- li lalu menghampiri Pek Lian.
"Anak manis, mari kau ikut dengan kami!"
"Tidak sudi! Biar mati aku tidak akan mau menyerah !" bentak Pek Lian sambil melintangkan pedangnya, pedang yang dipungutnya dari atas tanah di halaman itu. "Eh, eh, kau berani melawanku, ya ?" Hoan Mo - li membentak dan menubruk maju. Pek Lian mengelak dan balas menyerang. Akan tetapi, Bouw Mo - ko kini juga sudah maju menubruk dan Pek Lian menjadi repot sekali. Melawan seorang di an-tara kedua iblis itu saja ia takkan mampu menang, apa lagi kalau dikeroyok dua. Akan tetapi pada saat itu, Pek In dan Ang In sudah menerjang maju membantunya.
"Eh, eh, bukankah gadis tawananku ini tidak termasuk perjanjian tukar - menukar lebah ?" Hoan Mo - li mencela.
"Kalian berjanji dengan subo, bukan dengan ka-mi. Kami tidak terikat perjanjian!" jawab Pek In yang terus menggerakkan pedangnya, dibantu oleh Ang In dan Pek Lian. Kini dua orang suami isteri iblis itu yang menjadi kewalahan. Untuk mempergunakan racun, mereka segan dan jerih terhadap Siang Houw Nio-nio, maka akhirnya sambil mengeluarkan seruan - seruan marah dan kecewa, keduanya meloncat ke atas gerobak dan melarikan gerobak mereka itu dengan cepat meninggalkan tempat itu, langsung keluar dari pintu gerbang ko-ta besar Lok - yang.
Setelah dua orang iblis itu melarikan diri, Siang Houw Nio - nio memandang kepada Pek Lian de-ngan sinar mata penuh selidik, kemudian bertanya, "Nona, siapakah engkau ?"
Pek Lian merasa ragu - ragu untuk menjawab. Ia tahu siapa adanya nenek ini yang masih keluarga dekat kaisar. Tentu saja ia tidak berani mengaku bahwa ia adalah puteri Menteri Ho yang kini men-jadi musuh dan tawanan pemerintah. Sebagai bibi kaisar, tentu saja nenek inipun memusuhi keluarga Ho yang dianggap pemberontak. Melihat keraguan Pek Lian, gadis baju merah lalu berkata sebagai keterangan kepada subonya,
"Gadis ini tentu merupakan kawan dari orang-orang Lembah Yang - ce yang memberontak.
Anak buah teecu pernah menawannya. Bukankah begi-tu ?" tanyanya kepada Pek Lian.
Pek Lian tak dapat menyangkal akan hal ini dan iapun tahu bahwa tentu wanita - wanita bertusuk konde batu giok itu telah melapor kepada pimpinan mereka ini. Maka iapun menjawab dengan suara mengejek, "Hemm... kiranya wanita – wanita bertusuk konde batu giok itu adalah anak buah-mu ?" Pek Lian memandang ke arah tusuk konde pada rambut nona baju merah itu. "Anak buahmu itu sungguh kurang ajar sekali. Aku hanya pernah berjalan bersama - sama ketua lembah itu saja, dan aku lalu ditangkap ! Aturan mana itu ?"
"Adik yang baik, kaumaafkanlah anak buah ka-mi. Akan tetapi orang - orang lembah itu adalah buronan pemerintah, maka karena engkau menge-nal mereka, sudah selayaknya kalau engkau dicu-rigai," kata Pek In si baju putih.
"Akan tetapi, apa hubungannya dengan wanita-wanita baju sutera hitam bertusuk konde batu giok itu ? Ada hak apakah mereka mencurigai orang ?"
Pek Lian bertanya penasaran.
Gadis baju putih itu tersenyum dan kalau biasa-nya ia nampak gagah, kini baru terlihat jelas bahwa wajahnya manis sekali kalau tersenyum. "Adik, tahukah engkau siapa pembesar pemilik gedung ini ? Beliau adalah Wakil Perdana Menteri Kang, dan guru kami ini, beliau adalah bibi dari sri baginda kaisar. Nah, kini engkau mengerti mengapa anak buah kami mencurigai orang - orang yang menjadi teman para pemberontak, bukan ?"
Tentu saja Pek Lian sama sekali tidak terkejut mendengar siapa adanya pembesar dan nenek bang-sawan itu karena memang ia sudah pernah menge-nal dan mendengar tentang mereka.
Hanya tadi ia merasa kagum bukan main menyaksikan kelihaian nenek itu ketika menghadapi Im - kan Siang - mo, suami isteri iblis yang lihai itu. Dan baru sekarang ia tahu bahwa pasukan wanita berpakaian sutera hitam dengan tusuk konde batu giok itu adalah anak buah murid - murid dari Siang Houw Nio - nio jadi orang-orangnya pemerintah! Atau setidak-nya adalah golongan yang membela kaisar.
Ia sendiri tidak ingin dikenal sebagai puteri Menteri Ho karena hal ini akan berbahaya sekali baginya. Maka, ketika melihat Wakil Perdana Men-teri Kang keluar dan memandang kepadanya de-ngan sinar mata tajam, Pek Lian menundukkan mukanya. Menteri Kang itu mengerutkan alisnya dan merasa seperti pernah mengenal gadis ini. akan tetapi dia lupa lagi.
Pek Lian merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Bagaimana kalau sampai ia dikenal ? Tidak ragu lagi, ia tentu akan ditangkap sebagai anggauta keluarga pemberontak. Ia harus berhati
- hati da-lam memberi jawaban, pikirnya dan ia tidak boleh terlalu banyak bicara. "Nona, siapakah engkau ? Benarkah orang-orang Lembah Yang - ce itu adalah kawan - kawan mu ? Ataukah engkau barangkali juga anggauta pemberontak ?" kembali wanita tua itu bertanya dengan halus, namun sinar matanya seperti hendak menembus jantung Pek Lian.