Kemudian ia memperhatikan keadaan Pek Lian dan alisnya yang tebal itu berkerut. Apa lagi keti-ka ia melihat genangan air di dalam gerobak. Ia lalu meloncat turun dan kembali terdengar suaranya memaki-maki.
"Bangsat cabul tak tahu diri! Di mana kau ?"
Tak lama kemudian, nenek itu mendapatkan suaminya sedang enak - enak memancing ikan di tepi sungai sambil bersiul - siul, seolah - olah tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Akan tetapi, agaknya isterinya tidak dapat dikibuli begitu saja dan segera telinga sang suami dijewer dan dia di-seret oleh isterinya yang galak itu kembali ke peda-ti, yang segera diberangkatkan oleh nenek yang marah - marah itu.
Dengan terjadinya peristiwa itu, pengawasan si nenek menjadi lebih ketat sehingga kakek itu tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk menco-ba - coba mendekati Pek Lian. Hal ini tentu saja amat menguntungkan Pek Lian, akan tetapi di sam-ping itu, juga ia mengalami penyiksaan lain sebagai akibat dari rasa cemburu dan benci dari nenek iblis. Karena cemburu, kini sikap nenek iblis itu terhadap Pek Lian menjadi sadis. Pada hari ke tiga, Pek Lian tidak dibelenggu kedua lengannya lagi, melainkan diharuskan duduk di bagian depan, di atas tempat duduk kusir dan kaki kanannya di-rantai dengan tiang gerobak. Ia diharuskan men-jadi kusir, mengamati dan mengendalikan kuda penarik gerobak. Lebih celaka lagi, nenek itu telah menotok urat gagunya sehingga ia tidak mampu mengeluarkan suara, hanya duduk dengan anteng-nya di bangku kusir sementara itu suami isteri iblis itu bersenang - senang di dalam gerobak. Pek Lian masih selalu menanti saat baik. Bagaimanapun juga keadaannya, gadis perkasa ini tidak pernah putus asa.
Selama hayat dikandung badan, ia tidak akan pernah putus harapan. Pada suatu ketika, ia pasti akan dapat meloloskan diri. Ia tidak mau mati konyol dengan melakukan perlawanan yang sia - sia belaka terhadap suami isteri iblis yang amat lihai itu. Bagaimanapun juga, ia kini terlindung oleh rasa cemburu isteri itu terhadap suaminya. Bahaya yang terbesar telah tersingkir dan iapun tidak bodoh untuk dapat menduga bahwa suami isteri itu tidak menghendaki kematiannya, karena kalau demikian halnya, tidak mungkin ia dibiarkan hidup sampai tiga hari lamanya.
Hari itu, sejak pagi telah turun hujan. Akan te-tapi suami isteri iblis itu membiarkan Pek Lian tetap duduk di luar dan kehujanan sampai pakaian-nya basah kuyup. Juga nenek itu tidak memper-bolehkannya menghentikan gerobak untuk berte-duh. Tentu saja keadaan Pek Lian ini membuat orang - orang yang melihatnya menjadi terheran-heran. Sementara itu, di dalam gerobak terjadi pu-la perdebatan antara suami dan isterinya yang galak itu.
"Eh, isteriku yang manis, yang denok, di luar hujan deras sekali. Apakah akan kaubiarkan saja anak ayam itu kehujanan di luar ? Ia bisa masuk angin dan sakit"
"Huh ! kau perduli apa sih ? Kau kasihan ya ? Kau cinta padanya ya ?"
"Eh, eh... jangan marah dulu dong! Aku hanya bilang kalau ia sakit dan tidak dapat mengendalikan kuda, kita akan kehilangan seorang kusir yang can... eh,yang cakap."
"Sudah, jangan cerewet! Biarkan saja. Hayo kita bersenang-senang, di dalam sini kan hangat, mari kita main adu kelabang !" "Isteriku yang manis, mengapa tidak dibunuh saja biar lekas beres dan tidak mengganggu ?" "Manusia tolol engkau! Lupakah engkau bah-wa kita pernah dipesan oleh Sam - suci ? Aku
akan diberi hadiah ramuan awet muda yang diciptakan-nya, apa bila kita dapat mencarikan seorang gadis muda cantik keturunan bangsawan yang bertulang bagus dan berdarah murni, juga mempunyai ke-pandaian tinggi. Nah, inilah gadis itu!"
"Alaaaa, awet muda. Mana bisa orang tetap awet muda kalau usianya sudah tua ?" kakek itu menggerutu. Mereka tidak
***[All2Txt: Unregistered Filter ONLY Convert Part Of File! Read Help To Know How To Register.]***
mak dapat mematahkan rantai yang mem-belenggu kakinya, maka jalan satu - satunya adalah membelokkan kuda menuju ke kota agar kalau ada orang melihat keadaannya, ia akan menarik perha-tian orang dan siapa tahu kalau di antara mereka itu terdapat pendekar-pendekar yang sakti dan dapat membebaskannya dari cengkeraman suami isteri iblis itu. Kini ia sudah tahu mengapa ia dita-wan dan tidak dibunuh. Kiranya iblis betina itu mempunyai niat untuk "menjualnya" kepada seorang iblis lain yang disebut Sam - suci oleh iblis betina itu, untuk ditukar ramuan obat awet muda.
Hujan masih deras ketika gerobak itu memasuki pintu gerbang sebuah kota. Agaknya karena hujan yang mendatangkan hawa dingin, suami isteri iblis itu masih enak - enak tidur mendengkur, tidak tahu bahwa gerobak mereka telah disesatkan memasuki kota besar, padahal mereka selalu ingin menjauhi tempat ramai selama ini. Orang - orang yang ber-teduh di tepi jalan memandang dengan heran ke-pada gadis yang menjalankan gerobaknya dan membiarkan dirinya ditimpa air hujan sampai ram-but dan pakaiannya basah kuyup itu.
Kota yang dimasuki gerobak itu adalah Lok-yang, yang merupakan kota kedua setelah Tiang-an yang menjadi kota raja. Tentu saja Pek Lian yang menjadi puteri seorang menteri, mengenal ko-ta besar ini dan diam - diam ia mengharapkan un-tuk dapat bertemu dengan orang - orang gagah yang akan dapat membantunya membebaskan diri dari kedua orang iblis itu.
Jantungnya berdebar tegang, akan tetapi ia merasa lega mendengar betapa kedua orang iblis itu masih enak-enak tidur mendengkur. Mereka itu sungguh seperti bukan manusia lagi, pikir Pek Lian. Bermain cinta dengan kasar tanpa mengenal malu, bercekcok dan berkelahi, selalu bersaing, bahkan dalam mendeng-kur saja mereka seperti bersaing keras !
BIARPUN waktu itu sudah tengah hari, akan tetapi cuacanya agak dingin dan agak gelap karena sejak pagi hujan. Kota yang besar, penuh dongan toko - toko, rumah- rumah makan dan juga rumah - rumah penginapan itu nampak sunyi karena yang berani berlalu - lalang hanya mereka yang membawa payung dan yang naik kereta. Sebagian besar orang berteduh di emper - emper toko dan jalan raya yang cukup lebar itu telah digenangi air.