Halo!

Darah Pendekar Chapter 49

Memuat...

"Akan tetapi, tuan puteri... paduka tentu mengenal kekerasan hati sri baginda. Mungkin saja peringatan hamba akan membuat hamba dijebloskan pula ke dalam penjara seperti Menteri Ho yang baik dan jujur itu"

"Hemm, kalau begitu engkau merasa takut dan ngeri ? Engkau lebih suka melihat keadaan menjadi semakin buruk dari pada kehilangan nyawamu un-tuk negara ? Inikah ucapan Wakil Perdana Men-teri Kang yang terkenal setia dan berbudi itu ?"

"Bukan begitu, tuan puteri..."

Akan tetapi pembesar ini tidak melanjutkan kata- katanya karena pada saat itu terdengar suara hiruk- pikuk dari para pengawal dan penjaga yang berlarian ke dalam gedung, dikejar oleh lebah-le-bah berbisa. Bahkan di ruangan depan gedung itu, terdapat beberapa orang pengawal yang jatuh ber-gelimpangan dan sekarat.

Dua orang gadis bertusuk konde batu giok su-dah meloncat ke dalam dan dengan singkat men-ceritakan kepada nenek itu tentang pengamukan suami isteri dari Ban - kwi - to yang memperguna-kan lebah - lebah berbisa untuk merobohkan banyak sekali pengawal. Mendengar keterangan dua orang pengawal pribadi yang juga menjadi murid - murid kesayangannya itu, Siang Houw Nio-nio menjadi marah sekali. Dikibaskannya lengan bajunya.

"Pek-ji! Ang-ji! Apakah menghadapi iblis Ban- kwi-to saja kalian tidak mampu mengatasi-nya dan perlu menggangguku ?" bentaknya pena-saran. Biasanya, kedua orang muridnya ini sudah dapat mengatasi segala persoalan yang timbul, karena itu ia sudah menaruh kepercayaan besar dan bahkan mengangkat mereka menjadi pengawal-pengawal pribadinya agar ia tidak usah turun ta-ngan sendiri kalau timbul persoalan. Tentu saja ia merasa penasaran dan marah melihat kedua orang murid yang diandalkannya ini sekarang menjadi kacau hanya oleh amukan dua orang iblis Ban-kwi-to saja.

"Maaf, subo, sebetulnya teecu berdua tidak akan kalah kalau saja mereka itu mempergunakan ilmu silat biasa. Akan tetapi mereka melepaskan lebah yang ratusan ekor banyaknya, lebah berbisa yang mengerikan sehingga sudah banyak perajurit yang roboh dan keracunan. Teecu berdua kewalahan untuk mengusirnya."

Mendengar laporan muridnya yang berbaju putih yang diberi nama panggilan Pek In (Awan Putih) sedangkan yang berbaju merah disebut Ang In (Awan Merah), Siang Houw Nio - nio mengerutkan alisnya.

"Lebah berbisa ? Apakah berwarna putih dan yang kena sengatannya terus kejang -

kejang karena panas yang hebat dan berkelojotan, lalu kulit para korban juga menjadi putih ?" "Benar, subo," kata Ang In.

"Hemm, tentu lebah beracun dari pohon - pohon arak di Sin - kiang yang amat berbahaya. Dalam waktu tiga jam kalau tidak diberi obat penawarnya, luka sengatan itu akan menjadi busuk dan sukar ditolong lagi. Menteri Kang, apakah engkau mempunyai arak yang tua, keras dan wangi

? Cepat keluarkan dan bawa ke sini. Suruh semua orang membawa obor, karena hanya dengan api sajalah lebah-lebah itu dapat diusir dan mereka sangat suka kepada arak wangi dan keras. Cepat!"

Wakil Perdana Menteri Kang lalu memberi pe-rintah kepada pengawal pribadinya dan tak lama kemudian nenek bangsawan itu telah menuangkan arak wangi ke dalam guci arak yang indah buatannya, kuno dan nyeni. la membawa keluar guci arak itu dan meletakkannya di ruangan depan. Dan terjadilah keanehan. Bau arak yang harum itu agaknya menarik lebah - lebah putih itu yang beterbangan dengan cepatnya menuju ke guci arak itu dan sebentar saja semua lebah mengerumuni guci dan mengeroyok arak harum itu seperti semut - semut mengerumuni gula.

Setelah semua lebah berkumpul di situ, Siang Houw Nio - nio lalu menyingsingkan lengan bajunya dan dengan kedua tangannya ia meraup lebah - lebah itu dan memasukkannya ke dalam sebuah botol besar, kemudian iapun keluar membawa botol terisi lebah - lebah putih itu.

Di halaman depan, suami isteri iblis itu masih seperti orang gila, berjongkok dan tertawa terpingkal- pingkal melihat para korban yang berkelojotan di atas tanah. Memang ada lucunya melihat muka yang tertarik- tarik itu dan kaki tangan yang kejang-kejang, akan tetapi bagi orang biasa, tentu rasa ngeri dan kasihan akan mengusir semua bagian yang lucu.

"Heh-heh-heh, lihat hidungnya ! Heh-heh, hidungnya jadi bengkok!" kata nenek itu sambil terpingkal- pingkal.

"Dan yang sana itu, kakinya menendang-nendang, ha-ha, agaknya dia mimpi belajar ilmu tendangan baru yang sakti, ha-ha-ha!" suaminya juga tertawa bergelak melihat tingkah laku seorang korban lain.

"Hemm, kiranya tak salah dugaanku. Im-kan Siang-mo yang datang mengacau, sungguh berani mati sekali!" nenek bangsawan itu berkata.

Suami isteri itu terkejut dan cepat melompat berdiri, berdampingan menghadapi nenek itu, me-mandang heran bahwa ada seorang yang mengenal julukan mereka di tempat ini. Akan tetapi ketika mereka melihat nenek yang berpakaian indah dan bersikap penuh wibawa itu, mereka berdua saling pandang dan nampak terkejut, lalu dengan sikap canggung keduanya menjura ke arah nenek itu.

"Bagaimana toanio dapat mengenal Im - kan Siang - mo ?" tanya nenek itu dengan suara parau. Siang Houw Nio - nio tersenyum. "Memang baru sekarang aku dengan sial bertemu dengan kalian, akan tetapi siapakah yang tidak pernah mendengar nama kalian sebagai tokoh - tokoh Ban

- kwi - to ? Kalian mempunyai ciri - ciri badan yang mudah di-kenal. Im - kan Siang - mo, Sepasang Iblis dari A-khirat, juga suami isteri Bouw Mo - ko dan Hoan Mo - li."

"Engkau mengenal kami, lalu mau apa ?" tiba-tiba nenek iblis itu menantang.

Siang Houw Nio - nio tetap tersenyum dengan tenang. "Lihat, tidak kenalkah kalian kepada lebah-lebah ini lagi ?"

Melihat betapa lebah - lebah putih itu berada di dalam botol yang dipegang oleh si nenek sakti, suami isteri itu menjadi marah sekali. "Kembali-kan lebah - lebahku !" bentak Hoan Mo - li, nenek gendut itu sambil menyerang, diturut pula oleh suaminya. Lebah - lebah itu adalah binatang

- bi-natang peliharaan mereka yang menjadi sahabat-sahabat baik dan bahkan merupakan senjata mere-ka yang terampuh dalam menghadapi lawan tang-guh, dan mereka memperoleh lebah - lebah itu de-ngan amat sukar, bahkan dengan taruhan nyawa. Belum lagi waktu yang dipergunakan untuk men-jinakkan mereka yang membutuhkan ketelitian, ke-sabaran dan juga mengandung bahaya. Oleh kare-na itu, melihat betapa lebah - lebah itu berada di tangan nenek bangsawan itu, tentu saja mereka menjadi marah dan menyerang dengan dahsyat dan mati - matian.

Akan tetapi, suami isteri yang mempunyai pukulan- pukulan beracun itu sekarang seolah- olah ketemu gurunya. Pada hakekatnya, dasar ilmu si-lat dari tokoh - tokoh Ban - kwi - to ini tidaklah ter-lalu tinggi. Yang membuat mereka berbahaya bu-kanlah kelihaian ilmu silat mereka, melainkan ra-cun - racun yang mereka pergunakan itulah. Kini, berhadapan dengan Siang Houw Nio - nio yang memiliki tingkat ilmu silat tinggi, mereka itu mati kutu. Puteri tua yang menjadi bibi dan juga pe-lindung kaisar ini ternyata amat lihai. Ia menghadapi pengeroyokan dua orang itu hanya dengan tangan kanan saja, sedangkan tangan kirinya dipa-kai untuk memegang botol terisi lebah - lebah putih. Biarpun demikian, dengan langkah-langkah ajaib, ia selalu dapat menghindarkan diri dan kedua orang suami isteri iblis itu tidak pernah mampu menyen-tuhnya.

Sampai tigapuluh jurus lebih suami isteri itu mendesak tanpa ada gunanya sama sekali. Tiba- tiba, Siang Houw Nio - nio yang tadi hanya ingin melihat dasar - dasar gerakan mereka dan mengu-kur tingkat mereka, meloncat ke pinggir sambil berseru, "Berhenti!!"

Seruannya mengandung tenaga khikang yang demikian kuatnya sehingga dua orang lawannya itu, mau atau tidak, otomatis berhenti bergerak dan memandang kepadanya dengan bengong.

"Kita tukar lebah - lebah peliharaan kalian ini dengan obat pemunahnya untuk menyembuhkan para korban. Hayo cepat, kalau tidak, kuhancurkan lebah - lebah ini kemudian kepala kalian juga !"

Ucapan nenek itu penuh wibawa dan sekali ini suami isteri itu tidak ragu - ragu lagi. Mereka telah memperoleh bukti bahwa nenek ini tidak hanya mengeluarkan gertak sambal belaka, karena selama tigapuluh jurus lebih tadi mereka berdua memang sama sekali tidak berdaya dan kalau nenek itu be-nar-benar hendak membunuh mereka, agaknya hal itu bukan tidak mungkin.

"Baik..., baik... ini obat pemunahnya, obat luar dan obat minum. Berikan kembali lebah- lebahku," kata Hoan Mo-li si nenek gendut.

Penukaran terjadilah dan Siang Houw Nio-nio lalu memerintahkan dua orang muridnya untuk mengobati para korban. Dan benar saja, setelah diolesi obat luar dan diberi minum obat minum-nya, para korban itu berhenti berkelojotan dan tak lama kemudian merekapun sembuh kembali.

Sementara itu, kakek kecil kurus, Bouw Mo - ko, setelah sejak tadi memandang kepada nenek bang-sawan itu, lalu berkata, "Benarkah kami berhadap-an dengan yang mulia Siang Houw Nio-nio?"

Mendengar ucapan suaminya itu, Hoan Mo - li juga kelihatan terkejut. Nenek bangsawan itu mengangguk dan berkata, "Nah, kalian boleh pergi dari sini dan jangan mencoba untuk membikin ka-cau di kota ini !"

Bouw Mo - ko yang maklum bahwa tinggal le-bih lama di tempat itu tidak menguntungkan mere-ka, lalu menggandeng tangan isterinya. "Isteriku, mari kita pergi dari sini!"

"Nanti dulu !" Hoan Mo - li mengibaskan ta-ngannya yang digandeng suaminya. "Siang Houw Nio-nio, perjanjian antara kita hanya mengenai tukar - menukar lebah dan obat penawarnya. Akan tetapi gadis itu adalah tawanan kami, maka kami akan membawanya kembali!"

Nenek bangsawan itu menoleh kepada Pek Lian yang ditudingi oleh nenek iblis itu, lalu ia meng-angkat pundaknya. "Tidak ada hubungannya de-nganku," katanya. Mendengar ini, Hoan Mo

Post a Comment