Halo!

Darah Pendekar Chapter 63

Memuat...

"Lihat, bukankah lambung kirimu terbuka ? Ka-lau kumasukkan kakiku ke situ, engkau sudah roboh ! Nah, penutupan lambung itu membuka lehermu sebelah kiri, dan pukulanku dengan tangan miring pada leher itu tentu sukar kauhindarkan lagi !" Dan setiap gerakan Cui-beng Kui- ong di-sambutnya dengan uraian tentang kelemahan- kelemahannya. Lebih hebat lagi, asap tipis putih berbau hio yang tadinya melengkung ke arah kakek sasterawan itu, kini membalik dan dari kedua le-ngan Cui-beng Kui-ong bukan melengkung ke depan, melainkan membalik ke belakang!

Cui-beng Kui-ong merasa terkejut bukan main. Memang semua yang dinyatakan kakek itu tentang kelemahan semua jurusnya itu tepat dan bahkan baru sekarang dia melihatnya! Dia merasa penasaran sekali dan cepat diapun mainkan pukulan Pehisap Darah yang amat hebat itu. Akan tetapi, kembali pukulan keji ini sama sekali tidak mempengaruhi si kakek sasterawan. Tidak ada setetespun darah sasterawan itu terpecik keluar seperti yang biasa terjadi pada lawan-lawan iblis itu kalau mempergunakan Ilmu Penghisap Darah, pa-dahal berkali- kali sasterawan itu mengadu lengan dengan si raja iblis. Bahkan dalam jurus-jurus ilmu inipun si sasterawan menunjukkan kelemahan - kelemahannya.

"Yang paling berbahaya adalah ilmu-ilmu hitam seperti ini, Kui-ong. Kalau engkau tidak merobah sifat dan watakmu, maka ilmu-ilmu seperti ini bahkan akan menjadi kutukan bagimu. Lihat, kalau kulawan begini, bukankah engkau yang akan celaka sendiri ?" Kakek itu menggerakkan kedua lengannya yang kecil dan angin yang menyambar amat dahsyatnya, kemudian Cui-beng Kui-ong terpekik kaget melihat betapa ada darah keluar dari pori-pori kedua lengannya, tanda bahwa dia sendiri telah menjadi korban ilmunya sendiri, seperti senjata makan tuan! Maka tahulah dia bahwa kakek sasterawan ini benar-benar maha sakti dan diapun bukan orang bodoh, melainkan seorang datuk sehingga dia tahu saat kekalahan-nya. Diapun meloncat ke belakang.

"Hari ini Cui-beng Kui-ong mengaku kalah!" katanya dengan menahan geram lalu mengatur pernapasannya untuk mengobati luka-lukanya sendiri akibat ilmu yang membalik tadi.

Tentu saja tiga orang datuk lainnya hampir tidak percaya akan apa yang mereka saksikan tadi. Di samping keheranan dan kekagetan, juga mereka merasa penasaran. Mungkinkah kepandaian mereka yang menggemparkan dunia persilatan itu harus kalah oleh seorang sasterawan tua renta yang sa-ma sekali tidak terkenal! Kim - mo Sai - ong me-loncat maju dan menjura kepada kakek itu. Dia tahu bahwa kakek itu seorang sakti, maka diapun tidak sembrono.

"Sobat, aku mohon petunjukmu !" Dan tanpa menanti jawaban, Kim-mo Sai-ong sudah menerjang dengan dahsyatnya dan begitu turun tangan diapun sudah mempergunakan ilmunya yang paling hebat, yaitu Pukulan Pusaran Pasir Maut dan dimainkannya ilmu silatnya yang, dinamakan Soa - hu - lian (Teratai Danau Pasir). Hawa dingin yang menggigilkan terpancar dengan daya tolak hebat dari tubuhnya. Kuda-kudanya kokoh kuat, lengannya yang panjang itu mencuat ke sana ke mari mencari lowongan, dengan jari - jari tangan terkembang siap untuk mencengkeram lawan. Se-luruh tubuhnya melambangkan setangkai bunga teratai, nampak sangat indah dipandang. Kalau kedua kakinya yang kokoh kuat itu bergerak lam-ban dan kuat seperti menjadi akar - akar teratai, maka kedua tangannya bergerak cepat dari atas, melambai-lambai seperti tangkai-tangkai bunga teratai tertiup angin.

"Bagus, Kim - mo Sai - ong, akan tetapi ilmumu ini terlalu mengandalkan kekuatan kaki belaka, dan ingat, orang bisa roboh karena kelemahan bagian atasnya, walaupun kakinya tidak roboh akan tetapi kalau bagian atas terluka, apa artinya ? Lihat, aku membuat tangkai-tangkai terataimu tidak berda-ya !" Dan benar saja, dengan totokan - totokan satu jari yang mengeluarkan hawa panas, kakek sas-terawan itu membuat kedua lengan Kim-mo Sai-ong tidak berdaya karena sebelum mendekati tu-buh lawan telah bertemu dengan hawa - hawa yang menotok ke arah jalan darah di seluruh kedua le-ngannya.

Kim - mo Sai - ong yang telah mencapai tingkat ke tigabelas, tingkat terakhir dari Soa - hu - pai ini mengerahkan seluruh tenaganya sampai daya tolak nya membuat batu - batu besar bergoyang - goyang dan pohon-pohon di sekitar tempat itu seperti tertolak angin badai. Akan tetapi kakek sastera-wan itu tenang saja menghadapi daya tolak Tenaga Sakti Pusaran Pasir Maut, seolah-olah tonggak besi kecil namun kokoh kuat yang tidak goyang sedikitpun juga dilanda angin. Karena kedua le-ngannya selalu menjadi sasaran totokan yang me-nyambut semua serangannya, akhirnya Kim - mo Sai - ong kewalahan dan mati kutu. Ilmu yang di-andalkannya itu seperti api bertemu air, tidak ber-daya sama sekali dan akhirnya, karena terlalu ba-nyak mengeluarkan tenaga sia - sia, dengan tere-ngah-engah diapun meloncat ke belakang. "Teri-ma kasih, aku Kim- mo Sai-ong mengaku kalah !"

Giliran Sin-kun Bu-tek yang maju. Datuk ini terkenal memiliki ilmu silat yang luar biasa am- puhnya sehingga dijuluki Sin-kun Bu-tek (Tangan Sakti Tanpa Tanding). Sebagai seorang datuk golongan bersih, walaupun wataknya lebih keras di-bandingkan dengan Bu-eng Sin-yok-ong, namun datuk ini tidaklah sekasar dua orang datuk pertama. Dia menjura dengan hormat dan berkata, "Kiranya mata kami seperti buta tidak mengenal Gunung Thai-san menjulang di depan mata ! Sahabat yang sakti, saya Sin-kun Bu-tek mohon petunjuk !"

Kakek sasterawan iba telah mengalahkan dua orang datuk, akan tetapi dia kelihatan masih tenang saja, seolah-olah dia mengalahkan mereka tadi tanpa pengerahan tenaga sama sekali.

Sikapnya masih biasa, tenang dan merendah. "Sin-kun Bu-tek, julukanmu saja menandakan bahwa ilmu silatmu adalah ilmu pilihan. Belum tentu aku akan dapat mengalahkanmu, akan tetapi aku ingin engkau mengalahkan dan menundukkan keangkuhanmu sendiri. Nah, majulah !"

Sin-kun Bu-tek menerjang dengan ilmu silat andalannya, yaitu Ilmu Silat Angin Puyuh dengan tenaga sakti Thian-hui-gong-ciang (Tangan Kosong Halilintar). Hebat bukan main datuk ini memang dan tingkatnya hanya kalah sedikit saja di-bandingkan dengan Bu - eng Sin - yok - ong. Gerakan kaki tangannya amat cepat sehingga tubuhnya lenyap berobah bentuknya menjadi bayangan yang berkelebatan dan gerakan ini mendatangkan angin yang berputar - putar membuat semua pohon ber-goyang-goyang di sekeliling tempat itu. Dan yang hebat sekali adalah kedua tangan yang melancarkan pukulan Thian-hui-gong- ciang itu. Kadang-kadang terdengar ledakan dan nampak asap mengepul ketika kedua tangan itu memukul dan saling bersentuhan, seolah-olah kedua tangan itu me-ngandung aliran listrik atau aliran kilat yang dapat menghanguskan tubuh lawan yang terkena pukulannya.

Namun, kakek sasterawan itu bersikap tenang saja dan seperti juga tadi, kini diapun memberi petunjuk kepada Sin-kun Bu-tek tentang kele-mahan - kelemahan dari ilmu silatnya, mengeritik dengan petunjuk dan bukti-bukti sehingga kalau dia mau, tentu dia akan dapat merobohkan Sin - kun Bu - tek dengan ilmunya yang dipakai untuk meng-hadapi ilmu datuk utara itu. Sebelum lewat lima-puluh jurus, Sin-kun Bu-tek yang selalu ditunjuk kelemahan - kelemahan ilmunya, merasa takluk dan diapun meloncat ke belakang dan mengaku kalah!

Kini tinggallah Bu - eng Sin - yok - ong seorang. Datuk ini berbeda dari yang lain. Dia sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat, ilmu pengobatan dan ilmu kebatinan sehingga dia tidak bersikap kasar dan tidak pula penasaran. Kini dia-pun tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang maha sakti yang sengaja menyembunyikan diri dan diam - diam dia merasa malu bahwa dia menerima sebutan datuk, padahal ada orang yang lebih lihai tidak dikenal sama sekali! Betapapun juga, setelah tiga orang sahabatnya diberi petunjuk, kalau dia tidak maju, berarti dia akan membikin malu tiga orang sahabatnya itu. Di samping itu, sebagai se-orang ahli silat tinggi, diapun suka sekali akan ilmu silat dan tiada salahnya kalau kini setelah mendapat kesempatan bertemu orang sesakti ini, diapun mencoba - coba ilmunya.

"Seorang locianpwe tinggal di sini tanpa nama, sungguh membuat kami merasa malu kepada diri sendiri. Harap sahabat yang mulia sudi memberi petunjuk kepadaku," katanya sambil mengibaskan lengan bajunya yang lebar.

Kakek sasterawan itu tersenyum pahit. "Siancai... nama besar Bu-eng Sin-yok-ong bukan sembarangan. Aku jauh lebih kagum akan ilmu pengobatanmu dari pada ilmu silat. Ilmu pengo- batanmu itulah ilmu yang amat berguna dan baik, tidak seperti ilmu silat yang selalu disalahgunakan untuk menindas katun lemah. Marilah, Yok-ong, mari kita main-main sebentar, siapa tahu ada gunanya bagi kita berdua."

"Maafkan kelancanganku !" Sin - yok - ong berseru dan setelah memberi hormat diapun langsung mengeluarkan ilmu simpanannya yang merupakan gabungan dari Ilmu Silat Kim - hong - kun (Silat Burung Hong Emas) digerakkan dengan ginkang Pek - in (Awan Putih) dan dengan tenaga sakti Pai-hud-ciang (Tangan Sakti Penyembah Buddha). Sukar diceritakan betapa hebatnya gerakan kakek yang berjuluk Bu-eng (Tanpa Bayangan) ini. Gin-angnya memang hebat luar biasa sehingga tubuh-nya kadang - kadang lenyap menghilang, dan ilmu silatnya juga amat indah dan halus, menyambar-nyambar dari atas dan bawah sedangkan tenaganya adalah tenaga sinkang yang sudah mencapai ting-kat tertinggi, begitu halus dan mengandung getar-an yang hampir tidak terasa, akan tetapi tenaga ge-taran ini manipu menghancurkan batu karang dari jarak jauh!

"Siancai bukan main hebatnya !" kata kakek sasterawan itu sambil menandingi lawannya.

Dan biarpun agak lama, akhirnya dia dapat juga menemukan beberapa kekurangan dan kelemahan dalam ilmu silat Bu-eng Sin-yok-ong sehingga kalau dia menghendaki, dalam waktu kurang dari seratus jurus dia tentu akan dapat mengalahkan Raja Tabib Sakti itu! Akhirnya, kakek sakti inipun meloncat ke belakang, terlongong sejenak kemudian menjura sambil berkata dengan hati penuh rasa kagum.

"Kami sungguh tak tahu diri..., dan benarlah bahwa kami amat angkuh dan terlalu membanggakan diri sendiri. Mulai sekarang, aku tabib tua yang bodoh tidak berani lagi menjual lagak di dunia luar !" Setelah berkata demikian, Sin - yok - ong lalu pergi dari situ, diikuti oleh tiga orang datuk lainnya. Dan memang benar, sejak saat itu, empat orang datuk itu tidak pernah lagi muncul, lebih banyak mengasingkan diri dan diam - diam memperdalam ilmu masing-masing.

Demikianlah cerita yang amat menarik, yang diceritakan oleh Yap - lojin ketua Thian-kiam- pang kepada para pendengarnya,, yaitu nenek Siang Houw Nio - nio, Ouwyang Kwan Ek, Yap Kiong Lee, Pek In, Ang In, dan juga Ho Pek Lian. Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian dan hati tertarik sekali. Siang Houw Nio-nio yang juga menjadi murid dari Sin-kun Bu- tek, belum pernah mendengar cerita ini dari suhunya, bahkan Ouw-yang Kwan Ek, murid ke dua dari Si Raja Tabib Saktipun tidak pernah diceritakan oleh gurunya. Agaknya, empat orang datuk itu sungguh merasa terpukul dan tidak pernah bercerita kepada mere-ka, kecuali Sin - kun Bu - tek yang menceritakan-nya kepada muridnya yang tersayang, yaitu Yap Cu Kiat atau Yap - lojin, sambil menyerahkan gam-bar - gambar itu.

Yap - lojin melanjutkan ceritanya. "Lihat, gambar- gambar ini adalah petunjuk - petunjuk dari sasterawan tua itu. Di sini diperlihatkan betapa dengan mudahnya beliau memunahkan setiap ilmu khas dari empat orang datuk. Empat gambar ini memperlihatkan jelas, dan dilukis oleh mendiang suhu sebagai peringatan dan juga untuk memper-dalam ilmunya dengan meneliti kelemahan - kele-mahan seperti yang ditunjukkan oleh sasterawan itu. Dan memang, semenjak kekalahan yang mutlak itu, empat orang datuk tekun memperbaiki ilmu masing-masing dan karena mereka sudah tidak tekebur lagi, mereka dapat menciptakan ilmu yang jauh lebih baik dan matang."

Kakek berjubah naga mengangguk-angguk. "Sejak dahulu aku menduga bahwa ada rahasia se-suatu yang membuat suhu selalu marah kalau ada muridnya yang tekebur. Mungkin saja rahasia itu diceritakannya kepada twa-suheng Bu Cian yang sayang agaknya juga menyimpan rahasia itu sam-pai matinya."

Yap - lojin berkata, "Berdasarkan cerita itu ma-ka aku percaya bahwa biarpun kita orang - orang tua tidak mampu menghadapi Raja Kelelawar yang amat hebat itu, nanti pasti akan muncul seseorang yang akan mampu menundukkannya."

"Mudah-mudahan begitulah," kata isterinya. "Menurut pengamatanku, biarpun si pendek

Pek-lui-kong Tok Ciak cucu murid Kim-mo Sai-ong itupun agaknya masih jauh untuk dapat menan- dingi Raja Kelelawar."

Setelah menceritakan rahasia itu dan memperlihatkan gambar - gambar, kakek Yap mengajak mereka semua untuk keluar lagi dari terowongan di bawah tanah. Dalam perjalanan ini. Yap Kiong Lee merasa penasaran bukan main mendengar dongeng gurunya itu. Selama ini, gurunya tidak pernah bercerita tentang rahasia itu. Dia merasa penasar-an karena selama ini, dia merasa bahwa ilmu raha-sia perguruan mereka yang hanya diturunkan kepa-danya oleh gurunya dianggap sebagai tidak ada cacat celanya.

Mereka tiba di luar terowongan, di tepi telaga yang kini sunyi melengang dan menyeramkan itu karena semua bangunannya telah runtuh. "Suhu, setelah peristiwa itu, lalu apa saja yang dikerjakan oleh kakek guru dan para locianpwe yang lain ?" Kiong Lee tidak dapat menahan diri dan mengaju-kan pertanyaan itu kepada suhunya.

Yap-lojin menoleh dan tersenyum melihat keinginan tahu murid kesayangannya ini. "Kakek gurumu lalu menyepi di dalam kamar rahasia itu dan berusaha menyempurnakan ilmunya.

Post a Comment