Halo!

Ilmu Golok Keramat Chapter 30

Memuat...

Bukan sayang lagi.

kata Tok-kay, sejak kekalahanku paling belakang itu aku telah bersumpah jikalau ilmu silatku sudah mahir betul aku akan mencari lagi dia dan bukan mustahil kalau aku akan membunuh, dia karena aku merasa sakit hati.

setelah membunuh dia.

pikirku, baru aku membunuh suaminya.

Habis bagaimana, apa locianpwee berhasil memperdalam ilmu dan mengalahkan Kok locianpwee" menyelak Ho Tiong Jong yang sudah tidak sabaran mendengarkan ceritanya.

Bocah kau diam, dengarkan dahulu aku menutur.

kata Tok-kay sambil deliki matanya, seperti yang kurang senang sedang enaknya cerita deselak orang.

ooOOoo

Ho TIONG JONG ketawa nyengir.

Tapi dasar nasib, melanjutkan Tok-kay, setelah sepuluh tahun aku memperdalam ilmuku, aku merasa aku masih belum dapat menjatuhkan penghuni rumah es di Tay-pek-san, yang aku tahu betul dia ada keluaran dari Hoa-san-pay dilihat dari ilmu silatnya yang telah diperlihatkan dalam pertempuran denganku.

Pada suatu hari tiba-tiba aku mendengar bahwa dia sudah bercerai dengan suaminya dan kembali ke gunung Tay-pek-san untuk tinggal dirumah es disana.

Setelah mendapat kabar ini, aku lantas mencari Lo Teng Kok untuk aku bunuh mati, sayang aku tak dapat menemukannya.

Setelah sekian lama aku mencari dengan sia-sia, lantas dikalangan kang-ouw ada tersiar kabar tentang kematiannya Lo Teng Kok.

Sejak mana sampai sekarang aku belum pernah menyatroni rumah es di Tay-peksan lagi.

Tapi, hmm ada satu hari nanti aku akan menjumpai dia dan membunuhnya mati, kemudian aku beset-beset kulitnya nenek Kok itu, barulah hatiku merasa puas.

Ha ha ha.

-.^ Ia tertawa sambil menggerakkan tangannya.

Segera terlihat satu benda meluncur ke angkasa, kemudian jatuh nyangkut di pohon yang tumbuh disamping kuil.

Kiranya yang diterbangkan tadi adalah kitab pusaka Kumpulan Ilmu Silat sejati Meskipun waktu itu suasana ada gelap.

tapi Ho TiongJeng yang tajam matanya dapat melihat tegas meluncurnya kitab tadi dan nyangkut diatas cabang pohon.

PiKirnya Tok-kay ini sudah menjadi gila, kitab pusaka yang begitu berharga dilontarkan begitu saja, seperti juga ia membuang sampah.

Ia tak dapat didekati lebih jauh dan ia hendak menyingkir daripadanya.

Locianpwe, biarlah aku ambil kitab yang kau lontarkan tadi.

katanya sambil menggerakkan kakinya hendak berjalan, maksudnya yang sebenarnya adalah ia hendak meninggalkan pengemis gila itu Hei, bocah, menyegah Tok-kay.

kau tak perlu mengambil kitab sialan itu yang membikin seumur hidupku menjadi celaka saja.

Bukan sedikit karenanya aku menderita kecewa.

Ada satu hari aku nanti bikin musnah kitab celaka itu.

Ho Tiong Jong tidak menjawab.

Diam-diam ia berpikir.

Tok-kay ini sudah hampir gila, otaknya sudah mulai miring.

Sifatnya tak dapat dirubah, dalam alam pikirannya hanya kejahatan dan kekejaman saja yang berbayang, seolah-olah perbuatan itu sudah menjadi satu hoby kesenangan baginya.

Malam ini kalau aku tak dapat menbunuh dia, entah berapa banyak lagi manusia tidak betdosa akan binasa di tangannya" Dalam keadaan berpikir demikian, tiba-tiba terdengar Tok-kay berkata lagi.

Bocah sekarang aku tidak akan menanya asal usulmu dan juga aku tidak akan membikin celaka atau membunuhmu.

Kini kau boleh sebutkan minta pelajaran apa dari aku akan aku turunkan pelajaran yang aku tahu kepadamu.

Ho Tiong Jong melengak mendengar perkataannya pengemis yang ia sudah anggap gila ini.

Entah apa sebabnya Tok-kay ada demikian baik terhadapnya maka ia setelah mengawasi sejenak lalu menanya.

Locianpwee, sebab apa kau begitu baik terhadapku dan tidak hendak membikin celaka" Sungguh aku yang rendah tak mengira sama sekali, untuk kebaikan dan perhatian lo cianpwe aku menghaturkan banyak terima kasih.

Tok kay Kang ciong tertawa bergelak geli.

Bocah aku sendiri juga tidak tahu apa sebabnya aku jatuh hati padamu.

Rupanya itu memang sudah jodoh.

Tabeatku memang aneh.

terhadup orang yang aku penuju dan mencocoki hatiku, selalu aku ingin berbuat baik dan manis, sebisanya aku ini ingin bikin ia senang dan gembira.

Untuk dia, orang yang mencocoki hatiku, aku rela mengurbankan jiwaku.

Ha ha ha.

Ho Tiong Jong merasa terharu juga mendengar kata-katanya sipengemis beracun, tapi dipikir lagi orang sekejam dan sejahat Tok-kay ini seumur hidupnya tak akan berubah sifatnya suka membunuh dan mencelakai orang.

Memikir kesitu, perasaan terharunya telah tersapu lenyap.

Locianpwee, tiba-tiba ia berkata, aku girang sekali kalau locianpwee suka menurunkan kepadaku ilmu silat yang tinggi, untuk aku menyakinkannya.

Bocah, kau pintar bicara, hi ha ha.

Bukan pintar bicara, sebab kalau locianpwee menurunkan ilmu kepalang tanggung aku kuatir akan memalukan nama locianpwee.

sebab sudah tentu orang akan mengetahui bahwa aku mendapat pelajaran dari locianpwe.

Tok kay Kang ciong angguk anggukan kepalanya.

Baiklah, katanya.

Selama tiga puluh tahun aku menggodok macam-macam ilmu silat yang istimewa dan menciptakan ilmu silat sendiri yang dinamai Tok-liong cianghoat (ilmu telapakan tangan naga berbisa) Sememara hanya tiga belas jurus, dapat digunakan bertanding dengan tangan kosong atau pakai senjata.

Hebatnya bukan main sayang waktu aku bertanding dengan Kok Lo-lo baru saja aku mainkan jurus ketujuh keburu dijatuhkan olehnya sehingga aku jumpalitan dan malunya bukan main.

Tok-kay bicara sambil memberi petunjuk.

bagnimana memainkan iimu silat lihay itu kepada Ho Tiong Jong.

la kasih demontrasi menjalankan ilmu itu sampai tiga belas jurus kemudian minta Ho Tiong Jong coba meniru gerakannya: Pemuda itu amat cerdas otaknya setelah tadi memperhatikannya dengan cermat, ketika disuruh memainkan sendiri apa yang diperhatikan tadi, ia dapat menjalankan dengan baik meskipun ada sedikit kekurangan disana sini.

Dengan beberapa petunjuk perbaikan dari Tok kay, Ho Tiong Jong sudah dapat menangkap dan dicatat dlotaknya ilmu silat.

Tok Hong ciang-hoat yang ampuh itu, warisannya sipengemis beracun.

Ia hanya tinggal menjalankan latihannya saja supaya menjadi gagah memainkannya.

Diam-diam Ho Tiong Jong merasa kagum akan lihaynya ilmu yang dipelajarinya itu.

Menyerang dengan tenaga lunak akan mengakibatkan binasanya musuh tanpa ampun.

Cara menangkis serangan lawan dapat digunakan dengan terang-terangan atau tidak kelihatan, hingga membingungkan musuh.

Tok-kay yang menyaksikan Ho Tiong Jong begitu cerdas, dalam tempo pendek sudah dapat menangkap inti sarinya, malah sudah dapat mempertunjukkan beberapa jurus yang dipelajari barusan, bukin main girang hatinya.

Ia belum pernah menemui pemuda yang demikian baik otaknya.

Bocah, otakmu boleh juga katanya tiba-tiba.

coba mari ikut aku sekali lagi menjalankan dulu-dulu yang kau sudah dapat catat diotakmu tadi.

Ho Tiong Jong anggukkan kepala lantas mengikuti dibelakang Tok-kay, mengikuti segala gerak-gerakannya.

Tiba-tiba dalam hatinya timbul maksudnya yang semula mendekati Tok-kay.

Pikirnya saat itu ada satu kesempatan baik untuk ia membokong sipangemis beracun dari belakang.

Begitu berpikir begitu ia ambil putusan, tangannya diurut untuk menotok jalan darah pada punggungnya sipengemis beracun, Terdengar Tok-kay bersuara.

Heh e kemudian rubuhnya rubuh ditanah.

Ho Tiong Jong setelah menotok rubuh Tok kay hatinya bukan main menyesal.

Kenapa ia membunuh Tok kay yang telah menurunkan ilmunya yang ampuh kepada dirinya" ia jadi turut jatuh lemas disamping tubuhnya Tok-kay.

Ia menghela napas, ia menyesal, tapi jika dipikir sebaliknya perbuatannya itu memang harus dilakukan untuk menolong orang banyak dari kebinasaan ditangan Tokkay.

Pengemis beracun itu perlu disingkirkan jiwanya siang-siang, sebab dosanya sudah luber dari takaran.

Menghilangkan satu jiwa untuk menolong banyak jiwa, itulah ada perbuatan yang harus dilakukan Ho Tiong Jong menghibur dirinya sendiri.

Tapi biar bagaimana juga, batinya yang mulia tidak tega melihat Tok kay dalam keadaan tidak bergerak menggeletak di tanah, gara-gara perbuatannya tadi.

Locianpwe harap kau maafkan perbuatanku ini.

Aku membunuhmu bukan karena aku jahat dan serakah, hanya apa yang kuperbuat atas dirimu disebabkan untuk menolong orang banyak dari kejahatan dan keganasan mu Semoga arwahmu dalam baka tidak menyesalkan perbuatanku Ho Tiong Jong menangis, tak dapat ia menahan rasa terharunya.

Tiba-tiba ia rasakan tangannya yang berdekatan dengan tangannya Tok-kay seperti di gigit nyamuk.

ia menoleh pada Tok-kay.

Dilihatnya tubuhnya sipengemis beracun sudah kaku dengan paras pucat pasi, kukunya sudah berubah berwarna hijau ungu menakutkan.

Ho Tiong Jong lantas bangkit berdiri.

Pikirannya kusut.

Kemana ia harus pergi" Balik kembali ke Seng-kee-po" Tidak mungkin, pikirnya karena hatinya merasa jemu terhadap Pocu dari banteng itu yang kejahatannya mungkin tidak lebih rendah dari Tok-kay yang sesarang tengah menggeletak dihadapannya dengan tubuh kaku.

Ia menghela napas.

Terdengar ia berkata sendirian.

Dunia begini luas, tapi heran tidak ada tempat untuk aku menarah kaki.

Ia dengan perlahan-lahan mengangkat kakinya meninggalkan kuil yang akan merupakan kenangan tak mudah dilupakan dalam riwayat hidupnya selanjutnya.

Ketika ia sampai dihalaman muka kuil tiba-tiba ia seperti melihat ada bayangan orang yang berkelebat.

Hatinya tercekat, la tahu benar bahwa dalam kuil ini hanya ia dengan si pengemis berdua, apakah ada orang ketiga disitu" Bayangan itu seperti menyelinap dibalik pohon, akan tetapi ketika ia menyelidiki, ternyata disitu tidak kedapatan manusia.

Ia penasaran, lalu balik masuk lagi kedalam kuil.

Hatinya terkejut, tatkala ia mendekati Tok kay, sipengemis beracun kedapatan sedang berduduk seperti yang sedang mengumpulkan ingatannya.

Mayat hidup, pikir Ho Tiong Jong.

Ia pernah dengar orang cerita memang ada mayat hidup, dapat mengejar orang, akan tetapi larinya lurus (tidak dapat membiluk), maka kalau benar Tok-kay menjadi mayat hidup dan menguber padanya, ia sudah siap sedia untuk melompat kesamping supaya Tok kay menyelonong lurus.

Mungkin Tok-kay menjadi mayat hidup disebabkan kematiannya sangat penasaran kena dibokong olehnya.

Matanya Ho Tiong Jong terus mengawasi kepada Tok-kay, siapa perlahan-lahan telah bangun berdiri.

Tiba-tiba matanya mengawasi kearah Ho Tiong Jong tampak bengis sekali, menakutkan siapa yang lihat, tapi Ho Tiong Jong sebisa nya telah menabahkan hatinya.

Ho Tiong Jong jadi kemekmek bengong.

ketika mendengar Tok-kay berkata.

Hei, bocah, benar-benar nyalimu kasar sekali.

Post a Comment