi kuburannya Tok-kay, kelihatan Ho Tiong Jong kemak kemik mulutnya, ia berkata Locianpwe, harap arwahmu dialam baka tidak menjadi penasaran karena perbuatanku, sebab apa yang aku sudah perbuat bukan karena serakah dan mempunyai ganjalan hati terhadapmu adalah semata-mata di sebabkan hendak menyelamatkan orang banyak yang akan mengalamkan kebinasaan ditangan-mujikalau engkau terus tinggal dikasih hidup, Kalau kau masih penasaran, baik tunggulah kedatanganku dialam baka, karena racunmu yang ada dalam tubuhku tidak lama lagi akan mengantarkan aku kesana menjumpai kau Setelah mengucapkan kata-katanya yang tidak kedengaran itu tampak parasnya tidak begitu berduka lagi.
Ia mendongakkan mukanya kelangit, seakan-akan hendak mengucapkan terima kasihnya ia sudah dapat menyingkirkan seorang yang paling jahat dan kejam dalam dunia untuk keselamatannya orang banyak.
Tiba tiba matanya kebentrok dengan kitab Kumpulan Ilmu Silat Sejati, yang menyangkut pada cabang pohon, hatinya berpikir.
Aku tidak lama lagi tokh akan mati buat apa aku mengambil kitab pusaka itu" la lalu duduk didekat kuburan Tok-kay untuk mengasoh, sebentar lagi hari sudah mulai terang.
Ketika dia mendongakkan pula mukanya, ia lihat kitab pusaka diatas pohon sedang dipatokin burung-burung.
Saat itu hatinya berbalik pikir, ia harus ambil kitab itu, sebab kalau sampai jatuh ditangan-nya orang jahat ada sangat berbahaya.
Maka seketika itu lalu ia memanjat pohon dan mengambil kitab berharga itu, terus dimasukkan dalam sakunya tanpa dilihat lagi.
Setelah berada dibawah lagi.
pikirannya melayang-layang.
Kemana ia harus pergi" Merantau" Tak mungkin, karena dalam tempo pendek jiwanya sudah melayang karena pengaruhnya racun dari Tok-kay yang mengeram dalam tubuhnya.
Habis, kemana" Akhirnya terlintas dalam pikirannya, sebaik nya ia pulang ke Seng kec-po, untuk melaporkan kematiannya Tok kay kepada nona Seng yang telah melepaskan dengan banyak budi kepadanya, sekalian menemui saudara Kho Kie, sahabat karibnya, akan tetapi ia tak mau memberitahukan pada Kho Kie bahwa dirinya tidak lama lagi akan mati, supaya hati sahabat karibnya itu tidak menjadi duka karenanya.
Demikian, setelah mengambil keputusan ia telah gerakan kakinya menuju ke sengkee-po.
Belum lama ia jalan, ia telah menemui sebuah kali yang jernih airnya, ia menghampiri dan membersihkan mukanya yang kecipratan darah Tok kay tadi.
Tidak lama kemudian Ho Tiong Jong sudah sampai dilapangan, dimana ada didirikan luitay (panggung berkelahi), dimukanya sekali terdapat gedung tempat para tetamu menginap.
Disekelilingnya ada tempat duduk untuk orang menonton.
Bagian depan hanya dipergunakan bagi orang orang yang ilmu silatnya sudah dikenal saja, sedangkan mereka yang ilmu silatnya kepalang tanggung ditaruh disebelah belakang.
Disitu sudah banyak orang berkumpul yalah hari pertama dibukanya pertemuan, Mengadu kepandaian mengumpulkan sahabat.
Tampak yang duduk disebelah timur adalah angkatan tua kebanyakan seperti hweshio, nikouw, jago-jago tua dari kalangan hitam yang dahulunya ada ternama dikalangan kang ouw.
Dilain bagian tampak banyak pemuda pemudi yang tampan-tampan dan cantikcantik mereka kelihatan sangat gembira bercakap-cakap.
juga tidak ketinggalan kelihatan Seng Pocu duduk diantara banyak tetamunya dengan wajah berseri-seri.
Hati Ho Tiong Jong berdebar ketika matanya melihat diantara nona-nona yang hadir ada satu nona yang wajahnya ramai dengan senyuman, kecantikannya menonjol diantara yang lainnya.
Sujennya yang menjadi kalau ia bersenyum atau ketawa membikin yang melihatnya tak mudah melupakannya.
Dia tentu ada adik Hong.
Ho Tiong Jong pikir dalam hatinya, dia benar-benar sangat cantik, entah apakah kenakalannya masih biasa setelah ia sekarang sudah menjadi gadis" Banyak nona-nona cantik lainnya, seperti cong Ie dari oey-san.
Lo lo sat Ie Ya.
Lauw Hong In dari Lauw kechung di Kim-leng, ciauw Soe Soe dari ciauw-ke-Chung dan lainlainnya, tapi kelihatan kecantikan mereka tidak ada yang nempil pada kecantikannya Kim Hong Jie.
Ho Tiong Jong menyelinap dan menonton dengan sembunyi-sembunyi diantara orang-orang penjaga rumahnya Seng Pocu yang matanya semua ditujukan ke panggung berkelahi, maka tidak mengetahui kalau ada Ho Tiong Jong diantara mereka.
Semua tetamu juga tak menggubris kedatangannya Ho Tiong Jong, karena perhatiannya lebih penting ditujukan kepanggung luitay bercakap-cakap diantara kawannya.
Tiba-tiba Ho Tiong Jong lihat ada melesat naik keatas luitay seorang yang berbadan tinggi besar.
Siapa setelah menjura kepada para penonton, lantas mengumumkan syarat-syarat mengadu silat diatas luitay yaitu pertama menghadapi wakil Taycu kesatu dalam tiga puluh gebrakan, bertanding dengan tangan kosong, babak ke dua.
dua puluh gebrakan melawan wakil Taycu kedua boleh menggunakan senjata.
Kalau orang dapat melewati dua wakil Taycu ini, kemudian ia boleh menghadapi Taycu sendiri dalam lima belas gebrakan.
Kalau dalam lima belas gebrakan itu dapat bergebrak seri saja tak usah menang, yang tersangkut akan mendapat hadiah sebagai tanda kenang-kenangan berupa uang atawa kain sutra yang indah.
Menghadapi Taycu orang boleh bertanding dengan pakai senjata atau senjata rahasia, tidak ada larangan asal diadakan perjanjian dahulu sebelumnya bergebrak.
sehari dua Taycu yang melakukan tugas-nya, yalah bagian pagi dan bagian sore.
Pada saat itu yang menjadi wakil Taycu ada seorang she Kwee nama Hoei, dalam kalangan kang ouw ia terkenal dengan ilmu mencengkramnya yang hebat.
Ia sekarang sebagai Pocu dari propinsi Ho-pak bagian she co dan merupakan partai tersendiri.
Dalam Perserikatan Benteng Perkampungan yang dahulunya akur dan dapat bekerja sama, belakangan ini kelihatan mulai retak.
Masing-masing pada berebut pengaruh dan mendirikan partai sendiri.
Perserikatan tersebut sekarang sudah merupakan tiga buah partai, yalah kesatu Kim-Hon-po bagian kira Seng kee-po, kedua Kioe keepo Lauw kee-Chung Hul-ke-Chung, ketiga adalah In-ke-Chung chong ke-Chung ciauw-ke-Chung.
Masing-masing partainya pada mengumpulkan orang-orang gagah, mereka sudah berusaha dengan segala daya dan upaya supaya orang-orang gagah itu yang ulung suka masuk dalam partainya terutama terhadap orang-orang pandai yang sudah mengasingkan diri ada sangat disukainya dan sebisanya mereka itu membujuknya supaya dapat memperkuat partainya.
Berhubung dengan tindakan mereka itu maka dalam dunia persilatan orang-orang sangat kuatirkan ada terjadi penumpahan darah kelak dikemudian hari karena tiga partai itu sudah tentu akan berebut pengaruh satu sama lain untuk berdiri sama jago.
Kita balik pada Ho Tiong Jong telah mengikuti jalannya acara dengan tenang.
Ketika Kwe Hoei habis bicara, ia lihat ada seorang naik keatas luitay.
ia kenali itu ada Soe coe Liang yang tempo hari ada makan bersama sama satu meja dengannya, la ada satu pejabat kaliber besar dibagian selatan.
Soe coe Liang lantas berhadapan dengan Kwee Hoei sebagai wakil Tayeu.
Ternyata menghadapi Kwee Hoei ia tidak bisa berbuat banyak.
Meskipun Soe coe Liang sudah keluarkan simpanannya, cuma dalam beberapa gebrakan saja ia sudah dipukul terpelanting jatuh kebawah panggung yang memalukan sekali.
ooOOoo
KWE HOEI gembira dapat menjatuhkan lawannya demikian cepat, maka ia lalu menjura kepada penonton dan berkata.
Aku Kwei Hoei tidak punya kepandaian istimewa, cuma lantaran kebetulan saja sudah dapat mengalahkan saudara Soe, maka jikalau diantara hadirin ada yang berminat naik panggung aku akan merasa girang sekali.
Belum habis bicaranya, lantas kelihatan lompat naik keatas panggung seorang yang bertubuh jangkung kurus.
Ia menghampiri Kwee Hoei memberi hormat.
Saudara Kwei, bagus sekali ilmu silatmu barusan.
Hanya dalam beberapa gebrakan saja sudah dapat mengalahkan lawan.
Aku Kwie Boen Peng ingin coba-coba mengunjukan kepandaiannya yang rendah, harap saudara Kwee tidak mencelanya.
Kwee Boen ceng yang bertubuh kurus itu mana dipandang mata oleh Kwee Hoei.
Setelah perdengarkan suara dingin Marilah, kita jangan buang tempo.
lantas saja melancarkan serangannya.
Si jangkung kurus menghindari serangan dahsyat lawan, kemudian mainkan ilmu pukulannya yang lelompatan kesana sini, rupanya ia meyakinkan iimu pukulan kera.
Tapi rangsekannya Kwee Hoei hebat sekali, hampir tidak mengasih kesempatan untuk menancapkan kakinya dengan tetap.
Tidak heran, diserang dengan cara demikian KweoBoen ceng dalam sedikit tempo saja sudah harus menyerah kalah, tubuhnya kena dicengeram dan di lemparkan kebawah panggung.
suara tampik sorak riuh sekali menyambut kemenangannya Kwee Hoei.
Diantara tampik suara riuh itu tampak melompat kepanggung Kiauw Yang kawannya soe coe Liang yang telah dipecundangi.
Tanpa banyak cerita lagi, Kwee Hoei sudah melayani penjahat kaliber besar ini.
Pertandingan ramai juga.
cuma sayang hanya memakan tempo tidak lama.
Hanya lima belas jurus saja mereka bertempur, Kiauw Yang sudah kena dilemparkan ke bawah panggung.
Melihat saudara sekomplotannya kembali dijatuhkan, Ho Yang naik darah, lantas enjot tubuhnya melayang naik keatas luitay.
Saudara Kwee, kau benar-benar lihay, dua saudaraku sudah dipukul jatuh, aku juga ingin belajar kenal dengan ilmu silat mu yang tinggi.
Silahkan, silahkan menyelak Kwee Hoei dengan paras dingin hingga Ho Yang tak dapat meneruskan kata-katanya.
Sebagai gantinya ia harus cepat cepat menangkis serangan Kwei Hoei yang dilancarkan dengan cepat kembali dan mengandung tenaga yang hebat.
Betul-betul hebat pantasan dua saudara-ku kena dijatuhkan mentah-mentah demikian Ho Yang diam-diam berkata dalam-hatinya.
Tapi ia tak dapat kesempatan untuk berpikir banyak-banyak.
karena serangan Kwee Hoei yang dilancarkan saling susul membuat ia kepepet ketepi panggung dan akhirnya, seperti dengan dua saudara yang sudah ia juga kena dilemparkan mentah-mentah.
Sungguh memalukan, tiga jago dikalangan hitam yang sudah terkenal namanya dengan secara mudah saja sudah dijatuhkan satu persatu.
Kwee Hoei merasa puas hatinya ia tahu bahwa tiga saudara dari kalangan rimba hijau itu adalah gara-gara sangat sombong.
Kini mereka mendapat bagiannya yang setimpal dimukanya orang banyak.
Tapi sebelumnya Kwee Hoei dapat membanggakan kemenangannya, tiba-tiba kembali seorang berpengawakan kurus muncul di depannya.
Ia perkenalkan dirinya bernama Kie cin.
Menghadapi orang kurus kali ini Kwee Hoei tidak segalak seperti menghadapi lawan-lawannya terlebih dahulu, karena Kie cin meskipun berbadan kurus kecil ia sangat gesit dan lincah sekali.
ilmu pukulannya tangan kosong juga cukup mahir, ia sama sekali tidak takuti menghadapi Kwee Hoei yang mempunyai pukulan berat dan terus menerus coba mendesak pada dirinya.
Pertandingan berjalan dengan ramai sekali.
Rupanya Kwee Hoei sudah kecapaian atau memang musuhnya sangat ulet yang meminta ia mengerahkan banyak tenaga untuk melayaninya, maka jurus demi jurus telah dilalui akhirnya sampai pada jurus ke tiga puluh batasannya dari pertandingan babak pertama.