"Bunuhlah tanpa merusak kepalanya !" kata pula Bu-eng Sin-yok-ong.
Kim - mo Sai - ong tertawa dan sekali tangan kirinya bergerak, jari telunjuknya telah memukul punggung kelinci itu. "Ngekk!" dan kelinci itupun tewaslah, hanya berkelojotan sekali dua kali saja.
"Periksalah oleh kalian apa benar - benar bina-tang, ini sudah mati," kata pula Bu - eng Sin - yok-ong dengan tenang. Tiga orang datuk itu dengan bergantian memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa kelinci itu memang sudah mati, darahnya sudah terhenti sama sekali dan napasnya tidak ja-lan walaupun tubuhnya masih hangat. Bu - eng Sin - yok - ong sudah mengeluarkan se-rangkaian jarum - jarum emas dan perak. Lalu dia mengambil bangkai kelinci itu dan mulai menggu-nakan jarum - jarumnya untuk menusuk sana - sini.
Belum sampai duabelas kali dia menusuk... eh, binatang itu dapat bergerak kembali dan ketika jarum - jarum itu diambil dan kelinci dilepaskan, binatang itu berlari cepat memasuki semak-semak!
Tiga orang datuk itu terbelalak dan seperti telah mereka janjikan tadi, mereka menjatuhkan diri ber-lutut. Akan tetapi Bu - eng Sin - yok - ong juga ber-lutut membalas mereka dan berkata, "Sudah, su-dah, jangan main - main. Mari kita duduk kembali. Aku hanya menghidupkan seekor kelinci yang mati-nya dalam keadaan utuh. Kalau manusia yang mati dan rusak alat tubuhnya yang penting, sung-guh aku tidak berani memastikan apakah aku akan dapat menghidupkannya."
Biarpun kakek itu merendah, namun tiga orang datuk itu semakin kagum dan hormat kepadanya. Mereka lalu beroakap - cakap dan mula - mula yang membangkitkan kebanggaan di hati mereka adalah Kim - mo Sai - ong yang berkata, "Setelah kita ber-empat mencapai tingkat seperti sekarang ini, siapa-kah di dunia ini yang sanggup mengatasi kita ?"
"Ha-ha-ha, omonganmu sungguh aneh, Sai-ong !" Cui-
***[All2Txt: Unregistered Filter ONLY Convert Part Of File! Read Help To Know How To Register.]***
Sin - kun Bu - tek batuk - batuk untuk menekan rasa bangga ini, kemudian dia berkata, "Uhh, tua bangka - tua bang-ka seperti kita ini menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menciptakan ilmu - ilmu silat yang tinggi. Kalau sudah mencapai tingkat tertinggi, lalu untuk apa
?" Biarpun demikian, dalam ucap-annya ini mengakui bahwa mereka telah mencapai tingkat tertinggi!
"Siancai... , sungguh beruntung bahwa kita berempat dapat bersahabat seperti ini. Kalau ilmu-ilmu kita ini dipergunakan untuk saling hantam, bukankah dunia akan menjadi kacau dan kiamat ?" Bu-eng Sin-yok-ong juga berkata dan dalam kata-katanya juga terbayang rasa bangga akan kepandaian mereka berempat yang mereka anggap sudah tidak ada bandingnya lagi di seluruh dunia ini.
Tiba - tiba mereka dikejutkan oleh suara nyanyian halus yang datangnya dari seberang telaga! Suara itu halus sekali seperti berbisik, akan tetapi mereka dapat mendengar dengan jelas, seperti suara anak - anak yang dibawa angin lalu.
"Langit biru tinggi nian
apa gerangan yang berada di atasmu ?
Telaga biru betapa dalam
apa gerangan yang berada di bawahmu ? Adakah yang tertinggi?
Adakah yang paling dalam ? Aku tak tahu... !"
Empat orang tua itu saling pandang dan dalam pandang mata itu mereka tahu babwa nyanyian itu seolah - olah mengejek dan menusuk jantung mere-ka, seolah - olah mencela rasa bangga dan angkuh yang tadi mencekam hati mereka. Di samping rasa penasaran, juga mereka merasa malu bahwa mere-ka yang telah berada di tempat itu selama hampir setengah hari, tidak tahu bahwa di dekat telaga itu ada orangnya!
Orang itu adalah seorang sasterawan, atau seorang kakek yang memakai pakaian sederhana seper-ti sasterawan, sudah tua sekali, dengan kumis dan jenggot panjang berwarna putih, tubuhnya kurus kering seperti orang kurang makan, namun wajah-nya membayangkan kelembutan yang mengharu-kan. Kakek ini sejak pagi buta telah duduk di tepi telaga, terlindung oleh semak-semak dan pohon-pohon, dan karena dia sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun, seperti gerakan bayangan pohon saja, maka empat orang datuk sakti itu sama sekali tidak tahu akan kehadirannya. Sasterawan itupun tidak memperdulikan mereka berempat, tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Dia sedang melukis keindahan telaga dengan gunung- gunung yang mengelilinginya. Di dekatnya terdapat tangkai pancing yang ditancapkan, ada bebera-pa buah berderet - deret di tepi telaga. Akan teta-pi sasterawan itupun tidak memperdulikan pan-cing - pancing ini, melainkan asyik melukis. Hanya setelah empat orang datuk itu berbincang-bincang dengan penuh kebanggaan dan keangkuhan tentang kepandaian mereka, kakek tua ini secara langsung menyanyikan sajak tadi, sama sekali bukan bermak-sud untuk mengejek atau menyindir, melainkan karena ucapan - ucapan empat orang yang mengan-dung keangkuhan itu membuat dia termenung dan bertanya-tanya dalam hati tentang apakah ada yang tertinggi dan terdalam. Pertanyaan ini tim-bul karena dia melukis langit dan danau, dan ter-dorong oleh percakapan yang mengandung nada angkuh dan bangga akan diri sendiri itu.
Empat orang datuk itu dengan kepandaian mereka yang hebat, dalam beberapa detik saja sudah berada di tepi telaga, berhadapan dengan kakek sasterawan yang asyik melukis itu. Kakek itu hanya menengok dan memandang dengan sinar mata lembut dan mulutnya yang kempot tak bergigi itu tersenyum tenang.
Akan tetapi Cui - beng Kui - ong, si iblis peng-isap darah dari Tai - bong - pai yang berangasan itu sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia melangkah maju dan memandang kepada ka-kek sasterawan itu dengan sinar mata berapi dari sepasang matanya yang lebar terbelalak, lalu dia menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek itu. "Heh, orang tua yang sombong ! Engkau telah lan-cang mengintai kami, ya ? Sungguh kurang ajar sekali perbuatan itu, melanggar peraturan dan ke-biasaan orang - orang gagah ! Bukan jantan kalau suka mengintai orang lain!"
Sasterawan tua itu nampak terkejut dengan se-rangan kata - kata yang kasar ini. Dia bangkit ber-diri dengan gerakan lemah, meninggalkan lukisan-nya yang terbentang di atas tanah, akan tetapi dia tidak melepaskan tempat tinta bak yang dipegang dengan tangan kiri dan pena bulu yang dipegang dengan tangan kanan, yaitu alat - alatnya untuk me-lukis tadi.
"Maaf, maaf harap cu - wi yang gagah perkasa tidak salah sangka dan menuduh aku melakukan hal yang bukan - bukan. Sejak pagi buta aku telah berada di sini seperti yang kulakukan setiap hari, memancing dan melukis atau menulis sajak. Rumahkupun tidak jauh dari sini, itu di lereng sebelah sana, nampak dari sini. Siapa yang mengintai ? Salahkah aku kalau aku sudah berada di sini ketika cu-wi datang ?"
Ucapan itu halus dan cukup beralasan, akan tetapi karena Cui - beng Kul - ong merasa penasar-an dan menduga bahwa orang ini tentu telah me-nyaksikan ilmu-ilmu baru yang mereka keluarkan, tadi, dia menjadi naik darah. Apa lagi, sejak tadi dia memang merasa kurang puas, karena dia mera-sa bahwa ilmu barunya tadi masih kalah hebat di-bandingkan dengan ilmu bara dari Sin-kun Bu-tek, dan hal ini berarti bahwa dalam empat tahun ini kemajuan ilmunya masih kurang dibandingkan dengan kemajuan tiga orang datuk lainnya.
"Mancing ? Alasan ! Beginikah caranya orang mancing?" Dan diapun menggunakan. tangannya bergerak ke depan dan batang-batang pancing itu tercabut semuanya dan ternyata di mata kail-nya tidak ada seekorpun cacing !" Inikah namanya mancing ?" Dia melempar - lemparkan semua ba-tang pancing ke atas tanah.
Akan tetapi, kakek sasterawan itu ternyata sa-bar sekali. Dia sama sekali tidak marah, bahkan dia lalu mengangkat muka memandang ke atas dan bersajak lagi.
"Memancing tanpa umpan karena tidak butuh ikan
hanya memancing ketenangan untuk menikmati kebahagiaan.
Apa artinya pintar
kalau hanya untuk menipu ?
Apa artinya kuat