Halo!

Darah Pendekar Chapter 61

Memuat...

kalau hanya untuk menindas ?

Lebih baik bodoh lebih baik lemah!"

Cui-beng Kui-ong menjadi semakin marah karena dia merasa diejek dan disindir. "Keparat, berani engkau memaki orang ?" katanya dan dia-pun merenggut lukisan dari atas tanah dan mero- bek - robek lukisan itu ! Datuk yang bertubuh ting-gi besar dengan kumis dan jenggot kasar pendek ini kelihatan menyeramkan sekali. Lukisan itu hancur lebur ketika dirobeknya. Padahal, sastera-wan tua itu bersusah payah dengan lukisan itu selama berhari-hari dan lukisan itu telah mendapatkan bentuknya. Sebuah lukisan yang amat in-dahnya. Matahari pagi dilukisan itu seolah- olah menyinarkan cahaya begitu hidup, cahaya keemas-an yang gilang - gemilang dan yang membentuk cahaya panjang di permukaan danau. Padahal, lukisan itu hanya hitam putih saja, namun orang yang menatap lukisan itu seolah-olah melihat ke indahan warna-warna aselinya.

Bu-eng Sin-yok-ong dan Sin-kun Bu-tek mengerutkan alisnya dan merasa bahwa tindakan Cui - beng Kui - ong itu agak keterlaluan walaupunmereka berduapun merasa tidak senang kalau mengingat bahwa kakek sasterawan ini tadi telah mendengarkan semua percakapan mereka berem-pat, bahkan mungkin sekali telah melihat demons-trasi kepandaian mereka yang amat dirahasiakan itu.

Sasterawan tua itu ternyata tidak marah, hanya dengan muka sedih sekali dia melihat betapa lu-kisan kesayangannya dirobek - robek orang. Ke-dua lengan yang memegang mouw - pit dan tem-pat bak itu tergantung lemas dan wajahnya yang tua keriputan nampak amat berduka.

Lalu dia berlutut di dekat robekan - robekan lukisan, me-naruh pena bulu dan tempat tinta di atas tanah, memunguti robekan lukisan, melihatnya dengan air mata berlinang, kemudian dia berkata dengan lirih, nadanya penuh keprihatinan,

"Kuharap dengan sangat agar tuan - tuan suka cepat berlalu dari tempat ini sebelum anak angkatku yang pemarah itu datang ke sini dan melihat malapetakka ini."

Tentu saja ucapan yang mengandung peringat-an ini membuat empat orang datuk itu mau tidak mau tertawa, bahkan Bu - eng Sin - yok - ong sen-diripun sempat tersenyum dan mengelus jenggot-nya. Mereka adalah empat orang datuk terbesar di seluruh dunia persilatan, merasa tanpa tandingan dan tentu saja menghadapi siapapun mereka tidak merasa takut, apa lagi harus berhadapan dengari anak angkat kakek itu yang berangasan saja, bahkan dengan kaisar dan bala tentaranya sekalipun mere-ka tidak akan gentar menghadapinya. Bahkan Sin-kun Bu - tek yang berjiwa pendekar juga merasa tersinggung diperingatkan seperti itu, seolah - olah mereka berempat akan merasa takut terhadap an-caman seorang bocah, karena betapapun juga, anak angkat kakek itu tentu masih muda. Maka diapun bertanya dengan suara mengandung kemarahan.

"Sobat yang pandai melukis dan bersajak, tahukah engkau siapa adanya kami berempat ?"

Dengan sikap tenang sasterawan itu menjawab, "Sejak cu-wi datang, sebenarnya aku tidak tahu sama sekali siapa cu-wi dan akupun tidak perduli. Akan tetapi aku tahu bahwa cu-wi saling bersa-habat dan ingin menguji ilmu masing-masing, Baru setelah cu-wi selesai saling menguji ilmu dan bercakap-cakap serta saling memanggil nama ma-sing - masing, aku tahu bahwa cu-wi adalah empat orang datuk dunia persilatan yang tersohor itu. Benarkah demikian ? Menilik dari kesaktian- kesaktian yang telah cu-wi perlihatkan tadi, tentu perkiraanku benar."

Jawaban ini tentu saja mengejutkan dan mencengangkan. Kalau sasterawan ini sudah dapat mengenal ilmu kesaktian mereka, berarti kakek ini tidak asing dengan ilmu silat tinggi. Kim-mo Sai-ong yang sejak tadi diam saja kini berkata dengan suara mengejek,

"Meskipun telah dapat menduga siapa kami, engkau masih berani menakut-nakuti kami dengan anak angkatmu itu ? Apakah anak angkatmu itu bisa mengalahkan kami ?"

"Justeru itulah yang kutakutkan. Biarpun berangasan, aku sangat mengasihinya, dan aku tidak ingin melihat orang menyakitinya. Kalau dia da-tang dan melihat lukisanku dirobek - robek orang, tentu dia akan marah dan mengamuk. Padahal, pada waktu ini, ilmunya belum mencapai tingkat setinggi tingkat cu-wi. Akibatnya tentu dia akan dihajar habis-habisan. Bukankah aku akan merasa sedih sekali kalau begitu ?"

"Sudahlah mari kita pergi saja!" Bu-eng Sin-yok-ong membujuk tiga orang temannya karena dia merasa kasihan terhadap sasterawan tua itu. Tiga orang datuk lainnya juga merasa enggan untuk mengganggu seorang kakek lemah seperti itu. Tidak pantaslah kalau datuk-datuk sakti seperti mereka harus melayani seorang sasterawan tua lemah. Merendahkan martabat saja dan mem-buang-buang tenaga sia-sia. Mereka bertiga mengangguk dan sudah hendak pergi bersama Bu-eng Sin-yok-ong.

Tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan muncullah seorang pemuda tinggi tegap dari balik tebing gunung. Begitu datang, pemuda ini melihat lukisan yang robek - robek dan ayah ang-katnya yang berdiri dengan muka berduka, berha-dapan dengan empat orang kakek yang agaknya hendak meninggalkan tempat itu.

"Tahan !!" Pemuda itu berteriak dan karena teriakannya mengandung tenaga khikang yang cukup dahsyat, maka empat orang datuk itu terkejut dan tertarik, lalu tidak jadi pergi dan memandang kepada pemuda itu. Inikah anak angkat kakek sasterawan yang berangasan itu ?

"Siapakah yang berani merobek-robek lukisan ayahku ? Hayo, siapa berani melakukan perbuatan biadab ini ? iblis sekalipun tidak akan tega mengganggu ayah, apa lagi merobek lukisannya yang dibuatnya dengan penuh kecintaan dan ketekunan selama berhari-hari. Hayo kalian mengaku, siapa di antara kalian yang merobek- robeknya ?"

"Anakku ....... sudahlah !" Sasterawan tua itu membujuk, suaranya gemetar. "Biar, ayah. Aku tidak akan mau sudah sebelum yang merobeknya berlutut minta-minta

ampun kepadamu dan bersumpah lain kali tidak akan berani berbuat sewenang- wenang lagi!"

Tentu saja sejak tadi Cui-beng Kui-ong sudah marah bukan main. "Heh, bocah gila, akulah yang telah merobek-robek gambar busuk itu! Habis, kau mau apa ?" Sambil berkata demikian, datuk ini melangkah maju dan membusungkan dadanya yang bidang dan kokoh kuat.

Pemuda itu memandang kepada datuk tinggi besar itu dengan mata berapi-api. "Engkau, ya

Post a Comment