Halo!

Darah Pendekar Chapter 62

Memuat...

? Siapakah engkau begitu berani menghina ayahku ?"

Cui-beng Kui-ong masih merasa malu kalau harus melayani seorang pemuda seperti ini, maka dia menahan kemarahannya dan tertawa. "Ha-ha-ha, ketahuilah, pemuda tolol. Aku adalah Cui-beng Kui-ong!" Dikiranya bahwa pemuda itu tentu akan ketakutan setengah mati mendengar namanya. Di seluruh dunia ini, baik pendekar maupun pen-jahat, gemetar ketakutan mendengar namanya, apa-lagi seorang pemuda tak terkenal seperti ini. Akan tetapi sikap pemuda itu sungguh mengejutkan empat orang datuk itu.

"Hernm, engkau baru seorang Kui-ong (Raja Iblis) sudah berani mengganggu ayahku.

Sedangkan seorang Sian- ong (Raja Dewa) sekalipun tidak akan berani. Iblis seperti ini memang patut dihajar !" Dan pemuda itu langsung saja memukul dengan kepalan lurus ke arah dada Cui- beng Kui-ong! Hampir saja raja iblis ini tertawa bergelak melihat pemuda itu berani menyerangnya dengan kepalan biasa seperti itu. Tentu saja dengan mudah dia akan dapat mengelak, akan tetapi karena dia ingin segebrakan saja membuat pemuda itu "tahu rasa", maka diapun tidak mengelak, melainkan menangkis sambil mengerahkan sinkang biasa yang cukup kuat untuk mematahkan tulang lengan pemuda itu dan sekaligus membuatnya terlempar.

"Dukkk!!" Akibat benturan kedua lengan itu membuat Cui-beng Kui-ong terbelalak, bah-kan tiga orang datuk lainnya juga menjadi bengong. Mereka bertiga itu maklum akan maksud Cui-beng Kui-ong dengan tangkisan itu. Akan tetapi akibatnya, pemuda itu sama sekali tidak terlempar, apa lagi patah tulang lengannya, bahkan Cui- beng Kui-ong merasa betapa pemuda itu memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, setidaknya mampu menandingi tenaganya tadi! Tentu saja dia merasa kecelik, terkejut dan juga penasaran dan cepat datuk ini membalas serangan dengan dahsyat dan bertubi-tubi. Akan tetapi kembali dia terkejut setengah mati karena dengan gerakan- gerakan aneh akan tetapi teratur dan cepat sekali, pemuda itu dapat menghindarkan semua serangannya dengan baik, bahkan membalas setiap serangan secara kontan dan berantai ! Karena Cui-beng

Kui-ong memandang rendah, hal yang tidak aneh karena memang selama ini dia tidak pernah menemukan tanding, nyaris dalam serangan jurus ke tigabelas kepalan tangan pemuda itu mengenai lehernya. Untung dia masih dapat melempar tubuh ke belakang sehingga terhindar dari pada malu terkena pukulan lawan. Akan tetapi pemuda itu terus mendesaknya dengan pukulan - pukulan yang mantap sekali.

"Anakku, sudahlah sudahlah, Cong Bu jangan berkelahi!" Sasterawan tua itu

meratap-ratap. Akan tetapi anak angkatnya yang berangas-an dan yang sudah marah dan sakit hati sekali itu mana mau mendengarkan permintaannya ? Pemuda itu menerjang terus dan terjadilah perkelahian yang seru dan yang amat mengherankan hati tiga orang datuk lainnya, juga membuat semakin pe-nasaran hati Cui-beng Kui-ong. Dia merasa malu sekali karena tadi memandang rendah dan ternyata pemuda ini sedemikian lihainya se-hingga dapat melayaninya sampai hampir ti-apuluh jurus. Marahlah Cui-beng Kui-ong an diapun mulai memainkan ilmunya yang paling baru, yaitu Ilmu Pukulan Penghisap Darah! Bu kan main hebatnya pukulan ini dan sekali ini pemuda itu terdesak hebat. Memang harus diakui bahwa bagaimanapun juga, tingkat kepandaian pemuda ini walaupun memiliki bakat yang amat kuat, namun masih belum matang dan masih kalah se-tingkat dibandingkan dengan Cui - beng Kui - ong. Dia terdesak mundur, akan tetapi dasar wataknya keras dan berangasan, dia masih nekat terus mela-kukan perlawanan.

Akhirnya, sebuah pukulan dahsyat dengan Tenaga Sakti Asap Hio mengenai dada sebelah kanan pemuda itu yang roboh terjengkang dan tak sadarkan diri!

"Cong Bu ah, Cong Bu, mengapa engkau tidak mentaati kata-kataku tadi ?" Sasterawan tua itu menubruk dan menangisi anak angkatnya, mengeluh panjang pendek. Diambilnya sehelai koyo (obat tempel) dan ditempelkan pada dada anaknya yang terluka parah itu. Baju bagian dada itu berlu-bang seperti terbakar dan kulitnya juga matang ha-ngus terkena pukulan itu dan masih mengepulkan uap! Melihat ini Raja Tabib Sakti lalu mendekat dan sekali lihat saja tahulah dia bahwa pemuda itu terkena pukulan Tenaga Sakti Uap Hio, maka dia-pun cepat - cepat mengeluarkan obat cair dalam botol. Dia percaya bahwa pemuda itu tidak teran-cam nyawanya karena tadi sudah dilihatnya bahwa pemuda itu memiliki sinkang yang cukup kuat, akan tetapi kalau tidak cepat diberi obat yang tepat, ha-wa beracun dari pukulan itu bisa merusak jalan darah.

"Sobat, tuangkan obat ini pada luka di dadanya dan paksa dia minum sebagian sisanya," katanya halus. Tanpa berkata apa-apa, sasterawan itu menerima botol dan membukanya, lalu menyiram luka itu dengan sebagian dari obat cair itu. Kemu-dian, dia membuka mulut anaknya dan menuang-kan sisa obat ke dalam mulutnya. Kalau dia tidak memiliki kepercayaan sepenuhnya kepada datuk

yang berjuluk Raja Tabib Sakti itu, tentu dia me-ragu mendengar bahwa obat luar bisa diperguna-kan untuk obat dalam itu. Dan memang hebat se-kali obat dari Raja Tabib Sakti itu. Begitu diobati, pemuda itu siuman kembali dan mengeluh lirih.

"Nah, apa kataku tadi, Cong Bu, janganlah kau-lanjutkan sifatmu yang berangasan itu, hanya men-datangkan malapetaka saja bagimu. Untung engkau tidak mati dan menerima pertolongan dari Bu-eng Sin-yok-ong !" kakek sasterawan itu menegur anaknya.

"Akan tetapi... akan tetapi mereka menghina ayah! Hemm, kelak aku akan membalas penghina-an ini, setelah aku menyempurnakan pelajaran ilmu yang ayah berikan. Sungguh kurang ajar sekali! Aduhh... huh-huh... kepandaiannya cuma seperti itu sudah berani menyombongkan di depan ayah! Huh, lihat saja dua tahun lagi, aku tentu akan menghajar raja iblis itu !"

Sasterawan tua itu cepat membungkam mulut anaknya yang marah-marah dan penasaran itu, sambil dengan muka was - was melirik kepada em-pat orang datuk yang sudah hendak pergi itu.

Dan memang sesungguhnyalah apa yang dikhawatirkannya. Cui-beng Kui-ong marah bukan main mendengar ocehan pemuda yang telah dirobohkannya itu. Sambil menggeram dia melangkah ke depan, sekali mengulur tangan dia telah mencengkeram leher sasterawan tua itu dan melempar-kannya ke tengah telaga. Tubuh yang kurus kecil itu terlempar bagaikan layang- layang putus talinya. Cui - beng Kui - ong yang marah - marah itu me-lanjutkan gerakannya, menjambak rambut pemuda itu untuk dijotos. Melihat ini, Bu - eng Sin - yok-ong hendak mencegah akan tetapi tiba - tiba mereka semua dikejutkan oleh hal yang sama sekali tidak pernah mereka duga !

Tubuh sasterawan tua itu tadi terlempar ke arah telaga seperti layang-layang putus talinya, dan tak dapat diragukan lagi bahwa tubuhnya yang ringan itu tentu akan terjatuh ke air telaga.

Akan tetapi, ketika sasterawan tua itu melihat be-tapa anaknya dijambak rambutnya dan terancam nyawanya, tiba-tiba dia mengeluarkan suara me-lengking tinggi halus sekali seperti suara nyamuk terdengar di dekat telinga dan tubuhnya yang tadi-nya meluncur itu, mendadak menggeliat di udara dan dapat menukik kembali ke darat dengan kece-patan seperti seekor burung walet terbang saja. Bu - eng Sin - yok - ong adalah seorang ahli gin-kang yang tiada keduanya di dunia persilatan, akan tetapi menyaksikan ginkang yang diperlihat-kan oleh kakek sasterawan itu, dia sampai melongo dan bengong keheranan. Kemudian, sekali kedua tangan kakek sasterawan itu bergerak, tahu-tahu pemuda yang tadinya dijambak rambutnya oleh Cui - beng Kui - ong itu telah berpindah tangan dan dipondong oleh kakek sasterawan kecil kurus itu !

Sasterawan itu memangku anaknya di atas ta-nah dan sambil mengelus - elus kepala puteranya, dia berkata dengan suara gemetar, "Agaknya cu-wi memiliki hati yang demikian angkuhnya sehingga selalu mau menang sendiri. Agaknya untuk memo-hon agar cu - wi suka pergi, haruslah lebih dulu menundukkan keangkuhan itu. Nah, sekali lagi, ha-rap cu - wi suka meninggalkan tempat ini sebelum cu - wi kehilangan keangkuhan itu."

Sebelum yang lain menjawab, Cui-beng Kui-ong sudah menjadi marah sekali dan dia maju menghampiri kakek sasterawan itu. "Tua bangka sombong ! Inilah aku, Cui - beng Kui ong yang telah memukul anakmu karena anakmu lancang mulut. Kau hendak menundukkan keangkuhan ka- mi ? Hemmu, majulah, siapa takut kepadamu ? A-kan tetapi ingat, kalau engkau mampus di tangan-ku, anakmu inipun akan kubunuh agar engkau tidak mati sendiri !" Ucapan datuk ini bukan sekali - kali karena kekejamannya, melainkan karena kecerdikan-nya. Kalau kakek itu tewas, tentu kelak anaknya yang berangasan itu hanya akan mendatangkan ke-sulitan saja baginya, maka harus dibunuh sekali untuk menghilangkan balas dendam.

Dengan perlahan kakek sasterawan itu bangkit berdiri dan mengangguk. "Sesukamulah, akan tetapi dengan kepandaianmu yang jauh dari pada bersih itu, dengan banyak kelemahan dan kekurangannya di sana-sini, bagaimana engkau akan dapat memastikan kemenanganmu?

Pertama-tama, engkau harus merobah watakmu yang bukan saja kejam, akan tetapi juga sombong dan. tekebur itu, ini merupakan pelajaran pertama bagimu, Cui-beng Kui-ong !" Kini ucapan sasterawan itu tidak lemah seperti tadi, melainkan penuh wibawa dan mengandung kekuatan yang menggetarkan jantung.

TENTU saja Cui-beng Kui-ong menjadi semakin marah. Sambil menghardik, diapun sudah menerjang maju. Karena dia tahu bahwa sebagai ayah pemuda itu, tentu kakek ini memiliki ilmu ke-pandaian tinggi, maka begitu menerjang, dia sudah mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu dia memukul dengan Tenaga Sakti Asap Hio yang mengeluarkan bau harum aneh itu. Biasanya, ilmu ini akan me-ngeluarkan bau yang membuat lawan menjadi pu-sing dan bisa roboh sendiri tanpa dipukul. Dan dari kedua tangannya keluar asap tipis putih ber-bau, harum yang melengkung ke ayah lawannya. Akan tetapi, dengan tenang saja kakek sasterawan ini menghadapi semua pukulannya sambil mene-rangkan kelemahan - kelemahan jurus yang di-mainkan Cui-beng Kui- ong.

Post a Comment