Halo!

Darah Pendekar Chapter 64

Memuat...

Gambar-gambar tadi adalah peninggalan beliau. Selama bertahun-tahun empat orang datuk mengasingkan diri, tidak pernah keluar, dan masing-masing me-nyempurnakan ilmu - ilmu mereka. Dan pada wak-tu itu, hanya Kim - mo Sai - ong saja yang telah menerima murid."

"Apakah para locianpwe itu tidak lagi berkun-jung ke telaga Hoa - san, setelah mereka memper-baiki ilmu masing-masing untuk mencari saste-rawan itu ?" Kiong Lee mendesak.

"Baru sepuluh tahun kemudian, setelah kakek gurumu merasa bahwa ilmunya sudah maju, be-liau berkunjung ke sana. Akan tetapi sasterawan tua dan anaknya itu sudah tidak lagi berada di sana. Kakek gurumu lalu berkelana mencarinya, akan tetapi usahanya gagal, tidak pernah ketemu. Akhirnya suhu menjadi bosan, pulang ke sini dan menerima murid, yaitu aku dan subomu ini," katanya sambil melirik kepada isterinya, yaitu nenek Siang Houw Nio - nio.

Ouwyang Kwan Ek menarik napas panjang. "Sekarang aku tahu mengapa guruku, menurut ce-rita twa - suheng, pernah pula mengasingkan diri untuk menyempurnakan ilmu. Belasan tahun kemu-dian baru suhu keluar dan merantau dan barulah beliau menerima murid-muridnya."

Kiong Lee merasa penasaran. "Jadi kalau begi-tu, agaknya sampai para locianpwe itu meninggal dunia, mereka tidak pernah dapat menemukan sas-terawan tua yang maha sakti itu, suhu ?"

Yap-lojin mengangguk. "Agaknya begitulah. Dan selama mereka berempat itu mengembara un-tuk mencari si sasterawan, mereka telah membuat nama besar sehingga tersohor di seluruh dunia persilatan. Mereka berempat dipuja-puja sebagai tokoh sakti yang tak terkalahkan, tokoh- tokoh yang memiliki ilmu silat sempurna. Tak ada yang mengetahui bahwa empat datuk yang mereka puja-puja itu di dalam hatinya masih merasa gentar ter-hadap seseorang." "Ahh, siapakah gerangan sasterawan itu dan di mana beliau sekarang, atau keturunannya ?" tiba - tiba Ho Pek Liari tidak dapat menahan hati-nya untuk bertanya. Sebetulnya hatinya yang ber-suara dan tanpa disadarinya mulutnya ikut pula bicara. Akan tetapi tidak ada yang merasa heran karena pertanyaan itu memang berkecamuk di da-lam hati mereka semua.

"Sebetulnya dari perguruan - perguruan kita sendiri saja, kalau ilmu dari perguruan kita terpu-sat dan terkumpul, tidak terpecah-pecah antara para murid, kiranya kita masih mampu mengha-dapi dan mengatasi Raja Kelelawar !" kata kakek berjubah naga Ouwyang Kwan Ek dengan suara menyesal. Mendengar ini, diam - diam Pek Lian memandang tajam kepada kakek ini. Bukankah kakek ini telah mengirim murid - murid dan anak buahnya untuk merampas kitab - kitab pusaka per-guruannya sendiri dan bahkan telah dengan kejam membasmi semua keluarga Bu ? Hemm, pikirnya dengan penasaran. Kalau caramu mengumpulkan ilmu perguruan sendiri secara demikian kejam, membunuh saudara seperguruan sendiri, maka eng-kau tidaklah lebih baik dari pada Si Raja Kelelawar! Akan tetapi, tentu saja ia tidak berani mengeluarkan bisikan hatinya ini.

Tiba-tiba semua orang menoleh ke arah ba-yangan empat orang yang berlari mendatangi tem-pat itu. Setelah dekat, mereka itu ternyata adalah murid-murid Thian - kiam - pang, yaitu para sute dari Yap Kiong Lee yang diperintahkan oleh pemuda ini untuk mencari jejak penculik yang melarikan Yap Kim.

Tentu saja mereka berempat terkejut bukan main melihat betapa bangunan perguruan mereka sudah rusak binasa habis terbakar, dan mereka tak dapat menahan tangis mereka ketika mendengar malapetaka yang menimpa perguruan mereka dan tewasnya dua orang suheng dan para anak buah Thian - kiam - pang.

"Sudah, jangan menangis seperti anak-anak cengeng!" Akhirnya Siang Houw Nio-nio membentak mereka. "Lekas ceritakan bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian!"

Empat orang murid itu sambil berlutut lalu bercerita. Mereka dapat menemukan jejak orang yang melarikan Yap Kian dan ternyata bahwa yang melarikan itu memang seorang gemuk pendek yang kemungkinan besar adalah Ceng-ya-kang (Si Kelabang Hijau), seorang tokoh dari Ban-kwi-to.

"Kim-sute dibawa dengan perahu yang berlayar di Sungai Huang-ho. Kami tidak berani melakukan pengejaran karena selain kami tidak mem-punyai perahu, juga kami ingin cepat melapor ke-pada suhu, subo dan suheng."

"Celaka ! Kalau Kim - ji berada di tangan ka-wanan iblis dari Ban - kwi - to, tentu akan celaka ! Semua ini adalah kesalahanmu, orang tua yang ti-dak becus mengurus anak sendiri! Engkau mem-biarkan anak tunggalmu sendiri untuk bergaul dengan segala macam iblis dari Ban - kwi - to. Huh, di mana pertanggungan jawabmu ? Bagaimana caramu mendidik anak?"

Yap - lojin yang dimaki - maki di depan orang banyak, terutama di depan Ouwyang Kwan Ek yang menjadi tamunya, memandang dengan muka merah, dan mata mengeluarkan sinar marah. Kakek inipun pada hakekatnya mempunyai watak yang keras, tidak kalah kerasnya dengan watak isterinya.

"Hemm, kalau orang tuanya retak, mana mung-kin anaknya dapat memperoleh pendidikan yang baik ? Keretakan orang tuanya sudah merupakan contoh, yang amat buruk, yang dapat menghancur-kan perasaan anak. Dan kalau seorang isteri me-ninggalkan suami dan anaknya sehingga kehidupan suami dan anak itu menjadi hancur, si anak tidak memperoleh pendidikan yang baik, salah siapakah itu?"

Diserang oleh ucapan begini, nenek Siang Houw Nio-nio menjadi marah bukan main.

Mukanya berobah merah sekali dan matanya berkilat - kilat. Ia membanting kakinya ke atas tanah dan mem-bentak marah.

"Yap Cu Kiat !" Telunjuk kanannya menuding ke arah Indung suaminya itu yang biasanya disebut-nya suheng. "Enak saja engkau bicara ! Sudah ber-ulang kali aku membujuk, menyembah- nyembahmu, agar keluarga kita pindah ke kota raja. Aku adalah keluarga kaisar, dan sudah sepatutnya kalau aku menyumbangkan tenagaku pada saat terakhir hidupku untuk kerajaan keluargaku ! Akan tetapi, engkau berkeras kepala dan tidak sudi, bahkan engkau berkukuh untuk tidak membolehkan Kim-ji kubawa ke istana! Dan engkau mendidiknya sendiri, sekarang apa jadinya ?" "Wah, kaukira kalau kaubawa dia menjadi orang istana dia akan menjadi lebih baik, ya ?

Paling-paling dia akan menjadi seorang pemuda bangsa-wan yang sombong, angkuh dan manja !" "Jelas tidak serusak sekarang ini !"

"Siapa bilang rusak? Harus diselidiki dulu mengapa dia sampai berdekatan dengan orang Ban-kwi-to dan mengapa pula dia sampai dicu-lik." Kakek itu mencoba untuk menahan kemarah- annya. "Jangan sembarangan menuduh yang bukan-bukan!"'

"Tidak perduli ! Pokoknya, kalau engkau tidak bisa mencarinya dan menemukannya, membawanya kembali kepada aku ibunya dalam keadaan utuh, aku bersumpah akan mengadu nyawa denganmu !*

Melihat keadaan yang meruncing antara suheng dan sumoi yang telah menjadi suami isteri akan tetapi kemudian saling berpisah karena masing-masing mempertahankan pendirian sendiri itu, Ouw-yang Kwan Ek yang menjadi tamu merasa tidak enak sekali. Dia lalu maju dan menjura kepada dua orang itu.

"Lojin ! Nio-nio ! Harap maafkan aku, bukan maksudku mencampuri, akan tetapi sebagai sahabat, kiranya aku berkewajiban untuk mengingatkan kalian bahwa dalam keadaan seperti ini, cekcok saja tidak akan dapat mengembalikan putera kalian. Aku akan suka membantu mencarinya."

Suami dan isteri yang sudah tua itu saling pandang dengan sinar mata berkilat, kemudian mereka lalu membuang muka dengan muka masih merah. Memang mereka saling berpisah karena masing-masing mempertahankan pendirian dengan hati keras. Siang Houw Nio - nio ingin untuk menyum-bangkan tenaganya kepada kerajaan, dan iapun sudah minta kepada suaminya untuk membantunya dan hidup di kota raja, untuk mengangkat derajat putera tunggal dan putera angkat mereka, yaitu Kiong Lee yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri. Akan tetapi, Yap Cu Kiat merasa tidak suka akan sepak terjang kaisar dan diapun berkeras tidak mau sehingga timbullah percekcokkan anta-ra mereka yang mengakibatkan Siang Houw Nio-nio meninggalkan suami dan puteranya, dan pergi sendirian ke kota raja di mana ia lalu menjadi pengawal pribadi dari kaisar.

Pendidikan anak merupakan kewajiban mutlak dan utama bagi orang tua, di samping tentu saja memelihara dan membesarkannya.. Dan pendidik an yang tepat adalah pencurahan kasih sayang yang murni, bukan sekedar pendidikan melalui nasihat-nasihat dari mulut. Seorang anak membutuhkan pencurahan cinta kasih dari ayah bundanya. Ge-taran cinta kasih akan terasa oleh anak itu dan orang tua yang benar-benar mencinta anaknya, sudah pasti akan selalu mendidik diri sendiri terlebih da-hulu agar si anak dapat melihat dan mengerti, tan-pa dibujuk melalui mulut.

Apa artinya orang tua melarang anaknya agar jangan berjudi kalau si orang tua sendiri tukang judi

? Apa artinya orang tua melarang anaknya agar jangan memaki kalau si orang tua sendiri tukang maki ? Kerukunan ayah dan ibu merupakan pendidikan yang paling baik bagi anak mereka.

Sebaliknya percekcokan antara ayah dan ibu merupakan racun - racun dan benih-benih buruk pertama yang merusak watak si anak. Pujian - pujian tidak akan menjadikan anak baik, karena hal itu bahkan akan membuat si anak men-jadi seorang yang selalu haus akan pujian dan ke- baikannya itupun hanya palsu karena dilakukan ha-nya untuk memancing agar memperoleh pujian be-laka. Memanjakannya secara berlebihan akan mem-buat si anak menjadi seorang yang lemah tergan-tung kepada orang tua, tidak berani dan lemah menghadapi halangan dan kesukaran hidup. Akan tetapi, mendidik dengan kekerasan akan membuat si anak berwatak keras, juga dapat membuatnya men-jadi rendah diri. Anak yang menurut kepada orang tuanya karena pendidikan keras, hanya menurut karena takut saja, akan tetapi di dalam hatinya dia memberontak dan kalau sekali waktu dia me-rasa kuat, dia akan memberontak secara berterang, bahkan mungkin akan sengaja memberontak untuk membalas dendam yang sudah lama disimpan di dalam hatinya.

Ucapan Ouwyang Kwan Ek menyadarkan suami isteri itu bahwa mereka telah dikuasai perasaan sehingga melupakan nasib putera mereka yang ber-ada di tangan orang Ban - kwi - to dan masih belum diketahui bagaimana keadaannya itu. Akan tetapi, Siang Houw Nio nio masih bersungut - sungut ketika berkata, "Pendeknya engkau harus cepat mencari dan menemukan kembali anakku !" Ucapan ini ditujukan kepada suaminya.

"Baliklah, sumoi baiklah, aku akan turun gunung mencarinya," jawab Yap-lojin dengan suara

duka. Siang Houw Nio - nio lalu mendengus, memba-likkan tubuhnya dan memberi isyarat kepada dua orang muridnya untuk pergi bersamanya, kemudian, hanya dengan anggukan kecil pada Ouwyang Kwan Ek, iapun lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Pek In dan Ang In berlutut kepada Yap - lojin untuk berpamit. Kakek itu menggerakkan tangan kanan menyuruh mereka bangkit. "Pergilah dan jaga baik-baik subo kalian." Dua orang gadis itu mengangguk dan menahan air mata mereka. Mere-ka masih diliputi kedukaan melihat apa yang me-nimpa Thian - kiam - pang dan Pek In mengerling ke arah Yap Kiong Lee dengan pandang mata sa-yu. Kemudian merekapun pergi sambil mengajak Pek Lian.

Post a Comment