Halo!

Darah Pendekar Chapter 58

Memuat...

Sejenak kakek itu terbelalak, akan tetapi seben-tar saja dia sudah mampu menguasai hatinya lagi dan dengan sikap tenang diapun berkata, "Marilah kita semua masuk ke dalam, jangan ribut-ribut di sini. Aku mempunyai seorang tamu di sebelah dalam. Mari, sumoi, silahkan masuk dan kalian samua, anak - anak, masuklah."

Biarpun masih cemberut, nenek Siang Houw Nio - nio melangkah masuk terpincang - pincang, diikuti semua murid dan juga Pek Lian tidak ke-tinggalan memasuki ruangan itu dengan hati te-gang dan heran. Ternyata ruangan itu sangat luas dan nyaman sejuk. Pada dinding - dindingnya ber-gantungan lukisan - lukisan orang dalam posisi ber-silat. Di dalam kamar itu telah berdiri seorang kakek tua yang nampaknya masih sehat dan berse-mangat, menyambut sambil tersenyum membung-kuk terhadap Siang Houw Nio-nio. Melihat pa-kaian kakek itu, diam - diam Pek Lian menjadi ter-kejut bukan main. Kakek tamu ini berjubah hitam yang ada lukisannya seekor naga di bagian dada-nya, menutupi tabuhnya yang tinggi besar. Pek Lian teringat akan orang - orang dari Liong-i-pang, yaitu Perkumpulan Jubah Naga yang berambut riap - riapan dan yang pernah menyerang keluarga Bu itu. Inikah ketua dari Liong - i - pang yang mempunyai anak buah yang kasar dan kejam itu ? Akan tetapi karena maklum bahwa ia berada di antara orang - orang sakti, maka Pek Lian berlagak tidak tahu dan bersikap tenang saja walaupun ha-tinya terguncang hebat.

"Isteriku, inilah dia saudara Ouwyang Kwan Ek" Kakek itu memperkenalkan.

Nenek itu memandang dan nampaknya tertarik. "Ah, murid ke dua dari mendiang Sin - yok - ong ?" tanyanya.

Kakek tinggi besar berkulit hitam itu tersenyum dan menjura. "Sudah lama mendengar nama besar Siang Houw Nio - nio, sungguh beruntung hari ini dapat bertemu. Toanio, kakimu terluka dan me-ngandung racun, kalau boleh saya berlancang, si-lahkan toanio menelan obat ini, tentu segera sem-buh kembali," kata si tinggi besar sambil menye-rahkan sebutir pel merah. Nenek itu maklum bah-wa ia berhadapan dengan murid seorang tokoh besar raja obat, maka iapun tidak mau sungkan lagi, menerima pel itu dan menelannya. Rasa pa-nas menjalar dari perutnya dan dengan sinkangnya ia menekan hawa panas itu ke arah pahanya yang terluka dan sungguh ajaib, ia merasa betapa rasa nyeri di pahanya perlahan - lahan lenyap. Cepat ia menghaturkan terima kasih.

"Ouwyang - toyu, jangan pelit, sekalian berilah obat kepada muridku yang terluka," kata kakek itu. "Lee - ji, majulah agar diobati oleh Ouwyang-locianpwe." Kiong Lee maju dan berlutut di depan kakek itu. Ouwyang Kwan Ek adalah murid ke dua dari Si Raja Tabib dan sebenarnya dia tidak mewarisi ilmu pengobatan karena yang mewarisi adalah mendiang Bu Cian murid pertama Si Raja Tabib. Akan tetapi sebagai murid Raja Tabib, tentu saja dia tidak buta dengan ilmu pengobatan dan kalau tidak terlalu hebat saja, dia mempunyai obat - obat untuk bermacam luka parah. Setelah meraba punggung dan pundak Kiong Lee, kakek itu me-narik napas panjang.

"Siancai... ! Luka - luka ini diakibatkan pukulan- pukulan sakti yang hebat. Untung muridmu ini telah memiliki sinkang yang amat kuat, kalau tidak, tentu aku akan sukar mengobatinya, Yap- lojin !" katanya kepada tuan rumah. Kakek ketua Thian - kiam - pang itu bernama Yap Cu Kiat atau di antara kenalan - kenalannya lebih terkenal disebut Yap - lojin (orang tua Yap). Setelah menotok pundak dan punggung Kiong Lee, kakek itu lalu

memberi obat bubuk berwarna kuning untuk diminum dengan air. Dan memang obat itu mustajab sekali karena Kiong Lee merasa betapa luka-luka di dalam tubuhnya tidak terasa nyeri lagi dan hanya membutuhkan pengobatan dengan pengerahan sinkang sendiri. Diapun cepat menghaturkan terima kasih.

"Kiong Lee, apakah yang terjadi ? Kenapa engkau sampai terluka dan juga subomu..." "Hemm, enak - enak saja bersenang sendiri di sini, tidak tahu di luar dibanjiri musuh yang

dipim-pin oleh Raja Kelelawar. Anak sendiri dilarikan orangpun tidak tahu!" Nenek itu masih marah.

Mendengar ini, terkejutlah Yap-lojin. "Raja Kelelawar menyerbu ke sini ? Ah, aku harus keluar melihatnya !"

"Aku akan menemanimu, lojin !" kata Ouwyang Kwan Ek yang segera mengikuti tuan rumah. Mereka cepat keluar dari terowongan itu dan mencari keluar. Akan tetapi, setelah mereka tiba di luar, pertempuran telah berhenti dan pihak musuh telah tidak nampak lagi bayangannya. Yang ada hanya mayat-mayat para anggauta Thian - kiam - pang, termasuk murid-muridnya yang ke dua, yaitu Kwan Tek, dan murid ke tiga, di antara bangunan yang terbakar habis! Tentu saja Ouwyang Kwan Ek merasa terkejut dan kasihan kepada sahabatnya yang berdiri bengong dengan muka pucat. Dia la-lu membantu tuan ramah untuk mengangkut ma-yat - mayat itu melalui terowongan.

Melihat kedua adik seperguruannya tewas, Kiong Lee memekikinya sambil menangis. Juga Pek In dan Ang In ikut menangis sedih. Bahkan nenek Siang Houw Nio - nio sendiri tak dapat menahan runtuhnya beberapa butir air matanya dan nenek ini mengepal tinju. "Raja Kelelawar, aku akan menghadapimu kelak untuk membuat perhitungan !"

Pek Lian yang melihat semua ini menjadi ikut terharu dan ikut menangis. Tak disangkanya bahwa keluarga yang sakti ini tertimpa malapetaka de-mikian hebat dan kembali matanya seperti dibuka oleh kenyataan bahwa semakin tinggi kepandaian orang, semakin besar pula bahayanya karena tentu orang itu mempunyai musuh-musuh yang lihai pula. Dengan penuh duka cita mereda semua lalu mengubur mayat-mayat dengan upacara se-derhana saja. Mayat-mayat itu dikubur di belakang bangunan yang sudah menjadi abu dan malam hari itu terpaksa mereka kembali memasuki terowongan karena semua tempat telah terbakar sehingga sisa tempat yang ada hanyalah ruangan di bawah tanah.

Mereka duduk berkumpul dalam suasana duka dan masing-masing merasakan suatu keakraban. Bahkan Pek Lian sendiri yang tadinya adalah seorang tawanan, pada saat itu merasa seolah-olah ia menjadi anggauta keluarga itu. Juga Ouwyang Kwan Ek memperlihatkan simpatinya. Suami isteri yang tadinya seperti mengambil sikap bertentangan itupun kini seperti melupakan perselisihan mereka yang sudah berlangsung belasan tahun itu.

"Ilmu silat Raja Kelelawar dengan jubahnya itu memang hebat luar biasa. Semua setanganku kan-das, bahkan jarum - jarumku tidak ada gunanya. Mengeroyoknya bersama Kiong Leepun masih ter-desak dan terluka."

Suaminya menarik napas panjang. "Itu baru Il-mu Gerhana Bulan, belum yang lain - lain. Ah, sungguh tidak kusangka setelah berpuluh tahun ti-dak ada jago silat yang menonjol dan berbakat, kini muncul keturunan raja kaum hitam yang penuh bakat dan menyamai kesaktian leluhurnya, Si Raja Kelelawar yang sakti." "Memang kenyataan yang pahit sekali!" kata Ouwyang Kwan Ek, kakek tinggi besar hitam berju-bah naga itu. "Padahal, di pihak kaum bersih, sam-pai kini tidak ada seorangpun jago berbakat yang muncul. Dari perguruan kamdpun tidak ada seorang yang berbakat seperti mendiang suhu Raja Tabib Sakti. Aku sendiri cuma mewarisi sebagian saja dari ilmu - ilmunya, seperti halnya saudara seperguruanku yang lain."

"Demikian pula pada perguruan kami," Yap-lojin berkata penuh sesal. "Sebenarnya Kiong Lee ini sangat berbakat, akan tetapi akulah yang bodoh tak mampu membimbingnya. Sayang, guruku, Sin-kun Bu-tek, telah tiada. Kalau masih ada, tentu beliau akan dapat membimbing Lee-ji ini dan akan ada seorang penggantinya yang boleh diandalkan !"

Mendengar percakapan mereka, diam - diam Pek Lian mengalami kejutan lain. Tahulah ia

se-karang bahwa ketua Perguruan Pedang Langit ini adalah keturunan dari Sin-kun Bu - tek, datuk da-ri utara, pendekar sakti terbesar seabad yang lalu, yang pernah didengarnya ketika ia masih bersama dua orang gurunya. Sin-kun Bu-tek yang sejajar namanya dengan si datuk selatan, yaitu Raja Tabib Sakti. Keduanya merupakan datuk-datuk kaum bersih yang merupakan saingan terbesar dari da-tuk - datuk kaum sesat seperti pendiri Tai - bong-pai, pendiri Soa - hu - pai, dan juga tentu saja men-jadi musuh yang ditakuti dari Bit - bo - ong Si Raja Kelelawar. Mengertilah ia kini mengapa Raja Ke-lelawar memusuhi Thian - kiam - pang. Kiranya iblis itu ingin membalas dendam leluhurnya yang kabarnya tewas di tangan Sin - kun Bu - tek. Pan-tas saja sarang Thian - kiam - pang itu dibasminya, semua penghuninya yang ada ditewaskan dan ba-ngunan - bangunannya dibakar habis.

Nenek Siang Houw Nio-nio juga hanyut dalam percakapan itu dan ia menarik napas panjang lalu berkata, "Yahh... padahal asal salah seorang dari murid-murid kita bisa mendalami pelajaran perguruan masing-masing secara sempurna seperti halnya iblis itu mempelajari ilmu leluhurnya yaitu Raja Kelelawar, aku berani bertaruh bahwa iblis itu pasti akan bisa ditaklukkan. Seperti juga di jaman dahulu Si Raja Kelelawar tidak berkutik ketika melawan guru-guru kita, baik melawan guru kami Raja Tabib Sakti maupun melawan Sin-kun Bu-tek."

Ouwyang Kwan Ek mengangguk-angguk mem-benarkan ucapan ini. Memang patut disayangkan bahwa tidak ada murid dari para datuk itu yang dapat mewarisi seluruh ilmu gurunya sampai men-capai tingkat setinggi mereka. Akan tetapi dia ti-ba - tiba teringat akan sesuatu, lalu diapun ber-kata, "Kim - mo Sai - ong pendiri Soa - hu-pai yang bersama dengan iblis pendiri Tai - bong-pai merupakan juga datuk - datuk persilatan yang setingkat dengan guru - guru kita seabad yang lalu? Nah, aku mendengar bahwa ada cucu murid dari Kim - mou Sai - ong ini yang sangat berbakat, dan kabarnya kini telah mencapai tingkat ke tigabelas ilmu - ilmu Soa - hu - pai, yaitu tingkat terakhir dari Soa-hu-pai yang hebat itu. Dan kabarnya orang itu kini mengabdi kepada kaisar." Berkata demiki-an, Ouwyang Kwan Ek memandang kepada nenek Siang Houw Nio - nio yang juga mengabdikan diri-nya kepada kaisar karena masih terhitung keluar-ga dekat kaisar.

Nenek itu mengangguk - angguk. "Memang be-nar, akan tetapi orang itu menjadi komandan pe-ngawal istana dan kurasa diapun masih belum se-tinggi Raja Kelelawar tingkatnya. Dan seperti juga dahulu, alirannya tidak mau berurusan dengan iblis itu. Seperti, juga guru - gurunya tidak pernah acuh terhadap Raja Kelelawar."

Post a Comment