Halo!

Darah Pendekar Chapter 52

Memuat...

Tentu saja Pek In dan Ang In tahu siapa pemuda ini. Namanya Yap Kiong Lee dan biarpun usianya termuda di antara yang lain, yaitu baru ti-gapuluh satu atau dua tahun, akan tetapi dia ada-lah murid tertua atau paling lama sehingga meru-pakan toa - suheng dari yang lain dan tingkat ilmu silatnya juga paling tinggi. Melihat dua orang ga-dis itu, murid Thian - kiam - pang yang paling lihai ini tersenyum girang dan dengan langkah lebar menghampiri sambil menegur.

"Hei, kiranya Pek-siauwmoi dan Ang-siauwmoi ! Apa kabar, adik-adik yang manja ? Dari manakah" tiba-tiba dia terdiam ketika dua orang gadis itu kelihatan ketakutan dan kebingung-an, memandang ke arah jendela kereta di belakang itu. Cepat dia menghentikan langkahnya dan me- mandang ke arah jendela kereta pula, wajahnya agak berobah dan sikapnya menjadi gugup pula,

Tiba - tiba terdengar suara nenek bangsawan dari dalam kereta, suaranya agak ketus, "Hayo, Pek-ji dan Ang-ji! Jangan layani bocah - bocah itu!"

Pek In dan Ang In menjadi semakin ketakutan. "Yap-suheng... aku... aku..." Pek In tak dapat melanjutkan kata-katanya dan menjalankan kudanya maju menjauhi pemuda itu, disusul oleh Ang In.

Yap Kiong Lee juga kelihatan jerih, sambil mennura ke arah kereta, diapun berkata, "Subo...!"

Dan saudara-saudara seperguruannya juga menjura dengan hormatnya. Akan tetapi, nenek di dalam kereta itu sama sekali tidak menjawab dan kereta-nya lewat dengan cepat mendahului kereta Thian-kiam - pang itu dan Pek Lian juga mengikuti kereta sambil melirik dengan penuh keheranan.

Betapa anehnya semua orang ini, pikirnya. Je-laslah bahwa mereka itu saling mengenal dengan amat baiknya, apa lagi pemuda she Yap itu sudah jelas memiliki hubungan yang amat akrab dengan dua orang gadis itu. Akan tetapi mengapa mereka itu bersikap seolah - olah mereka bermusuhan atau merasa takut untuk memperlihatkan keakraban ? Pek Lian melirik ke belakang ketika mereka me-lalui kereta orang-orang Thian - kiam - pang itu, dan ia melihat kereta itupun bergerak dengan ce-patnya, melalui jalan kecil di sebelah kiri dan agak-nya memang hendak mengambil jalan lain agar tidak sejalan dengan nenek bangsawan. Sebentar saja kereta mereka itu lenyap, meninggalkan debu mengepul tinggi. Sementara itu, kereta nenek bang-sawan jalan seenaknya seperti yang diperintahkan oleh nenek itu kepada kusirnya.

Ketika kereta Siang Houw Nio - nio memasuki kota kecil di sebelah timur kota raja, hari telah senja. Jarak antara kota kecil Bin - an dengan Kota Raja Tiang - an tinggal perjalanan setengah hari saja. Akan tetapi karena nenek bangsawan itu tidak ingin melakukan perjalanan di malam hari, ia me-merintahkan agar mereka bermalam di kota kecil Bin - an. Dan biarpun ia seorang yang berkeduduk-an tinggi di istana, namun karena ia tidak terma-suk orang pemerintahan dan tidak begitu menge-nal para pejabat, iapun tidak mau merepotkan pe-jabat kota itu dan memerintahkan dua orang mu-: ridnya untuk mencari penginapan, tentu saja hotel yang paling baik dan besar di kota itu. Hotel itu selain besar dan mempunyai banyak kamar, juga menyediakan sebuah rumah makan yang mewah.

Nenek Siang Houw Nio-nio segera memasuki kamar yang disediakan untuknya dan memesan kepada Pek In dan Ang In agar untuk makan malamnya, diantar saja ke dalam kamar karena ia enggan keluar.

"Kalian boleh makan di luar dan jalan-jalan, akan tetapi jaga jangan sampai gadis itu lolos," katanya. Dua orang gadis itu menyanggupi lalu mereka mengajak Pek Lian keluar dan memasuki rumah makan itu. Sikap keduanya gembira dan terhadap Pek Lian mereka menganggap seperti se- mang sahabat sendiri.

"Adik Pek Lian, engkau tahu bahwa demi tugas, kami harus mengawasimu karena engkau dicurigai, akan tetapi percayalah bahwa kami suka kepadamu dan sedikitpun kami tidak mempunyai hati benci atau memusuhimu," demikian mereka pernah ber-kata sehingga di dalam hatinya, Pek Lian juga su-ka kepada dua orang gadis yang berilmu tinggi ini.

Ketika mereka memasuki rumah makan, tempat itu penuh dengan tamu - tamu yang makan minum. Ada sebuah meja kosong di sudut dan tiga orang gadis itu duduk menghadapi meja ini, tidak jauh dari meja di mana terdapat empat orang laki - laki yang menarik perhatian mereka. Di pinggang mereka ini terselip golok. Padahal, waktu itu sudah ada larangan membawa senjata.

Jelaslah bahwa empat orang ini termasuk jagoan - jagoan dan dua orang di antara mereka mempunyai lengan yang dibalut, tanda bahwa mereka telah mengalami luka. Sikap mereka kasar - kasar dan diam - diam Pek Lian melirik penuh perhatian karena ia merasa seperti pernah melihat wajah - wajah kasar ini.

Empat orang kasar itu kini menjadi semakin kasar karena mereka telah agak kebanyakan minum arak keras. Ketika mereka minta tambah arak dan pelayan datang agak terlambat, seorang di antara mereka bangkit berdiri dan menampar pelayan itu. Pelayan yang sial itu roboh terguling dengan pipi bengkak dan pingsan. Tentu saja keadaan menjadi gempar. Banyak di antara para tamu merasa tidak enak dengan adanya peristiwa ini dan mereka su-dah bangkit berdiri, bermaksud meninggalkan tem-pat itu. Akan tetapi, empat orang kasar itu bangkit berdiri, mencabut golok mereka dan mengacung-acungkannya ke atas.

"Jangan ribut! Teruskan kalian makan, siapa berani pergi akan kami bunuh !" Tentu saja para tamu menjadi semakin ketakut-an. Mereka tidak jadi pergi, akan tetapi tentu saja napsu makan sudah lama terbang meninggalkan hati mereka. Para pelayan lain dengan ketakutan segera menggotong pelayan sial yang pingsan itu.

"Harap nona suka hati-hati," bisik seorang di antara para pelayan ketika mereka lewat dekat me-ja tiga orang gadis itu.

Ketika ada beberapa orang petugas keamanan kota memasuki rumah makan, para tamu meman-dang dengan penuh harapan. Tentu mereka akan menangkap empat orang yang jelas merupakan penjahat-penjahat kasar itu. Akan tetapi, empat orang itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan seorang di antara meieka mengangkat kakinya ke atas meja secara menantang sekali. Dan anehnya, para petugas keamanan itu nampak ragu - ragu!

Hal ini tentu saja amat mengherankan hati Pek Lian. Kota kecil ini tidak terlalu jauh dari kota raja, akan tetapi mengapa para penjahat ini begitu beraninya, seolah - olah menantang petugas keaman-an ? Melihat sikap mereka, Ang In hampir tidak dapat menahan hatinya, akan tetapi sucinya berkedip kepadanya dan mencegahnya turun tangan karena Pek In ingin melihat perkembangannya.

Empat orang yang mabok - mabokan itu agak-nya tidak memperdulikan kanan kiri dan kesem-patan ini dipergunakan oleh Pek Lian untuk meng-gapai pelayan yang tadi membisikkan peringatan kepada mereka bertiga. Pelayan itu datang ke me-ja mereka dan sambil berpura - pura memesan ma-kanan, Pek Lian berbisik dan bertanya kepada pelayan itu tentang empat orang kasar tadi. Sam-bil berbisik pula, dengan singkat pelayan itu lalu bercerita.

Kiranya memang sudah kurang lebih sepekan ini kota kecil itu didatangi oleh penjahat - penjahat yang beraksi di sekitar kota raja, termasuk di kota kecil itu. Ketika para petugas keamanan turun tangan bertindak, para penjahat melawan dan be-berapa orang petugas tewas dalam perkelahian. Hal ini membuat para komandan marah dan diada-kanlah pembersihan terhadap para penjahat. Akan tetapi, ketika diadakan pembersihan pada siang harinya, maka pada malam harinya, terjadilah pembunuhan-pembunuhan gelap terhadap para komandan yang memimpin pembersihan. Dan di setiap tempat di mana perwira itu dibunuh, terdapat sebuah bendera kecil berdasar hitam dengan gambar harimau berwarna kuning. Di pinggang harimau itu melilit sebuah rantai yang kedua ujung nya bermata tombak.

Mendengar penuturan itu, Pek Lian menahan kagetnya. Bukankah gambar yang dilukiskan itu merupakan tanda dari San - hek - houw (Harimau Gunung Hitam), raja kaum perampok dan begal, copet dan maling, yang merupakan seorang di an-tara Sam - ok (Tiga Jahat) ?

"Hemm, mengherankan sekali," kata Ang In. "Apakah tidak ada pasukan penjaga keamanan dari kota raja ?" tanyanya kemudian.

Pelayan itu sambil berbisik melanjutkan cerita-nya. Agaknya dia termasuk orang yang suka de-ngan kabar angin, dan suka bercerita pula, agak-nya bangga karena dia dapat menceritakan semua itu. Menurut kabar, oleh penguasa kota telah dila-porkan ke kota raja, akan tetapi sampai hari itu belum ada hasilnya. Para penjahat itu nampaknya semakin berani. Beberapa kali terjadi perkelahian antara para penjahat dan para penjaga yang diban-tu oleh pendekar - pendekar yang kebetulan lewat di situ dan yang membela rakyat dari ancaman para penjahat. Hampir setiap hari. terjadi pembu-nuhan. Baru, kemarin terjadi pertempuran sengit antara para penjahat dengan beberapa orang pen-dekar dari Kun - lun - pai. Para penjahat melari-kan diri sambil membawa teman - teman mereka yang terluka karena lima orang pendekar Kun - lun-pai itu lihai sekali. Akan tetapi, kemudian muncul seorang laki - laki tinggi besar yang berjubah kulit harimau. Laki - laki tinggi besar ini selalu diikuti oleh dua ekor harimau kumbang dan lima orang pendekar Kun - lun - pai itu tewas semua di tangan raja penjahat ini!

"Dan mereka itu..." kata si pelayan sambil melirik ke arah empat orang yang duduk di meja sambil tertawa- tawa itu. " adalah sebagian dari penjahat-penjahat yang melarikan diri karena kalah oleh pendekar-pendekar Kun-lun-pai"

Mendengar penuturan itu, Pek Lian mengepal tangannya di bawah meja dan tanpa disadarinya lagi iapun berkata gemas, "Hemm, orang-orang si Raja Kelelawar sudah mulai merajalela !" Setelah mengeluarkan kata-kata itu dan melihat betapa dua orang gadis itu memandangnya dengan aneh, barulah Pek Lian terkejut sendiri. "Adik Pek Lian sudah mengenal Raja Kelelawar dan pengikut - pengikutnya ?" tanya Pek In sambil memandang tajam.

"Ah, tidak..." kata Pek Lian yang sudah menyadari bahwa ia tadi terdorong oleh perasaan- nya dan kelepasan bicara. "Aku hanya mendengar berita angin saja bahwa kini kaum hitam telah bersatu dan dipimpin oleh seorang raja penjahat besar yang bernama Raja Kelelawar. Raja ini ka- barnya dibantu oleh dua orang pimpinan penjahat yang berjuluk Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti."

Gadis baju merah mengangguk-angguk. "Memang berita itu benar. Anak buah yang kami kirim ke tempat pertemuan itu juga melaporkan demikian. Kiranya engkaupun sudah mendengar akan berita menghebohkan itu." Ang In tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu terdengar suara berisik derap kaki kuda di luar restoran.

Pelayan yang datang mengantar hidangan ke meja tiga orang gadis itu, menjadi pucat ketika

menaruh mangkok-mangkok di atas meja. "Celaka... mereka... mereka datang lagi !"

Dan setelah menaruh masakan-masakan panas di atas meja, pelayan itu bergegas pergi meninggalkan ruangan dan bersembunyi di bagian belakang res-toran bersama teman-temannya.

Empat orang kasar itu kini semakin mabok dan semakin ugal-ugalan. Kata-kata mereka kasar dan juga jorok dan cabul, apa lagi setelah kini mereka melihat adanya tiga orang wanita cantik tidak jauh dari meja mereka. Kata-kata mereka mulai menyindir dan mengenai tiga orang wanita itu se-hingga wajah ketiga orang gadis itu menjadi merah karena marahnya.

"Ha - ha - ha, A - tung, gadis - gadis di sini memang berani - berani. Lihat saja, banyaknya gadis yang datang mendekati kita ke manapun kita ber-ada. Ha - ha - ha 1"

"Memang rejeki kita sedang besar. Tapi, kita berempat sedangkan yang ada hanya tiga, harus diundi !"

"Aku ingin yang paling muda!"

"Kalau aku yang lebih tua, karena tentu lebih berpengalaman dan lebih menyenangkan."

Ang In sudah meraba gagang pedangnya, akan tetapi lengannya disentuh oleh sucinya yang mela-rangnya untuk menanggapi orang - orang kasar itu. Pek In lebih hati - hati dari pada sumoinya, ia sela-lu ingat bahwa mereka berada dalam tugas dan mereka tidak sepatutnya kalau melibatkan diri dengan urusan pribadi. Mereka hanya akan bergerak kalau ada perintah dari subo yang juga menjadi majikan mereka. Kalau mereka menimbulkan keributan karena urusan pribadi, tentu mereka akan meneri-ma teguran dari subo mereka.

Post a Comment