"Kenapa kalian tetap bergaul dengan murid-murid tua bangka itu ? Apakah engkau ingin mengikuti mereka dan memusuhi aku ?" Di dalam ucapan ini terkandung kepahitan yang amat mendalam sehingga dua orang gadis itu menjadi bingung dan tidak mampu menjawab.
Melihat ini, Yap Kiong Lee mengangkat muka dan berkata, "Subo... teeculah yang..." "Diam kau !" bentak wanita bangsawan itu dengan suara keras, membuat Pek In menjadi
semakin pucat.
Peristiwa ini diam - diam sejak tadi diikuti oleh Ho Pek Lian. Jiwa pendekarnya bergolak. Ia me-lihat ketidakadilan dan merasa tidak senang dengan sikap nenek bangsawan itu yang dianggapnya ter-lalu menekan kepada orang - orang muda yang di-kaguminya itu. Tanpa dapat menahan gelora hati-nya, Pek Lian sudah melangkah ke depan dan de-ngan jari telunjuk menuding kepada nenek bangsa-wan itu, ia berkata marah, "Haii, apa - apaan ini ? Main gertak main kasar! Lihat dulu masalahnya baru marah - marah, itu baru adil namanya !"
"Anak kecil, engkau tahu apa !" bentak nenek itu dan tangannya melayang, menampar ke arah pipi Pek Lian. Tentu saja nona ini tidak membiar-kan pipinya ditampar dan iapun sudah cepat me-loncat ke belakang dan baiknya nenek itu agaknya-pun bukan menyerang dengan sungguh - sungguh hanya untuk melampiaskan kemengkalan hatinya saja sehingga tidak melanjutkan serangannya. Dan pada saat itu, terdengarlah suara ribut - ribut di luar. Yap Kiong Lee melihat empat orang laki-laki jahat yang tadi dihajar oleh dua orang sutenya, maka diapun cepat meloncat keluar. Hampir saja dia bertabrakan dengan seorang tinggi besar ber-mantel kulit harimau yang melangkah masuk. Laki-laki tinggi besar ini tidak menghindar atau mihggir, akan tetapi malah memasang kuda-kuda dan menggerakkan sikunya ke depan, menyerang ke arah tulang rusuk pemuda baju putih itu. Mereka sudah berada dalam jarak dekat sekali dan serangan itu dilakukan secara tiba - tiba dan tidak terduga-duga, akan tetapi ternyata pemuda she Yap ini amat lihai, tenang dan tidak kehilangan akal. Dia maklum bahwa kalau dia mengadu tena-ga, dia akan kalah posisi dan kalau orang itu ber-tenaga besar seperti nampaknya, dia akan menderita rugi. Dan pintu itu terlalu sempit untuk dapat me-nerobos keluar, apa lagi karena lubang pintu telah dijaga oleh sepasang lengan yang panjang dan kuat dari orang itu, di samping adanya dua ekor harimau hitam yang berdiri di kanan kiri orang itu, dengan rantai leher yang ujungnya dipegang oleh dua orang di. antara empat penjahat yang tadi meng-ganggu Pek Lian. Dalam beberapa detik saja, Yap Kiong Lee telah memperoleh akal yang amat cerdik. Kakinya yang sedang melangkah tadi dilanjutkan dengan tendangan ke arah selangkang si tinggi be-sar dan dia bersikap seolah - olah dia memang hendak mengadu tenaga. Melihat ini, orang tinggi besar itu menyeringai dan tubuhnya sedikit membungkuk untuk menangkis tendangan dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya tetap melakukan serangan dengan siku. Akan tetapi tiba-tiba Kiong Lee menarik kembali kakinya dan mengenjot badan dengan menekankan kaki pada lantai,
tangannya menampar siku yang menyerang rusuknya, meminjam tenaga lawan untuk mengayun tubuhnya meluncur ke atas di antara kepala lawan dan daun pintu seperti seekor burung lolos dari pintu kurungan yang terbuka sedikit saja. Kemudian, tubuhnya yang meluncur keluar itu membuat salto yang amat manisnya sehingga dia dapat
turun di luar pintu dengan lunak. Semua orang melongo dan memandang kagum. Bahkan nenek Siang Houw Nio-nio sendiri merasa kagum dan memuji ketangkasan dan kecerdikan pemuda itu. "Berani... bagus sekali... anak ini sungguh semakin lihai saja !"
Kalau semua orang memandang kagum sekali, tiga orang gadis itupun bersorak karena gembira-nya. Pek In dan Ang In sampai lupa kepada subo-nya yang marah - marah. Mereka terbawa oleh sikap Pek Lian yang bersorak memuji sehingga merekapun ikut pula bersorak. Baru setelah mere-ka melihat subo mereka memandang kepada mereka dengan mata melotot, mereka sadar dan tangan yang sedang bertepuk itupun terhenti di tengah jalan.
Sementara itu, orang tinggi besar itu menjadi marah sekali. Dia adalah orang ke tiga dari Sam-ok, yaitu tiga raja penjahat. Dia adalah San-hek-houw atau Si Harimau Gunung yang sebelum munculnya Raja Kelelawar telah merajai semua penjahat di daratan, rajanya para. perampok, maling dan copet. Kini dia telah menjadi pembantu utama dari Raja Kelelawar di samping dua orang rekannya yang terkenal dengan julukan Sam-ok atau Si Tiga Jahat. Melihat betapa dalam gebrakan pertama dia tidak mampu menghadang pemuda baju putih itu dan sebaliknya malah memberi ke-sempatan kepada pemuda itu mendemonstrasikan kepandaiannya sehingga memperoleh pujian, Sam-hek-houw menjadi marah sekali. Cepat dia mem-balikkan tubuhnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang ke depan dan menyerang Kiong Lee yang baru saja turun ke atas tanah. Serangan San - hek - houw ini ganas dan dahsyat sekali, tiada bedanya dengan ulah seekor harimau yang sedang kelaparan. Dua ekor harimau hitam yang menjadi binatang peliharaannya itu mengaum-ngaum melihat majikan mereka berkelahi, seolah-olah memberi semangat. Tentu saja para tamu restoran menjadi panik ketakutan. Berdiam di restoran merasa ngeri, mau lari keluar terhadang oleh perkelahian di luar pintu, juga mereka takut kepada dua ekor harimau itu yang rantainya dipegang oleh empat orang penjahat yang kini tertawa-tawa karena mereka merasa yakin bahwa muculnya raja mereka ini akan dapat membalaskan kekalahan mereka tadi.
Akan tetapi sekali ini mereka kecelik. Baru sekarang mereka memperoleh kenyataan bahwa raja mereka itu bukanlah jaminan untuk selalu menang. Biarpun Si Harimau Gunung menyerang dengan ganas dan dahsyat, namun pemuda baju putih itu dengan sikap tenang sekali dapat menan-dinginya dan sama sekali tidak pernah terdesak, bahkan membalas dengan serangan- serangan yang tidak kalah ampuhnya. Mereka ternyata seimbang, baik kecepatan maupun tenaga mereka. Perkelahian itu amat seru dan menegangkan, terutama sekali bagi mereka yang mempunyai keahlian dalam ilmu silat sehingga dapat mengikutinya. Yang merasa marah dan penasaran adalah San-hek-houw sendiri. Biasanya, selama ini setiap kali dia turun tangan, dan hal ini jarang terjadi karena dia cukup mewakilkan kepada anak buahnya saja, sudah dapat dipastikan bahwa dia akan berhasil baik. Akan tetapi ternyata pemuda baju putih ini sedemikian lihainya sehingga semua serangannya gagal dan dia malah harus menjaga diri karena pemuda itu membalas dengan serangan yang amat berbahaya pula. Karena penasaran, maka raja penjahat ini lalu mengeluarkan senjatanya yang mengerikan, yaitu rantai yang kedua ujungnya bermata tombak. Begitu diputar, rantai itu lenyap berobah menjadi gulungan sinar yang menyambar- nyambar. Meli-hat ini, Yap Kiong Lee cepat mencabut sepasang pedangnya yang tergantung di punggung. Nampak dua sinar putih berkelebatan menghadapi senjata rantai dan kembali terjadi perkelahian yang lebih seru dan juga ternyata dalam adu kepandaian senjata, mereka memiliki tingkat yang seimbang.
LIMAPULUH jurus telah lewat dan keduanya sudah saling desak samibil mengerahkan tenaga sekuatnya. "Tring – trang... trakkk...!" Tanpa dapat dicegah lagi, rantai itu melibat kedua pedang dan senjata - senjata itu saling berbelit de-ngan amat kuatnya. Karena tidak ada jalan lain untuk melepaskan senjata yang terlibat itu, kedua-nya lalu mengerahkan tenaga sinkang. Mereka membentak nyaring dan saling tarik.
Akibatnya, kedua pedang Kiong Lee terlepas dari pegangan, akan tetapi juga tangan kanan Harimau Gunung itu terpaksa melepaskan senjata rantainya yang ki-ni hanya dipegang oleh tangan kiri. Inipun tidak lama karena secepat kilat kaki Kiong Lee menen-dang ke arah pergelangan tangan kiri lawan. Ka-kek tinggi besar itu berusaha mengelak, akan te-tapi tetap saja ujung sepatu menyerempet perge-langan tangan kirinya sehingga tangan inipun terpaksa melepaskan rantainya. Kini senjata-senjata itu terlepas di atas tanah dan keduanya melanjutkan lagi dengan tangan kosong !
San-hek-houw mengeluarkan suara auman seperti harimau yang disambut oleh dua ekor harimau peliharaannya, kemudian diapun mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu silat tangan kosong Houw-jiauw- kang. (Ilmu Cakar Harimau). Kedua tangannya membentuk cakar harimau dan gerakannya juga seperti gerakan kaki depan hari-mau kalau mencakar - cakar dengan dahsyatnya. Hanya cakar harimau yang dibentuk oleh jari - jari tangan manusia ini bahkan jauh lebih berbahaya dari pada cakar harimau aseli karena setiap gerak-an mengeluarkan desiran angin tajam. Kedua kaki-nya berloncatan persis seperti gerakan harimau kumbang dan selama belasan jurus Kiong Lee nam-pak terkurung dan terdesak oleh ilmu silat yang berbeda dengan Ilmu Silat Houw - kun (Silat Ha-rimau) biasanya ini. Ilmu Silat Houw - jiauw - kang milik Si Harimau Gunung ini benar - benar luar biasa sekali. Agaknya telah dipelajari dengan sem-purna sehingga biarpun jari - jari tangan yang mem-bentuk cakar harimau itu tidak sampai menyentuh lawan, namun sambaran angin pukulannya saja te-lah mampu mencabik - cabik benda. Baju pemuda yang putih itu, terutama di bagian lengan baju, robek - robek terlanggar angin pukulan itu, seperti dicakari oleh kuku - kuku tajam. Tentu saja semua orang terkejut dan memandang khawatir karena pemuda itu nampak terdesak, terutama sekali tiga orang gadis yang selalu berpihak kepada pemuda itu. Ilmu silat raja perampok itu sungguh lihai bukan main.