Halo!

Darah Pendekar Chapter 53

Memuat...

Akan tetapi, empat orang kasar itu agaknya tidak tahu gelagat dan mereka itu makin menjadi-jadi kurang ajarnya. Apa lagi ketika Pek Lian yang merasa marah karena dirinya dibicarakan secara jorok itu, melirik dengan sinar mata berapi. Seorang di antara mereka, yang berkumis tebal, bangkit dan dengan langkah sempoyongan menghampiri meja tiga orang gadis yang sedang mulai makan itu.

"Ha-ha-ha, nona manis, jangan jual mahal. Mari makan bersama kami" Dan diapun mengulurkan tangannya hendak meraba dada Pek Lian. Gadis itu tidak dapat lagi mengendalikan, kemarahan hatinya. Disambarnya mangkok kuah bakso panas dan "sekali ia menggerakkan tangan "byuurrr" kuah panas itu menyiram muka yang berkumis tebal itu.

"Aduuhhh... auphh... panas, panas. !"

Dia menjerit - jerit, kulit mukanya terbakar, matanya kemasukan kuah yang banyak mericanya, terasa pedas dan perih. Tiga orang kawannya terkejut dan marah sekali, meloncat sambil, mencabut golok mereka. Suasana menjadi panik karena para tamu sudah menjadi ketakutan.

Akan tetapi, sebelum empat orang kasar itu sempat turun tangan, terdengar bentakan yang amat nyaring, "Tahan ! Jangan mengganggu wanita !!"

Kiranya yang membentak dan yang kini telah berdiri di situ adalah Yap Kiong Lee, murid kepala dari ketua Thian - kiam - pang itu. Tiga orang su-tenya dengan sikap tenang berdiri di belakangnya. Kiranya derap kaki kuda tadi adalah kuda dan kereta mereka.

Empat orang kasar itu adalah penjahat - penja-hat yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri. Apa lagi sekarang, sepeiti diceritakan oleh pelayan tadi dan diketahui pula oleh tiga orang gadis, mereka sedang berbesar hati karena banyak kawan mereka merajalela di situ, dan mereka merasa di-lindungi oleh raja mereka, Si Harimau Gunung ! Mengandalkan semua ini, tentu saja mereka tidak merasa gentar menghadapi empat orang pria muda ini.

"Keparat jahanam ! Berani engkau hendak men-campuri urusan kami ?" bentak pimpinan gerom-bolan empat orang penjahat itu yang kepalanya botak kelimis sambil menudingkan goloknya ke arah muka Yap Kiong Lee. Pemuda ini tersenyum tenang saja.

"Mengganggu wanita di tempat umum bukan-lah urusan pribadi, melainkan urusan umum karena kalian telah mengacaukan orang lain di tempat umum, Sebaliknya kalian berempat pergi saja dari sini dan jangan membuat gaduh."

"Keparat!" Si botak itu dengan marahnya mem-bacok dengan goloknya ke arah leher pemuda she Yap. Namun, dengan amat mudahnya, pemuda she Yap ini miringkan kepala dan golok itu lewat di dekat lehernya tanpa menyentuhnya sedikitpun ju-ga. Hanya seorang ahli silat tinggi sajalah yang dapat mengelak seperti itu, sedikit saja dan membiar-kan senjata lawan lewat dekat. Karena gerakan yang sedikit inilah yang memungkinkan dia dapat cepat pula melakukan serangan balasan. Akan tetapi agaknya pemuda itu sabar sekali dan tahu bahwa -dia hanya menghadapi orang - orang kasar. Dia tidak membalas dan pada saat itu, dua orang sute-nya sudah maju.

"Toa - suheng, biarkan kami yang maju meng-hajar bajingan - bajingan kecil ini!" Dua orang sutenya itu lebih tua beberapa tahun dari pada Kiong Lee, akan tetapi mereka menyebut suheng, bahkan toa - suheng atau kakak seperguruan terbe-sar karena memang pemuda inilah yang pertama kali menjadi murid ketua Thian - kiam - pang. Yap Kiong Lee segera mundur dan dua orang sutenya maju. Empat orang kasar itu tidak perduli dan mereka sudah menerjang dengan golok mereka. Akan tetapi, dua orang murid Thian - kiam - pang yang maju ini adalah murid-murid kepala, murid-murid pilihan yang sudah mempunyai ilmu kepan-daian tinggi. Dengan kedua tangan kosong saja mereka menghadapi empat orang bergolok itu dan membagi - bagi pukulan dengan enaknya, membuat empat orang kasar itu jatuh bangun dan akhirnya mereka memperlihatkan warna aselinya, yaitu pe-ngecut - pengecut yang beraninya hanya main keroyok, menindas yang lemah dan kalau bertemu tanding yang lebih kuat, mereka itu berlumba me-larikan diri!

Yap Kiong Lee melirik ke kanan kiri untuk me-lihat apakah guru dari dua orang gadis yang dike-nalnya itu berada di situ. Setelah merasa yakin bahwa nenek yang ditakutinya itu tidak berada di situ, wajahnya menjadi cerah dan diapun bersama tiga orang sutenya cepat menghampiri meja Pek In dan Ang In.

"Suheng, apa kabar ? Subo berada di kamarnya. Marilah!" Pek In mempersilahkan pemuda itu dan mereka berempat lalu mengambil tempat duduk dan bercakap-cakap dengan amat akrabnya dengan Pek In dan Ang In.

"Sebetulnya, Yap-suheng dari manakah ? Kelihatan tergesa-gesa sekali. Dan bagaimana kabarnya dengan Kim-suheng ? Kenapa dia tidak kelihatan bersamamu ? Biasanya, Kim-suheng yang bandel itu tidak pernah berpisah denganmu," kata Pek In dan ketika ia menyebutkan "Kim- suheng", ia melirik kepada sumoinya, Ang In.

Mendengar pertanyaan Pek In ini, mendadak sikap empat orang gagali itu berobah dan mereka kelihatan berduka dan menundukkan mukanya. Terutama sekali Yap Kiong Lee, pemuda ini me-nundukkan muka dan matanya menjadi basah.

Teringatlah pemuda itu akan semua keadaan-nya yang membuatnya berduka sekali pada saat itu, setelah mendengar pertanyaan Pek In tentang adiknya. Ya, Yap Kim adalah adiknya. Dia sendiri adalah seorang anak yatim piatu yang sejak kecil telah diambil murid, kemudian bahkan diangkat anak oleh gurunya sendiri, yaitu seorang pendekar terkenal yang memiliki ilmu kepandaian hebat dan kemudian menjadi ketua Thian - kiam - pang. Gurunya itu she Yap dan biasanya orang hanya me-ngenal sebagai Yap - taihiap saja, dan setelah tua dikenal sebagai Yap - lojin yang disegani orang. Nama lengkapnya adalah Yap Cu Kiat. Karena su-hunya itu tadinya tidak mempunyai keturunan ma-ka diapun diangkat anak oleh Yap Cu Kiat. Dua tahun kemudian, ketika dia berusia delapan tahun, isteri suhunya melahirkan seorang anak laki - laki yang diberi nama Yap Kim karena ketika isterinya mengandung, suhunya pernah bermimpi isterinya melahirkan sebuah boneka emas ! Yap Kiong Lee sendiri amat sayang kepada adiknya ini. Dialah yang menggendongnya, dialah yang mengajaknya bermain-main sejak Yap Kim kecil dan setelah adiknya itu dewasa, mereka menjadi akrab dan ru-kun sekali, saling menyayang. Takkan ada orang yang menyangka bahwa mereka itu sesungguhnya hanyalah saudara angkat saja. Kiong Lee sangat menyayang adiknya itu dan memang Kim - ji, de-mikian sebutannya, amat dimanjakan oleh semua orang sehingga sejak kecil anak itu menjadi ban-del dan nakal bukan main. Dan kini, diingatkan oleh pertanyaan Pek In, hati Kiong Lee seperti di-tusuk karena dia teringat kepada adiknya.

"Ahh... dia... Kim-te terluka parah"

Akhirnya dia dapat mengeluarkan kata-kata yang penuh kegelisahan.

"Terluka parah. ??" Ang In bertanya dan mukanya berobah pucat. "Apa yang terjadi

dengan dia ?"

"Dia dilukai oleh Si Raja Kelelawar! Lukanya parah sekali... entah bisa sembuh atau tidak. "

Suara Kiong Lee gemetar penuh kegelisahan.

"Apanya yang terluka ? Dan. di manakah dia sekarang ?" Kembali nona Ang In bertanya,

hampir menangis. Melihat semua ini, Pek Lian dapat menduga bahwa nona Ang yang gagah ini agaknya ada hati terhadap pemuda bernama Yap Kim yang terluka parah itu.

***[All2Txt: Unregistered Filter ONLY Convert Part Of File! Read Help To Know How To Register.]***

oleh kaum sesat itu. Akan tetapi karena ada larangan dari suhu, maka akupun tidak mau, Tidak kusangka sama sekali bahwa dengan nekat adik Kim pergi sendiri ! Mendengar bahwa Kim- te pergi seorang diri, suhu lalu memanggilku dan me-nyuruhku mencari dan mengajaknya pulang. Aku mengajak beberapa orang suteku untuk menyusul Kim - te, akan tetapi setibanya di tempat pertemuan itu, ternyata sudah terlambat. Orang - orang sudah bubaran dan pertemuan itu telah lewat. Kami ber-pencar untuk mencari Kim - te. Kalian tentu sudah tahu bahwa biarpun Kim - te sangat berbakat dalam ilmu silat, namun watak nakalnya sukar untuk di- robah. Apa lagi setelah subo pergi meninggalkan suhu, anak itu makin sukar diurus." Yap Kiong Lee menarik napas panjang, nampak berduka seka-li.

"Akan tetapi bukankah dia amat penurut kepa-damu, Yap-suheng ?"

Post a Comment